
Setelah beberapa saat berkendara, akhirnya Satya membelokkan mobilnya ke sebuah cafe. Perutnya sudah meronta ingin diisi. Mereka berdua turun dari mobil dan masuk ke dalam restoran, untung saja masih ada satu meja yang kosong karena kebetulan Satya tidak sempat untuk reservasi tempat terlebih dahulu.
"Mau makan apa, Sayang?" Satya bertanya pada Amartha saat seorang pelayan menyodorinya sebuah buku menu.
"Aku samain aja sama Mas," ucap Amartha tanpa menyentuh buku menu itu, dia malah menopang dagunya dengan tangan kirinya, menatap Satya dengan wajah lelahnya.
"Oke," ucap Satya seraya tersenyum manis pada gadis yang di depannya itu.
Satya mengatakan makanan apa saja yang dipesannya, setelah itu waitres tersebut meninggalkan Satya dan Amartha.
"Capek?" Satya bertanya sambil mengelus lembut rambut Amartha.
"Heem," Amartha hanya menjawab dengan deheman, yang membuat Satya terkekeh melihatnya.
Tak berapa lama pesanan mereka pun datang, Amartha memilih untuk menyeruput lemon teanya terlebih dahulu, sebelum menyentuh pasta miliknya.
Selagi mereka menikmati pesanan, Amartha merasa ada yang sedang memperhatikannya. ia pun mengedarkan pandangannya melihat ke segala arah dan tanpa sengaja pandangannya dan pria itu bertemu dalam satu garis lurus.
Amartha segera memutus pandangan itu, dan beralih menatap Satya yang sedang menyuapkan pasta ke dalam mulutnya.
Sejujurnya, dia merasa sangat tidak nyaman ditatap seperti itu, oleh seorang pria yang sedang duduk bersama dua orang di depannya. Sesekali terlihat pria itu menanggapi lawan bicaranya, namun ia tidak melepaskan pandangannya sedetik pun dari Amartha.
Satya yang menangkap gelagat aneh dari calon istrinya pun bertanya-tanya dalam hati. Satya otomatis menengok kebelakang, untuk mencari tahu apa yang membuat Amartha nampak tidak nyaman. Saat pria itu mengedarkan pandangannya ternyata ada Kenan, mantan suami Amartha.
Sementara Amartha tersenyum canggung ketika Satya mengetahui ada sosok Kenan di salah satu sudut reatoran itu, Amartha menunduk, dia hanya mengaduk- aduk makanannya tanpa ada niat untuk memakannya.
Sekarang Satya mengerti apa yang membuat wanitanya menjadi gelisah, Satya meraih tangan Amartha dan menggenggamnya, dan mengelus lembut punggung tangan gadis itu.
"Kita bisa pergi dari sini kalau kamu merasa kurang nyaman," ucap Satya kemudian.
"Maaf, Mas..." sahut Amartha dengan perasaan tidak enak.
"Kamu nggak salah, jadi nggak usah minta maaf, nanti kita makan di rumah aja," Satya tersenyum simpul.
"Sekarang?" Amartha bertanya dengan polosnya.
"Nanti sayang kalau bebek beranak kucing," sahut Satya ngasal yang langsung mendapat capitan di lengannya.
__ADS_1
"Aawww! huuuuft, ganas banget kamu, Sayang!" Satya mengelus lengannya yang tadi mendapat serangan jurus capitan kepiting dari Amartha.
"Apaan sih, nggak jelas kamu, Mas!" Amartha tertawa kecil melihat ekspresi Satya yang masih meringis kesakitan.
Satya melambaikan tangannya pada seorang pelayan untuk meminta bill. Setelah membayar makanan yang baru seperempat mereka cicipi, Amartha dan Satya lalu bangkit dari duduknya. Ketika Amartha baru melangkahkan kakinya beberapa langkah, Kenan mengejar dan mencekal tangannya.
"Ta?" seru Kenan sembari memegang tangan Amartha.
"Eh," ucap Amartha kaget.
"Maaf! aku ingin bicara sebentar," ucap pria yang sudah berstatus sang mantan itu.
"Ehm, sayang? aku tunggu di mobil, jangan lama-lama, ya?" Satya berbisik di telinga Amartha, sontak memancing rasa cemburu Kenan. Dia masih bisa mendengar kata 'sayang' yang diucapkan Satya pada mantan istrinya itu. Satu sudut bibir Satya terangkat kala melihat Kenan yang berusaha keras menutupi rasa cemburunya melihat kedekatan antara Satya dan Amartha.
Pria yang sejak dulu menjadi rivalnya itu, menepuk pundak Kenan dengan pelan lalu berjalan menuju pintu keluar.
Amartha yang menatap punggung Satya yang kian menjauh dari pandangannya pun merasa bingung dengan situasi saat ini. Sebenarnya sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan antara dirinya dan Kenan.
"Aku pengen ngomong sama kamu," Kenan mengulang perkataannya. Amartha hanya memandang dengan tatapan dinginnya.
"Kita duduk disana," Kenan menunjuk meja yang tadi Amartha tinggalkan.
"Ta ... bagaimana kabar kamu?" tanya Kenan pada wanita yang duduk dihadapannya.
"Seperti yang Mas liat," jawab Amartha datar.
"Maaf, seharusnya kita-" belum sempat Kenan menyelesaikan kalimatnya, Amarta sudah terlebih dulu memotongnya.
"Kita sudah selesai, Mas ... menurutku sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan saat ini atau pun nanti," Amartha bicara dengan nada datar dan tanpa ekspresi.
"Aku ingin kita kembali," ucap Kenan dengan raut wajah penuh harap.
"Tapi aku tidak ingin, Mas..." Amartha memotong perkataan Kenan.
"Karena kita memang sudah selesai, dan bukannya Mas akan menikah dengan Sinta?" lanjut Amartha yang menatap lekat mantan suaminya itu.
"Aku tidak pernah mengatakan aku akan menikahinya, aku hanya mengatakan pada Refan aku akan membantu adiknya sampai sembuh," Kenan berusaha menjelaskan keadaan yang sebenarnya pada Amartha.
__ADS_1
"Aku tidak pernah mencintai Sinta, aku tau aku salah sama kamu, seharusnya aku tidak meninggalkanmu disana, harusnya aku bicarakan semuanya sama kamu," lanjutnya lagi.
"Sudahlah, Mas ... kita hanya sekedar masa lalu, dan sebentar lagi aku akan menikah dengan Mas Satya, jadi aku harap Mas Kenan bisa mengerti," Amartha mencoba memberitahu Kenan tentang hubungannya dengan Satya.
"A-apa? menikah?" Kenan menatap Amartha tak percaya. Apakah benar yang dikatakan mantan istrinya itu?
"Nggak, nggak mungkin! kamu pasti bercanda kan, Sayang?" ucapnya lagi sambil meraih tangan wanita yang ada di depannya, namun dengan cepat Amartha segera melepaskannya.
"Aku selalu berdoa semoga Mas juga bisa mendapatkan kebahagiaan dengan siapapun itu, dan tolong jangan panggil aku 'Sayang', karena aku nggak mau menyakiti hati Mas Satya, aku pamit..." ucap Amartha yang kemudian segera bangkit dari duduknya.
Amartha melangkahkan kakinya keluar dari restoran, meninggalkan Kenan yang masih terpaku di tempat duduknya. Kenan sangat terkejut dengan apa yang baru saja ditangkap oleh indera pendengarannya, hatinya berdenyut nyeri mendengar kata pernikahan yang diucapkan Amartha. Tanpa sadar ada bulir bening yang merembes dari sudut netranya, namun dengan segera ia menghapusnya, dan Kenan memilih untuk segera meninggalkan tempat itu.
Satya yang dari tadi di dalam mobil pun sedikit terkejut saat Amartha membuka pintu mobil secara tiba-tiba dan langsung duduk di kursi penumpang disampingnya, pasalnya sedari tadi pikirannya berkelana entah kemana.
"Udah?" Satya bertanya pada wanita di sampingnya, yang langsung dijawab anggukan kecil oleh Amartha.
Kemudian Satya pun melajukan mobilnya menuju kediaman Ganendra.
...----------------...
"Kak Refan!" seru Sinta yang main nyelonong masuk ke ruang kerja Refan.
"Ya ampun, Sin! bisa nggak sih ketuk pintu dulu?" ucap Refan kesal.
"Inget ini kantor!" lanjut Refan, yang sedang berkutat dengan leptopnya.
"Kapan Mas Kenan mau nikahin aku? katanya Kakak mau bujuk Mas Kenan? gimana, udah berhasil?" Sinta mencecar Refan dengan pertanyaan.
"Aku belum ada waktu ketemu sama Kenan," sahut Refan tanpa mengalihkan matanya dari layar leptopnya.
"Nggak ada waktu atau nggak ada niat buat ketemu?" ketus Sinta yang melipat tangannya di depan dada.
"Bisa nggak, sih? kamu ngertiin orang, aku lagi banyak kerjaan, perusahaan lagi banyak masalah, tolong kamu jangan bikin aku tambah pusing dengan permintaan kamu itu," Refan mulai emosi dengan adiknya, Sinta.
"Kakak bohong!" seru Sinta seraya menggebrak meja.
"Terserah kamu lah, Sin... sebaiknya kamu pulang, aku mau meeting!" ucap Refan sambil meninggalkan Sinta sendirian di ruangannya, sementara Refan berjalan dengan langkah yang terburu- buru menuju ke ruang meeting.
__ADS_1
...----------------...