Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Kamu Bukan Anak Ayam


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, Rudy dan Rosa sudah kembali ke kota asalnya. Sekarang Amartha sedang menghabiskan weekend bersama Vira di rumahnya. Sementara Satya dan Firlan sedang ke luar kota, mereka sedang ada urusan bisnis.


"Ta, rumah kamu bikin betah glosoran ya?" ucap Vira yang lagi glosoran di atas karpet, sedangkan Amartha sedang duduk di sofa sambil menikmati rujak mangga yang baru saja dibuatkan Sasa.


"Hahahah, ini nggak apa-apa gitu aku nginep disini?" ucap Vira yang masih gonta-ganti channel tivi.


"Nggak apa-apa lah, Mas Satya lagi pergi juga, aku kesepian," ucap Amartha sambil mulutnya sedikit kepedesan.


"Kesepian dari mana coba? nggak dianggap tuh kang satpam, kang kebon, kang supir, Sasa dan Bik Surti? segini banyak orang kamu masih kesepian? apakabar aku yang cuma sendirian di kos," ucap Vira yang langsung mengubah posisinya menjadi duduk.


"Iya juga, ya? tapi Sasa sama Bik Surti kalau aku suruh makan bareng sama aku di meja makan tuh, pada nggak mau. Katanya nggak sopan makan bareng majikan," ucap Amartha yang sambil huh hah kepedesan.


"Minum, minum," ucap Vira sambil mengambilkan gelas yang berisi air putih.


"Pedes gitu apa nggak mules tuh perut, Ta? sing eling, itu jabang kebo nanti ikut kepedesan juga di dalem," ucap Vira yang mengambil lagi gelas yang ada di tangan sahabatnya itu.


"Enak tau, Vira. Kayaknya suply darah ke otak langsung lancar jaya," ucap Amartha yang mengelap bibirnya dengan tissue.


"Ngeyel aja nih bumil satu, aku bisa bayangin gimana stresnya bosnya yayangku itu," ucap Vira yang menaruh gelas bekas minum Amartha di atas meja.


"Mas Satya?" pertanyaan bodoh meluncur dari bibir wanita itu.


"Iya lah, siapa lagi! pasti kamu kalau ngidam harus banget diturutin ya, kan?" tebak Vira.


"Tau aja, ntar kalau kamu hamil kayak aku, baru deh kamu ngrasain gimana rasanya ngidam, dan dongkolnya kalau nggak keturutan." ucap Amartha. Vira ngelus perutnya.


"Dih amit-amit, aku nggak mau lah hamil duluan, masa depanku masih panjang, lagian kalau si yayang macem-macem tinggal aku tendang itunya," ucap Vira membayangkan yang iya-iya.


"Yaaa bukaaan hamil yang begituuuuuu, Juminteeen! maksudku kalau kamu udah nikah, terus hamil, kamu jadi tau apa yang namanya orang lagi ngidam terus nggak keturutan. Apa lagi modelan Kak Firlan, mana mau dia repot-repot nurutin ngidamnya kamu yang pasti ajib," ucap Amartha gemas. Vira hanya cengar-cengir sambil masukin popcorn caramel ke dalam mulutnya.


"Aku jadi penasaran, sebenernya kamu sama Firlan gimana, sih?" ucap Amartha yang menaruh bantal sofa di belakang tubuhnya. Perutnya yang semakin besar membuat dia cepat merasakan lelah, apalagi di daerah lutut, mata kaki dan juga pinggang.

__ADS_1


"Gimana apanya?" Vira mengernyit heran. Vira pindah ke atas sofa, dia menaruh bantal di pangkuannya.


"Sejauh mana hubungan kalian," Amartha memperjelas pertanyaannya.


"Ya gitu-gitu aja," ucap Vira ambigu. Wanita itu lalu menyeruput jus jambunya. Amartha mengernyit heran. Melihat wajah Amartha yang ada keterangan buffering-nya itu, Vira lantas melanjutkan ucapannya.


"Ya nggak aneh-aneh, paling sosor-sosoran," Vira terkekeh dengan ucapannya sendiri.


"Iiisssh, bukan itu yang aku maksud, sejak kapan sih otak kamu mikir sampe situ?" Amartha menepuk lengan Vira.


"Ya sejak pacaran sama asisten suami kamu, Ta!" ucap Vira yang mengusap lengannya yang habis ditabok.


"Kak Firlan prasaan dingin jutek, masa dia yg ngajarin kamu yang enggak-enggak?" Amartha menggeleng tidak percaya.


"Dih, ngapain aku bohong sama kamu, Ta? gini-gini yg ngebet nyosor itu yayang Firlan, Ta..." ucap Vira.


"Tapi cuma nyosor kok, nggak yang aneh-aneh! aku masih punya iman, tenang aja!" lanjut wanita dengan rambut sebahu itu.


"Ya kan sekarang udah resmi." sahut Vira.


"Resmi pacaran maksudnya, hehehehe," lanjut Vira nyengir.


"Ya itu juga aku udah tau, Vira! maksudku itu kapan kalian tunangan atau menikah, gitu..." Amartha mengusap dadanya, banyakin istighfar kalau lagi deket Vira.


"Sabar buuu..." ucap Vira sambil menahan tawanya.


"Firlan udah ketemu sama orangtua kamu?" Amartha masih mencecar Vira dengan pertanyaan.


"Jangankan Firlan, aku aja jarang ketemu sama mereka, aku sampe ragu kalau aku emang beneran anak mereka, Ta..." ucap Vira sendu.


"Anak ayam aja kalau nggak balik dicariin tuh ama emaknya, nah aku? orangtuaku nggak ada waktu buat nyari, apa mungkin aku anak pungut yang kayak di sinetron?" ucap Vira sambil memaksakan senyuman di wajahnya.

__ADS_1


"Hush, jangan gitu! orangtua kamu bakalan sedih kalau denger anaknya ngomong kayak gitu," Amartha beringsut mendekat ke arah Vira, ia mengelus punggung Vira lembut.


"Lagian kamu bukan anak ayam!" ucap Amartha.


"Tiap orangtua punya tipe pengasuhan yang beda-beda, coba deh sekali-kali kamu samperin mereka ke tempat kerja, coba kamu yang deketin mama sama papa kamu, coba kamu yang memulai itu semua," lanjut Amartha. Vira menghela nafas.


"Maaf, aku nanya kayak gini nggak bermaksud bikin kamu sedih, tapi karena aku sahabat kamu. Aku pengen kamu bahagia, Vira..." Amartha mengusap lagi punggung Vira. Sahabatnya itu tak menangis, namun Amartha tahu didalam relung hatinya sangat merindukan kasih sayang orangtua.


"Iya nanti aku coba. Kalau gitu aku minta cuti seminggu dong bos, biar bisa pulang kampung!" ucap Vira yang mencoba mencairkan suasana yang bikin hati dia pengen mewek.


"Bas bos bas bos, biasanya juga pacar sendiri yang urusin soal bolos membolos kamu dari rumah sakit," ucap Amartha memutar bola matanya malas. Mereka pun tertawa.


"Yah gitu lah, karena itu juga banyak gosip bertebaran kalau aku itu ada main sama orang dalam, hah! emang mereka suka bener! Hahaha," Vira tertawa renyah.


"Ya kan bener, yayang Firlan kan orang dalem yang bisa ngijinin aku bolos kerja, lagian yang punya rumah sakit aja nggak protes. Ck! mereka suka banget ngurusin hidup aku. Hah harusnya kalau mau ngurusin tuh nggak usah nangung-nanggung! urusin juga tagihan kosan, tagihan listrik sama uang pulsa dan uang makan, biar tambah afdol! kan aku jadi enak kalau kayak gitu," ucap Vira, sementara Amartha malah tertawa mendengar ocehan Vira.


"Vira ... ngemall, yuk?" ajak Amartha. Vira mengernyitkan dahinya.


"Sejak kapan kamu suka ngemall?" tanya Vira.


"Sejak tadi, ayok buruan. Aku pengen jalan sama kamu, jarang-jarang juga kan kita punya waktu kayak gini," ucap Amartha.


"Ijin suami kamu dulu, gih..." ucap Vira mengingatkan.


"Beres!" ucap Amartha. Ia menggoyangkan ponsel di depan Vira. Amartha segera menghubungi nomor suaminya.


"Halo? Mas?" ucap Amartha saat panggilannya terhubung. Namun matanya membulat saat mendengar suara lain.


"Awwwh!" pekik seorang wanita.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2