
Firlan kembali ke hotel, ia duduk sambil melihat ponsel di tangannya. Dia menelepon seseorang untuk membantunya menyelidiki proyek pembangunan gedung milik perusahaan Ganendra group.
"Pantau terus, besok saya akan kesana. Lakukan saja sesuai perintahku," ucap Firlan di seberang telepon.
Firlan segera mengganti pakaiannya dengan pakaian casual, ia menyambar kunci mobil dan keluar menuju pasar. Pria itu sengaja membeli beberapa baju disana. Setelah mendapatkan barang-barang yang ia butuhkan, pria itu segera kembali menuju hotel dan segera menggunakan jasa laundry hotel.
"Jika aku datang kesana sebagai asisten tuan Satya, pasti akan sulit untuk mendapatkan bukti kelicikan mereka," Firlan sedang bermonolog dengan dinya sendiri
Tak berapa lama ponselnya berdering dari seseorang yang membantunya dalam penyelidikan ini.
"Bagaimana? atur dan buat senormal mungkin, pastikan tidak ada yang curiga," ucap Firlan pada seseorang, ia terus memberikan instruksi untuk rencana yang akan dilancarkannya besok pagi.
Sementara di dalam perjalanan, Vira merasa sangat khawatir dengan Firlan. Ia tak bisa menghapus bayangan wajah kekasihnya yang baru ditemuinya beberapa jam yang lalu.
"Vir, kamu nginep di rumah aja, ya? besok pagi baru kamu pulang ke kosan," kata Amartha pada Vira.
"Besok aku shift pagi, Ta … aku pulang ke kosan ajah," tolak Vira, padahal besok dia akan menyerahkan surat resign ke rumah sakit yang selama ini menjadi tempatnya mengais rezeki.
Ponsel Satya berdering menampilkan nama sang asisten. Vira mencuri dengar apa yang dibicarakan antara kekasihnya dan juga bosnya.
"Kamu harus berhati-hati, Firlan! aku yakin mereka tidak akan tinggal diam saat mengetahui kejahatan mereka akan segera terbongkar. Ingat keselamatanmu yang terpenting," ucap Satya.
Vira yang mendengar itu mendadak kalut, ia tentu kepikiran dengan Firlan. bahaya apa yang akan dihadapinya disana. tak terasa mobil sudah berada di depan kosan Vira.
"Makasih ya, Vira…" ucap Amartha yang menurunkan kaca mobilnya
"Yaelah kayak sama siapa aja, ya udah aku masuk," ucap Vira.
Vira berjalan membuka pintu kamarnya, ia segera merebahkan tubuhnya yang sangat lelah. Dia mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya.
"Halo, Ay?" ucap Vira saat panggilan itu terhubung.
__ADS_1
Vira belum bicara tentang rencananya yang akan resign dari rumah sakit, mungkin bibirnya selalu mengatakan bahwa dia tidak peduli dengan omongan orang tentang dirinya, tapi nyatanya omongan-omongan orang tentang dirinya membuat Vira tidak tahan. Bahkan dengan kejamnya mereka bilang kalau Vira ada main dengan orang dalam, dan sebagian dari mereka juga menuduh Vira memanfaatkan hubungannya dengan pemilik rumah sakit sehingga dia bisa cuti lebih dari jatah maksimal karyawan. Padahal setiap cuti dadakan itu bukan Vira yang mau, tapi kebanyakan Amartha yang memintanya untuk bisa hadir dalam setiap momen penting dalam hidupnya.
Untuk seorang karyawan yang belum genap satu tahun bekerja, tapi sudah banyak ijin kerja tentu bukan sesuatu yang lumrah, dan pasti menimbulkan rasa iri pada rekan sejawat bahkan seniornya.
Vira segera terlelap saat kantuk dan lelah menghampirinya, begitu juga dengan Firlan.
Keesokan harinya, Firlan sudah siap dengan penyamarannya. Firlan datang ke proyek dengan baju yang ia beli di pasar. Saat ini Firlan sedang menyamar menjadi buruh kasar.
"Kamu siapa? kayaknya nggak pernah liat," tanya seorang pria yang sedang memegang sebuah palu.
"Pekerja baru?" tanya orang itu lagi.
"Benar," jawab Firlan seraya mengangguk.
"Kamu lapor dulu sama mandor, buat ngasih tau apa saja kerjaan kamu." ucap pria itu lagi.
"Maaf, tapi kok disini para pekerjanya sedikit, ya? apakah bekerja disini menurut shift?" tanya Firlan.
"Jangan banyak tanya kalau kamu tidak ingin dipecat, aku pun sebenarnya terpaksa bekerja disini. Sudahlah, temui pak mandor atau kamu akan mendapat masalah," ucap pria itu mengingatkan.
"Hey, kamu yang pakai topi! kemarilah!" seru seorang pria yang usianya kisaran usia 40 tahun.
Firlan langsung berbalik badan ia melihat seorang pria sedang menatap dirinya.
"Kamu yang namanya Surya?" ucap suara barithon itu. Firlan yang berpenampilan sedikit berbeda dengan para pekerjanya pun membuat sang mandor mudah untuk mengenalinya sebagai Surya, orang yang melamar pekerjaan sebagai buruh kasar di proyek pembangunan gedung itu.
"Betul, Pak." ucap Firlan yang sedang menyamar sebagai Surya.
"Sebentar lagi bahan material datang, angkut dan bawa ke sebelah sana," ucap mandor itu sambil tangannya menunjuk ke satu arah.
"Baik, Pak." sahut Firlan singkat.
__ADS_1
Pria tambun itu berjalan mengecek pekerjaan para pekerja. Firlan memandang sekitar, banyak alat besar yang ada disitu namun bahan bangunan yang dia lihat tak begitu banyak. Sedangkan sewaktu dirinya berkunjung dengan Satya, dia melihat bahan bangunan yang sangat melimpah dan pekerja yang bekerja pun sangat banyak.
"Aku harus mencari tau apa yang sebenarnya terjadi," gumam Firlan sambil menurunkan sedikit topinya.
Sedangkan ditempat lain Vira sedang menghadap seseorang dan menyerahkan surat pengunduran dirinya. Wanita itu menatap Vira bingung.
"Apa ini?" tanya wanita itu.
"Surat pengunduran diri saya," jawab Vira.
"Ada masalah atau bagaimana? kenapa tiba-tiba resign?" tanya wanita itu lagi sambil membuka surat yang ada di tangannya.
"Tidak ada masalah, Bu…" ucap Vira sambil menautkan kedua tanyannya, meremas satu sama lain.
"Saya yang nanti kena masalah, kalau kamu tidak mengatakan dengan jelas apa alasan kamu mengundurkan diri," jelas wanita itu yang menatap tajam ke arah Vira.
"Pak Firlan pasti akan mencecar saya begitu mengetahui kamu sudah tidak bekerja lagi disini," kata wanita itu. Vira tidak tahu alasan apa yang tepat agar dia bisa secepatnya pergi dari rumah sakit milik Amartha itu.
"Saya tidak akan menerima surat ini jika kamu tidak bisa memberikan alasan yang tepat." ucap nya lagi.
Padahal, wanita itu sudah tau desas-desus yang berkembang di lingkungan rumah sakit, bahwa Vira adalah sahabat dari pemilik rumah sakit ini.
"Atau karena tidak tahan dengan gosip yang beredar?" tanya wanita itu menohok, Vira yang semula menunduk mendadak menegakkan kepalanya menatap wanita yang ada di hadapannya.
"Benar kan apa yang saya ucapkan? wajar bagi saya jika mereka iri denganmu, Vira…" kata wanita itu menyenderkan punggungnya di sandaran kursi.
"Saya juga punya telinga yang bisa mendengar berita tentang kamu, anggap saja ini sebuah keberuntungan bisa memiliki seorang teman yang kebetulan pemilik tempat kamu bekerja," ucap wanita itu memandang Vira dengan senyuman penuh arti.
Vira hanya diam mendengarkan wanita itu yang daritadi bicara sementara Vira tak bisa menyangkal apa yang wanita itu katakan, karena semua itu memang benar.
"Baiklah, kalau begitu saya hubungi pak Firlan mengenai surat pengunduran diri kamu ini," ucap wanita itu yang kemudian meraih sebuah ponsel yang ada di sampingnya.
__ADS_1
"J-jangan!" ucap Vira cepat.
...----------------...