Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Sepatu kaca


__ADS_3

"Mbak, ini bakal keliatan nggak?" Amartha menunjuk malu bagian wajah dan leher ke bawah, beruntung Amartha memakai gaun yang tidak mengekspose tubuh bagian belakangnya.


"Nggak akan keliatan, diilangin dulu pakai make up remover, baru di-covered pake foundation" ucap seorang wanita yang sedang melihat seberapa bercak dengan pola yang acak-acakan bekas lipstik waterproof.


"Pokoknya supaya bener-bener ilang ya, Mbak..." ucap Amartha dengan tatapan memelasnya, dia tak habis pikir dengan Satya yang membuat dia sangat malu 7 turunan, 8 tanjakan, karena dia sudah menggosok dengan air namun tidak hilang. Kebetulan make up removernya ketinggalan di rumah.


Sandra masuk setelah pintu dibukakan oleh seorang wanita lain yang sedang menata rambut Amartha.


"Sayang? kamu udah minum obatnya?" tanya Sandra yang berdiri di samping Amartha dan mengusap bahu menantunya dengan sangat lembut, Amartha lantas menoleh dan sedikit mendongakkan kepalanya sedikit ke atas melihat wajah mertuanya yang sudah sangat cantik.


"Udah, Mam ... baru aja aku minum, Mam ... makasih ya, Mam..." ucap Amartha seraya melengkung sebuah senyuman di bibir ranumnya.


"Udah mendingan? apa masih pusing? awas aja kalau dia ngajakin main game lagi," kata Sandra yang membuat Amartha dengan cepat menggeleng, kalau dia jawab 'iya' bisa digaplok pake bakiak tuh wajah suami.


"Udah nggak pusing kok, Mam..." ucap Amartha berusaha meyakinkan Sandra.


"Beneran loh?" kata Sandra sambil menatap lekat sang menantu.


"Iya, Mam ... beneran udah nggak pusing," kata Amartha, padahal dia masih agak kliyengan, maklum kurang tidur.


"Oh ya, mama papa kamu sudah datang, sekarang lagi ganti baju di kamar sebelah," kata Sandra yang membuat Amartha semakin merasa beruntung, karena Sandra yang begitu sayang dan perhatian padanya, memperlakukannya seperti anak kandungnya sendiri.


"Mami tinggal dulu ya, Sayang ... nanti kita ketemu di ballroom," kata Sandra sebelum keluar dari ruangan itu.


Amartha menghela nafas lega akhirnya perjuangannya duduk tegak didepan cermin selesai sudah. Kini giliran dua orang itu membentunya untuk memakai gaun yang dirancang khusus untuknya.


Amartha sangat cantik dengan balutan gaun pernikahan berlengan panjang dengan bahan brukat namun di bagian lengan bagian dalam menggunakan bahan transparan yang memperlihatkan kulit putih sang pengantin.


Gaun yang sekarang sudah membalut tubuh Amartha, simpel namun sangat elegant dan menampilkan lekuk tubuh wanita itu, apalagi ketika dipadu dengan taburan swaroski dan berlian di beberapa bagian gaun membuatnya terlihat sempurna.

__ADS_1


Kalung liontin blue diamond melingkar di leher jenjang wanita yang kini telah dinikahi Satya, membuat aura kecantikan wanita itu semakin terpancar.


Satya yang telah rapi dengan tuksedonya pun sampai tak bisa berkedip melihat wajah istrinya. Para perias yang sudah selesai melukis wajah Amartha pun segera pamit undur diri, meninggalkan sepasang pengantin yang saling mengagumi satu sama lain.


Satya berdiri dibelakang istrinya melihat pantulan mereka berdua, lalu pria itu memeluk istrinya dari belakang.


"Makasih ya, Mas? aku nggak pernah nyangka kalau bakal jatuh ke pelukan pria slengean kayak kamu, Mas..." kata Amartha sambil mengusap lembut lengan suaminya, yang sedang memeluknya.


"Hahahaha, mungkin itu yang dinamakan tidak bisa melawan takdir, Yank..." kata Satya.


"Mungkin..." sahut Amartha singkat.


"Sejak awal sebenarnya tuhan sudah menggariskan namaku untuk menjadi jodohmu, hanya saja waktu itu aku melihatmu menangis, membuat aku mundur selangkah, dan membiarkan orang lain mengambil posisiku," kata Satya yang kemudian membenamkan kepalanya diceruk istrinya.


"Berarti cinta kamu perlu dipertanyakan," celetuk Amartha yang membuat Satya tiba-tiba mendongak.


"Kenapa?


"Bukan kayak gitu, kamu tuh mikirnya apa sih ... aku tuh cinta banget sama kamu, bahkan melebihi diriku sendiri, aku cuma nggak bisa dan nggak mau kamu tersiksa dengan pernikahan yang dipaksakan dengan orang nggak kamu cintai," jelas Satya dengan tak melepaskan pandangannya dari cermin, jarang-jarang pria modelan Satya ngomong serius.


"Berarti kalau aku mau balik lagi sama-" Amartha mencoba menjahili suaminya.


"Jangan macam-macam, karena sekarang aku nggak akan pernah ngelepasin kamu, kecuali aku mati," sergah Satya yang langsung berubah raut wajahnya menjadi sendu.


"Jangan pernah bicara tentang kematian, karena aku nggak akan sanggup hidup tanpa kamu, Mas ... makasih ya Mas, kamu baik banget sama aku, kamu udah kasih cinta yang begitu besar buat aku, walaupun tingkahmu yang absurdnya nggak karuan, dan nyebelinnya nggak ada obat, tapi aku cinta sama kamu," ucap Amartha, yang membuat Satya merengut.


"Udah diterbangin tinggi-tinggi eh nyungsruk juga, kamu niat muji nggak sih, Yank?" Satya menatap kesal istrinya.


"Nggak boleh marah, hahahahaha..."

__ADS_1


Satya pun menarik lembut lengan Amartha, menuntunnya beranjak dari duduknya, kemudian ia membawa istrinya ke dalam dekapannya, awalnya Satya mengira Amartha tidak begitu betul-betul mencintainya namun perasaan itu musnah seketika, kini ia yakin bahwa Amartha sudah melabuhkan hati padanya.


"Aku ada sesuatu buat kamu, sebentar aku ambil dulu," ucapnya sambil menjarak tubuh keduanya. Satya menuntun istrinya menuju sofa yang ada di ruangan itu.


Kemudian, pria itu mengambil sebuah kotak berbentuk persegi panjang, yang diikat dengan pita berwarna gold, dan memberikannya pada Amartha.


"Apa ini, Mas?"


"Ehem, coba kamu buka, Sayang..." ucap Satya yang kini berlutut di depan istrinya.


"Sepatu kaca? kamu?" Amartha tak percaya dengan apa yang dilihatnya, sepasang sepatu kaca yang terbuat dari krystal yang sangat cantik.


"Kata Mama Rosa, dulu kamu pengen banget punya sepatu kaca, pengen kayak cinderella..." jelas Satya dengan bangga karena telah mewujudkan impian sang istri


"Sekarang ada sepatu kaca dipangkuanmu, dan pangeran tampan di hadapanmu, jadi apakah kau mau menjadi pasanganku malam ini, tuan puteri?"


"Kamu bikin aku malu, Mas..." kata Amartha yang malah tertawa.


"Aku lagi romantis-romantisnya kamu malah kayak gitu sih, Yank...?" gerutu Satya.


"Lagian Itu dulu banget, Mas ... waktu aku masih TK ... kamu ih, ada-ada aja, lagian Mama ngapain cerita kayak gitu sama kamu," kata Amartha yang masih saja terkekeh.


"Aku khusus loh, Yank ... pesenin ini buat kamu, jadi kamu nggak suka, nih? ya udah aku buang aja," ucap Satya yang mau mengambil lagi kotak yang ada dipangkuan Amartha


"Dih, ngambekan ... lagian barang yang udah dikasih nggak boleh diambil lagi, ntar bintitan, mau? ehem, aku suka banget kok ... aku cuma nggak nyangka aja kamu bisa kepikiran buat ngasih aku sepatu yang secantik ini," ucap Amartha setelah berhasil mempertahankan apa yang sudah menjadi miliknya.


"Kalau gitu, aku pakein, Yah?" ucap Satya yang dijawab anggukan oleh istrinya. Satya memakaikan sepatu kaca itu di kaki istrinya, membuat sang istri tersenyum bahagia.


"Akhirnya aku menemukanmu setelah sekian lama mencarimu, tuan puteri ... mau kah kau menemaniku menikmati pesta malam ini?" tanya Satya yang lagi cosplay jadi pangeran.

__ADS_1


"Dengan senang hati, pangeran..."


...----------------...


__ADS_2