
"Sok sibuk kamu, Kak!" Sinta menggerutu sambil menghentakkan kakinya.
Sinta melenggang keluar dari ruangan Refan, ia berjalan menuju ke lift yang akan membawanya menuju basement. Sinta membuka pintu mobilnya dan menutupnya dengan kasar.
Nafasnya terengah-engah menahan amarah. Dia merogoh ponsel yang ada dalam tasnya, mendial nomor seseorang selalu memenuhi pikirannya.
"Halo, Mas?" sapa Sinta selembut mungkin pada Kenan setelah panggilan itu tersambung.
"Iya, ada apa, Sin?" jawab Kenan yang sebenarnya sudah sangat malas meladeni Sinta.
"Mas, aku-?" baru saja Sinta akan mengatakan sesuatu pada Kenan, pria itu segera memotong perkataannya.
"Maaf, Sin ... aku sedang ada meeting dengan client," serobot Kenan.
"Tapi-" Sinta masih mencoba untuk menahan lawan bicaranya.
"Maaf, aku tutup telfonnya," Kenan tak memberi Sinta kesempatan untuk bicara panjang lebar. Dia menutup panggilan itu secara sepihak.
Saat ini dia sedang berada di apartemennya, dia sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun. Kenan pun langsung menonaktifkan ponselnya dan melemparnya ke atas kasur.
"Aarghh, Shiiit! jual mahal banget sih kamu, Mas!" Sinta memukul stir mobilnya, dia mengerang frustasi.
Nafasnya kian memburu, Kenan semakin susah ditemui, ada saja alasan pria itu untuk menghindarinya. Namun sesaat kemudian, Sinta teringat sesuatu. Wanita itu pun langsung menempelkan benda pipih yang masih di tangan kirinya.
"Halo, Bel?" sapa Sinta pada Bella, teman kampusnya.
"Yups, udah ada, nih! baru aku mau nelfon kamu," seakan sudah tahu maksud Sinta meneleponnya, Bella langsung nyerocos tanpa titik koma.
"Bagus! ya udah, sekarang aku ke tempat kamu," Sinta langsung mematikan sambungan teleponnya dengan Bella.
"Tunggu aja, Mas ... aku akan buat kamu nikahin aku, aku akan pastikan itu! hahahaha..." Sinta merasa mendapat angin segar, mendengar Bella sudah melakukan apa yang diperintahkannya.
Tak mau membuang banyak waktu, Sinta melajukan mobilnya keluar, menuju suatu tempat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Tok tok tok.
Amartha mengetuk pintu kamar Satya, semenjak pulang dari restoran, Satya tidak keluar kamar, bahkan dia melewatkan makan malamnya.
Amartha terus mengetuk pintu sampai akhirnya pintu itu terbuka, dan menampilkan sosok pria bertubuh tegap dengan celana jeans berwarna coklat dan kaos putih tulang.
"Ada apa, Ta?" tanya Satya yang mendapati wanita cantik itu berdiri di depan kamarnya.
"Hah?" Amartha hanya melongo mendengar Satya yang tidak menyematkan kata 'sayang' yang biasa ditujukan untuknya.
"Ehem," Amartha berdehem lalu menyerobot masuk ke dalam. Satya hanya mengernyitkan dahinya. Pria itu menutup pintunya, mendekati Amartha yang sedang berdiri disamping sofa di kamarnya.
"Mas kenapa dari siang nggak keluar?" Amartha langsung membombardir Satya dengan pertanyaannya.
"Nggak kenapa-napa kok," sahut Satya seadanya.
"Soal Mas Kenan," Amartha menggantung perkataannya.
"Ya?" Satya melipat tangannya di depan dada, menunggu apa yang akan dikatakan wanita cantik yang ada di depannya.
Cup
Amartha mencium sekilas b*bir Satya, Satya membulatkan matanya terkejut dengan apa yang dilakukan calon istrinya itu. Amartha yang sadar dengan perbuatannya itu, langsung memilih untuk kabur. Wanita itu merutuki dirinya yang bersikap begitu agresif pada Satya, rasanya ia ingin bersembunyi ke lubang semut atau bersembunyi dimanapun, karena saat ini dia sangat malu
Dengan sigap Satya menarik tubuh Amartha dan merengkuh wanita itu ke dalam dekapannya.
"Aku nggak keluar karena aku lembur kerjaan di rumah, bukan karena aku marah atau ngambek sama kamu, Sayang," jelas Satya sembari memeluk Amartha.
"Tapi, aku nggak nyangka loh, kamu malah jadi agresif kayak gini," ucap Satya sambil berbisik, membuat pipi Amartha terasa panas.
Satya kemudian menjarak tubuhnya dan Amartha, dia merapikan anak rambut yang menutupi sedikit wajah wanita yang sangat dicintainya itu.
"Aku percaya sama kamu, kamu nggak akan ngecewain aku, walaupun sebenarnya aku cemburu, tapi aku harus kasih kalian ruang buat menyelesaikan semuanya, saat kamu nanti sudah sah menjadi istriku, jangan harap dia bisa bicara berdua denganmu, karena aku tidak akan membiarkan itu terjadi," jelas Satya, kemudian membawa Amartha dalam pelukannya lagi.
Amartha tidak menyangka ada sisi yang lain dari Satya, Satya yang ia kenal sebagai pria sableng yang suka asal ngomong. Namun nyatanya, pria sableng ini yang selalu ada untuknya, dan dia tidak mau kehilangan pria sebaik Satya.
__ADS_1
"Sayang?" ucap Satya sembari melepaskan pelukannya.
"Ya?" Amartha menatap Satya penuh tanya.
"Boleh nambah lagi?" Satya memonyongkan bibirnya.
"Nggaaaaaaaakkk!" teriak Amartha mendorong bibir Satya yang semakin maju, kemudian ia segera melepaskan diri dari pelukan Satya.
Amartha langsung berlari keluar dari kamar pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Pria yang akan selalu berusaha membahagiakannya.
Satya hanya terkekeh melihat tingkah Amartha yang langsung main kabur dari kamarnya. Pria itu lalu kembali meraih tabletnya, melanjutkan mengecek beberapa laporan yang masuk ke emailnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Halo?" sapa Vira yang mendapat telepon dari yayang Firlan.
"Besok, aku akan jemput kamu jam 2 siang," ucap Firlan tanp basa-basi.
"Jangan ge er, karena aku hanya melaksanakan perintah," Firlan mencoba menjelaskan, agar Vira tidak salah paham. Vira terkekeh mendengar ocehan Firlan.
"Kalau keinginan abang juga nggak apa-apa kok, aku ikhlas ... jangan galak-galak bang, nanti guk-guk tetangga sebelah ngerasa insecure sama abang, kalah galak soalnya," cerocos Vira yang diakhiri dengan tawa renyahnya, yang membuat Firlan manyun-manyun nggak jelas.
Firlan segera memutus sambungan telepon secara sepihak, sementara Vira langsung meneriakkan kata 'yess' berkali-kali, akhirnya dia akan dijemput yayang Firlan. Sementara Firlan mengacak rambutnya, dongkol mendapat tugas menjemput gadis yang lebih mirip burung beo itu, dia tidak akan sanggup berada lama-lama di dekat Vira yang hobinya ngoceh terus.
"Kenapa nggak diangkat, sih? nggak biasanya dia kayak gini," gumam Firlan mendial nomor kekasihnya, namun tak ada jawaban.
Firlan segera beralih melihat chat di aplikasi hijau. Andini belum membalas chatnya sejak satu jam yang lalu. Firlan menghembuskan nafas kasar, dia merasa bersalah karena tidak mempunyai waktu untuk Andini. Berkali-kali ia mencoba menelepon wanita itu, namun hanya suara operator yang menyapanya, Andini tidak mengangkat panggilan teleponnya lagi dan lagi.
Ditempat lain, ada seorang wanita sedang yang berkencan dengan pria yang sepertinya 7 tahun diatasnya. Wanita itu bergelayut manja di lengan sang pria. Sang wanita segera meraih benda pipih miliknya, saat sebuah panggilan masuk. Ia hanya mengangkat sebelah sudut bibirnya, melihat sebuah nama yang tertera di layar ponselnya.
"Siapa?" tanya suara bariton seorang pria saat melihat wanitanya meraih ponselnya.
"Nggak penting!" ucap sang wanita, yang sekarang memilih menonaktifkan ponsel miliknya.
...----------------...
__ADS_1