Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Menghibur


__ADS_3

"Nih, makan yang banyak! biar kuat menghadapi kenyataan!" ucap Satya sembari mendorong piring yang diatasnya ada beberapa potong ayam bakar yang sudah ditata Amartha.


"Eh, tunggu kamu sukanya dada atau paha?" ucap Satya sambil menaik turunkan alisnya.


"Dada!" jawab Amartha yang membuat Satya menyilangkan kedua tangannya di dadanya.


"Dada ayam! bukan dada itu!" ucap Amartha yang membuat Satya menurunkan tangannya dan membuat gadis itu tertawa kecil.


Suasana yang canggung pun segera menghangat karena tingkah konyol Satya.


Satya yang terlihat kesusahan memakan ayamnya pun membuat hati Amartha tergerak untuk menyuapi Satya, yang tangan kanannya terluka dan susah untuk makan pakai sendok.


"Sini, biar aku bantu!" ucap Amartha yang menggeser tempat duduknya, mendekat ke arah Satya.


"Aku bisa-"


"Mas, Satya terluka karena aku jadi ... setidaknya biarkan aku melakukan ini," kata Amartha yang kini sudah mengambil alih piring Satya.


"Aishhh susahnya!" gerutu Amartha saat memisahkan daging ayam dari tulangnya menggunakan sendok. Gadis itu pun segera ke wastafel dan mencuci tangannya.


"Nah, kayak gini kan lebih gampang," gumam Amartha saat mulai menyuapi Satya dengan tangannya langsung.


"Kamu makan juga, jangan cuma aku..." ucap Satya.


"Iya, nanti," ucap Amartha singkat, dan mula mengarahkan suapan kedua.


"Sekarang," kata Satya tak mau kalah.


"Iya, nih aku makan, puas?" ucap Amartha sembari menyuapkan nasi beserta suwiran ayam ke mulutnya. Satya pun tersenyum melihat Amartha yang kini memakan nasi di satu piring yang sama dengan dirinya.


Setelah makan malam yang sudah sangat terlambat, Satya pun membuka pembicaraan saat Amartha sedang mencuci piring.


"Apakah, Kenan-"


"Aku memilih berpisah dengannya, aku takut nyawa orangtuaku terancam, lagi pula Sinta lebih membutuhkannya, sedangkan aku akan menjalani kehidupanku seperti dulu, melanjutkan kuliah dan hidup sebaik-baiknya,"


Satya mengangguk mengerti, biarlah itu menjadi keputusan Amartha untuk menentukan hidupnya. Setiap orang mempunyai pemikirannya sendiri.

__ADS_1


"Ta...?" ucap Satya yang masih duduk di kursi meja makan.


"Iya sebentar," sahut Amartha yang sedang berdiri di depan wastafel, baru saja menyelesaikan cuci piring bekas makan mereka berdua, gadis itu mengeringkan tangannya dengan tissue towel dan berbalik menghadap Satya.


"Ada apa?" tanya Amartha yang sedang membuang tisue ditangannya ke tempat sampah dekat wastafel.


"Ngemil, ngemil apa yang paling enak?"


"Apa ya? ehm, nggak tau!" sahut Amartha sambil mengendikkan bahunya.


"Ngemilikin kamu sepenuhnya!" jawab Satya diiringi tawa renyahnya.


"Cih!" Amartha berdecil sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Ta...?" panggil Satya pada gadis yang masih setia berdiri di depan wastafel.


"Apaan?" sahut Amartha


"Kamu orang Jawa, kan ya?"


"Jawaban atas doa-doa ku," ucap Satya yang lagi-lagi nyengir dan mendapatkan reaksi malas dari Amartha.


"Udah ah, aku mau tidur ngantuk!" Amartha melangkahkan kakinya menuju kamarnya, namun saat melewati Satya tangannya dicekal oleh pria itu.


"Ta, satu lagi..." ucap Satya memelas.


"Apaan, cepetan!" kata Amartha ketus, dia mulai kesal denga Satya yang terus saja menggombal.


"Awan, awan apa yang bikin seneng?" Satya melempar pertanyaan.


"Awan kinton!" jawab Amartha sekenanya.


"Salah! Awana be with u," ucap Satya sambil nyengir kuda.


"Halah, gombalan nyolong di g**gle aja bangga!" kata Amartha seraya melepaskan cekalan tangan Satya dan segera melenggang menuju kamarnya.


Satya pun terkekeh saat Amartha melengos masuk ke kamarnya. Meninggalkan dia sendirian di meja makan. Ada satu garis senyum di gadis itu yang kini sedang berdiri di balik pintu kamarnya. Setidaknya dia bisa melupakan masalahnya sejenak.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


Pagi itu Amartha bangun lebih pagi dari biasanya, karena memang semalaman tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dia langsung menyambar handuknya dan bergegas mandi. Setelah selesai memakai bajunya, ia segera keluar. Dia mengetuk pintu kamar Satya.


Tok


Tok


Tok


"Mas..?" panggil Amartha dari balik pintu kamar Satya.


"Masuk aja, Ta nggak dikunci!" sahut Satya dari dalam.


"Ada apa, Ta?" tanya Satya yang sepertinya habis mandi, karena dia sedang memakai kemeja.


"Aku laper..." rengek Amartha yang mengusap perutnya yang memang tidak tahu diri, biasanya dia bisa menahan lapar, tapi kali ini sekumpulan cacing-cacing itu seakan tak mau menunggu lama untuk mendapat jatah makanan.


"Iya bentar," jawab Satya tanpa mengalihkan pandangannya yang fokus pada kancing-kancing kemejanya.


"Susah banget sih!" gerutu Satya saat kesusahan memasang kancing dengan satu tangan.


"Ehm, sini aku ... aku..ee.. aku bantuin," ucap Amartha yang berjalan mendekat ke arah Satya.


Baru beberapa langkah Amartha mendekat, terdengar suara bel yang berkali-kali dipencet tanpa jeda. Membuat keduanya terlonjak kaget. Amartha memilih untuk segera keluar dari kamar Satya, Satya pun mengikutinya dari belakang. Mereka berdua melenggang menuju pintu.


"Siapa?" ucap Satya yang meninggikan suaranya.


"Satya?!" teriak Sandra yang melihat anaknya dengan kemeja yang belum terkancing.


"Mamih?!!"


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2