Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Jangan Keluar Malam


__ADS_3

Satya tak menghiraukan ponselnya yang terus berdering. Pria itu terus saja melihat ke jalanan. Namun benda itu terus saja mengeluarkan suara yang sangat mengganggu konsentrasi menyetirnya. Satya pun akhirnya menepi dan berniat untuk mematikan benda pipih itu.


Namun bukannya mematikan ponselnya, Satya malah mengangkat panggilan itu setelah melihat nama Firlan di layar.


"Ya? gimana, Lan? kamu sudah menemukan istri saya?" tanya Satya tanpa basa-basi.


"Belum, Tuan ... istri anda tidak bersama Vira. Namun, sepertinya ada hal yang perlu anda ketahui," ucap Firlan. Asisten Satya itu pun memberitahu mengenai boneka arwah yang dikirim ke rumahnya. Rahang Satya mengeras, tangannya menggenggam sehingga urat-urat ditangannya terlihat jelas. Semuanya menjadi semakin rumit saja. Vira tak mengetahui kemana perginya Amartha, tapi satu hal yang wanita itu ungkapkan jika ada seseorang yang memang sengaja meneror Amartha menggunakan boneka bergaun merah.


Satya yang semula berhenti di tepi jalan, kini perlahan melajukan mobilnya. Ia sudah sangat lelah, Satya pun memutuskan untuk pulang.


Sementara, di sebuah Villa.


"Mau kemana, Neng?" tanya seorang wanita yang bekerja untuk membersihkan Villa selama Amartha menyewa Villa itu.


"Pengen beli seblak, kayaknya tadi ada yang jual di sebelah jalan sana," jawab Amartha yang sudah memakai sweater tebal karena hari sudah malam dan udara terasa begitu dingin.


"Aduuuh si Eneng! jangan keluar malam atuh, pamali! lagi pula si Eneng lagi hamil, tidak baik jika terkena udara malam. Saya saja yang keluar," ucap wanita bernama Esih.


"Nanti ngerepotin teteh," kata Amartha.


"Kerjaan saya juga sudah selesai, jadi tidak merepotkan," ucap Esih.


"Ya udah, Teh ... beli dua, punyaku jangan terlalu pedes," kata Amartha seraya menyerahkan selembar uang.


"Ya sudah, saya berangkat. Jangan sembarangan buka pintu selagi saya keluar ya, Neng? kalau saya teriak 'ceunah' baru Neng bukain pintu. Tapi kalau hanya ketukan, jangan sekali-kali dibuka," ucapan Esih membuat Amartha sedikit ngeri. Apakah dirinya salah bertandang ke tempat ini?


"Kalau gitu jangan keluar lah, Teh ... udah disini aja bikin mie instant aja. Mendadak udah nggak pengen seblaknya," kata Amartha yang menarik Esih menuju dapur.


Esih hanya terkekeh melihat tingkah penyewa Villa itu. Namun, belum juga mereka sampai di dapur. Ada suara ketukan pintu. Amartha maupun Esih menghentikan langkahnya. Mereka memutar tubuhnya, melihat ke arah pintu yang sedari tadi diketuk. Amartha dan Esih saling berpandangan, Esih menggeleng yang artinya sebaiknya jangan membuka pintu.


"Teh Esih!" teriak seorang pria.


"Teh...?" pria itu masih mengetuk pintu.

__ADS_1


"Teh, Esih ini Akbar!" teriak pria itu lagi.


"Akbar Saha?" Esih malah melontarkan pertanyaan yang membuat pria yang berdiri di depan pintu menggaruk kepalanya.


"Astaghfirllah, Akbar yang punya nih Villa Cempaka. Akbar Romadon!" ucap pria itu.


"Neng, tunggu disini saja. Biar saya yang buka pintu, kayaknya sih itu beneran Den Akbar," ucap Esih pada Amartha. Amartha hanya mengangguk mengerti.


Esih berjalan mendekati pintu, dan perlahan memutar kunci dan mengintip sedikit dari celah pintu yang terbuka.


Dan benar saja ada pria muda yang berdiri dengan sweater berwarna hitam yang menutupi lehernya. Setelah memastikan kaki Akbar menapak di tanah, Esih pun berani membuka pintunya lebar.


"Tumben, malem-malem kesini, Den?" tanya Esih.


"Kebetulan lewat, ini saya bawa seblak. Barangkali Teteh mau, saya kebetulan beli. Kasihan mang Rojak, dagangannya masih banyak jadi saya borong tadi, biar dia bisa cepet pulang..." jelas Akbar seraya memberikan satu keresek hitam yang berisi dua bungkus seblak. Amartha pun berjalan menghampiri Esih yang tengah berbincang dengan seseorang.


"Nuhun, Den ... kebetulan saya juga mau beli seblak mang Rojak buat Neng Tata," kata Esih merasakan rasa panas di kantong berwarna hitam itu.


"Teh..." Amartha memanggil Esih, Esih pun menoleh menatap wanita dengan perut buncit itu.


"Oh begitu, kalau begitu masuk saja dulu, Den. Saya buatkan kopi," ucap Esih.


"Saya pulang saja, Teh. Tidak baik bertamu malam-malam, lagian saya hanya mengantarkan itu. Selamat malam..." ucap Akbat memutar tubuhnya dan berjalan menjauhi Villa miliknya itu.


Esih dan Amartha pun hanya memandang punggung Akbar yang semakin menjauh. Kemudian Esih menutup pintu kembali.


"Wah, ini teh namanya rejeki, Neng..." ucap Esih pada Amartha.


"Ini dari mas Akbar?" tanya Amartha.


"Iya, katanya teh dia habis ngeborong seblaknya mang Rojak, katanya jualannya mang Rojak sepi. Jadi biar mang Rojaknya cepet pulang, dia beli semua itu seblaknya. Mungkin juga dibagi-bagi ke tetangga," jelas Esih. Mereka berdua melangkah ke ruang makan yang menyatu dengan dapur kecil.


"Emang dia sering begitu, Teh?" Amartha menarik sebuah kursi dan mendudukinya. Sedangkan Esih mengambil dua mangkok berwarna putih yang sudah di cuci bersih, tersusun di rak piring. Kebetulan Amartha meminta tolong pada Esih untuk membeli peralatan makan dan masak di pasar.

__ADS_1


"Sering, Neng! Den Akbar itu orangnya dermawan, dia suka berbagi dengan para tetangga. Walaupun dia kaya, tapi dia orangnya tidak sombong dan mungkin rajin menabung. hahahahaha..." ucap Esih sembari menuangkan seblak yang masih mengeluarkan asap putih.


"Teteh ada-ada aja, hahahaha..." kata Amartha.


"Ya memang seperti itu, Neng..." ucap Esih, ia mendorong mangkok putih berisi seblak ke hadapan Amartha.


Melihat Esih akan pergi, Amartha langsung mencegahnya.


"Mau kemana, Teh? makan disini aja," ucap Amartha.


"Saya mau buang ini," ucap Esih memperlihatkan plastik bekas bungkus seblak.


"Oh, kirain mau kemana," cicit Amartha.


Setelah membuang plastik ke tong sampang, Esih kembali dan duduk berhadapan dengan Amartha. Ia pun membawa dua gelas air putih dan meletakkan masing-masing di hadapan Amartha dan mangkok miliknya.


Mereka mulai menikmati makanan yang paling enak disantap selagi hangat itu.


"Teh, kenapa tadi Teteh bilang kalau nggak boleh buka sembarangan buka pintu?" tanya Amartha memandang Esih penuh tanya.


"Karena, disini masih banyak jurig, Neng..." ucap Esih.


Amartha refleks memajukan kursinya, dan menengok ke kanan dan ke kiri.


"Hahahah, tenang saja, Neng ... kalau di rumah ini tidak ada," ucap Esih yang melihat Anartha nampak waspada.


"Selama saya membersihkan Villa ini tidak ada yang nampak, hanya saja karena Neng lagi hamil perlu hati-hati jangan keluar malam sembarangan. Mungkin itu sebabnya Den Akbar, menyuruh saya menemani Neng disini. Biasanya, saya hanya membersihkan sebelum penyewa datang dan pada saat penyewa sudah pergi dari Villa ini," jelas Esih.


"Pedes nggak, ya?" tanya Amartha.


"Cobain dikit aja dulu, Neng..." ucap Esih yang mulai mengaduk seblak miliknya.


Amartha mulai mencicipi kuah berwarna merah itu.

__ADS_1


"Enggak, Teh ... nggak terlalu pedes," ucap Amartha.


...----------------...


__ADS_2