
Keesokan harinya.
"Yakin? mau pergi hari ini?" tanya Amartha.
"Iya kan udah sesuai rencana kita, Yank..." jawab Satya.
"Tapi kan kamu lagi sakit," Amartha menunjuk tangan Satya. Wanita itu sedang membantu Satya untuk mengancing polo shirt-nya.
"Kalau nggak ditempeleng ya nggak sakit," kata Satya.
"Lagian aku sendiri dokter dan istriku perawat, terus apa lagi? lagian sebentar lagi juga sembuh lukanya," lanjut pria itu.
"Ya udah, aku pack baju sekarang,"
"Jangan, biar bik Surti atau Sasa nanti yang nge-pack baju kita," ujar Satya, Amartha mengangguk. Apalagi sekarang dia sedang hamil besar, ruang geraknya serba terbatas.
"Ya udah sekarang kita sarapan dulu aja,"
Setelah membantu Satya berpakaian, mereka berdua melangkah menuju meja makan untuk menikmati sarapan.
"Bik Surti bikin bubur kacang ... mau?" Amartha bertanya pada suaminya.
"Mau, santannya sedikit aja," ucap Satya yang melihat bubur kacang hijau dengan kuah santan terpisah.
"Segini cukup?" tanya Amartha.
"Cukup,"
"Masih panas," Amartha menaruh mangkok porselen kecil yang berisi bubur kacang.
"Silakan, Tuan..." ucap bik Surti saat menaruh secangkir teh hangat di atas meja.
"Susu hamilnya mau sekarang atau nanti, Nyonya?" tanya bik Surti.
"Nggak usah, Bik ... saya mau makan bubur kacang soalnya, nanti kekenyangan yang ada," jawab Amartha.
"Oh, ya Bik... nanti bantuin saya masukin baju ke koper, ya..." lanjut Amartha.
"Baik, Nyonya..."
Amartha mulai menyuapi Satya bubur kacang yang sudah pasti enak rasanya. Saat pria itu menikmati suapan terakhirnya, seseorang meneleponnya. Satya melihat siapa yang menghubunginya sepagi ini.
"Siapa, Mas? kok nggak diangkat?" tanya Amartha pasalnya Satya tak juga mengangkat panggilan itu. Pria itu malah dengan santai menyeruput teh hangat miliknya.
"Mas, angkat..." Amartha menunjuk ponsel suaminya dengan dagunya.
"Biarin aja," kata Satya.
"Barangkali penting," ujar Amartha.
"Nggak sama sekali,"
Amartha tak mau ambil pusing siapa yang menghubungi suaminya. Satya mengambil ponselnya bukan untuk menjawab panggilan itu melainkan untuk menonaktifkan benda pipih itu.
__ADS_1
"Dimatiin?" Amartha mengerutkan keningnya.
"Biar nggak ganggu orang lagi sarapan," ucap Satya.
"Yank aku pengen roti oles selai choco hazelnut, di toast bentar dong pakai unsalted butter..." ucap Satya.
"Nggak mau makan nasi? udah ada semur daging loh, sama tumis jagung cabe hijau..."
"Aku lagi pengen roti," kata Satya.
"Ya udah, aku bikinin..." ucap Amartha.
Ia mengambil roti rasa pandan tanpa pinggiran yang sebelumnya sudah di toast dengan butter. Ia mengoleskan selai choco hazelnut diatas roti.
"Ini udah jadi, Mas..." ucap Amartha yang menaruh satu tangkup roti sesuai permintaan Satya.
"Makasih ya, Sayang..." kata Satya mengedipkan satu matanya genit.
"Astaga, genit banget kamu, Mas..." ucap Amartha.
Amartha mengambil nasi berserta tumisan jagung dan semur daging. Melihat Amartha yang makan menggunakan tangan, Satya pun merasakan ingin juga makan nasi. Padahal baru saja ia menghabiskan satu tangkup roti.
"Yank?" Satya memanggil istrinya.
"Kenapa, Mas?" tanya Amartha.
"Suapin," Satya menunjuk apa yang sedang dimakan Amartha.
"Kamu mau kemana, Yank?" tanya Satya yang melihat pergerakan istrinya.
"Mau nambah nasi sama lauknya," ucap Amartha.
"Kirain mau pergi kemana," cicit Satya.
Amartha dengan telaten menyuapi suaminya yang lagi kolokan itu. Sasa dan bik Surti yang melihat kemesraan kedua majikannya pun tanpa sadar jadi senyum-senyum sendiri.
"Hayo, lagi pada ngapain?" ucap mang Anto yang menepuk pundak Sasa dan bik Surti.
"Astagfirllah!" pekik bik Surti.
"Ngagetin aja!" lanjut wanita itu lagi.
"Tau nih, Mang Anto bikin jantung rasanya mau copot tau, nggak?" Sasa menimpali ucapan bik Surti.
"Ya lagian, kenapa juga kepala dijulurin begitu?" tanya mang Anto.
"Mau tauuuuu aja! yuk, Sa ... kita beresin koper!" ucap bik Surti yang menarik tangan Sasa, meninggalkan mang Anto sendirian. Mang Anto gelrng-geleng kepala, melihat kelakuan Sasa dan bik Surti yang makin hari makin kompak saja seperti ibu dan anak. Mang Anto melangkah menuju taman, ia akan melakukan pekerjaannya sebagai tukang kebun.
Amartha melangkah menuju kamarnya, sedangkan Satya keluar ke arah garasi mobil, ia harus memastikan mobil apa yang akan ia gunakan. Satya ingin istrinya merasa nyaman selama di perjalanan, jadi ia memilih mobil yang besar dengan kursi yang sudah di modif sedemikian rupa untuk memberikan kenyamanan bagi penumpangnya.
Amartha sedang duduk sambil melihat Sasa dan bik Surti mengemasi baju-baju miliknya dan Satya. Ia pun menghubungi Rosa untuk memberitahu tentang keberangkatannya hari ini.
"Assalamualaikum, Mah?" sapa Amartha.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, Sayang..."
"Mah, hari ini Amartha dan mas Satya mau ke rumah," ucap Amartha.
"Iya, Sayang ... nanti mama masakin makanan kesukaan kamu, kamu mau dibeliin apa? telor gulung? batagor? apa? kamu pengen apa? biar nanti mama sama papa cariin sebelum kamu kesini," ucap Rosa yang bersemangat.
"Apaan? nggak boleh jajam semabarangan aku tuh sama mas Satya, Mah..." kata Amartha.
"Bikinin nasi kemangi aja, Mah ... sama gurame bakar plus sambal koreknya," ucap Amartha.
"Ya udah, nanti mama masakin buat kamu, Sayang..."
"Ya udah, Mah ... Amartha mau siap-siap dulu," ucap Amartha.
"Hati-hati ya, Sayang..." kata Rosa.
"Assalamualaikum," Amartha mengakhiri percakapannya.
"Waalaikumsalam," sahut Rosa.
Amartha pun menutup panggilannya dengan Rosa. Dan mendekat pada Sasa dan bik Surti yang kini sudah menutup koper besar miliknya.
"Mau langsung ditaruh di bagasi mobil, Nyonya?" tanya Sasa.
"Iya, boleh ... Oh, ya bik Surti, Sasa ... ini ada sedikit uang dari saya, saya mau liburan seminggu di rumah orangtua saya," Amartha memberi beberapa lembar uang seratus ribuan pada Sasa dan juga bim Surti.
"Tidak usah, Nyonya ... kan kemarin kami juga baru gajian," kata bik Surti yang tidak enak menerima uang diluar uang gajinya.
"Anggap saja uang jajan, rejeki tidak boleh ditolak," ucap Amartha.
"Kalau begitu terima kasih, Nyonya..." ujar bik Surti.
"Terimakasih, Nyonya ... kalau begitu biar kami bawa koper ini ke bawah," kata Sasa.
Sementara di tempat Ricko, Vira sedang mencuci piring bekas sarapan. Ricko yang sudah bersiap akan ke kantor pu. menghpiri wanita itu.
"Sebentar lagi juga ada yang kesini, Vir ... buat beres-beres," ucap Ricko saat melihat Vira sibuk dengan cucian piringnya.
"Nggak apa-apa, ini juga cuma sedikit..."bjawab Vira.
"Udah mau berangkat, Kak?" tanya Vira.
"Iya ada meeting dengan client. Nantinmalam ada yang mau aku omongin sama kamu," ujar Ricko.
"Apa itu, Kak?" tanya Vira. Ia mengelap tangannya dengan tisu
"Nanti aja ... ya sudah, aku berangkat..." kata Ricko yang berbalik dan berjalan menuju pintu, Vira pun mengekorinya dari belakang.
Ketika Ricko membuka pintunya disaat itu pula seorang pria nampaknya baru ingin memencet tombol bel pintu.
"Viranya ada?" tanya pria itu.
...----------------...
__ADS_1