
"Iya ... kamu mau makan apa?" tanya Ricko yang sudah menyiapkan wajan dan spatula.
"Apa aja yang penting bisa dimakan," ucap Vira datar.
"Bener ya apa aja," kata Ricko menggoda Vira yang entah pikirannya travelling kemana.
"Iya,"
Ricko bingung harus membuatkan makanan apa untuk Vira.
"Rice bowl mau nggak?" tanya Ricko.
"Apa aja," kata Vira.
Ricko memotong beberapa bahan makanan sambil melihat gadis kecilnya yang duduk tapi pandangan matanya kosong.
"Apa aku terlalu egois?" gumam Vira dalam hatinya. Ia memikirkan Firlan yang pasti juga belum makan, apalagi dia sibuk dari pagi. Sesaat rasa bersalah menghantui Vira.
Vira menunduk, menopangkan keningnya pada kedua telapak tangannya yang menggenggam. Dia terbayang wajah kecewa kekasihnya itu. Vira memejamkan matanya, perlahan kepalanya bersandar pada lengan yang berfungsi sebagai bantalannya.
Ricko yang sudah selesai dengan aksi masaknya. Ia menatuh ayam teriyaki diatas mangkok yang berisi nasi putih. Ia juga mengambil sumpit, kemudian menghampiri Vira yang sebagian tubuhnya sudah ambruk diatas meja.
"Yah nih bocah malah tidur," kata Ricko, ia menaruh sumpit diatas mangkuk yang pria itu letakkan diatas meja.
Pria itu duduk di samping Vira. ia menyingkirkan rambut yang menutupi wajah gadis kecilnya.
"Aku udah bikinin makanan buat kamu," ucap Ricko sembari mengusap kepala Vira dengan lembut.
"Jangan biarkan perutmu kosong, Vira..." ucapnya lagi, namun wanita itu sepertinya sudah jauh terbang ke alam mimpi. Ricko menghela nafasnya, ia masih memandangi wajah Vira.d
"Sebenernya kamu bahagia nggak sih sama Firlan? apa dia memperlakukanmu dengan baik?" tanya Ricko, dia tak butuh jawaban. Dia hanya ingin mengeluarkan apa yang di dalam hatinya saat ini.
"Aku egois ya, Vir? harusnya aku nggak pernah bilang kalau aku suka sama kamu, dan biarkan waktu yang mempersilakan rasa itu pergi," Ricko memandang wajah polos Vira, wanita itu nampaknya sudah sangat pulas.
"Vir ... Vira?" Ricko mencoba membangunkan Vira.
"Vira? pindah gih ke kamar kamu," kata Ricko.
"Emmhh," Vira malah semakin membenamkan wajahnya di lekukan engannya.
"Badan kamu bisa sakit kalau tidur kayak gini," kata Ricko.
"Iya," kata Vira yang bangkit, entah dia sadar atau tidak yang jelas kakinya bergerak dengan mata yang terbuka sedikit.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, Ricko berusaha memapah Vira untuk masuk ke kamarnya. Jika saja luka di perutnya sudah sembuh, pasti dia sudah menggendong Vira tanpa perlu membangunkan wanita itu dari tidurnya. Dengan susah payah Ricko merebahkan tubuh Vira di atas ranjang. Pria itu menyelimuti Vira dengan selimut tebal. Ricko mematikan lampu, namun sesaat Vira seperti orang yang sesak nafas.
Ricko yang baru saja akan keluar dari kamar Vira, lantas menghentikan langkahnya dan menyalakan kembali lampu di kamar Vira.
__ADS_1
"Hhh ... hhh..." Vira seperti orang yang sesak nafas, sedangkan matanya masih terpejam.
"Ssshhh, ada aku..." ucap Ricko lirih.
"Tenang ada aku," lanjut pria itu yang duduk di lantai sedangkan tangannya menggenggam tangan Vira yang terasa dingin.
Dalam alam bawah sadarnya, Vira merasakan dia sedang berada di ruangan yang sangat gelap. Dia mulai gelagapan, dia sangat panik karena tidak menemukan secercah cahaya. Nafasnya mulai tersengal, namun perlahan ada cahaya yang merambat masuk ke dalam ruangannya. Perlahan nafasnya kembali teratur.
"Tanganmu sangat dingin," kata Ricko yang mengusap lembut punggung tangan Vira.
Adzan subuh sudah berkumandang, sepasang suami istri sudah bersiap melakukan kewajibannya. Satya sudah menggelar sajadahnya begitu juga dengan Amartha. Amartha sangat senang karena memiliki suami yang menyayanginya sekaligus taat pada agamanya. Setelah selesai dengan dua rakaatnya, Amartha meraih tangan suaminya lalu menciumnya.
"Kalau susah, kamu bisa shalat sambil duduk, Sayang..." kata Satya yang melihat Amartha mulai melepas mukena.
"Iya, Sayangkuuuu..." jawab Amartha.
"Mas, keluar yuk? cari udara pagi," ujar Amartha, sambil menyisir rambutnya.
"Masih gelap kayak gini loh, Sayang! dingin diluar," kata Satya.
"Pakai jaket atau pake sweater..." jawab Amartha.
"Pakai mobil aja, ya?" ucap Satya.
"Kan mau jalan kaki aku, Mas ... biar gampang nanti waktu persalinan," kata Amartha.
"Tapi malah enakan jam segini, Mas ... beneran deh! udara belum dibagi-bagi sama orang lewat," Amartha tak mau kalah.
"Astaga, kamu kebanyakan gaul sama Vira jadi kayak gini nih, ada aja jawabannya kalau dikasih tau!"
"Ya iya orang dia temen ku. Apa kabar dia ya? udah lama aku nggak ketemu," ucap Amartha yang tiba-tiba saja ingat Vira.
"Yuk, Mas..." ucap Amartha yang sudah memakai baju yang panjangnya dibawah lutut. Terbuat dari bahan yang membuat anget badan, dengan hoddie untuk menutupi kepala.
"Pakai leging," ucap Satya saat ia melihat apa yang dipakai istrinya.
Amartha langsung mengambil leging dan memakainya, sementara Satya masih setia dengan baju koko dan sarung.
"Kok kamu belum ganti sih, Mas?" Amartha mengerucutkan bibirnya.
"Iya, ini juga mau ganti," kata Satya yang memang sengaja mengulur waktu.
"Aku pakai baju apa ya?" kata Satya yang menimbang-nimbang apa yang akan dipakainya.
Amarthabyang sudah gregetan, langsung mengambilkan celana olahraga dan kaosnya.
"Nggak mau pakai itu, ah! emangnya aku mau olahraga? kan kita cuma mau jalan kaki," kata Satya.
__ADS_1
"Ya udah pakai ini," kata Amartha yang mengambilkan celana pendek dengan kaos putih.
"Nggak mau, ah! masih dingin di luar, lagian itu celana cuma dipakai kalau di dalem kamar," kata Satya.
"Terus mau pakai apa? kita cuma mau jalan kaki di depan rumah aja ribet banget," Amartha sungguh sangat kesal dengan tingkah suaminya.
"Walaupun hanya di depan rumah, tapi udaranya masih dingin banget tau!" ucap Satya beralasan.
"Terus kamu mau pakai apa, Maaaaaas..."
"Apa, ya?" Satya malah duduk di tepi ranjang.
"Cepetan, Mas! mau pakai yang mana,"
"Hmmmm," Satya berdehem sambil mengetuk-ngetukkan jari di dagunya.
"Ya udah deh, pakai yang pertama aja," kata Satya.
"Dari tadi, kek..." Amartha menaruh kembali baju ke dalam lemari.
"Ya udah aku ganti dulu, ya?" kata Satya.
"Ya udah cepetan, astaghfirllaaaah!" seru Amartha berkacak pinggang. Daripada tambah stress melihat suaminya, akhirnya Amartha memilih untuk pergi saja.
"Aku tunggu di ruang tamu," ucap Amartha.
"Awas, jangan lama-lama!" lanjut wanita itu sebelum keluar dari kamar.
Satya segera mengganti bajunya, ia mengambil beberapa lembar uang dan menyimpannya di saku bagian belakang.
"Emang tampan nggak ada lawan ini mah!" kata Satya yang menyisir rambutnya memakai jari, ia melihat badan atletis yang terbungkus baju olahraga.
Sementara di ruang tamu, Amartha sudah bete menunggu Satya yang belum juga menampakkan batang hidungnya. Amartha sudah membuka pintu.
"Lama banget dah cuma ganti baju aja," gerutu Amartha.
Tak lama yang ditunggu pun akhirnya nongol juga, Satya dengan pedenya berjalan ke arah istrinya yang cemberut.
"Yuk, sekarang?" tanya Satya tanpa rasa bersalah.
"Nggak!" ucap Amartha seraya bangkit.
"Taun depan!" lanjut Amartha.
"Oh, ya udah ... aku mau masuk kamar lagi," ucap Satya yang kemudian memutar tubuhnya hendak pergi.
"Nggak usah macem-macem, deh!" Amartha langsung menarik Satya keluar. Sementara Satya terkekeh karena berhasil mengerjai istrinya.
__ADS_1
...----------------...