Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Sudah Berdamai


__ADS_3

"Hah? Maksudnya?" Satya mengerutkan keningnya.


"Kenapa Mas ada disini?" Amartha mengulang pertanyaan dengan suara yang lemas.


"Ya karena aku yang membawamu kesini, Sayang..." ucap Satya yang membuat Amartha menatapnya lekat-lekat.


"Benarkah?" tanya wanita itu membuat Satya tersenyum dan mengangguk.


"Iya Sayang, ketika aku akan menemui seorang investor yang minta ketemuan disalah satu restoran disana, aku melihatmu sedang berjalan setengah berlari dari escallator, aku mengejarmu, namun sepertinya kamu tidak mendengarnya, aku mempercepat langkahku dan tiba-tiba saja badanmu limbung. Kamu hampir saja terjatuh ke lantai jika Aku tak segera menangkap tubuhmu. Aku tidak tau apa yang membuatmu begitu ketakutan, karena wajahmu begitu pucat, aku berusaha memanggil namamu, Sayang ... tapi kamu sudah keburu tak sadarkan diri. Aku yang panik langsung membawamu kesini," ucap Satya yang membuat semuanya menjadi jelas, karena memang apa yang diucapkan Satya itu memang benar.


Dia yang memang sudah janjian dengan investor tersebut, langsung menghubunginya dan minta Firlan mengatur jadwal ulang, karena keadaan istrinya yang tak mungkin ia tinggal. Beruntung investor tersebut memaklumi dan mau untuk menjadwal ulang pertemuan mereka. Satya juga belum begitu kenal dengan orang yang kata Firlan akan menaruh uangnya dengan jumlah yang sangat besar. Firlan menyebutnya dengan Nona Ivanka.


"Jadi, sekarang giliran kamu untuk menjawab pertanyaanku, kamu mau maafin aku?" Satya bertanya dengan penuh kelembutan, ia menggenggam tangan istrinya seakan takut wanita itu akan meninggalkannya


"Iya," jawab singkat istrinya, membuat Satya kembali mengerutkan keningnya.


"Iya apa?" Satya ingin memastikan apa yang didengarnya.


"Iya aku udah maafin," kata Amartha yang tersenyum, walaupun dalam benaknya masih penasaran, tentang si penelepon yang seolah- olah dia tahu kehidupan Amartha. Amartha memijit pelipisnya merasa pusing


"Makasih ya Sayang, kenapa? masih pusing?" tanya Satya yang dijawab anggukan okeh Amartha. Satya dengan telaten memijit kepala istrinya berharap akan mengurangi rasa pusing yang dirasakan istrinya.


"Sebenernya sedang ada masalah di perusahaan, banyak investor yang menarik sahamnya. Tapi aku berhasil menahan yang lain agar tetap mau bekerjasama dengan perusahaan, dan itu yang bikin aku akhir-akhir ini banyak pikiran dan bekerja sampai lupa waktu, karena ini menyangkut nasib para karyawan yang menggantungkan hidupnya dengan bekerja di perusahaan Ganendra group. Ya ... tadinya aku mau simpan ini sendiri, aku takut kamu kepikiran, eh malahan aku jadi emosian . Setelah kejadian tadi pagi, aku berpikir jika aku harus cerita sama kamu," ucap Satya yang membuat Amartha berkaca- kaca menatap suaminya, ia menyentuh wajah Satya dengan lembut.


"Kamu bilang sama aku, jangan ada yang disembunyiin dari kita apapun itu, tapi kamu sendiri yang malah sembunyiin hal besar seperti ini dari aku, inget Mas. Masih punya aku untuk tempat berbagi cerita," kata Amartha dengan lelehan air mata yang membasahi pipinya. Ia tak menyangka ada beban yang Satya tanggung sendirian, pantas saja suaminya itu sering bekerja sampai larut malam.

__ADS_1


"Inget, Mas ... kita ini satu rasa, jadi bagilah sukamu dan dukamu denganku, Mas. Jangan ada yang disembunyikan lagi," ucap Amartha yang membuat Satya mengangguk mengiyakan ucapan istrinya.


"Iya aku salah. Harusnya kita saling terbuka, sekarang kita lupakan masalah itu, hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan, karena ternyata dugaanku benar, di


dalam sini ada dedek bayi," ucap Satya sambil mencium perut istrinya, membuaf Amartha sedikit merasa geli. Satya mencium kening istrinya, lalu berkata.


"Aku sangat bahagia, Sayang ... aku sangat bahagia. Aku tidak tau bagaimana cara mengungkapkan perasaan ini, rasanya ada banyak kembang api yang meletup-letup di dalam hatiku, Yank ... aku sayang sama kamu," ucap Satya yang membuat Amartha merasa sangat beruntung dicintai oleh pria seperti Satya, pria yang mau mengakui kesalahannya, pria yang selaku berusaha melindunginya.


"Aku kabari mami dulu, ya? mami pasti seneng banget denger kabar ini, bentar." ucap Satya yang merogoh kantong celananya dan menghubungi sang mami tercinta.


Satya pun menelepon Sandra dan benar saja wanita itu langsung heboh mendengar berita kehamilan menantunya.


Ada banyak pesan dari sang mami untuk Amartha, katanya dia akan menjenguk ke rumah sakit, namun sayangnya Prisha sudah terbang ke Aussie kemarin, jadi kemungkinan besar gadis mungil itu tak akan mengacau di rumah sakit dengan tingkah absurdnya itu.


Suster datang dan memindahkan Amartha ke ruang rawat yang sungguh sangat nyaman dan luas dengan fasilitas seperti di hotel.


"Gimana apa yang kamu rasain?" ucap Satya sembari duduk di samping istrinya, dengan tak melepaskan genggaman tangannya, sembari tangan satunya lagi mengelus punggung tangan istrinya.


"Nggak ada," sahut Amartha singkat.


"Beneran? ngomong aja kalau kamu pengen sesuatu, kalau bisa jangan aneh-aneh, ya?" ucap Satya yang mulai mencairkan suasana.


"Ih kamu apaan sih, Mas? masa iya aneh-aneh," ucap Amartha sambil geleng-geleng kepala.


"Itu faktanya seperti itu, Yank ... banyak ibu hamil yang ngidamnya aneh-aneh, semoga aja nih baby nggak nyusahin ayahnya, heheheh," ucap Satya bercanda membuat Amartha memukul pelan tangan suaminya.

__ADS_1


"Ih kamu nggak jelas banget, Mas." kata Amartha yang tak bisa menyembunyikan senyumannya.


"Dedek, kamu jangan request yang aneh-aneh ya? kasihanilah ayahmu ini, Nak ... kamu yang nurut ya? jangan bikin ibu kamu merong-merong, karena nanti ayah yang jadi sasarannya, hehehehe," bisik Satya yang mendekatkan wajahbya ke perut istrinya dan dia menempelkan telinganya disana seakan mendengarkan apa yang di ucapkan baby yang belum mungkin baru sebesar buah cheri.


Mereka seakan sedang berbisik-bisik dan takut ketauan oleh Amartha.


"Sayang? kamu pengen anak perempuan atau laki-laki?" tanya Amartha tiba-tiba.


Namun Satya malah membisikkan sesuatu ke perut istrinya.


"Dek, haloo? kamu cewek atau cowok, Dek? kasih tau ayah. Kamu lagi bobok ya, Dek?" Satya bicara dengan perut istrinya yang masih rata.


"Gimana ya , Yank ... dedeknya belum jawab, sih. Tapi aku rasa perempuan atau laki-laki sama saja, Yank. Rasanya akan tetap bahagia dan bersyukur dengan hadirnya mereka di tengah-tengah kita." ucap Satya.


"Mereka?" Amartha menautkan kedua alisnya.


"Iya mereka, calon adik dan adik dan adiknya si dedek yang ada di dalem sini," ucap Satya yang membuat Amartha tertawa.


"Ada-ada aja kamu, Mas..."


"Yank? kamu kenapa keliatan ketakutan saat dipusat perbelanjaan itu? ada apa sebenarnya," tanya Satya melenceng dari topik pembicaraan saat ini


"Oh itu, aku..." Amartha menggantung ucapannya


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2