
"Semalem? sama cewek?" Firlan memegang bibirnya sambil berpikir.
"Oohhh iya," ucap pria itu kemudian, Vira langsung bercucuran air mata lalu memukul lengan Firlan dengan keras.
"Tuuh kan? kamu ngaku, aku mau pu-tus," kata Vira dengan nafas yang memburu, ingin sekali ia mendaratkan beberapa jambakan yang setidaknya bisa mewakili rasa kecewanya saat ini.
"Nggak ada! putus putus, nggak ada kata putus. Enak aja." Firlan mengusap lengannya sakit.
"Kamu egois!" Vira dengan tatapan menusuk.
"Dih kok egois," Firlan sengaja manarik ulur perasaan pacarnya kayak layangan. Dia sudah tau benang merah dari kesalahpahaman antara dirinya dengan Vira. Pria itu melihat kekasihnya yang masih dikelilingi emosi.
"Kamu mau milikin dua wanita sekaligus, belum nikah aja mau ngeduain aku, gimana nanti kalau udah nikah? jangan-jangan kamu mau mentigakan aku..." ucap Vira dengan kata-kata menohok. Untuk berpaling dari wanita sengklek itu saja dia tidak pernah kepikiran, apalagi mau bermain wanita. Dia tahu betul rasanya dihianati, jadi tidak mungkin akan melakukan hal yang dibencinya pada Vira.
"Apaaa lagi mentigakan? menduakan mah ada, masa iya mentigakan, ngarang kamu!" ucap Pris itu sambil mengetuk-ngetukkan jarinya diatas stir mobil.
"Pokoknya aku mau kita putus," ucap Vira ngotot, ngurat kayak bakso.
"Heh, denger dulu, nih bibir sekalinya ngomong kebiasaan remnya blong begini nih," Firlan mencubit bibir Vira dengan gemas, pikiran Vira udah kemana-mana.
"Diem atau aku karetin nih bibir, biar kaya ikan ******, mau?" ancam Firlan sementara Vira merengut.
"Elap dulu tuh ingus!" Firlan mengambil beberapa helai tissue dan menyodorkannya pada kekasih hatinya, Vira menerimanya dengan dengan sungkan.
"Aku kan mau ngejelasin jadi susah kalau kamu ngomong terus, jadi kita salah paham kayak gini," Firlan malah ngomel.
"Ih ngomongnya mutar muter kaya komedi puter!" ucap Vira yang sudah tidak sabar mendengar apa yang ingin dikatakan wanita itu.
"Sabar atuh, Neng!" ucapan Firlan malah membuat Vira semakin jauh dari kata sabar.
"Semalem aku di rumah sakit, suara cewek yang kamu denger mungkin suara suster," kata Firlan yang lengannya malah ditabok oleh Vira.
__ADS_1
"Oh, jadi kamu main sama suster? jahat banget, sih! dadar gulung, rumah sakit buat tempat gituan!" kata Vira emosi.
"Nih otak mikirnya apa sih? pasti nih kamu mikirnya urusan proses gimans manusia bikin anak, iya kan?" Firlan mengetuk kening lawan bicaranya dengan jari telunjuknya.
"Otak sering disapu makanya. Biar nggak ngeres mulu pikirannya. Aku nggak ngapa-ngapain sama dia, beneran..." kata Firlan seraya berdoa dalam hatinya supaya nih cewek sengklek mau percaya dengan penjelasannya.
"Kalau nggak ngapa-ngapain kenapa kamu merintih sakit, perih, terus dia ngomongnya lembut banget sama kamu," Vira memilin ujung bajunya dengan sesekali menyeka air matanya yang sudah habis terkuras.
"Niiiihhh liaaattt, liat baaik-baik." Firlan menunjuk beberapa luka di wajahnya.
"Pas kamu telfon, dia lagi bersihin luka aku. Makanya aku reflek bilang perih dan emang ini sakit banget," lanjutnya.
"Nih buka mata kamu lebar-lebar muka aku kayak gini masih nggak percaya? emang aku dimata kamu cowok yang kayak gitu? sementara selama kita pacaran mentok cuma pegangan tangan?" Firlan berdecak kesal, Vira yang mendengar penjelasan Firlan jadi malu sendiri.
"Kenapa bisa-bisanya aku berpikir luka di wajah Firlan karena habis nganu, dan jadi bonyok- bonyok karena mereka..." ucap Vira dalam hati. Vira geleng-geleng, berusaha mengusir pikiran jahanam itu.
"Aku nggak kayak gitu suer deh, aku ngikutin cara pacaran kamu yang kayak gini aja aku mau. Walaupun batin aku tersiksa, sampe segini masa iya nggak cukup ngebuktiin bahwa aku bukan cowok brengsek seperti yang kamu tuduhkan?" sekarang giliran Firlan ngoceh, Vira terpojok, dan malu lebih tepatnya.
"Maaf..." kata Vira menunduk, tidak berani melihat wajah kekasihnya.
"Iya..." satu kata yang cukup membuat Firlan tersenyum dan mengusap pucuk kepala Vira, lebih tepatnya ngacak-ngacak ya.
"Sekarang kita ke rumah sakit," Firlan mendekat ke arah Vira dan membelitkan sabuk pengaman di tubuh cewek sengklek bin cerewet itu.
"Ngapain? iya iya aku percaya, nggak usah ketemu suster itu, aku malu..." Vira menarik-narik baju Firlan, seperti anak kecil.
"Lah, Ngapain juga ketemu suster? haish ... kita ke rumah sakit karena aku mau nganter kopernya bos, sekalian kamu pasti pengen jengukin nyoya amartha," ucap Firlan, sedangkan Vira memandang pria itu tidak paham.
"Emang dia kenapa?" Vira memandang Firlan serius.
Akhirnya Firlan menceritakan kejadian yang menimpa istri bos yang sekaligus merupakan sahabat dari pacarnya. Vira menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang dikatakan Firlan. Segurat kekhawatiran tercetak jelas di wajah Vira. Dia sangat mencemaskan keadaan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Kenapa nggak bilang daritadi sih! ayo berangkat cepetan!" Vira nyuruh Firlan supaya cepat menginjak pedal gasnya.
"Tapi aku laper, belum sarapan," Firlan mengusap perutnya yang menahan lapar sedari tadi.
"Drive thru aja di jalan, aku pngen ketemu Amartha, udah cepetan jalan!" Vira ngotot sambil menggoyang-goyangkan lengan Firlan.
"Cuuun dulu kek, sakit nih..." Firlan manja menunjuk beberapa luka di wajahnya.
"Tuh dicun aspal mau?"
"Kejam!" Firlan bedecak kesal.
Sementara di rumah sakit, Amartha sudah sadar. Namun dokter tidak memperbolehkan wanita itu untuk banyak melakukan aktivitas. karena kondisinya yang masih lemah. Jadilah ia cuma tiduran di ranjang.
"Firlan ngambil koper di Turki atau di Afrika, ya? lama banget tuh orang! mana baju udah nggak nyaman!" keluh Satya namun tetap didengar oleh Amartha. Wanita itu hanya mengelus lengan suaminya sambil tersenyum.
"Kenapa? mau apa, Sayang? kamu mau makan?" tanya Satya yang merasakan sentuhan di lengannya.
Masker oksigen sudah di lepas, jadi Amarrha lebih leluasa untuk bicara.
"Dia..." Amartha menunjuk perutnya dengan sorot matanya.
"Dia baik-baik aja, jangan khawatir ... dia masih bersama kita, dia masih bertahan di dalam sana, dia calon anak yang kuat," ucap Satya yang membuat Amartha tersentuh.
Amartha tersenyum, dan lelehan air mata meluncur di pipinya.
"Jangan nangis. Inget, kamu nggak boleh banyak pikiran." Satya mengecup kening istrinya, membawa Amartha dalam dekapannya.
"Kamu pasti terluka karena aku..." Amartha menjarak tubuhnya.
"Ini karena aku kurang waspada, nggak usah khawatir. Yang terpenting sekarang kesehatan kamu dan dia..." Satya mengelus perut istrinya.
__ADS_1
Ditengah percakapan suami istri itu, ada seseorang yang berjalan menuju ruang rawat Amartha. Perlahan pintu terbuka, membuat kedua orang itu menoleh ke arah pintu dan menampilkan satu sosok yang sangat ia kenal.
...----------------...