
Amartha tengah terlelap sementara Satya sama sekali belum juga terpejam hingga waktu menunjukkan pukul 2 malam. Deburan ombak berpadu dengan suara serangga-serangga seolah menjadi lagu pengantar tidur bagi istrinya. Satya beranjak dari tempat tidurnya dengan gerakan yang sangat hati-hati, agar istrinya tidak terbangun.
Pria itu menempelkan ponsel ditelinga kanannya sembari mengedarkan ke seluruh penjuru kamar dengan mata elangnya.
"Bagaimana? ada yang mencurigakan?" ucap Satya pada seseorang di seberang telepon.
"Untuk sampai saat ini belum ada, Tuan ... tidak ada yang berlalu lalang disekitar tenda anda." ucap seorang pria dengan suara baritonnya.
"Teruslah berjaga, tidak ingin sesuatu terjadi pada istriku," perintah Satya pada orang tersebut.
"Baik, Tuan!"
Satya kembali menghampiri istrinya dan menaruh ponselnya diatas nakas.
Pria itu kemudian masuk ke dalam selimut dan segera bergabung berbagi kehangatan dengan Amartha.
"Aku tidak tau apa tujuannya memata-matai kita, tapi sepertinya aku harus meningkatkan kewaspadaanku. Aku akan menjagamu, Sayang ... aku tidak akan membiarkan seseorang menyakiti istriku," ucap Satya sembari memeluk istrinya yang kini tengah menelusupkan kepalanya di dada bidang suaminya
Sepanjang malam, Satya memeluk istrinya posesif, dia hanya memejamkan matanya sebentar, karena bagaimanapun tubuhnya harus beristirahat.
"Emmmh ... Mas? kamu udah bangun jam berapa?" ucap Amartha saat melihat Satya duduk di sofa lengkap dengan baju koko dan sarungnya, terlihat sangat tampan.
"Masih jam 5 pagi," ucapnya yang kemudian bangkit dari duduknya mendekati Amartha.
"Kita berjamaah dulu, yuk?" Satya duduk disamping istrinya itu.
"Bentar aku mandi dulu, Mas..." Amartha segera turun dari ranjang dan segera melesat menyambar handuk dan bathrobenya. Sepasang suami istri itu akhirnya melaksanakan ibadahnya bersama-sama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
__ADS_1
Udara pagi terasa sangat segar, sepasang pengantin baru itu memilih menikmati sarapannya didepan tenda mereka, sambil melihat pemandangan laut yang memanjakan mata mereka.
"Kamu mau nggak kalau aku ajak melihat air terjun?" ucap Satya setelah menyesap cappucino miliknya.
"Mau banget, Mas ... jauh nggak dari sini?" jawab Amartha seraya memasukkan sausages ke mulutku.
"Nggak begitu jauh, aku pengen nunjukin sama kamu, Yank ... kalau ada surga kecil didalam hutan tropis," ucap Satya yang membuat sebuah senyuman terbit dari bibir Amartha.
"Jadi nggak sabar pengen kesana," ucap Amartha yang membuat Satya mengecup kening Amartha.
"Habiskan dulu sarapannya, setelah ini kita bersiap," kata Satya yang menyuapkan sandwhich ke dalam mulutnya.
Setelah selesai menikmati sarapan, Satya dan Amartha bersiap untuk pergi ke air terjun mata jitu yang membutuhkan waktu kurang lebih 30 sampai 40 menit. Mobil mereka tidak bisa masuk sampai ke titik lokasi, mereka harus menaiki sepeda motor untuk menembus hutan belantara, dan jalan yang dilalui pun tidak mudah banyak jalan berbatu dan menanjak, membuat mereka harus berhati-hati.
Satya menyetir sendiri dan memboncengkan Amartha menaiki bukit, menikmati indahnya pemandangan laut dari sisi tebing, sebelum akhirnya mereka harus berjalan kaki untuk menemukan surga kecil yang ada di sumbawa.
"Capek?" tanya Satya pada Amartha yang terlihat sudah ngos-ngosan berjalan melewati pohon-pohon yang dengan akar yang sangat besar.
"Kalau capek kita minta berhenti dulu," lanjut pria itu sambil melihat ke arah istrinya yang nampak kelelahan.
"Kalau capek bilang, yah? atau mau aku gendong? hem?" ucap Satya yang berjalan dibelakang Amartha, jalan setapak yang sempit membuat mereka tidak bisa berjalan beriringan.
"Ishhh, itu sih maunya kamu, Mas..." kata Amartha tanpa menengok ke arah Satya.
Setelah perjalanan yang lumayan melelahkan akhirnya sampai juga mereka di air terjun Mata Jitu. Amartha membelalakkan matanya, melihat keindahan yang tersaji di depan matanya
Ada banyak stalaktit dan stalakmit, yang menghiasi permukaan air terjun, air yang jernih turun dari tempat tertinggi ke tempat yang lebih rendah. Ya, disana ada empat undakan yang membuat air mengalir dengan sangat cantik, undakan yang membentuk kolam-kolam cantik dengan perpaduan warna hijau tua dan muda.
Namun, sayangnya mereka tidak boleh berenang di kolam di air terjun itu. Mereka hanya bisa membasuh tangan dan duduk di tepian air terjun, menikmati gemericik air dan suara burung-burung, benar-benar sangat menyatu dengan alam.
"Ini indah banget, Mas ..." ucap Amartha saat mereka telah sampai di air terjun mata jitu.
"Buat aku, kamu tetap yang terindah, Yank..." ucap Satya sambil merangkul pundak istrinya.
__ADS_1
"Ish, gombal!" kata Amartha sambil tersenyum menatap suaminya yang menatapnya dengan lembut.
"Minum, Yank..." ucap Satya sambil menyodorkan botol air mineral untuk istrinya.
Amartha pun segera menenggak air yang ada dalam botol berwarna bening, merasakan kesegaran setelah meminumnya beberapa tegukan.
"Pasti airnya seger banget, Mas..." ucap Amartha sambil melihat kolam-kolam air.
"Iya Yank ... pastinya, tapi kita nggak boleh berenang di kolam-kolam air terjun itu, lagian juga buat jaga cagar alam kita, Yank. Tempat ini nggak akan indah lagi, kalau sudah terjamah dengan tangan-tangan nakal manusia," kata Satya yang diangguki oleh Amartha.
"Dingin banget, Mas ... asli seger banget," Amartha mendekat ke pinggir kolam air dengan aliran air yang tidak begitu deras, sangat menggoda untuk menceburkan diri ke dalamnya.
"Hati-hati, Sayang ... sini aku pegangin," ucap Satya sembari menggenggam tangan istrinya yang sedang meraup air yang mengalir.
"Sebanding kan, dengan perjalanan yang kita lalui tadi?" tanya Satya yang dijawab anggukan oleh Amartha.
Setelah 1 jam menikmati keindahan air terjun dan tak lupa untuk mengambil beberapa gambar untuk kenang-kenangan, akhirnya Satya dan Amartha kembali ke resort.
Satya mengajak Amartha untuk menikmati spa dengan panorama laut, membuat kaki yang beberapa saat tadi sangat lelah karena berjalan kaki, kini mulai relax kembali.
"Yank, kita jalan yuk ke pantai ... nikmatin sunset," ucap Satya saat mereka sedang duduk di sofa kamar melihat beberapa foto saat di air terjun.
"Jauh dari keramaian ternyata seru juga ya, Mas?" kata Amartha sembari menyenderkan kepalanya pada bahu suaminya.
"Yuk?" lanjut wanita itu dengan sangat bersemangat.
Hamparan laut memanjakan mereka yang haus akan kebebasan dan ketenangan. Mereka berjalan bergandengan tangan, merasakan angin menerpa wajah keduanya. Mereka saling melempar senyuman, memandang satu sama lain penuh dengan cinta.
"Kamu pengen punya anak berapa, Yank?" tiba-tiba Satya bertanya.
"Satu?" ucap Amartha ragu, Satya menghela nafasnya seolah kecewa, lalu pria itu merangkul bahu istrinya dan berkata.
"Kalau sepuluh, gimana?" ucap Satya dengan cengiran khasnya, dan sejurus kemudian tubuh pria itu dihadiahi puluhan cubitan dan capitan, akhirnya mereka kejar-kejaran kayak film-film india.
__ADS_1
...----------------...