
Setelah Kenan pergi, tak lama Sandra datang untuk mengunjungi menantunya. Sedangkan kedua orangtua Amartha masih ada di dalam, menemani putrinya.
"Sat? kok diluar?" ucap Sandra saat melihat tampang kusut bin lusuh anak sulungnya.
"Ada mama sama papa Amartha di dalem," jawab Satya yang bikin kening Sandra berkerut, jawaban Satya sama sekali nggak nyambung.
"Mami masuk, ya? kamu nggak mau ikutan masuk?" tanya Sandra yang mengajak Satya untuk mengikutinya.
"Nanti aja, Mam..." Satya malah merogoh sakunya mengambil ponselnya.
"Awas jangan ngelamun! tau nggak, Sat? di rumah sakitkan banyak arwah-arwah gentayangan," ucap Sandra dengan nada yang dibuat-buat, pake acara bergidig ngeri segala.
"Tuh arwahnya di belakang Mami." sahut Satya menunjuk punggung Sandra dengan dagunya.
"Dasar anak durhaka! berani ya kamu nakutin Mami! awas kamu, Sat! mami laporin papi," Sandra malah ngomel.
Satya hanya tertawa melihat maminya langsung masuk ke dalam ruang rawat Amartha meninggalkan anaknya sendirian. Pria itu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.
Satya sedang menopang dagu dengan tangannya, dia duduk sembari memejamkan matanya, namun belum sempat pikirannya ke negeri antah berantah. Ada panggilan masuk ke ponselnya. Satya segera mengangkatnya.
"Halo Sat? gue udah tau semuanya, Sat!" ucap pria di seberang telepon.
"Gue, gue minta maaf banget, Sat! gue nggak nyangka dia bisa berbuat hal sejauh itu." ucap pria itu lagi.
"Yang penting istriku selamat, Raf." Satya menghela nafasnya. Yang sekarang sedang meneleponnya adalah Aaraf yang sebenarnya. Pria itu sangat malu atas kelakuan adik kembarnya, apa lagi dia dan Satya sudah berkawan baik sejak dulu.
"Suwer! gue minta maaf banget, Sat! ntar gue kasih bonus bogem mentah tuh bocah, biar otaknya kembali ke jalan yang benar." ucap Aaraf yang emosi saat tahu Ashraf membawa kabur istri temannya.
"Sorry, aku terpaksa menghajar adikmu itu," ucap Satya yang teringat dia menghajar Ashraf sampai babak belur, dan meninggalkannya begitu saja diatas kapal pesiar yang super mewah milik pria itu.
"Nggak masalah! dia emang pantes dapetin itu semua, udah sukur cuma di bikin bonyok," Aaraf menahan emosinya.
"Sekali lagi gue minta maaf, dan salam buat istri lo, get well soon." lanjut Aaraf.
__ADS_1
"Oke, makasih." ucap Satya sebelum mengakhiri pembicaraannya dengan Aaraf.
Baru saja ia akan menghubungi asisten laknat, Satya melihat Firlan berjalan bersama seorang wanita tak jauh dari tempat ia duduk.
Satya langsung bangkit saat sang asisten datang mendekatinya
"Lan, itu koper saya?" Satya menunjuk koper yang ada di tangan Firlan.
"Iya, Tuan." sahut Firlan yang nyengir bagaikan kuda.
"Kamu ngambilnya di turki atau di irak? pacaran dulu nih mesti!" Satya melihat Firlan dan Vira secara bergantian, dengan tatapan menelisik.
"Ya gimana, Tuan. Kemarin nyawa istri anda yang terancam, sedangkan semalam hubungan percintaan saya yang terancam kandas kalau nggak diselametin duluan," ucap Firlan membela diri, seraya menyenggol lengan Vira dengan sikunya.
"Iya, kan?" Firlan mencari dukungan, namun Vira malah ngibrit ke arah pintu.
"Aku masuk dulu, Ay!" ucap Vira yang meninggalkan pacarnya bersama bosnya yang ajaib.
Firlan yang mau masuk pun di halangi Satya.
"Ya mau masuk lah, Tuan. Noh pacar saya ada di dalem," jawab Firlan sambil menunjuk pintu yang terhalang tubuh bosnya.
"Sini kopernya, saya masukin sendiri, kamu tunggu disini, ada yang mau saya omongin," Satya memasukkan kopernya ke dalam ruangan dimana istrinya. Mereka yang didalam sedang asik ngobrol, jadi Satya hanya menaruh kopernya lantas segera pergi lagi.
"Juuuuuuummmmm!" Vira setengah berlari kecil ke arah Amartha yang sedang dikerubungi mertua dan orangtuanya.
"Yeeeeeemmmmmmmm!" Amartha sangat senang melihat Vira datang menjenguknya.
"Kesini sama siapa?" tanya Amartha, pasalnya ia dirawat di luar kota. Jadi, tidak mungkin Vira kesini sendirian.
"Firlan," sahut Vira hati-hati.
"Eh, ada Om ... tante," Vira mengangguk sopan.
__ADS_1
"Kamu temannya Amartha?" tanya Sandra yang baru melihat sosok wanita yang sangat cerewet.
"Iya, tante ... saya Vira, temannya Amartha waktu kuliah, kebetulan saya bekerja di rumah sakit milik Amartha. Iya kan, Jum?" Vira menatap Amartha.
"Tapi kok tadi dipanggilnya, Yem? jadi, sebenernya nama kamu Vira atau Yem?" Sandra bertanya sedangkan Rosa dan Rudy hanya terkekeh mendengar dua orang itu saling berbincang.
"Oh kalau Iyem itu panggilan kesayangan, Tante..." ucap Vira
"Kalau saya manggil Amartha, Juminten. Nah kalau Amartha manggil saya, Iyem." jelas Vira polos yang membuat gelak tawa di ruangan itu.
"Maaf, Mam. Punya temen satu modelannya begini, limited stock. Mau cari dimana-mana udah nggak ada, cuma dia doang, nih..." ucap Amartha yag mendapat pelototan dari Vira.
"Astaga, anak sekarang ada-ada aja, nama bagus-bagus diganti sama Iyem dan Juminten," ucap Rosa yang membuat Sandra tertawa, dan Rudy pun tak bisa menahan untuk tidak tertawa.
Dan setelah beberapa saat berbincang di ruangan itu Rudy dan Rosa pamit pulang, begitu juga dengan Sandra. Sebagai anak dan menantu yang baik, Satya mengantar mami dan mertuanya sampai mobil mereka meninggalkan rumah sakit. Awalnya, Sandra menawarkan Rosa dan Rudy untuk singgah ke rumahnya, namun mereka menolak. Jadi, Sandra menelepon salah satu supirnya untuk datang ke rumah sakit dan mengantar besannya kembali ke kotanya. Selama menunggu supir datang, mereka mengobrol di ruang rawat Amartha. Padahal bisa saja Sandra pulang duluan, tapi tidak. Karena Sandra tipikal orang yang sangat menghormati dan menghargai orang lain, itulah yang membuat Abiseka jatuh cinta pada wanita itu.
Dan sekarang, tinggalah Vira dan Amartha di ruangan yang sangat luas itu.Karena Firlan dan Satya sedang diluar menikmati kopi panas di kantin rumah sakit sambil membicarakan sesuatu yang penting
"Gimana, Jum? dedek bayi, aman?" tanya Vira setelah tak ada siapapun kecuali mereka berdua.
"Aman." kata Amartha singkat.
"Kalau otak kamu?" tanya Vira yang langsung mendapatkan serangan teplak nyamuk.
"Ishhhh, dasar!" Amartha berdecak kesal, tapi Vira malah terkekeh melihat wajah sahabatnya.
"Aku kaget loh pas denger kamu hamil, terus denger kamu diculik, aku khawatir terjadi apa-apa sama kamu. Firlan telat ngasih taunya," lanjut Vira yang nyerocos kayak emak-emak lagi nawar barang di pasar.
"Ehem, denger dari siapa, tadi?" Amartha bersidekap menatap Vira seperti pembawa acara gosip di tivi.
"Dari, ehm..." Vira bingung harus menjawab apa. Ingin rasamya dia menabok mulutnya yang biasa remnya blong itu.
"Dari siapa, Yem? gini deh, sebenernya hubungan kamu sama Firlan itu gimana, sih? aku curiga kalau kalian berdua..." ucap Amartha sambil menatap Vira intens.
__ADS_1
"Kita..." ucap Vira menggantung.
...----------------...