Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Monster Kecil


__ADS_3

Sebuah teriakan itu sukses menghentikan aksi sang pria, Satya langsung menolehkan kepalanya ke arah pintu. Sedangkan sang pemilik suara tadi diam terpaku saat melihat adegan yang tak seharusnya dia lihat. Sementara Amartha menjarak dirinya dengan Satya, wajahnya sudah merah menahan malu.


"Abang lagi ngapain?" pertanyaan bodoh meluncur dari mulut gadis itu. Ia masih terpaku di tempat memandang kedua sejoli secara bergantian dengan wajah polosnya.


"Prisha.?" pekik Satya, yang kemudian dengan gugup memperbaiki posisi duduknya di sofa.


"Eh, kamu kapan dateng?" tanya Satya yang terlihat sangat gugup, kenapa dia masuk disaat yang tidak tepat.


"Abang belum jawab, abang lagi ngapain hayoo?" ucap gadis itu lagi, membuat Satya kelimpungan mencari alasan yang masuk akal. Gadis mungil itu tak melepaskan tangannya dari handle pintu.


"Itu, ah, abang nggak ngapa-ngapain, ehm dia kelilipan jadi tadi mau abang tiupin," kata Satya sambil melirik ke arah Amartha yang tak mau menatap dirinya.


"Oh kelilipan?" ucap gadis yang bernama Prisha dengan tidak bersuara, sembari matanya memicing dan menaik turunkan alisnya. Amartha hanya melihat gadis mungil itu cengo, benar-benar keluarga ini semuanya modelannya begini, sepertinya kehidupannya akan lebih berwarna dari sebelumnya.


"Ini pasti mbak Amartha ya? wah lebih cantik aslinya ya, daripada yang difoto yang Mami kirim," celetuk Prisha yang membuat Amartha tersenyum kaku, melihat raut wajah Amartha Prisha hanya terkekeh, sedangkan sejurus kemudian pria yang dipanggil abang itu melotot ke arahnya. Memberi isyarat untuk gadis itu agar cepat keluar. Namun sepertinya gadis itu tak menghiraukan kode-kode yang diberikan abangnya.


"Aku prisha adiknya abang Satya, Prisha ganti baju dulu ya? ehm, silakan dilanjut lagi," kata Prisha dengan diiringi tawa kecil.


"Dasar monster kecil!" Satya melempar bantal sofa ke arah gadis itu yang dengan sigap menutup pintu kamar abangnya.


"Wleeee nggak kena..." ucap Prisha yang kepalanya menyembul dari balik pintu, sebelum bantal kedua melayang, gadis kecil itu sudah menutup pintunya, ia pun berjalan menuju kamarnya untuk berganti baju.


"Aku juga mau ke kamar, mau ganti baju, Mas mau ke kantor lagi?" tanya Amartha.


"Tanggung mau jam makan siang, nanti aku kerjain kerjaan dari sini aja," sahut Satya setelah melihat arlojinya yang hampir menunjukkan pukul 12 siang.


"Ya udah kalau gitu, aku ke kamar ya?" kata Amartha yang berniat ingin beranjak dari sofa empuk milik Satya, namun Satya mencekal lengannya membuat Amartha terduduk kembali.


"Nggak lanjutin yang tadi, Yank?" Satya merengek sambil memonyongkan bibirnya.


"Ish, nggak mau! cium aja tuh tembok!" Amartha segera melepaskan cekalan Satya dan segera kabur menuju pintu keluar.


"Yank ... yank ... mana enak cium tembok!" seru Satya yang kemudia ia terkekeh sendiri mengingat kejadian tadi. Pria itu memutuskan untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian santai, ia mulai membuka tablet miliknya, mengerjakan pekerjaannya dari rumah.

__ADS_1


.


.


Setelah makan siang, Satya, Amartha dan Prisha duduk di ruang keluarga.


"Tumben kamu pulang, kayaknya abang mencium bau-bau konspirasi?" Satya memicingkan matanya menatap adiknya penuh selidik.


"Hahaha, deuuh si Abang jangan suka curiga sama adek sendiri nggak baek," seloroh Prisha, yang membuat Satya menggeleng tak percaya dengan apa yang dikatakan gadis yang berusia 20 tahun itu.


"Dia ini jarang pulang, Sayang ... mami sampe lupa punya anak cewek satu nangkring di Aussie," ucap Satya, yang membuat Prisha mencebikkan bibirnya.


"Aku disuruh mami pulang, ngawasin kalian, hahahaha, soalnya kata mami, kalau kalian sering berduaan, nanti ketiganya setan," kata Prisha sambil memasukkan buah anggur ke dalam mulutnya.


"Iya setannya kamu," celetuk Satya, sambil merebut anggur yang ada ditangan adiknya.


"Mami takut calon kakak iparku ini kesepian, lagian 2 minggu lagi abang mau nikah, kan?kalau nggak gagal ya nggak, Bang?" kata Prisha yang membuat Amartha tertawa mendengar celetukkan adik iparnya yang sama somplaknya seperti Satya.


"Ya nggak jauh beda sama kamu, Mas!"


"Hahahahahahaha" Prisha tertawa saat Satya tak bisa berkutik.


Sementara ditempat lain, Vira menghubungi sahabatnya berkali-kali. Sejak tadi pagi, Amartha belum bisa dihubungi. Terdengar rumor bahwa pemilik rumah sakit tempatnya bekerja adalah sahabatnya sendiri, Amartha Dina. Dan yang tak kalah heboh, berita mengenai pemecatan Handi, Dhe dan Dara. Situasi rumah sakit saat ini sedang tidak kondusif, berita yang tersebar terkesan simpang siur.


Vira ingin memastikan langsung kebenaran berita itu langsung dari Amartha, namun sampai siang bolong seperti ini hanya suara provider yang menjawab panggilan teleponnya, mengatakan bahwa nomor yang dituju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan. Vira hanya menghela nafas, dan melanjutkan pekerjaannya selama 1 jam kedepan.


Sama halnya dengan Vira, sang asisten Firlan juga kena imbasnya, dia harus membatalkan setidaknya 5 pertemuan hari ini, kepalanya cekat-cekot harus menjadwal ulang semua pertemuan yang harus dihadiri langsung oleh Satya, ditambah suasana hatinya yang mendadak kalut. Pasalnya Firlan yang berniat memberi surprise menjemput Andini untuk makan siang, tak sengaja melihat Andini keluar dari kantor. Seorang pria membukakan pintu mobil, dan terlihat sekilas Andini mencium pria itu sebelum ia masuk ke dalam sebuah mobil berwarna hitam. Dari gerak gerik Andini, Firlan yakin ada hubungan spesial antara Andini dan pria itu.


Firlan mengikuti kemana mobil itu pergi, menuju sebuah resto. Firlan memarkirkan mobilnya tak jauh dari mobil hitam yang sedari tadi ia ikuti.


Firlan jelas melihat pria itu menggandeng kekasihnya masuk ke dalam resto, seketika Firlan mengeluarkan ponselnya dan mendial nomor Andini. Namun wanita itu mengatakan kalau dia sedang ada di kantor, hati Firlan mencelos mendengar penuturan dari kekasihnya. Wanita itu jelas-jelas membohonginya.


"Jadi selama ini, kamu membohongiku, Andini?" gumam Firlan.

__ADS_1


Pria itu kembali ke kantor dengan perasaan kecewa


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


.


.


"Udah deh Sin, mending lo pulang..." kata Bella yang sudah jenuh menemani Sinta, ditengah hingar bingar musik dan lampu yang bikin sakit mata


"Apaan sih, cerewet banget lo, Bel..." kata Sinta melirik sinis ke arah Bella.


"Lo mau ngapain disini coba? lo kalau mau ngelamun di rumah aja jangan disini," kata Bella yang menatap temannya itu.


"Brisik tau nggak?" ucap Sinta yang hanya memainkan gelas didepannya, minuman yang bisa membuatnya hilang kesadaran. Tak ada niat untuk meminumnya, dia hanya memainkan gelas itu diatas meja


"Ya udah gue cabut duluan, besok gue ada kelas pagi, saran gue mending lo cepet pulang," Bella lalu beranjak dan melenggang menerobos kerumunan orang-orang yang sedang menikmati musik.


"Kalau mau pergi, pergi aja..." lirih Sinta yang kini menyandarkan punggungnya disofa.


"Apa sih kurangnya aku? sampai kamu nggak ngelirik aku sedikitpun," Sinta bergumam tidak jelas.


"Kenapa selalu Amartha, Amartha dan Amartha! kenapa kamu nggk bisa nerima aku? kenapaaa?" Sinta menghapus airmata yang menetes di pipinya, tanpa ia sadari ada sepasang mata yang sedari tadi mengawasinya.


"Kamu masih cantik seperti dulu, Sinta..." ucap pria itu.


...----------------...


3 hari double up, otak berasa Mensle gaes.....


 


klik like dan komen di bawah ya, makasiiih

__ADS_1


__ADS_2