
"Dasar bengs*k! lo bisa nggak sih nggak ganggu hidup gue?" ucap Sinta menatap Fendy tajam, dia benar-benar muak dengan Fendy yang muncul dan mengacaukan semuanya.
"Nggak bisa, Sayang..." Fendy tersenyum penuh arti.
"Bagaimanapun aku nggak akan biarin pacarku suka sama cowok lain," lanjut pria itu.
"Sakit lo ya," kata Sinta dengan sinisnya.
"Kamu juga," sahut Fendy yang menohok hati Sinta, membuat Sinta semakin geram. Ketika Sinta akan pergi, tiba-tiba Fendy mencekal tangan wanita itu.
"Iiiihhhh! lo tuh bener-bener, arrh lepasin, lepas gue bilang!" Sinta berusaha melepaskan cekalan tangan Fendy.
"Hahahha, Sinta ... Sinta, kamu mau ngejebak cowok yang tadi duduk disini, kan? abis itu kamu berharap dinikahin ama tuh orang," bisik Fendy yang membuat kilatan amarah diwajah wanita itu.
"Dia cowok yang dari dulu kamu suka, kan?" ucap Fendy tiba-tiba.
"Kenapa? semua tebakanku benar? denger ya? aku nggak akan tinggal diam, saat pacarku mau mencoba untuk selingkuh!" ucap Fendy yang tak juga melepaskan cekalannya.
"Gue bukan pacar lo setan!" ucap Sinta penuh penekanan.
"Ssssttt, jangan ngatain diri sendiri, hahahahahah" Fendy tertawa mengejek.
"Lepasin!"
"Diem!" Fendy menatap tajam, membuat Sinta terdiam. Tatapan Fendy begitu tajam hingga seperti menusuk rongga hatinya.
Fendy memanggil seorang pelayan, dan membayar minuman Bella dan Sinta, lalu pria itu membawa Sinta keluar dari restoran, beberapa pasang mata melihat ke arah mereka, karena Sinta terus saja mencoba melepaskan diri dari cekalan tangan Fendy.
"Fendy! lepassin!" teriak Sinta saat Fendy menariknya.
"Nggak Yank, aku nggak mau lepasin, aku udah nyari kamu susah payah, pulang yah sama aku ... kita selesein di rumah," ucap Fendy sambil berjalan menuju pintu keluar.
"Maaf, lagi berantem, maklum baru nikah..." ucap Fendy menjawab tanda tanya dari raut wajah para pengunjung yang melihat ke arah mereka.
"Lepasin," Sinta terus saja memberontak.
"Jangan gitu, Sayang ... malu diliatin orang, kita pulang sekarang," ucap Fendy mengiba, seolah mereka memang pasangan suami istri yang sedang terlibat pertengkaran.
Fendy membuka pintu mobilnya dan menyuruh Sinta untuk masuk ke dalam mobil.
"Masuk!" Fendy memaksa Sinta untuk duduk di kursi penumpang sebelah kursi kemudi. Fendy menutup pintu, ia berjalan memutari mobil dan segera duduk di kursi kemudinya,.
__ADS_1
"Apa-apaan sih lo!" sentak Sinta saat Fendy melilitkan sabuk pengaman di tubuhnya.
"Nganterin pacar pulang," sahut pria itu sesaat setelah memakai sabuk pengamannya. Sementara Sinta memandang Fendy tidak suka.
"Oh, ya Mobil kamu nanti orang suruhan aku yang anterin ke rumah," ucap pria itu lagi.
FLASHBACK ON
Bella yang sedang mengawasi gerak-gerik Kenan, mendadak keluar karena Fendy yang menyuruhnya.
"Gue orang suruhannya Nona Sinta," kata Fendy yang tiba-tiba duduk di depan Bella, Bella mengernyit heran.
"Tugas kamu hari ini selesai, ini bayaran kamu, ambil dan cepat pergi dari sini, karena Nona Sinta yang akan menyelesaikannya sendiri," lanjutnya, lalu ia mengeluarkan sejumlah uang dalam jumlah yang banyak, Fendy bilang Sinta yang menyuruhnya memberikan itu pada Bella, dan tugas Bella hari ini sudah selesai
"Banyak banget, oke oke, gue pergi, thanks," Bella berbinar kala melihat amplop coklat yang disodorkan Fendy.
Wanita mata duitan itu akhirnya, mengambil uang itu dan segera pergi meninggalkan Sinta yang sedang membersihkan dirinya di toilet
Sementara dari arah berlawanan, seorang pelayan datang membawa minuman yang dipesan Kenan yang secara diam-diam, sudah dicampuri sesuatu oleh Sinta, baru saja gelas itu akan ditaruh dihadapan Kenan, tiba-tiba Fendy beranjak dari duduknya dengan sengaja menyenggol pelayan yang sedang memegang gelas.
Air itu tumpah membasahi meja, Kenan otomatis berdiri, beruntung bukan minuman panas yang tumpah.
"Maaf, maaf," ucap Fendy dengan wajah menyesalnya.
"Maaf Tuan, saya akan membersihkan meja ini," ucap pelayan itu yang dengan segera membawa gelas kosong ke dalam pantry.
"Maaf gue tadi buru-buru, hmmm gue ganti ya minuman lo," ucap Fendy
Baru saja Kenan akan menanggapi ucapan Fendy, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Ya? halo?" sapa Kenan pada sang penelepon.
"Ken, gue di cafe XX, lo dimana, sih? gue udah nungguin lo dari tadi," kata seorang pria diseberang sana.
"Heh, bukannya lo minta ketemuannya di resto?" Kenan mengerutkan keningnya.
"Gue tadi chat elu, coba buka!" kata pria itu membuat Kenan seketika mengecek chat di aplikasi berwarna hijau.
"Sorry, sorry baru gue baca! oke, gue sekarang kesana!" kata Kenan.
Kenan mengantongi kembali ponselnya setelah mematikan panggilan telepon itu. Seorang pelayan membawa lap dan cairan pembersih meja, ia mulai membersihkan meja yang basah.
__ADS_1
"Ehm, gue minta maaf gue ganti minuman lo," ucap Fendy, pada Kenan.
"Nggak usah, santai aja, kebetulan gue mau pergi juga," kata Kenan yang merasa tidak asing dengan wajah pria yang didepannya itu, namun ia segera menepis pikiran itu.
Kenan memberikan uang pada pelayan yang sedang membersihkan meja, dan mengatakan bahwa uang itu untuk membayar minuman yang tumpah tadi, kemudian pria itu meninggalkan Fendy dan keluar dari restoran itu.
Dan ketika Sinta keluar dari toilet, ia tak menemukan Kenan disana.
FLASHBACK OFF
Sinta geram dengan rencana yang berantakan gara-gara ulah Fendy. Ia terus melihat kearah Fendy yang memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Lo mau bikin gue mati?" teriak Sinta saat Fendy semakin menambah kecepatannya.
"Hah, baru juga segini, nggak usah tegang gitu mukanya, ini asik loh, Sin..." Fendy tertawa.
"Dasar nggak waras!" umpat Sinta melihat wajah Fendy yang membuat dia sangat muak.
"Pelanin gue bilang!" ucap Sinta saat mobil Fendy menyalip satu persatu kendaraan didepannya, memacu adrenalin keduanya.
"Oke, oke gue pelanin, tapi ... ada syaratnya!" kata Fendy, dengan terus fokus menyetir.
"kamu harus nemenin aku sarapan selama seminggu!" lanjutnya dengan senyum mengembang.
"Gue nggak bisa!" Sinta menolak permintaan Fendy mentah-mentah.
"Oke, kalau lo nggak mau, gue tambahin kecepatannya! wohoooo, yeeeaaahhh" ucap Fendy bersemangat, membuat tangan Sinta memegang kuat sabuk pengamannya, dan berteriak.
"Iyaaa gu-gue mau! pelaniiiin, gue nggak mau mati bego!" Sinta akhirnya menyerah, dia tidak mau mati konyol.
"Beneran?"
"Iyaaa!! awasss, mobil didepan!" sahut Sinta setengah berteriak, wanita itu begitu ketakutan.
"Janji?"
"Iyaaa! awasss, aakhhh..!" teriak Sinta, membuat seulas senyuman di bibir Fendy. Sedangkan wajah Sinta sudah pucat, dia begitu ketakutan.
"As your wish, honey!" ucap Fendy seraya mengurangi kecepatan mobilnya, membuat Sinta kini merasa sedikit lega. Sementara Fendy tersenyum penuh kemenangan. Tak berapa lama mereka sampai di rumah Sinta.
"Kita sudah sampai," ucap Fendy, sementara Sinta melepas sabuk pengamannya, ia segera keluar. Wanita itu kemudian menutup pintu mobil dengan kasar. Ia berjalan meninggalkan mobil Fendy.
__ADS_1
...----------------...
Semoga otak masih aman yaaa..wkwkwk