Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Panggilan Kerja?


__ADS_3

Waktu cepat berlalu, setiap akhir pekan Satya tak pernah absen untuk mengunjungi calon istrinya yang masih betah di kota S. Sebulan ini Vira kerjaannya hanya rebahan di kosan dan nonton film di leptopnya, saat ditanya kenapa dia tidak pulang kampung, jawabannya sungguh menggelitik. Vira bilang kalau dia masih ingin menikmati enaknya rebahan di kosan, yah itung-itung nemenin Amartha juga.


Sebenarnya itu permintaan Satya, meminta Vira untuk tetap di sana, untuk menjaga Amartha. Satya tidak mau Amartha merasakan kesepian. Satya pun memberikan uang bulanan sebagai gantinya, Vira yang memang hobinya rebahan dan jalan-jalan pun langsung mengiyakan tawaran Satya. Kapan lagi kan? rebahan doang dapet duit setiap bulan.


Satya juga sering mentransfer uang ke rekening Amartha, untuk biaya hidup calon istrinya itu selama di kota S. Namun Amartha tak sekalipun menggunakan uang itu, dia tidak mau memanfaatkan kebaikan Satya. Sudah berkali-kali Amartha bicara dengan Satya, bahwa dia tidak mau dikirim uang. Namun, yah pria itu tak menggubrisnya sama sekali.


Sementara untuk rencana pernikahannya, sudah diurus oleh seseorang. Siapa lagi kalau bukan Sandra sang mami tercinta. Ia sangat antusias mendengar Satya telah melamar Amartha, ya walaupun dia kecewa karena Satya melamar secara dadakan.


Matahari sudah mulai bergeser ke arah barat, tapi seorang gadis bernama Vira masih setia dengan gulingnya dan matanya masih terpejam tentunya, sedangkan Amartha tengah bersiap-siap untuk bekerja di klinik.


Tiba-tiba ada panggilan di ponselnya. Namun keningnya berkerut, karena nomor yang meneleponnya itu nomor yang tidak ada dalam kontaknya. Amartha pun mengangkat panggilan itu dan mendengarkan dengan seksama, apa yang diucapkan oleh seorang wanita di seberang sana, ia mengatakan bahwa Amartha mendapat panggilan kerja sebagai perawat di rumah sakit pelita. Namun belum selesai orang itu menjelaskan, sambungan telepon itu terputus.


Amartha pun beralih ke Vira yang masih mode peluk guling dengan senyum-senyum sendiri, sedangkan matanya masih merem.


Ngelindur nih anak!


"Vira, bangun..." Amartha menggoyang-goyangkan tubuh Vira yang sepertinya lengket dengan kasur.


"Vira, bangun, udah sore, ih!" Amartha menepuk lengan Vira, namun si gadis tak juga ada pergerakan, bener-bener kebo si Vira kalau udah ketemu kasur sama bantal.


"Viraaaaaaaaaaaa!" teriak Amartha, membuat Vira terlonjak kaget. Gadis itu, langsung duduk dengan nafas yang terengah-engah, dan menatap Amartha dengan kesal.


"Astagfirllah anaknya pak Rudy, bikin kaget aja!" kata Vira sambil melempar bantal ke arah Amartha. Amartha pun kena timpuk bantal empuk.


"Lagi enak-enak tidur juga, malah tereak kaya di utan!" Vira mendengus kesal, sesaat Vira akan merebahkan tubuhnya kembali, Amartha dengan segera mencekal tangannya.


"Eh, jangan tidur lagi! udah sore, lagian ada yang mau aku omongin sama kamu," ucap Amartha menarik Vira untuk mengurungkan niatnya berjumpa dengan empuknya bantal keropi miliknya.


"Apaa? apa sepenting itu sampai harus ganggu aku yang lagi ngedate sama bang Firlan?" ucap Vira dengan mata yang kedap-kedip.


"Ngedate dari Hongkong? ngimpiii wooooy!" kata Amartha yang tak kuasa menahan tawanya melihat wajah Vira saat ini yang sangat kesal karena mimpinya yang terganggu.

__ADS_1


"Elah, biarin aja sih, hoam ... orang masih ngantuk!" Vira menutup mulutnya yang menguap dengan punggung tangannya.


"Eeeh, jangan tidur lagi, dibilangin juga! pantesan bang Firlan nggak suka sama kamu, soalnya, aura kamu tuh aura muka bantal ... bikin dia males tuh mau nanggepin perasaan kamu," ucap Amartha yang lagi-lagi menarik tangan Vira, agar gadis itu tak menyentuh bantalnya lagi.


"Ngomong cepetan!" ucap Vira sambil matanya tertutup.


"Melek dulu dong!" kata Amartha seraya menggoyang-goyangkan lagi tubuh Vira.


"Iya nih melek akunya, cepet ah," Vira membuka matanya sedikit, ia benar tak kuat menahan kantuk.


"Tadi ada yang nelfon aku, bilang katanya minggu depan aku disuruh interview di rumah sakit pelita, terus katanya nanti aku ditelfon lagi, katanya harus bayar apa gitu, eh tau-tau telponnya keputus," jelas Amartha.


"Terus?" Vira menanggapi sekenanya.


"Ya terus, aku takut itu penipuan, Viraaaa! aku kan nggak kirim lamaran kesana! bagaimana bisa aku mendapat panggilan kerja, sedangkan aku juga nggak kirim lamaran kerja kesana," Amartha gemas melihat reaksi Vira yang santai.


"Oooh..." ucap Vira singkat


"Ih, kok oh doang, sih?" Amartha kesal mendengar jawaban Vira.


"Ih, ni anak bikin emosi, tidur aja yang di gedein!" kata Amartha yang melihat Vira merebahkan tubuhnya kembali.


"Ya udah, syukur kalau itu bukan penipuan, aku berangkat dulu, ya? kamu jangan kesorean bangunnya, nggak baik..." wejangan dari Amartha yang membuat Vira lagi-lagi terganggu.


"Iya iya bawel, ih!" ucap Vira kesal.


"Aku pergi, ya?" Amartha bangkit dari duduknya dan segera menyambar kunci motor Vira. Namun tak ada lagi jawaban dari Vira, sepertinya gadis itu sudah kembali ke alam mimpinya.


"Ya elah cepet amat molornya..." gumam Amartha seraya melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.


Seperti biasa sore itu Amartha melakukan kegiatannya mengais rezeki di klinik dokter Rizal. Hari ini dokter Rizal sedang ada perlu, dia meminta klinik tutup lebih awal. Lumayan, bisa pulang cepat pikir Amartha.

__ADS_1


"Udah beres, Ta?" tanya dokter Rizal yang keluar dari ruangannya.


"Sudah, Dok..."


"Saya, duluan ya, biasaaaa mau pacaran biar kayak orang-orang!" ucap dokter Rizal sambil terkekeh.


"Selamat pacaran, Dok..." kata Amartha sesaat sebelum dokter Rizal meninggalkan klinik.


Amartha pun berjalan ke arah motornya, setelah berpamitan dengan pegawai klinik yang memang ditugaskan untuk bersih-bersih dan memegang kunci klinik.


Setelah sampai di kosan, Amartha langsung memarkirkan motornya dan naik ke atas. Dia membuka handle pintu dan mendapati Vira yang sedang menangis di depan leptopnya.


Kenapa lagi nih bocah!


"Palingan lagi nonton film, aku bersih- bersih dulu aja, lah..." gumam Amartha seraya menyambar handuknya dan pakaian ganti, lalu melenggang ke kamar mandi.


"Kenapa, Vir?" ucap Amartha ketika keluar dari kamar mandi, namun Vira masih saja terus menangis. Sekarang ia menangis sambil terus menempelkan ponsel di telinganya, menghubungi seseorang. Amartha duduk di samping Vira yang terlihat sangat kacau. Amartha masih belum paham apa yang sebenarnya terjadi dengan sahabatnya itu.


"Kok nggak diangkat, sih!" gumam Vira dengan suara bergetar, ia terus saja menghubungi seseorang, namun berkali- kali orang tersebut mereject panggilan Vira.


"Ih, nomornya udah nggak aktif!" Vira membanting ponselnya diatas tempat tidur.


"Aku harus gimana?" Vira menangis sambil menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


"Vira, kamu kenapa? kamu lagi ada masalah?" tanya Amartha pada Vira yang sekarang berhambur ke pelukan sahabatnya.


"Amarthaaaaaaaaa..." teriak Vira ditengah isakannya.


"Vira ... tenang ya, ehm ... kamu tenang dulu, coba pelan-pelan kamu cerita ke aku, sebenernya kamu ada masalah apa?" tanya Amartha seraya mengelus punggung dengan lembut. Vira mencoba menenangkan dirinya, dia mencoba berkali-kali menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan.


"Amartha, aku ditipuuuuuuuuuu!" teriak Vira tiba-tiba.

__ADS_1


"Hah? di-ditipu? maksudnya?" tanya Amartha yang dengan spontan menjarak tubuhnya dari Vira dan menatap Vira dengan tatapan tidak mengerti.


...----------------...


__ADS_2