Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Aku Kira Ada Yang Mencurimu!


__ADS_3

Amartha perlahan membuka matanya.


"Astaghfirllah, aku ketiduran!" ucap Amartha yang kemudian perlahan menegakkan tubuhnya duduk diatas ranjang.


Bamun, matanya terbelalak saat tak mendapati Evren yang ia tadi ia taruh di dalam ranjang bayi. Amartha buru-buru turun dari ranjangnya dan menghampiri ranjang milik bayinya.


"Evren! Ev..." seru Amartha. Dia berjalan menuju kamar bayinya yang terhubung dengan kamar utama sambil terus memanggil nama putrinya. Namun kosong, tak ada siapapun disana. Matanya mulai berkabut, nafasnya mulai memburu. Amartha kembali ke kamarnya, ia menutup kembali connecting door. Wanita itu sangat cemas karena tak menemukan bayinya.


"Evreeen...!" teriak Amartha yang kini menuruni anak tangga.


"Ev! Evreeen!"


Amartha mengecek ruang keluarga namun tak ada siapapun yang ditemuinya. Langkah kakinya terhenti sejenak saat melihat bayi kecilnya berada dalam gendongan Satya yang tengah berdiri di taman belakang. Tak hanya ada Satya namun ada Rudy dan juga Rosa.


"Sayang?" ucap Satya saat melihat istrinya dari balik pintu kaca.


Amartha langsung menghampiri anaknya terbuai dalam timangan sang ayah.


"Ev! aku kira ada seseorang yang mencurimu! hiks..." Amartha mengambil alih anaknya yang masih dalam balutan bedong.


Amartha menangis, sembari mendekap Evren dalam pelukannya.


"Hey, kenapa menangis?" tanya Satya.


"Amartha, kamu kenapa, Nak?" tanya Rosa yang juga bingung dengan sikap anaknya yang tiba-tiba sangat sensitif.


"Aku terbangun dan aku...." Amartha malah meraung dia tidak tahu rasanya dia hanya ingin menangis.


Satya hanya menggeleng pelan pada Rosa. Dia pun mengusap punggung istrinya.


"Kamu kira kalau Evren hilang? maaf, tadi Evren sempat bangun dan menangis, tapi sepertinya kamu kelelahan sampai nggak terganggu dengan suara lengkingan Evren. Jadi aku bawa dia turun, berkeliling rumah..."


"Maafin ibu, Nak! ibu sama sekali nggak denger kamu nangis, huaaaaaaaa! ibu macam apa aku ini...!" Amartha malah meraung dia mengecupi pipi Evren. Satya jadi bingung.


"Tenang, Sayang ... yang penting kan sekarang Evren sudah diam, dan lihat. Dia sedang menatap ibunya, kalau kamu nangis Evren nanti nangis. Lihat sudut bibirnya sudah ditarik ke bawah," ucap Satya mencoba menenangkan Amartha.


"Oeeee, oeeeee..." dan Evren oun menangis. Karena bagaimanapun ikatan batin antara ibu dan bayi itu sangat kuat. Jika sang ibu merasa sedih, hal itu akan dirasakan oleh sang bayi.


"Sssshhh, ssshhh ... jangan nangis, maafin ibu..."

__ADS_1


"Sayang, sebaiknya kamu bawa dia ke kamarnya. Mungkin dia haus, lagi pula ini sudah sore, nggak baik kalau bayi berada disini..." ucap Rudy sambil menunjuk langit. Amartha mengangguk, ia menyeka air matanya. Dan menimang-nimang Evren supaya berhenti menangis


"Mama akan siapkan mandi untuk Evren, kamu beri dia asi dulu..." ucap Rosa mengelus rambut panjang anaknya.


"Ayo, Sayang..." ucap Rosa yang mengajak anaknya untuk kembali ke kamarnya.


"Mas, aku ke atas dulu..."


"Iya, Sayang. Aku disini nemenin papa, ya?" kata Satya.


"Kalau butuh sesuatu kamu tinggal telfon aku, nanti aku langsung naik ke atas," lanjut Satya.


"Iya, Mas..."


Amartha naik ke atas bersama dengan Rosa, sementara Satya menarik satu kursi dan duduk di samping Rudy.


"Biasa kalau wanita habis melahirkan pasti seperti itu, kamu harus sabar. Walaupun dulu papa juga nggak bisa sesabar itu..." ucap Rudy.


"Dulu, karena kami sudah memiliki rumah sendiri sewaktu Amartha lahir. Tapi tentu dengan semua keterbatasan, berbeda denfan keadaan Amartha saat ini. Kamu tahu? mama Rosa itu menangis setiap malam apalagi saat memberikan asi pada Amartha karena sumber makanan bagi anaknya itu luka dan lukanya cukup dalam. Mungkin karena papa tidak sabaran, papa sempat membentak mama Rosa hingga dia menolak untuk memberi asi pada Amartha. Namun, karena Amartha terus saja menangis, mama Rosa tidak tega dan akhirnya memberikan asi walaupun setiap menyusui dia akan menangis karena menahan sakit. Dan papa harap kamu jangan seperti papa, papa harap kamu akan sabar menghadapi Amartha. Kamu seorang dokter, dan papa yakin kamu lebih paham tentang ini..." ungkap Rudy.


Satya mengangguk, Satya melihat ada rasa sesal di wajah Rudy. Mungkin dia bisa melihat kesalahannya setelah dia memiliki cucu.


"Iya, pah..." jawab Satya seraya tersenyum.


Perlahan ia membuka pintu. Dan terlihat baby Evren sedang tidur di ranjang mereka.


"Mama Rosa mana?" tanya Satya.


"Ke kamarnya, katanya mau mandi..."


"Udah lama tidurmya?" tanya Satya pada Amartha sambil terus memandangi wajah Evren yang imut.


"Tolong jagajn Evren, aku mau mandi dulu..." ucap Amartha yang beranjak dari ranjang.


"Awas! jangan ditowal towel!" kata Amartha melihat tangan Satya sudah terangkat ingin menyentuh pipi putih putri mereka.


"Iya, Yank..." jawab Satya.


Amartha pun masuk ke dalam kamar mandi, namun wanita itu melongokkan kepalanya dari celah pintu.

__ADS_1


"Mas? tadi aku nitip eskrim kelama muda sama Vira..." ucap Amartha.


"Udah ada di freezer, tadinya mau pamit sama kamu. Tapi kamunya lagi tidur," kata Satya.


"Oh..." hanya satu kata itu yang muncul dari bibir Amartha. Ia pun masuk kembali ke dalam kamar mandi. Membersihkan tubuhnya di bawah air.


Satya pun merebahkan tubuhnya di samping putri kecilnya. Tak sadar matanya ikut terpejam.


Amartha yang keluar dengan masih memakai bathrobe dan handuk yang dililitkan di rambutnya itu pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Melihat betapa menggemaskannya anak dan ayah yang sedang terlelap.


Amartha bergerak ke ruang ganti. Ia mengganti baju khusus yang nanti akan memudahkan ia ketika akan memberikan asi pada Evren.


"Astaga, bukan hanya perih tapi bisa sampai sakit seperti ini," ucap Amartha yang merasakan perih karena langit-langit mulut Evren yang masih kasar menimbulkan luka pada satu-satunya sumber makanan bayi kecilnya itu.


Setelah berganti baju, Amartha memoles sedikit wajahnya agar terlihat lebih fresh.


Amartha mendekat pada suaminya. Ia mengelus lembut kening Satya. Ia menyingkirkan rambut yang bagian depan dari dahi pria itu.


Mendadak suasana hatinya menjadi galau, matanya mulai berembun. Dan embun itu jatuh tepat di pipi kiri kanan Satya.


Satya yang merasakan ada tetesan air yang membasahi wajahnya pun akhirnya terbangun.


Ia melihat istrinya tengah menangis tepat di depan matanya.


"Yank? kamu kenapa?" Satya perlahan bangun dengan wajah penuh tanya.


"Nggak apa-apa..."


"Nggak apa-apa tapi kok nangis? ada apa? cerita sama aku," ucap Satya lembut.


"Ada yang lagi kamu pikirin?" tanya Satya. Amartha menggeleng.


"Lalu?" Satya masih menunggu jawaban istrinya.


"Aku ... aku cuma sedih," kata Amartha disela tangisannya.


"Sedih kenapa?"


"Nggak tau! pokoknya sedih aja," kata Amartha kesal keluar meninggalkan Satya.

__ADS_1


"Astaga, salah dan dosaku apa, ya Allah?" gumam Satya mengelus dadanya.


...----------------...


__ADS_2