
"Mam, aku berangkat ya?" ucap Amartha seraya menghampiri Sandra, yang sedang mengoles selai kacang diatas roti.
"Loh, emangnya jam berapa? bukannya masih memangnya kamu udah sarapan?" Sandra menghentikan aksi oles-mengoles selai.
"Jam 6 pagi, Mam ... Amartha nanti aja sarapan di rumah sakit, Mam..." kata Amartha yang berdiri di samping Sandra yang sedang duduk.
"Nggak, nggak, kamu harus tetep sarapan, Sayang ... ayo duduk, sini..." titah sang calon mertua, yang membuat sang calon menantu mau tidak mau harus menarik kursi dan duduk disampingnya.
"Tapi nanti aku telat, Mam..." Amartha mencoba bernegosiasi.
"Memangnya kamu masuk jam berapa sih?" Sandra menaruh roti selai kacang diatas piring datar oval berwarna putih.
"Jam 7 pagi, Mam..." sahut Amartha sambil memperhatikan apa yang dilakukan Sandra.
"Apa-apaan masa masuk jam 7? udah kayak anak sekolah aja! Satya gimana sih, kamu kan yang-" Sandra tak melanjutkan perkataannya.
"Kenapa, Mam?" Amartha hanya mengerutkan keningnya tanda tak mengerti.
"Ah, nggak,nggak, Sayang ... ehm, minum susunya dulu, sambil nunggu mami siapin sandwhich punya kamu," Sandra menyodorkan segelas susu coklat pada calon menantunya, Sandra memang sudah menganggap Amartha seperti putri kandungnya, sikap Amartha pun sedikit banyak berubah sejak tinggal bersama Sandra. Amartha lebih hangat, dan lebih banyak tersenyum.
"Mira... bawakan kotak makan, sama botol minum juga, botolnya isiin sekalian," ucap Sandra pada Mira.
"Baik Nyonya," sahut Mira sopan.
"Mami mau pergi? jam segini udah siapin sarapan," ucap Amartha yang baru menghabiskan susunya setengah gelas.
"Nggak, tadi papi minta dibikinin kopi, katanya mau ketemu client di luar kota..." jelas Sandra.
"Mam? kopi papi mana?" tanya Abiseka yang tiba-tiba muncul mengagetkan Sandra
"Ih papi, ngangetin aja, ini kopinya, Pih ... daaan roti selai kacang khusus buat papi," ucap Sandra seraya mengerlingkan matanya, membuat Amartha terkekeh melihatnya.
"Makasih ya, Mam? berangkat pagi banget, Amartha?" tanya Abiseka setelah selesai menyeruput kopi miliknya.
"Iya, Pih ... masuk pagi ... Mam ... nggak usah repot siapin bekal buat aku," kata Amartha yang sudah menghabiskan satu gelas susu coklat.
"Ini kotak dan botol minumnya, nyonya," kata Mira sembari meletakkan barang yang disebutnya di atas meja makan.
"Terima kasih Mira ... Mami nggak mau kamu sakit, Sayang ... nah, sudah siap, kamu jangan lupa buat makan, jangan nunggu perut kamu laper, diantar Damian ya?" kata Sandra seraya memasukkan sandwhich ke dalam kotak berbentuk persegi.
__ADS_1
"Makasih ya, Mam?" kata Amartha setelah memasukkan kotak makan dan botol minumnya, ia beranjak dari duduknya dan menyalami kedua calon mertuanya.
"Amartha berangkat ya Mam, Pih ... Assalamualaikum," ucap Amartha.
"Waalaikumsalam, Sayang ... hati-hati dijalan" sahut Sandra dan Abiseka.
Amartha pergi ke rumah sakit diantar oleh supir keluarga Ganendra, sesampainya di tempat tujuan Amartha segera berjalan dan masuk ke dalam lift, setelah pintu lift terbuka, Amartha segera menuju ruang ganti dengan menenteng sebuah papper bag berisi seragam yang sudah dicuci dan disetrika. Amartha masuk ke ruang ganti, ia segera mengganti pakaiannya dengan baju seragam, setelah beberapa saat seorang wanita masuk.
"Anak baru?" tanya wanita yang umurnya kisaran 30 tahun.
"Iya, Kak..." sahut Amartha singkat, sambil merapikan rambut.
"Di poli atau di bangsal?" tanya wanita itu lagi, yang juga sedang mengganti pakaiannya.
"Seminggu lalu di bangsal, kalau sekarang di poli, Kak..." jawab Amartha, memandang wanita yang sudah duduk bersila di sampingnya.
"Hati-hati di poli, orangnya garang-garang," wanita itu memperingatkan Amartha.
"Oh, gitu ya," Amartha tidak tahu benar atau tidak yang diucapkan wanita itu, dia tak mau ambil pusing.
"Nanti juga tau sendiri," kata wanita itu saat melihat raut wajah Amartha.
"Kalau kakak di bangsal atau di poli?" tanya Amartha, kemudian ia membereskan barang-barang miliknya.
"Salam kenal, kak ... aku Amartha," kata Amartha tersenyum ramah.
"Iya udah tau," jawab si wanita yang kemudian menutup kaca bedaknya dan membereskan alat make upnya.
"Hah?" Amartha cengo memandang wanita itu.
"Itu ada nama di tanda pengenal kamu,gue Maria," ucap maria seraya menunjuk tanda pengenal Amartha dengan dagunya.
"Oh ... ehm, aku duluan ya, Kak..." Amartha beranjak dari duduknya, kemudian pergi meninggalkan Maria di dalam kamar ganti sendirian.
Hari ini kunjungan pasien lumayan banyak, ditambah lagi dia juga berjaga di poli karyawan, poli yang dikhususkan untuk para karyawan rumah sakit, jadi mereka akan mendapatkan obat secara gratis, namun beberapa teman yang ada di counter perawat, lumayan gahar, seharian ini telepon berdering namun mereka asik-asikan buka hape, padahal tuh telepon ada di depan mata.
"Belum pulang?" tanya seorang pria pada Amartha yang sedang duduk di kursi konsultasi. Pria yang menyampirkan snelli di tangan kirinya itu, kemudian duduk di kursi dokter, sehingga mereka saling berhadapan.
"Eh, dokter Alvin, ini saya lagi merekap obat yang keluar hari ini" kata Amartha sambil menunjukkan kartu berwarna biru.
__ADS_1
"Udah jam 2 siang lewat, loh..." tanya dokter Alvin, dokter yang kebetulan berjaga di poli umum dan merangkap di poli karyawan tadi pagi, dan jam prakteknya sudah selesai, namun pria itu kembali ke ruangan poli karyawan dan sepertinya sedang mencari sesuatu.
"Iya, dok ... ini juga hampir selesai," sahut Amartha sambil menulis jumlah persediaan obat yang ada di lemari dipojok ruangan itu.
"Oh ya, nama kamu siapa? aku kok lupa nggak nanya," dokter Alvin bertanya sambil memperhatikan wanita di depannya sedang menulis angka-angka.
"Saya, Amartha, Dokter..." ucap Amartha, wanita itu sudah selesai dengan tugasnya
"Oh, Amartha ... kamu bisa tolongin saya, buat cariin penlight saya? warnanya putih," ucap dokter Alvin.
"Oh, itu penlight punya dokter Alvin? tadi jatuh, jadi saya simpan di laci itu, dok..." kata Amartha sembari menunjuk sebuah laci meja di deoan dokter Alvin, pria itu segera membukanya, dan benar terlihat sebuah penlight berwarna putih disana.
"Oke, makasih, untung ketemu, saya udah sering banget nih ilang penlight kayak gini, makasih ya?" kata dokter Alvin dengan helaan nafas lega, kemudian mengambil penlight itu dan menyimpan dalam saku snellinya.
"Iya, sama- sama, Dok..." jawab Amartha yang kemudian berdiri dan menyimpan kertas yang dipegangnya ke dalam lemari obat.
"Sebagai rasa terima kasih, gimana kalau aku anterin kamu pulang," ucap dokter Alvin spontan, entah mengapa pria itu ingin sekali mengenal lebih dekat wanita cantik itu.
"Saya bisa pulang sendiri, Dok..." Amartha menolak sesopan mungkin.
"Aku nggak repot, kok..." ucap pria itu lagi.
"Beneran nggak usah, Dok ... saya ada janji sama temen saya, mau pulang bareng," Amartha mencari- cari sejuta alasan, lagian siang ini dia diminta untuk ke perusahaan Satya, katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan.
"Ehm, saya permisi, Dok?" Amartha melangkahkan kakinya menuju pintu.
"Saya juga mau pulang" dokter Alvin segera beranjak dari duduknya, dan segera mengejar Amartha, pria itu berusaha menyamai langkah wanita yang beberapa menit lalu berada dalam ruangan yang sama dengannya
Ada beberapa perawat yang melihat Amartha dan dokter Alvin berjalan dari arah poli karyawan, membuat gosip- gosip bahwa Amartha cari muka bahkan pedekate dengan dokter Alvin, pasalnya mereka berdua berjalan beriringan dan sesekali terlihat mengobrol, sampai keduanya masuk ke dalam lift. Padahal Amartha hanya menjawab beberapa pertanyaan receh dari dokter Alvin, namun beberapa orang yang melihatnya berasumsi lain.
Dea yang kebetulan melihat Amartha begitu akrab dengan dokter Alvin merasa cemburu, karena sudah setahun ini Dea kesengsem sama dokter ganteng berkacamata itu.
"Dea? kalah lu cepet lu sama anak baru," Dara menyenggol lengan Dea. Dea yang kebetulan berpapasan dengan dokter Alvin dan Amartha pun tak bisa menyembunyikan rasa tidak sukanya.
"Diem lu!" sarkas Dea pada Dara.
"Gue baru liat tuh, dokter Alvin senyam-senyum sama perawat, boro- boro senyum, ngomong aja jarang," Dara tak berhenti mengompori Dea, yang memang sudah menjadi rahasia umum dikalangan perawat sejawatnya kalau Dea ini mengincar dokter Alvin, tapi tak mendapat respon dari sang dokter.
"Lu bisa diem nggak Dara? mau gue plester tuh mulut?" Dea kemudian berjalan ke dalam lift, meninggalkan Dara.
__ADS_1
"Eh, tunggu, tunggu!" Dara ngibrit mengejar Dea, dan beruntung ia masih bisa masuk ke dalam kotak besi itu sebelum pintunya tertutup sempurna.
...----------------...