Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Adon Mengadon


__ADS_3

Fendy dengan hati yang senang mengajak Sinta untuk pulang bersama. Mobil Sinta sengaja ditinggal di kantor, dan sekarang mereka sedang menikmati makanan di sebuah restoran fine dining.


"Ngaco banget makan disini pake pakaian kerja kayak gini," ucap Sinta yang merasa risih dengan pakaiannya sendiri, setelan baju kerja dengan celana panjang.


"Emang ada larangannya?" tanya Fendy.


"Ya nggak cocok aja, gitu..." sahut Sinta, yang melihat sekelilingnya.


"Lagian siapa yang peduli?" ucap Fendy cuek.


"Nggak usah terlalu mikirin pendapat orang lain terhadap kita, pusing sendiri yang ada!" lanjut pria itu yang mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Ngomong sama kamu emang susah," ucap Sinta yang menyeruput minuman berwarna merah dengan layer kuning.


"Kamu mau pakai baju apa aja tetep cantik, Sinta, dan nggak akan yang mengubah itu," ucap Fendy.


"Ini bukan masalah cantik nggak cantik, tapi ini jomplang banget sama yang dateng kesini," protes Sinta,


"Apa aku perlu kosongin nih tempat? biar kamu nggak ngerasa jomplang?" ucap Fendy.


wanita itu geleng-geleng kepala mendengar ucapan Fendy yang asal ngejeplak aja.


"Nggak usah macem-macem, deh!" kata Sinta.


"Siapa yang mau macem-macem? kan aku cuma nanya..." kata Fendy, lalu ia menyeruput minumannya.


"Nggak suka makanannya?" tanya Fendy yang melihat Sinta dengan makanan yang masih utuh.


"Suka,"


"Terus? kenapa cuma diliatin?" tanya Fendy, Sinta menghela nafasnya perlahan.


"Kalau kamu nggak makan, badan kamu yang ada makin tipis, tulang doang yang pada nonjol," ucap Fendy.


"Ishhh, rese!" Sinta mendengus kesal.

__ADS_1


"Emang kalau lagi banyak kerjaan pasti males makan, dan sekalinya makan nggak tau ilang kemana. Yang jelas, sekarang badan kamu butuh sesuatu untuk dicerna, jangan sampe kamu ngegeletak kayak aku waktu itu di rumah sakit," Fendy mengingatkan.


"Kalau kamu tuh bukan karena kurang makan, tapi makan makanan yang bikin kamu alergi, beruntung tuhan masih memperpanjang kontrak kamu di dunia, kalau nggak ... mungkin udah metong di jalan," ucap Sinta menohok. Fendy hanya terkekeh.


"Kan aku udah apply perpanjangan kontrak hidup biar bisa sehidup semati sama kamu," kata Fendy ngegombal-gambel.


"Dih, males banget!" ucapan Sinta sangat berbeda dengan raut wajah yang ditunjukannya, tanpa sadar wanita itu menyunggingkan senyumnya.


Di kediaman Ganendra, Amartha masuk mendahului suaminya. Ia mencari-cari keberadaan mami Sandra.


"Mbak? mami dimana?" tanya Amartha pada Nala yabg kebetulan sedang membereskan bekas minuman di ruang keluarga.


"Ada di dapur, Nyonya..." sahut Nala yang merupakan salah satu pelayan di rumah itu.


"Mari Tuan saya bantu bawakan," ucap Nala saat melihat anak majikannya membawa satu plasti keresek berwarna hitam.


"Terima kasih, Nala..." ucap Satya, ia memberikan barang bawaannya pada Nala. Sedangkan Amartha sudah melenggang menuju dapur. Wanita yang tengah berbadan dua itu sangat kesal dengan suaminya.


"Prisha? Mami? lagi ngapain?" tanya Amartha saat melihat adik iparnya sudah cemong tepung di pipi kanan dan kirinya.


"Ini lagi bikin cilok," sahut Sandra yang memakai appron berwarna merah.


"Tadi waktu pulang dari bandara kayaknya aku lihat tuh ada yang jual cilok, mau beli tapi ragu, jadi aku minta tolong mami buat bikinin deh..." jelas Prisha yang mengaduk-aduk sesuatu di dalam bowl yang besar menggunakan whisk.


"Kenapa nggak ngomong? sini aku bantuin, aku juga bisa bikin cilok yang enak," Amartha menaruh tasnya di atas kursi dan mulai mengambil aporon berwarna merah yang ada di laci.


"Nanti capek kamu, Sayang ... udah biarin mami aja," sergah Sandra.


"Mana adonannya? ini?" tanya Amartha melihat satu bowl yang ada adonan berwarna putih. Sandra sedang mencincang seledri dan daun bawang.


"Itu adonan gagal, mbak. Ini aku bikin adonan yang kedua, tapi ini kok nggak bisa dibulet-buletin, susah gitu..." ucap Prisha yang hampir putus asa.


"Ya gimana kamu liat resepnya, sok-sok an masak, nyalain kompor juga nggak bisa," celetuk Sandra. Amartha terkekeh mendengar yang diucapkan Sandra, ia melihat bowl yang dipegang Prisha.


"Bikin cilok harus pakai air panas, kalau pakai air biasa nggak akan jadi, sha ... lagian kalau bikin cilok nggak pakai whisk kayak gini, cukup pakai spatulla aja," ucap Amartha yang mengambil whisk dan bowl dari Prisha.

__ADS_1


"Yaa, mami nggak bilangin juga," Prisha melirik Sandra yang kini sedang mencincang daging ayam dengan chopper.


"Ya udah kita bikin adonan yang baru," ucap Amartha yang membersihkan salah satu bowl dan menuang tepung tapioka dan sedikit tepung terigu dengan perbandingan yang sudah di tentukan.


"Jangan berdiri, kamu duduk, biar mami yang siapin apa yang kamu butuhin," ucap Sandra menarik sebuah kursi dan menyuruh Amartha untuk duduk.


"Lagi pada bikin apa, nih?" tanya Satya yang tiba-tiba nongol. Namun pertanyaannya tak dijawab Amartha, wanita itu malah sibuk membuat bumbu. Melihat kakak iparnya tidak menyahuti oertanyaan abangnya, Prisha malah cekikikan.


"Hahahhaha, lagi marahan ya? kasiaaan? itu namanya karma!" ucap Prisha.


"Maap Mon! ini bang Satya bukan bang Karma, bang Karma noh yang jual bakso solo yang mangkal depan jalan sana," kata Satya dongkol.


"Kalau tuh orang macem-macem, ngomong aja sama aku mbak, biar aku pites-pites tuh orang!" kata Prisha yang malah ngomporin kakak iparnya.


"Satya, daripada kamu ngerusuh disitu, mending kamu ikut papi ke ruang kerja," ucap Abiseka yang tiba-tiba saja muncul.


"Siap, Pap!" ucap Satya. Prisha menjulurkan lidahnya meledek abangnya yang akan pergi mengikuti Abiseka.


Nala sedang mengeluarkan isi dari keresek hitam, bau ayam goremg menyeruak enak saat bungkusnya dibuka. Nala mengambil piring besar untuk menata makanan yang dibeli Satya dan Amartha.


"Itu tadi mbak Amartha yang bawa?" tanya Prisha.


"Iya, aku beli lamongan, ada lele goreng dan ayam goreng juga. Aku beli banyak, kamu harus cobain! sambelnya mantep banget," ucap Amartha sembari menunggu air mendidih.


"Wah boleh, tuh! ditambah sama nasi panas dan lalapan, pasti enak!" ucap Sandra yang sudah menaruh daging cincang ke dalam mangkuk kecil.


"Nala jangan lupa angetin di microwave, ya?" perintah Sandra.


"Kenapa nggak makan di tempat, Sayang? makan makanan kayak gini kan enakan makan langsung di tempatnya," tanya Sandra, ia jadi rindu makan ayam goreng di warung tenda.


"Nggak boleh sama mas Satya, disuruh dibungkus aja," ucap Amartha.


"Lagian makan di pinggir jalan sama mas Satya tuh ribet, Mam! segala sendok dan piringnya dia basuh pakai air mineral, sedotan harus ambil dulu di mobil, ribet pkoknya..." jelas Amartha, dia kesal dengam kelakuan suaminya.


"Hahahahaha, abang emang gitu. Iya kan, Mam? persis kayak papi!" kata Prisha yang malah duduk melihat Amartha menaruh bumbu di dalam bowl yang berisi tepung.

__ADS_1


"Iya bener kayak kamu juga! mereka bertiga tuh nggak bisa makan di pinggir jalan, beda sama mami ... mami cuek aja mau makan dimana juga," jelas Sandra, Amartha hanya manggut-manggut.


...----------------...


__ADS_2