
"Sayang!" seru Satya seraya mendekat ke sisi Amartha.
"Mas..."
"Alhamdulillah, udah ada suami kamu. Jadi sebaiknya aku tunggu diluar ya, Ta?" ucap Vira.
"Makasih Vira kamu sudah menemani istri saya," kata Satya.
"Sama-sama," ucap Vira yang memang menjaga jarak dengan Satya.
Vira melangkah kakinya meninggalkan Satya dan Amartha. Wanita itu melihat Firlan duduk sambil memegang tas wanita.
"Ketinggalan," kata Firlan yang menyodorkan tas milik Vira.
"Oh, emh ... makasih,"
Sementara di dalam ruangan itu. Amartha nampak sayu melihat Satya. Dan ketika rasa sakit itu datang, Amartha sekuat tenaga untuk menahannya.
"Maaf, kamu harus merasakan sakit yang teramat sangat," kata Satya sembari menggenggam tangan Amartha.
"Aaaaaakkh!" Amartha memekik kembali, ia mencengkram tangan suaminya ketika rasa sakit datang seperti gelombang dahsyat yang menghantam dirinya.
"Tahan ya, Sayang ... atur nafas kamu, bismillah ... aku yakin kamu wanita yang kuat, kamu bisa melaluinya," kata Satya.
"Sakit banget, iya? sabar, ya? dedek lagi nyari jalannya buat keluar, buat ketemu sama kita..." lanjut Satya. Amartha mengangguk pelan. Pria itu sengaja terus mengajak istrinya bicara, setidaknya itu bisa mengalihkan pikiran Amartha supaya tidak fokus pada rasa sakitnya.
Ruangan yang begitu dingin tapi Amartha justru berkeringat. Tidak ada kata lain selain rasa sakit. beberapa jam dilaluinya dengan rasa nyeri yang bertambah berkali-kali lipat.
Beberapa kali dokter datang untuk mengecek pembukaan.
"Sudah pembukaan 5. Tuan, Nyonya mau diberikan injeksi epidural?" tanya dokter Vallerie, dokter yang sedari awal menangani kehamilan Amartha.
"Bagaimana, Sayang? kamu mau?" tanya Satya.
"Nggak, Mas..." jawab Amartha.
"Ini supaya kamu tidak terlalu sakit saat kontraksi yang datang dan akan lebih sering seiring bertambahnya pembukaan," jelas Satya, namun Amartha menggeleng. Satya tak tega melihat istrinya begitu lemah, namun Satya tak bisa memaksa jika istrinya tidak mau melakukan injeksi yang akan dilakukan di bagian ruang kecil pada bagian luar sumsum tulang belakang di bawah punggung.
"Tidak perlu, Dok..." ucap Satya.
"Baik, sebaiknya Nyonya mengisi perutnya agar saat pembukaan lengkap mempunyai tenaga yang cukup," kata dokter Vallerie yang kemudian membuka sarung tangan medisnya. Wanita yang memakai baju pelindung lengkap itu keluar dari ruangan itu.
Diluar ruangan, Vira masih menunggu Amartha. Firlan datang membawa dua cup cappucino hangat, ia memberikan salah satunya pada Vira.
__ADS_1
"Coffee!" ucap Firlan.
"Makasih," jawab Vira dingin.
Vira begitu cemas dengan keadaan Amartha yang sedang berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan putri kecilnya.
"Tenang aja, aku nggak akan minta banyak anak. Satu saja cukup," ucap Firlan mencairkan suasana.
"Dih, siapa juga yang mau ngasih kamu anak?" Vira berdecih.
"Ya kamu lah, siapa lagi?" kata Firlan.
"Aku atau Alia?" Vira tersenyum getir.
"Jika kamu ingin membalas apa yang aku lakukan, maka kamu sudah berhasil. Congrats!" ucap Vira lagi.
Firlan ingin menjawab namun Vira membuang muka dan meneguk capoucino-nya. Firlan hanya bisa menghela nafas sambil tak melepaskan tatapannya pada wanita yang ada disampingnya.
Kembali pada sepasang suami istri yang tengah menanti kelahiran putrinya.
Satya menyeka keringat yang membasahi pelipis dan dahi Amartha. Dia mengecup pelan kening istrinya itu sambil membelai lembut puncak kepala wanita itu.
"Kamu makan sesuatu, ya? aku ambilkan..." ucap Satya.
"Nggak laper, Mas..." jawab Amartha.
Amartha langsung mencengkram tangan suaminya. Satya tahu jika rasa sakit yang ia rasakan karena kuku yang menancap di kulitnya saat ini tak sebanding dengan apa yang dirasakan Amartha. Satya meletakkan piring diatas meja. Ia fokus mengelus perut Amartha yang terasa kencang.
"Aaaaaaaakkkkh!" Amartha memekik dan berusaha untuk kembali menghirup udara dari hidung dan menghembuskannya dari mulut.
"Sayang, ayah disini. Berusahalah lebih keras lagi, ayah dan ibu sudah menunggumu..." kata Satya.
Dan Amartha merasakan gelombang kontraksi yang hebat. Sesuatu seperti balon yang terisi air pecah dan cairan hangat keluar begitu saja tanpa bisa ditahan.
"Maaassss!" Amartha merasakan perutnya seakan dikoyak paksa saat ini.
"Dokter!" teriak Satya saat Amartha mengerang kesakitan, wajahnya pias menahan sakit yang datang tanpa ampun.
Dokter Vallerie dan beberapa asistennya pun datang.
"Tenang, Nyonya ... kita akan periksa lagi," wanita yang kini sedang melakukan pemeriksaan dalam.
"Bukaan 7. Wah, sepertinya putri cantik ingin segera bertemu dengan kita," kata dokter Vallerie.
__ADS_1
Dan setelah ketuban pecah tadi, kontraksi datang lebih cepat dengan interval yang cukup dekat hingga Amartha terlihat begitu tersiksa. Sampai ia tak bisa lagi menahan untuk tidak berteriak, karena sakit yang datang seperti meremukkan semua tulang-tulangnya.
Dokter Vallerie datang dengan mantap ia mengatakan jika ini sudah saatnya.
"Lengkap!" seru dokter Vallerie.
"Baik, Nyonya ... saya akan bantu pimpin persalinan ini. Jangan berteriak. Saat kontraksi datang, anda boleh mengejan. Ketika saya bilang dorong, anda harus memberikan dorongan sekuat yang anda bisa," ucap dokter memberi arahan.
Kontraksi kini mulai datang, Amartha merasakan sakit yang luar biasa hebat. Dua asisten dokter Vallerie membantu Amartha untuk menekuk kakinya.
"Ya, bagus! dorong," ucap dokter Vallerie seraya memban
"Heeeeeukkkkmk Hhhhh ... hhh..." Amartha mulai mengejan.
"S-sakiit," Amartha memegang kuat tangan suaminya.
"Sabar, Sayang! kamu kuat, kamu pasti bisa! bantu anak kita untuk menggapai jalannya," kata Satya seraya mengecup punggung tangan Amartha.
"Sssaaakit!" Amartha memekik saat gelombang itu datang lagi tanpa henti.
"Heeeukkk aaaaaaaaaaakkkkhhhh, hhhh hhh,"
"Iya, terus dorong! kepalanya sudah terlihat, sedikit lagi!" seru dokter.
"Mmas ... aku nggak kuat," Amartha menggeleng.
"Nggak! kamu kuat, Sayang! sebentar lagi tinggal sedikit lagi. Kita berjuang bersama-sama, aku disini. Bantu dia untuk lahir ke dunia, aku yakin kamu bisa..."
Dan rasa sakit menghantam Amartha untuk yang kesekian kalinya. Amartha menarik nafas sesaat dan mendorong sekuat tenaga.
"Dorong terus, dorong terus, ya seperti itu, bagus! sedikit lagi!"
"Heeeeeeuuukkkk," Amartha mengejan dengan sisa tenaganya sampai akhirnya terdengar tangisan suara bayi.
"Selamat, Nyonya! bayi anda lahir perempuan," ucap dokter Vallerie seraya memperlihatkan bayi yang masih menangis. Dokter menempelkan bayi mungil itu tepat di dada Amartha dan membiarkan bayi kecil itu untuk mencari sumber makanannya. Dan tak lama, putri kecil itu pun mendapatkannya.
"Mas? putri kita..."
"Iya, Sayang! terima kasih, aku mencintaimu..." ucap Satya seraya menciumi seluruh bagian wajah istrinya. Satya melihat betapa indahnya pemandangan yang ada di hadapannya saat ini. Amartha menangis haru, rasa nyeri yang begitu menusuk seakan hilang berganti dengan kebahagiaan yang membuncah di hatinya.
Setelah dirasa cukup, bayi mungil itu di ambil dari dekapan Amartha untuk dibersihkan.
"Silakan, Tuan..." ucap dokter Vallerie meminta Satya mengikutinya.
__ADS_1
"Aku keluar dulu untuk mengadzani putri kecil kita. Aku akan meminta Vira untuk menemanimu," ucap Satya seraya mencium puncak kepala istrinya.
...----------------...