Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Perlakuan Manis


__ADS_3

Setelah beberapa jam menempuh perjalanan menggunakan mobil, akhirnya Satya dan Amartha pun tiba di rumah Sandra.


"Kita nginep di rumah tante Sandra?" Amartha bertanya saat mobil mereka berhenti di depan rumah megah keluarga Ganendra.


"Aku sih maunya nginep berdua apartemen, tapi mami bisa ngamuk-ngamuk nanti," ucap Satya sambil bergidig ngeri apa yang akan dilakukan sang mami jika mengetahui Satya membawa Amartha ke apartemen. Amartha pun tertawa melihat tingkah konyol calon suaminya itu.


"Damian, biar saya bawa sendiri kopernya," Satya mengambil alih koper yang sudah diturunkan Damian dari bagasi.


"Baik, Tuan ... kalau begitu permisi," ucap Damian yang kemudian memarkirkan mobil ke garasi. Sementara pelayan yang sudah diberitahu bahwa Satya akan datang oun segera membuka pintu untuk majikannya.


"Mari saya bantu, Tuan..." kata Mira saat melihat majikannya membawa dua koper besar.


"Tidak usah, terima kasih ... kamu kunci pintu saja, Mira..." ucap Satya pada Mira.


"Ya udah, masuk yuk?" ajak Satya dengan kedua tangan yang masing-masing membawa koper.


"Aku bawa satu, Mas..." Amartha berusaha meraih salah satu kopernya.


"Nggak usah, Sayang ... biar aku aja!" Satya melepaskan tangan Amartha yang sudah memegang salah satu kopernya. Pria itu tersenyum manis pada wanitanya.


"Tapi, Mas?" Amartha merasa tidak enak melihat Satya begitu kerepotan.


"Udah ... ayok, masuk..." ajak Satya, menunjuk pintu dengan dagunya.


"Ehm, kayaknya mami udah tidur, aku anter kamu ke kamar aja ya," lanjut Satya ketika menyadari waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.


Amartha tidak mau melakukan perjalanan udara, dia ingin naik mobil saja, walaupun memakan waktu berjam-jam lamanya. Satya hanya mengikuti keinginan sang calon istri, dan sepanjang perjalanan Amartha lebih banyak tidur.


Seharusnya hari ini ada janji dengan client penting, tapi Satya tidak mau mengecewakan Amartha, jadilah Firlan yang jadi korbannya. Sang asistenlah yang harus menggantikan dirinya dalam beberapa pertemuan hari ini, sementara sang bos enak-enakan pacaran.


"Makasih, Mas..." ucap Amartha saat Satya membuka dan meletakkan koper di salah satu sudut kamar yang di tempati Amartha.


"Kamu istirahat, ya? atau mau aku temenin?" kata Satya sambil mengelus pucuk kepala Amartha, lalu beralih mengelus pipi kanan wanita itu


"Ih, maunya..." Amartha mencebikkan bibirnya.


Cup!

__ADS_1


"Selamat malam, Sayang ... mimpi indah, ya..." Satya mencium kening Amartha. Amartha hanya diam saat benda kenyal itu menyentuh keningnya.


Wajah Amartha bersemu seketika mendapatkan perlakuan manis itu. Satya lalu melangkahkan kakinya keluar dan Amartha segera menutup pintu. Gadis itu berdiri bersandar pada pintu sambil memegang kedua pipinya yang terasa panas, kemudian ia tersenyum simpul. Amartha merasa sangat beruntung bisa memiliki pria sebaik Satya. Pria itu sangat manis, walaupun sering bertingkah seperti anak kecil.


"Selamat malam, Mas Satya..." gumamnya seraya berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.


.


.


Sementara ditempat lain, Kenan yang sudah memakai piyamanya duduk bersandar di bawah kaki ranjangnya, ia menggeser layar ponselnya. Melihat setiap potret dirinya bersama Amartha. Sesekali ia tertawa, kemudian menangis. Rasanya seribu belati menghujam perasaannya saat ini, ia sangat merindukan wanita yang sudah menjadi mantan istrinya itu. Wanita yang pernah menjadi istrinya selama dua hari.


Kenan memejamkan matanya, kenangan manis berputar-putar dalam ingatannya saat ini. Dia mengingat ketika, Amartha menerima cintanya, kala b*bir mereka saling bertaut, menci*m bibir lembut. Kenan masih ingat betul rasa manis b*bir milik Amartha. Namun, sekelebat ingatan buruk menghampiri. Saat Amartha menyatukan tangannya dengan Sinta, mengingat memori itu membuat dadanya terasa nyeri.


Pria itu membuka matanya. Perpisahannya dengan Amartha menjadi kenangan terburuk dalam hidupnya. Hidupnya kini hanya untuk bekerja, bahkan setelah Sinta sembuh Kenan sudah tak lagi menemui gadis itu. Tapi Sinta terus saja datang mengganggunya, bahkan di jam kantor sekalipun, namun Kenan tak menggubrisnya sama sekali.


"Seandainya aku bersikap tegas, seandainya aku bisa menolak permintaan mereka, seandainya aku tidak meninggalkanmu sendirian disana, pasti saat ini kita masih bersama Amartha ... maafkan pria bodoh ini Amartha! bisakah kita kembali? bisalah kita mulai lagi dari awal?" Kenan mengutuk dirinya sendiri, dia sangat menyesal telah menukar kebahagiaannya demi mempertahankan kehidupan seseorang.


Ini jelas tidak adil untuknya. Air mata meleleh dari kedua sudut matanya, pria itu merasakan sakit yang teramat sangat, ia tak akan rela jika Amartha bersama pria lain. Walaupun nyatanya dirinyalah yang bersikap tidak adil pada Amartha. Namun bukankah setiap orang berhak atas kesempatan kedua?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


Matahari menelusup dari celah tirai berwarna putih. Satya masih bergelung dalam selimut tebalnya. Pria itu baru memejamkan matanya sekitar pukul 3 pagi, karena mengecek beberapa email dan laporan dari Firlan. Namun, ia merasakan tangan lembut seorang wanita tengah menusuk-nusukkan jarinya di pipinya.


"Mas ... bangun, Mas Satya?" wanita itu terus saja memencet-mencet pipi Satya seperti sedang memencet sebuah tombol.


"Mas ... udah pagi, bangun..." ucap calon istri dari Satya Ganendra yang sedang duduk di tepi ranjang, dimana Satya tengah berbaring. Merasa tak mendapatkan respon, Amartha pun segera beranjak meninggalkan Satya, namun belum sempat ia melangkahkan kakinya, sebuah tangan yang kokoh tiba-tiba menarik dirinya hingga terjatuh diatas dada bidang pria yang sedang dibangunkannya.


"Akkkkh!" pekik Amartha saat mendapati dirinya terjatuh dipelukan Satya.


"Ssssttt, jangan teriak, nanti mami curiga!" ucap Satya menaruh telunjuknya di depan bibir.


"Curiga?" gumam Amartha sambil mengedip beberapa kali, berusaha untuk loading.

__ADS_1


"Ih, apaan sih, Mas! bikin orang kaget ajah!" ucap Amartha seraya bangkit dari posisi nyungsepnya.


"Ce-cepetan bangun! a-aku tunggu di bawah," lanjutnya dengan gugup, dan melangkahkan kakinya keluar dengan terburu-buru.


Sedangkan Satya tertawa melihat Amartha yang menjadi salah tingkah. Pria itu segera bangkit dan melenggang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu.


Setelah setelah berpakaian rapi dengan setelan jasnya, Satya turun dan berjalan ke arah ruang makan.


"Eh, Sat? sarapan dulu," ucap Sandra saat melihat Satya sudah mendekat, kemudian Satya menarik salah satu kursi di samping Amartha lalu mendudukinya.


"Semalam kalian datang jam berapa? kok nggak bangunin mami?" tanya Sandra pada anaknya.


"Udah malem banget, Mam ... Mami pasti udah tidur, lagian Amartha juga capek habis perjalanan jauh, ya kan Sayang" jelas Satya sambil melirik ke arah Amartha. Amartha hanya tersenyum kaku mendapat lirikan maut dari Satya.


"Ih! kamu jangan nakutin menantu mami!" ucap Sandra ketika melihat ekspresi wajah Amartha.


"Ih, muka ganteng kayak gini kok, dibilang nakutin!" kata Satya yang membuat Amartha terkekeh dibuatnya.


"Papi mana, Mam?" Satya bertanya ketika menyadari tak mendapati sosok ayahnya di meja makan.


"Lagi mode ngambek diatas, masih di kamar!" sahut Sandra yang kini sedang mengoleskan selai kacang diatas rotinya.


"Ngambek kenapa? tumben pake acara ngambek segala?"


"Papi mau beli moge lagi, tapi mami larang! nggak liat kamu, Sat? moge dah hampir selusin, mau diapain, coba?" Sandra terus mengoceh, sementara Satya dan Amartha tertawa mendengar cerita Sandra.


"Amartha?" Sandra beralih menatap Amartha yang selesai menyeruput teh hangatnya.


"Ya, Tante..." sahut Amartha sopan.


"Kok masih manggilnya tante, sih? mulai sekarang kamu panggil tante, mami!" titah sang mami.


"Ya, Mam..." jawab Amartha cepat.


"Nah, gitu dong! Sayang, hari ini kita ke butik buat fitting baju pengantin kalian ... Sat? kamu nanti siang dateng ke butik langganan mami, ya?" Sandra beralih memandang ke arah Satya yang sedang menyuapkan roti ke mulutnya.


"Iya, kalau nggak lupa, Mam..." ucap Satya yang langsung mendapatkan tatapan dari Sandra.

__ADS_1


"Hehehe, diusahakan kok, Mam!" ucap Satya lagi.


...----------------...


__ADS_2