Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Kepentok bibir


__ADS_3

"Udah capek ngoceh dia!" ucap Firlan saat melihat Vira telah terlelap, sesekali kepala gadia itu membentur kaca jendela disampingnya.


Melihat kepala Vira yang kadang ngejedot kaca, membuat Firlan sedikit berbaik hati. Pria itu menepikan mobilnya, di bahu jalan. Firlan menyetel posisi kursi yang diduduki Vira, agar kepala gadis itu tidak membentur kaca jendela.


Saat sedang mengatur posisi kursi, tiba-tiba mata Vira terbuka lebar. Dia kaget ada Firlan didepannya. Sesaat pandangan mata mereka terkunci, Firlan menelan salivanya dengan susah payah. Gadis cerewet itu memiliki bulu mata yang lentik, membuat daya tarik tersendiri bagi yang menatapnya. Vira yang spontan akan beranjak dari posisinya malah menyenggol lengan Firlan yang sedang bertumpu di sisi pinggir kursi, membuat Firlan hilang keseimbangan dan tanpa menempelkan wajahnya pada sosok yang ada di hadapannya saat ini. Keduanya kompak membulatkan matanya.


Vira langsung mendorong tubuh Firlan, Firlan pun segera kembali ke posisi duduknya.


"Ih, abang! main nyosor! bukan berarti aku suka sama abang, terus abang bs cium-cium aku seenaknya," ucap Vira sambil menutup bibirnya dengan telapak tangannya, secara tidak sadar Vira telah mengungkapkan perasaannya terhadap Firlan.


"Siapa juga yang mau nyosor kamu! itu cuma kecelakaan! lagian kayak nggak ada cewek laen aja" Firlan membela diri.


"Tanggung jawab!" tegas Vira, yang membuat kening Firlan berkerut.


"Yang mau ditanggung jawabin apa, coba?" sahut Firlan sambil memandang lekat gadis beo disampingnya


"Karena abang-" ucapan Vira terjeda sesaat.


"Karena apa?" Firlan bertanya pada Vira yang sepertinya ragu untuk melanjutkan perkataannya.


"Karena abang udah nyium seenak jidat. ih, pokoknya tangggung jawab!" ucap Vira dengan cepat.


"Eh, disini aku juga merasa dirugikan, bibirku yang suci ini kepentok sama kamu!" Firlan tak mau disalahkan perihal kecelakaan yang sama sekali tidak disengaja.


"Udah, diem atau aku turunin disini!" ketus Firlan pada Vira yang memanyunkan bibirnya.


"Anggap aja tadi, anggap aja bukan apa-apa," lanjut pria itu yang kemudian menginjak pedal gasnya. Sementara Vira malah memalingkan wajahnya ke arah jendela.


Vira memang menyukai Firlan, tapi hang sangat disayangkan kejadian tadi merusak yang sudah lama ia idam-idamkan.


Sesampainya didepan kosan yang terbilang lumayan bagus, Vira turun tanpa mengatakan sepatah kata. Namun, Firlan tak memusingkan itu.


Vira dengan percaya diri melangkahkan kakinya menuju kosan yang bercat warna biru, ketika ia akan membuka pintu tiba-tiba...


"Heh? mau ngapain kamu?" tanya Firlan.


"Ya mau masuklah, mau ngapain lagi!" kali ini Vira tak kalah ketus dari pria yang telah bersamanya hampir seharian ini.


"Kosannya bukan yang itu, tapi yang ini!" ucap Firlan sembari menunjuk ke sebuah bangunan berwarna putih tulang, yang letaknya persis di samping rumah bercat biru tadi.


"Oh," satu kata singkat yang muncul dari mulut Vira.

__ADS_1


"Makanya jangan Sotoy!" ucap Firlan yang membawakan barang-barang Vira yang lumayan banyak.


Setelah menemui ibu kos, dan gadis cerewet itu sudah mendapatkan kamarnya, Firlan segera masuk ke dalam mobilnya.


Sepanjang perjalanan menuju apartemennya, Firlan terus saja terbayang kejadian tubrukan bibir dengan Vira, Firlan menggelengkan kepalanya mencoba mengusir bayangan itu.


"Anggap aja lagi apes!" gumam Firlan.


Sementara di dalam sebuah kamar kosan, Vira sudah masuk mode molor. Gadis yang satu itu sudah terbang ke alam mimpi, bahkan dia belum membereskan barang-barangnya. Dirinya terlalu malas, bahkan hanya untuk mengganti pakaiannya.


...----------------...


.


Sementara di mobil, Amartha tengah tertidur pulas di dalam mobil.


Satya yang tidak tega membangunkan pujaan hatinya itu, memilih untuk menggendongnya.


Pria itu membawa Amartha menuju kamar yang beberapa hari ini ditempati wanita itu.


Satya dengan perlahan merebahkan tubuh Amartha di atas ranjang, dan tak lupa melepaskan sepatunya.


Satya berjalan keluar dari kamar Amartha dan menutup pintu secara perlahan.


"Ssssst..." Satya menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya, dan menggandeng Sandra ke ruang keluarga.


"Kok udah pulang, Sat?" Sandra mengulang pertanyaannya.


"Amartha kecapean, Mah..." sahut Satya sambil menyandarkan punggungnya.


"Tadi sih Vergio bilang ada beberapa yang bagus," lanjutnya


"Sat, bulan depan kan kalian menikah, sebaiknya Amartha tinggal sama mami aja disini, Sat..." ucap Sandra santai.


"Loh kok bulan depan, Mam?" Satya terkejut mendengar ucapan sang mami tercinta.


"Iya, Sat ... mami pikir, lebih cepat lebih baik, Sat..." jawab Sandra, kemudian wanita itu tertawa.


"Mami sudah atur semua, kamu tenang saja ... mami juga udah dateng nemuin orangtua Amartha" jelas Sandra, Satya hanya mengerutkan keningnya, pasalnya yang sangat bersemangat menyiapkan pesta penikahan justru maminya.


"Pokoknya semua udah beres," lanjut wanita itu.

__ADS_1


"Gercep amat, Mam?"


"Iya dong, Sat! mami seneng akhirnya anak mami nggak jadi jomblo karatan!" kata Mami Sandra yang diiringi tawa renyahnya.


"Ish mami," Satya memandang Sandra dengan tatapan kesal, Sandra hanya terkekeh melihat anaknya begitu kesal.


"Oh ya, kamu jadi setuju kan ya Amartha sementara tinggal sama mami?" Sandra bertanya pada Satya.


"Aku sih setuju aja, Mam! tapi nanti aku tanyain dulu sama Amartha," sahut Satya diplomatis.


"Soalnya 2 hari lagi dia, ehem dia mau kerja, Mam," lanjut Satya yang kemudian mendapat pelototan dari Sandra.


"Apaaa? kerja? emang duit kamu ga cukup buat ngidupin istri, Sat? sampai kamu suruh dia kerja!" ucap Sandra berapi-api.


"Ish, mami, bukan aku yang nyuruh, dia sendiri yang pengen," Satya langsung menjelaskan.


"Oh, mami kira ... ehem," Sandra langsung salah tingkah setelah tadi sang mami bicara dengan berapi-api.


"Mami terserah kalian aja gimana baiknya," lanjut Sandra.


"Makasih ya, Mam!" ucap Satya sambil tersenyum.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari ini adalah hari pertama bekerja di rumah sakit. Sekarang disinilah dia, berada di ruang ganti khusus perawat.


"Karyawan baru?" ucap seorang wanita yang baru saja masuk ke ruang ganti.


"Iya kak," jawab Amartha singkat.


"Dari kampung?" tanya wanita itu yang melihat Amartha dari ujung kaki hingga ujung kepala. Amartha yang ditatap seperti itu pun merasa sangat risih.


"Ehm, ya bisa dibilang seperti itu," sahut Amartha sambil tersenyum.


"Perawat atau?" wanita itu tak hentinya bertanya.


"Perawat," sahut Amartha irit.


"Saya Mia saya juga perawat, kamu di bagian apa?" ucap wanita itu tanpa mengulurkan tangan, ia malah membuka tasnya dan memakai seragam perawat perpaduan warna putih dan fuchia.


"Belum tau kak, karena saya belum tau di tugaskan dimana," jelas Amartha yang sedang menggelung sederhana rambut panjangnya agar terlihat rapi.

__ADS_1


"Eh, Ta ... kamu udah nyampe aja," seru Vira saat masuk ke ruang ganti.


...----------------...


__ADS_2