Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Boneka Arwah


__ADS_3

Amartha menerima satu kotak berukuran sedang dari tangan Sasa.


"Makasih, ya Sa..." ucap Amartha.


"Saya permisi, Nyonya..." ucap Sasa.


"Tapi perasaan aku nggak pesan apa-apa," gumam Amartha melihat sebuah kotak yang ada di tangannya.


"Apa mungkin mas Satya?" lirih Amartha nampak tidak begitu baik saat menerima paketan itu.


"Kenapa, Ta?" tanya Vira yang melihat Amartha bingung dengan sebuah paketan yang ada di tangannya.


"Nggak. Cuma aku kayaknya nggak beli apa- apa di market place," ucap Amartha pada Vira.


"Mungkin suami kamu yang beli, Ta..." Vira menepuk pundak Amartha.


"Mau buka ini dulu atau?" ucap Vira yang menunjuk barang yang sedang diperhatikan Amartha.


"Aku penasaran, isinya apaan. Kita buka dibawah aja," ucap Amartha.


"Sini, biar aku yang bawa..." Vira menawarkan bantuan.


Kedua wanita sebaya itu berjalan menuruni tangga menuju ruang tamu.


"Kamu tunggu disini aja, biar aku ambil gunting..." ucap Vira seraya meletakkan kotak coklat yang dilapisi lakban bening. Amartha hanya mengangguk, ia tak bisa mengacuhkan rasa penasarannya. Ia ingin segera mengetahui apa isinya.


Setelah beberapa saat Vira kembali dengan membawa gunting di tangannya. Vira mulai menggunting beberapa bagian kotak yang direkatkan dengan lakban. Vira segera menggeser kotak saat bagian atasnya sudah terbuka.


"Aku balikin gunting ini dulu ke belakang," ucap Vira yang seraya bangkit, namun Amartha mencegahnya.


"Jangan, kamu disini aja..." ucap Amartha, Vira pun mengurungkan niatnya untuk pergi.


Amartha mulai menggeser kotak itu ke arahnya. Dan perlahan tangannya membuka kotak itu dan mengambil apa yang ada di dalamnya.


"Boneka?" ucap Amartha menoleh pada Vira. Vira mengendikkan bahunya dan melihat boneka yang ada di tangannya. Namun tak sengaja Amartha memencet bagian perut boneka itu, dan tanpa aba-aba boneka bergaun merah itu mengeluarkan suara.


"Hihihihihihihih," suara dari boneka itu. Amartha yang terkejut spontan melemparkan boneka itu ke atas meja. Mata boneka itu sangat menakutkan, boneka dengan wajah seperti bayi sungguhan itu pun terasa berat tidak seperti boneka biasa pada umumnya.


"Hhhhhhhh, hhhh," nafas Amartha terengah-engah saat berhasil melepaskan boneka itu dari tangannya.


"Kamu nggak apa-apa, Ta?" tanya Vira.


Vira mengambil boneka yang sudah berhenti tertawa, dia memperhatikan boneka itu dengan seksama. Boneka yang didandani seperti bayi perempuan itu membuat bulu kuduk merinding.

__ADS_1


"Bonekanya creepy banget nggak, sih?" Vira menoleh pada Amartha yang juga menatapnya.


"Siapa yang ngirim boneka kayak ginian, coba?" Amartha bertanya entah pada siapa. Amartha segera mengecek kotak yang ada di hadapannya, ada secarik kertas kaku di dalamnya.


"Spirit doll come to you. Sceaming and laughing with you. Dia akan mengikuti kemana pun orang yang telah menyentuhnya," Amartha membacakan apa yang ditulis di kertas itu.


"Vira, jangan pegang boneka itu!" Amartha segera merebut boneka itu dan memasukkannya ke dalam kotak dan segera menutupnya.


"Ini bukan dari suamiku, ada seseorang yang sengaja mengirimnya. Bacalah!" ucap Amartha seraya memberikan sebuah kertas pada Vira.


Vira pun menutup mulutnya saat membaca isi tulisan itu.


"Boneka arwah?" Vira memandang Amartha.


"Belum tentu, bisa saja ini boneka biasa dan seseorang berniat untuk menakut-nakutiku," ucap Amartha.


"Aku pernah mendengar boneka arwah ini, Ta! boneka yang di dalamnya ada roh anak kecil," ucap Vira yang melihat Amartha dan kotak itu secara bergantian.


"Itu hanya ada di dalam film, mungkin ini hanya kerjaan orang iseng!" ucap Amartha yang beranjak dari tempat duduknya dia berusaha menghalau pikiran negatif dari dalam kepalanya.


"Lebih tepatnya orang yang nggak suka sama kamu. Karena kalau dilihat dari nama dan alamat ini, nggak mungkin ini perbuatan orang iseng. Iya nggak, sih?" kata Vira.


"Mungkin!" jawab Amartha seraya mengambil kotak itu.


"Buang di depan," ucap Amartha seraya mencangkolkan clutch di bahunya, ia berjalan membawa kotak itu meninggalkan Vira.


Vira pun segera mengikuti Amartha dari belakang, Vira pun berusaha menyamai langkah Amartha yang terkesan terburu-buru.


"Tunggu, Ta! jangan cepet-cepet, nanti kamu bisa jatuh," seru Vira yang berhasil menahan lengan Amartha.


Vira segera membuka pintu, dan mereka berdua berjalan ke luar. Ternyata Damian sudah menunggu di teras depan, pria itu berdiri bersandar pada mobil.


"Damian," seru Amartha.


"Ya, Nyonya!" sahut Damian.


"Tolong buangin kotak ini di depan sana," ucap Amartha seraya menyerahkan kotak berwarna coklat itu.


"Baik, Nyonya..."


"Saya tunggu di mobil," ujar Amartha.


Amartha mengajak Vira untuk masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang di bagian belakang.

__ADS_1


"Kamu harus lebih berhati-hati, Ta..." ucap Vira yang melihat segurat kecemasan di wajah sahabatnya.


"Pasti," jawab Amartha.


Damian membuka pintu mobil dan duduk di kursi kemudi.


"Kita berangkat sekarang, Nyonya..." kata Damian sebelum menginjak pedal gasnya.


Selama perjalanan, Vira dan Amartha tak ada yang membahas soal boneka tadi. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Yakin tetep mau jalan-jalan?" tanya Vira memecah keheningan.


"Ngilangin suntuk, Vir. Lagian aku pengen beli baju-baju buat anakku. Mas Satya lagi sibuk banget, dia nggak mungkin nemenin aku jalan-jalan muterin mall..." jawab Amartha.


"Nggak usah cerita sama siapa-siapa, ya? soal boneka tadi. Aku nggak mau mas Satya jadi khawatir," ucap Amartha pada Vira.


"Tapi kalau ada apa-apa kamu harus cerita sama aku," kata Vira.


"Ya," sahut Amartha singkat.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 30 menit, mereka pun akhirnya sampai di mall yang mereka tuju.


"Kita makan dulu ya, Vir? aku udah laper banget, anakku di dalam sini udah protes," ucap Amartha.


"Siap, bumil! kita makan apa hari ini?" tanya Vira sambil melihat beberapa restoran yang lumayan ramai di jam makan siang seperti ini.


"Apa ya enaknya?" Amartha berjalan lambat dan berhenti sejenak.


"Kamu pengennya apa? aku mah ngikut aja," ujar Vira.


"Disana aja, deh! yang masih ada meja yang kosong," ucap Amartha menunjuk restoran pizza.


"Ya udah, yuk!" Vira menggandengan lengan sahabatnya.


Mereka berdua berjalan ke arah sebuah restoran pizza yang menjadi favorit mereka sewaktu masih kuliah. Mereka duduk dan langsung disambut oleh pelayan yang membawa buku daftar menu.


Amartha dan Vira pun masing-masing menyebutkan pesanan mereka.


"Udah lama kita nggak makan siang bareng, ya?" ucap Amartha.


"Lah, bukannya dua hari ini kita selalu makan siang bareng?" Vira menautkan kedua alisnya.


"Maksudnya, makan siang di luar kayak gini loh, Iyeeeemmm!" kata Amartha yang gemas, Vira pun tertawa kecil melihat Amartha yang bete dengan jawabannya.

__ADS_1


"Maaf, Nyonya! ini sepertinya milik anda..." ucap seorang pelayan yang memberikan sebuah boneka yang bergaun merah.


__ADS_2