Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Kamu beda


__ADS_3

"Sayang?" seru Satya yang suaranya terdengar sangat dekat dengan tempatnya saat ini.


Amartha segera memasukkan benda yang digenggamnya ke dalam saku celana hamil yang dipakainya.


"Aku cari-cari ternyata disini," kata Satya.


"Cih! dasar penipu!" umpat Amartha, memaki suaminya dalam hati. Ia memasang senyum palsu, namun dalam hati ia sangat muak melihat wajah pria tanpa dosa itu.


Amartha bangkit dari duduknya dan berjalan menuju taman. Langkahnya diikuti suaminya. Amartha menggeser rolling door yang terbuat dari kaca. Ia duduk di satu kursi menatap langit yang berwarna oranye.


"Kenapa?" tanya Satya yang duduk sejajar dengan istrinya namun dibatasi meja ditangahnya.


"Kenapa apanya?" tanya Amartha mencoba membiasakan ekspresi wajahnya.


"Kamu beda," ucap Satya, ia merasakan hatinya mencelos saat istrinya menolak ketika Satya akan mencium keningnya.


"Dari dulu aku emang kayak gini, kan?" Amartha menaikkan satu sudut bibirnya. Ia mengelus lembut perutnya karena terasa ada yang mendorong di bagian perut bawahnya, sedikit nyeri.


"Kenapa? perutnya sakit?" tanya Satya yang melihat wajah istrinya yang menahan rasa tidak nyaman.


"Nggak, kok! mungkin duduknya yang kurang nyaman," ucap Amartha sembari mengubah posisi duduknya.


"Kalau ada kontraksi ngomong aku, ya?" ucap Satya, Amartha tak mau menatap wajah Satya. Hatinya terlanjur sakit dan kecewa.


"Iya," sahut Amartha.


Sedangkan di tempat yang lain. Vira sudah tidak tinggal di apartemen Ricko. Kini, dia tinggal di sebuah kontrakan, dengan alasan tidak baik jika seorang wanita dan laki-laki yang tidak ada hubungan darah tinggal dalam satu atap yang sama. Vira mulai menggeluti bidang rajut merajut pakaian. Berbekal uang yang di dapat dari jasa melukis dinding. Vira bisa memulai usahanya sendiri.


Jangan ditanya mengenai kisah percintaannya yang sudah seperti benang kusut itu. Keduanya masih mempertahankan hubungan yang membuat mereka saling menyakiti satu sama lain.


Sampai detik ini Firlan belum mengetahui jika Vira sudah pergi dari apartemen Ricko.


"Perasaanku nggak enak banget," ucap Vira sambil meletakkan hasil rajutan yang baru setengah jadi itu.


Mendadak, Vira teringat spirit doll yang diterima Amartha.


"Apa dia baik-baik aja?" gumam Vira dalam hatinya.

__ADS_1


.


.


Keesokan harinya.


Amartha turun ke bawah sebelum suaminya bangun. Dia keluar dari rumah, bukan untuk kabur. Tapi untuk jalan-jalan pagi. Usia kandungannya yang sudah memasuki bulan ke-8, mengharuskan dia untuk lebih banyak berjalan. Agar bayi bisa memposisikan kepalanya masuk ke dalam panggul.


Kakinya melangkah, dibawah langit yang mulai terang. Udara pagi yang berhembus, tak cukup kuat untuk menyejukkan hatinya saat ini.


"Huuufhhh," Amartha menghela nafas panjang, beberapa meter lagi ia akan sampai di rumahnya. Namun, dari arah belakang ada seorang pengendara motor yang melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Satu tangannya mendorong tubuh Amartha hingga wanita itu hilang keseimbangan.


"Awwwwwhhh!" pekik wanita itu.


Disamping Amartha ada sebuah pohon, ia sempat menahan tubuhnya agar perut besarnya tidak sampai terbentur pohon itu.


"Astagfirllah, awwwh! hhh ... hhhh..." Amartha mencoba menegakkan tubuhnya, ia memegangi perutnya yang terasa kencang dan sedikit nyeri.


Wanita itu berusaha melangkah sampai masuk ke pelataran rumahnya.


"Mang, kunci gerbangnya..." ucap Amartha.


Amartha berjalan dengan sangat hati-hati. Setelah sampai di ruang keluarga, dia berusaha untuk duduk dengan perlahan. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.


"Benar kata Vira, aku rasa aku nggak bisa menganggap remeh orang ini," gumam Amartha.


"Sayang? kamu darimana? aku bangun kamu udah nggak ada," tanya Satya yang kini mendekat dan duduk di samping istrinya. Satya mendekatkan wajahnya, namun Amartha segera menghindar.


"Aku belum mandi, kringetan. Aku mau ke kamar, mandi dulu," ucap Amartha seraya bangkit dari duduknya. Satya hanya melihat punggung istrinya yang kian menjauh.


"Sebenarnya dia kenapa?" ucap Satya.


Setelah naik ke kamarnta, Amartha enggan untuk turun ke bawah bahkan hanya untuk sarapan. Amartha yang biasanya akan mengantar suaminya sampai ke depan pintu, kini hanya bersembunyi dibalik selimut.


Ponselnya berbunyi, menandakan sebuah pesan masuk. Amartha meraih ponselnya yang ada di atas nakas, ia mengganjal punggungnya dengan bantal agar nyaman saat duduk.


Ia oun mengusap layar ponselnya. Ada nomor yang tidak dikenal mengirim video Satya tengah berjalan dengan Ivanka. Sesekali kepala wanita itu sengaja bersandar di bahu suaminya.

__ADS_1


Amartha langsung menutup ponselnya. Air mata langsung lolos dari kedua netranya. Hatinya seperti tertusuk belati, sangat sakit.


"Kamu ... kamu jahat banget, Mas! aku lagi hamil dan kamu malah jalan sama perempuan lain!"


Namun, tak berapa lama ada sebuah pesan dari nomor yang tidak ada dalam kontaknya.


"Pergilah, dan aku tidak akan menyakitimu..." lirih Amartha melihat sebuah pesan yang muncul di ponselnya. Dan saat Amartha mengklik pesan itu untuk membacanya secara utuh, pesan itu sudah dihapus.


"Aku yakin pengirim pesan ini merupakan orang yang sama dengan pengirim boneka arwah," gumam Amartha.


"Aku nggak mungkin terus-terusan disini, sementara suamiku enak-enakan jalan sama perempuan lain,"


"Maafin ibu, tapi ini yang terbaik untuk kita saat ini," ucap Amartha seraya mengusap perut besarnya. Ia segera mengusap bekas air mata di pipinya.


Amartha mulai beringsut dan menjukurkan kakinya ke lantai. Dia mengambil tas yang ia sembunyikan. Amartha nampak berpikir, sebelum membawa tas itu pergi.


"Nggak bisa. Aku nggak mungkin bawa tas sebesar ini, mereka pasti curiga..." ucap Amartha bermonolog dengan dirinya sendiri.


Ia berganti pakaian, lalu ia mengambil sebuah tas kotak yang ukurannya lumayan besar. Ia memindahkan uang cash yang ada di tas jinjing ke tas yang berbentuk kotak itu. Ia hanya mengambil satu pakaian ganti dan memasukannya ke dalam tas.


Amartha segera memoles wajahnya, sesaat matanya terpaku pada foto pernikahannya dengan Satya. Air matanya keluar, merembes membawa sejuta luka. Tak ada waktu untuk menangis, ia segera mengelap wajahnya dengan telapak tangannya. Amartha mencoba mengatur nafasnya, dan mencoba untuk tersenyum.


Amartha sudah meminta Damian untuk mengantarnya ke sebuah pusat perbelanjaan. Sepanjang perjalanan wanita itu memandang ke arah luar jendela. Beberapa kali Amartha menghela nafasnya.


"Aku turun di lobby," ucap Amartha.


"Baik, Nyonya..." jawab Damian.


Damian memperlambat laju mobilnya saat mereka sudah sampai di lobby depan. Damian segera turun dan membukakan pintu untuk majikannya.


"Terima kasih," ucap Amartha setelah berhasil keluar.


"Saya akan cari parkiran di basement," ucap Damian sebelum kembali masuk ke dalam mobil.


Amartha memutar tubuhnya menghadap ke pintu masuk mall tersebut. Namun, setelah beberapa langkah, Amartha kemudian berbalik. Setelah memastikan mobilnya sudah meluncur ke basement. Amartha menjulurkan dan melambaikan tangannya.


"Taksi!" seru Amartha pada taksi yang kebetulan baru saja menurunkan penumpangnya pada area drop off mobil.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2