Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Orang Aneh


__ADS_3

Sedangkan di apartemen Ricko, pria itu tak sengaja tertidur dengan posisi duduk. Tangannya masih menggenggam tangan gadis kecilnya. Vira perlahan membuka matanya, ia merasakan perutnya meronta-ronta ingin segera mendapatkan asupan. Perlahan matanya menyesuaikan cahaya lampu yang terang benderang. Matanya membulat sempurna saat melihat Ricko tertidur dengan menautkan jari jemari tangannya. Dengan kaki menekuk di lantai dan kepalanya bersandar pada tepi ranjang.


"Perasaan semalem aku ada di meja makan," gumam Vira. Ia masih berada di posisinya, tak bergerak sama sekali. Tiba-tiba saja Ricko terbangun. Vira segera memejamkan matanya pura-pura tidur kembali.


"Astaga, aku malah ketiduran disini," gumam Ricko, namun terdengar jelas oleh Vira.


Ricko segera beranjak, dia meregangkan otot-ototnya. Dia merasakan pegal di beberapa bagian, pria itu pun segera pergi meninggalkan Vira yang masih terbaring diatas pulau kapuk.


"Huuuuuufffh," Vira menghela nafas lega saat Ricko sudah menutup pintu kamarnya dari luar.


"Jadi semalem itu bukan mimpi? dia yang membawaku masuk kesini? tapi kenapa dia tidak kembali ke kamarnya sendiri?" ucap Vira yang beringsut dari ranjangnya.


Vira langsung meraih ponselnya, ia mengecek aplikasi chat berwarna hijau. Namun, tak ada chat dari kekasihnya.


"Apa aku harus?" ucap Vira sambil membuka chat terakhirnya dengan Firlan. Vira ingin menelepon Firlan, tapi mengingat semalam mereka sedang perang dingin. Vira pum mengurungkan niatnya


Vira duduk di tepi ranjangnya. Ia memikirkan apa yang seharusnya ia lakukan.


"Coba aku telfon aja," kata Vira meyakinkan hatinya.


Wanita itu membuka kontak bernama 'Ayang Embe' dengan emoticon love dibelakangnya, dan Vira menempelkan ponsel di telinganya. Namun, sampai beberapa kali Vira menelepon, Firlan tak kunjung mengangkatnya.


"Dia pasti marah banget sama aku," kata Vira menyudahi panggilannya.


"Kenapa, sih? kita selalu berantem kayak gini?" Vira menjatuhkan badannya ke atas ranjang sementara kakinya masih menjuntai ke bawah.


"Dia hangat, sementara kamu dingin. Dia dewasa sementara kamu kayak anak kecil..." Vira menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.


Ia teringat saat pertama bertemu dengan Firlan. Senyuman khasnya, sikap cueknya yang membuat Vira penasaran. Saat pria itu selalu menariknya dari pria manapun yang dengan terang-terangan mendekatinya. Tanpa sadar wanita itu menerbitkan senyum tipisnya. Ia menjauhkan tangan dari wajahnya dan menatap langit-langit kamarnya.


"Seharusnya aku senang ketika kamu bilang kalau kamu serius dengan hubungan ini," ucap Vira sambil mengukir wajah Firlan kekasihnya di awang-awang.


"Aku nggak tau kenapa, kenapa aku belum sepenuhnya yakin dengan hubungan kita saat ini, aku nggak tau kenapa muncul ragu dalam hatiku," lanjut wanita itu, air mata keluar begitu saja seakan sudah tak mampu lagi ia tahan.


"Banyak hal yang terjadi dalam hidupku secara tiba-tiba, mungkin itu yang membuat kita tidak sedang baik-baik saja," kata Vira.

__ADS_1


Vira segera bangun, ia menyeka air matanya lalu melesat ke kamar mandi. Ia memutuskan untuk menemui Firlan di kantornya. Mungkin dengan membawa dua potong sandwhich dan susu dingin.


Vira tak berlama-lama untuk menyegarkan tubuhnya. Perutnya berkali-kali berbunyi, tapi ia tak memperdulikannya. Saat ini dia ingin bertemu Firlan secepatnya. Ricko sepertinya belum keluar dari kamarnya. Vira yang sudah rapi, segera menyiapkan sandwhich anti gagal andalannya dan mengambil susu strawberry yang dikemas dalam botol kaca.


"Udah siap mau kemana, Vira?" tanya Dewi saat melihat putrinya akan pergi.


"Ada urusan. Vira pamit, assalamualaikum!" ucap Vira seraya menyalami tangan ibunya.


Wanita itu segera menghentikan taksi saat ia sudah berada di luar apartemen. Vira beberapa kali mengatur nafasnya, ia berharap Firlan mau menemuinya. Saat di dalam taksi ia baru ingat kalau semalam Ricko memasakkan sesuatu untuknya, namun ia malah terlelap dan tak mencicipi makanan itu sedikitpun.


"Astaga, kenapa aku bisa lupa!" Vira menepuk jidatnya, merutuki kebodohannya. Vira mengetikkan sesuatu di ponselnya yang berisi permintaan maaf yang ia kirimkan pada Ricko.


"Ngomong maaf di chat kok nggak sopan, ya?" gumam Vira. Lantas ia memilih untuk menghubungi Ricko untuk mengucapkan permintaan maafnya.


"Assalamualaikum?" ucap Vira setelah panggilannya tersambung.


"Iya waalaikumsalam, kenapa Vira?" tanya Ricko.


"Ehm..." Vira tak tau harus memulai dari mana.


"Maaf, semalam aku ketiduran. Jadi aku nggak makan makanan yang Kakak bikinin buat aku, padahal Kak Ricko udah capek-capek masak," ucap Vira menyesal.


"Astaga, aku kira kenapa. Nyantai aja lagi, nggak apa-apa. Aku malah khawatir kamu tidur dengan perut kosong," ucap Ricko uang sepertinya sedang bersiap akan pergi ke kantor.


"Kata ibu, kamu pagi-pagi udah pergi, emang udah sarapan?" tanya Ricko.


"Belum, ehm ... tapi aku bawa sandwhich kok!" jawab Vira.


"Ya sudah kalau gitu hati-hati," ucap Ricko.


"Sekali lagi maaf ya, Kak? bye..." ucap Vira sebelum menutup sambungan teleponnya.


Jalanan tidak begitu ramai, membuat taksi yang ditumpangi Vira tak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di tempat tujuan.


"Kita sudah sampai, Nona..." ucap supir taksi.

__ADS_1


"Terima kasih, Pak..." ucap Vira seraya menyerahkan ongkos taksi. Wanita itu keluar dari mobil dan menatap gedung megah di hadapannya.


Vira memantapkan hatinya sebelum melangkah menuju gedung pencakar langit itu. Sesaat setelah Vira membuka pintu lobby tak sengaja ia menangkap sosok Firlan yang sedang duduk di sebuah kursi yang kebetulan menghadap dirinya.


Vira tersenyum saat mata elang Firlan bertemu dalam satu garis lurus dengannya. Namun, Firlan tak membalas senyumannya, pria itu malah mengalihkan pandangannya pada sosok wanita yang duduk berhadapan dengannya. Vira tak bisa melihat jelas wajah wanita itu karena ia duduk membelakanginya.


"Hai..." ucap Vira saat sudah berada di dekat Firlan.


"Ada apa?" tanya Firlan dingin.


"Aku ingin bicara..." ucap Vira.


"Tunggulah disana," ucap Firlan menunjuk tempat duduk lain dengan dagunya.


"Baiklah," ucap Vira, dia sekilas melirik wanita yang sedang duduk berhadapan dengan kekasihnya. Wanita cantik berkacamata dengan lesung pipi, ia tersenyum pada Vira. Vira pun membalas senyuman wanita itu sebelum menjauh dari meja itu.


Vira duduk di tempat yang ditunjuk Firlan. Ia melihat kekasihnya itu tersenyum bahkan sesekali tertawa dengan wanita yang duduk dihadapannya.


"Tertawalah Alia," ucap Firlan seraya melengkungkan senyum termanisnya.


"Anda gila," ucap Alia.


"Bagaimana? dengan urusan kita tadi?" tanya Alia.


"Setelah kamu tertawa baru aku akan menjawabnya," ucap Firlan diiringi tawa renyahnya.


"Hahahahah, jadi bagaimana jika hahahahah, jika kerjasama itu dilanjutkan lagi? hahahahah," ucap Alia diiringi tawa garingnya.


"Kamu bisa tertawa lebih natural? apa kamu tidak pernah tertawa, Alia?" ucap Firlan tersenyum, lalu ia tertawa kecil sehingga membuat matanya menyipit dengan sendirinya.


"Anda memang orang yang aneh, Pak Firlan ... untuk apa saya tertawa sambil bicara mengenai kesepakatan?" kata Alia.


"Kau lucu sekali, Alia ... aku tidak menyangka ada wanita selucu kamu," seru Firlan, ia tertawa sendiri. Sementara Alia menggelengkan kepalanya aneh dengan sikap Firlan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2