Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Perasaan udah Jinak?


__ADS_3

"Mas, pulang sekarang?" tanya Amartha setelah sampai di meja suaminya. Satys oun langsung menoleh dan menatap istrinya begitu juga dengan Ivanka, wanita itu menaikkan satu sudut bibirnya.


"Udah selesai?" tanya Satya.


"Udah, iya kan Vira?" Amartha menyenggol lengan Vira.


"Iya, iya..." ucap Vira cepat.


"Wah sayang sekali ya? padahal kita baru aja ngobrol asik ya, Pak Satya?" Ivanka tersenyum pada pria yang tak menyahutinya sama sekali. Satya malah melambaikan tangannya pada seorang pelayan pria.


"Minta tolong bill-nya," ucap Satya pada pelayan pria.


Saat Satya akan membayar minuman yang mereka pesan tiba-tiba tangannya dicekal Ivanka.


"Biar saya yang bayar, lagi pula tadi kita berbagi minuman," ucap Ivanka mencegah pria itu.


Satya tak menghiraukan ucapan Ivanka, ia mengeluarkan sejumlah uang pada seorang pelayan yang menyerahkan bill pada Satya, Ivanka tersenyum pada Satya, sedangkan wajah Amartha sudah merah padam menahan amarah. Satya segera bangkit dari duduknya.


"Kalau begitu kami permisi, Nona..." ucap Amartha mewakili suaminya. Ia menggandengan lengan Satya kemudian melangkah pergi ke arah pintu keluar. Vira yang melihat situasi sedang panas, memilih untuk diam dan mengekori sahabatnya.


"Aku anterin sekalian ke kosan, Vir..." ucap Amartha saat sudah berada di depan mobil.


"Nggak usah, soalnya aku mau balik lagi ke rumah sakit, Ta..." tolak Vira.


"Kenapa? apa ada yang ketinggalan?" tanya Amartha.


" Sudah janjian mau ketemu papa, Jadwalnya papa dan kak Ricko kontrol jahitan," jawab Vira.


"Kak Ricko? orang yang mendonorkan ginjal untuk papa kamu?" tanya Amartha memastikan, ia mendengarnya dari Firlan.


"Iya, karena papa kan sementara waktu tinggal sama kak Ricko, jadi mereka bisa kontrol bareng," jelas Vira.


"Ya udah kita anterin," Amartha menarik tangan Vira untuk masuk ke dalam mobil.


"Ya elah, aku bisa jalan kaki kali, Ta..." ucap Vira menolak secara halus.


"Udah deh ... kita anterin, ya kan Mas?" tanya Amartha pada suaminya.


"Iya, Vira betul kata Amartha ...lagian jalan kaki juga lumayan bikin kaki pegel," ucap Satya sebelum membuka mobilnya.


"Ya udah, yok!" kata Vira.


Akhirnya Amartha dan Satya mengantarkan Vira untuk kembali ke rumah sakit, meninggalkan Ivanka yang masih duduk sendirian.


Jarak antara kafe dan rumah sakit lumayan dekat, tak membutuhkan waktu lama untuk sampai di tempat itu.

__ADS_1


"Makasih, Amartha ... Kak Satya..." ucap Vira saat dirinya sudah keluar dari dalam mobil.


"Salam buat om dan tante, ya?" seru Amartha yang menurunkan kaca mobilnya.


"Siap! aku masuk, ya?" kata Vira seraya melambaikan tangannya.


Satya pun segera memacu kembali kendaraanya, membelah jalan raya. Rona jingga mulai merambat di angkasa, pria itu sesekali mengetuk-ngetukkan jarinya di stir mobil, sambil menikmati alunan lagu yang mengiringi perjalanan mereka.


"Ehem, kayaknya ada yang lagi seneng, ya gimana nggak seneng? orang ketemu terussss..." sindir Amartha dengan tatapan lurus ke depan.


"Kenapa, Yank?" Satya mengecilkan volume musik.


"Nggak di kantor, nggak di kafe ketemu teruuuuuuuuusss..." Amartha melipat tangannya di depan dada.


"Nggak sengaja," sahut Satya.


"Berarti tadi minum segelas berdua juga nggak sengaja gitu, ya?" Amartha mencibir jawaban suaminya.


"Dia yang nyerobot gelas aku, Yank ... baru juga diminum satu seruputan, Yank ... eh tuh orang tiba-tiba nongol aja kayak kunti," jelas Satya.


"Aku udah jaga jarak loh," lanjut Satya.


"Heran aja gitu, kok kalian kayaknya lebih dari sekedar partner kerja?" Amartha melirik suaminya dengan tajam. Mencium bau-bau cemburu dan curiga, Satya pun segera menepikan mobilnya.


"Aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia, masa kamu nggak percaya sama suami kamu sih, Sayang?" kata Satya yang mengelus puncak kepala Amartha.


"Ya itu kan tatapan dia, bukan aku, kan?" Satya mencoba memberi pengertian.


"Ya tapi ... tetep aja,"


"Ya gimana? resiko orang ganteng, Yank..." ucap Satya sambil menaik turunkan alisnya.


"Dih, pede!" jawab Amartha ketus, dialagi marah sempet-sempetnya Satya ngebanggain diri sendiri.


"Apa aku harus ngebatalin kerjasama dengan perusahaan Ivanka? dan balikin semua dana yang sudah dia investasikan di perusahaan papi? kalau kamu maunya kayak gitu, besok aku akan urus semua," ucap Satya lembut, tidak ada raut wajah marah yang Amartha temukan. Satya malah memandangnya dengan tatapan yang sangat menyejukkan. Sesaat Amartha merasa bersalah, ia terlalu menaruh curiga pada Satya.


"Jangan ngambek dong, Yank ... kita pulang sekarang, yah?" tanya Satya hati-hati.


"Aku nggak mau pulang!" Amartha ngambek, Satya jadi bingung.


"Masa kita mau disini terus? udah sore, nggak baik buat si dedek masih kluyuran aja jam segini, apa perlu aku telfon papa sama mama?" kata Satya yang mendapat tatapan tajam dari istrinya.


"Allahu Akbaaaar, salah lagi..." ucap Satya mengelus dadanya.


"Aku nggak mau pulang. Aku mau ke rumah mami!" ucap Amartha pada suaminya.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Amartha.


"Nggak kenapa-napa, Sayang ... ya udah kita ke rumah mami, yaa?" ucap Satya lembut, lalu ia pun memacu mobilnya menuju kediaman Ganendra.


Hari sudah sangat sore, seorang pria datang menemui wanita yang mulai perhatian padanya walaupun gengsinya setinggi gunung.


"Pulang, yuk?" ucap Fendy saat melihat Sinta masih duduk di kursi kerjanya.


"Masih banyak kerjaan," sahut Sinta yang sudah terbiasa kalau Fendy suka nyelonong masuk.


"Nggak ada penolakan," Fendy langsung duduk di meja Sinta.


"Sedikit lagi," Sinta mendongak, memperlihatkan wajahnya yang lucu dengan kacamata besar yang masih nangkring di hidungnya yang mancung.


"Kerjaan sampai tahun kerbau ganti jadi tahun ayam juga nggak akan selesai, Sayang!" ujar Fendy yang mencopot kacamata yang Sinta kenakan.


"Tapi ini berkas penting, dan besok harus selesai." ucap Sinta seraya merebut kembali alat bantu baca dari tangan Fendy.


"Kantor udah sepi, kamu masih aja kerja. Kesehatan kamu juga penting, Sinta..." kata Fendy tak mau kalah.


"Iya, tapi..."


"Tapi apa?" Fendy memotong ucapan Sinta.


"Kerjaan kalau ditunda akan semakin banyak dan menumpuk," ucap Sinta.


"Kamu punya asisten, kan?" tanya Fendy.


"Punya, tapi ini bukan perusahaanku, Fendy! aku nggak mungkin main nyerahin apa yang harus aku periksa sendiri sama orang lain. Aku punya tanggung jawab, Fen!" kata Sinta serius.


"Jadi sekarang udah mikir tentang tanggung jawab, nih?" goda Fendy.


"Udah deh nggak usah ngeledek," kata Sinta kesal.


"Ya udah, aku tunggu," ucap Fendy yang tak bosan memandang wajah Sinta.


"Kalau kamu duduk disini, mana bisa aku lanjutin, orang kertasnya kamu dudukin," ucap Sinta.


"Eh, udah ada kemajuan," ucap Fendy tiba-tiba, sebenarnya ia merasa ada yang janggal sedari tadi.


"Apaan?"


"Manggilnya udah aku kamu, tinggal selangkah lagi nih buat panggil sayang," ucap Fendy dengan senyum sumringah.


"Ih, apaan sih! nggak jelas,minggir sana!" ketus Sinta, ia mendorong sedikit badan Fendy.

__ADS_1


"Lah kenapa mode galaknya keluar lagi, perasaan tadi udah jinak," gumam Fendy yang langsung turun dari meja.


...----------------...


__ADS_2