Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Terlalu Banyak


__ADS_3

"Buka mulutnya, ini bubur ayam bukan obat," ucap Fendy yang sudah melayangkan sendok ke arah Sinta.


"Tapi aku nggak suka," kata Sinta yang duduk di samping Fendy.


"Astaga, ini sarapan terenak versi perut orang Indonesia," kata Fendy.


"Bentukannya itu loh,"


"Bubur ya bentukannya begini, lembek ... ayok, cepet makan!"


"Kamu aja, aku mau kerja..."


"Nggak boleh! kamu harus temenin aku sarapan,"


"Kamu apain buburnya, kenapa kayak gitu jadinya?" ucap Sinta.


"Aku aduk-aduk tadi, searah jarum jam dan 7 kali puteran," kata Fendy ngarang bebas.


"Aku mual liat bubur dikayak gituin,


"Astaga, ngomong kek daritadi nggak mau buburnya diaduk. Kan aku jadi nggak susah-susah ngadukin buat kamu," kata Fendy menghela nafasnya.


"Ini, ada satu lagi..." kata Fendy sambil membuka satu kotak bubur.


"Aku udah capek-capek nelfon pantry buat nganterin mangkok sama sendok, jadi sekarang kamu makan ini bubur sampe habis. Ini aku nggak adukin, kuahnya cukup segini atau mau tambah lagi biar banjir kayak ibukota kalau musim ujan?" ucap Fendy yang sudah selesai menuangkan kuah ke dalam mangkok.


"Jangan ngarang deh, aku suruh ngehabisin semangkok ini sendirian," kata Sinta yang melihat bubur ayam saja sudah membuatnya kenyang.


"Iya habis makan itu bubur, ini kamu makan pancake ini ... ada waffle caramel juga, terus nih ada nasi uduk, nasi kuning, cakwe, bala- bala..." ucap Fendy mengabsen satu persatu makanan yang ia bawa.


"Dikira perut aku ini tong sampah apa? mau kamu jejelin makanan sebanyak ini?" kata Sinta.


"Hahahahaha, iya juga ya?" ucap Fendy merasa konyol karena ia begitu banyak membawa makanan.


"Ya kan aku nggak tau makanan apa yang kamu suka," ucap Fendy.


"Kalau nggak tau kenapa nggak nanya, astagaaaa!" kata Sinta.


"Iya aku yang salah. Makanlah, mumpung masih anget buburnya..." ucap Fendy.


Sinta mulai memasukkan bubur ke dalam mulutnya, tak lupa ia menambahkan sedikit sambal.


"Jadi begini rasanya diperhatikan?" gumam Sinta dalam hatinya. Ia sekilas melihat Fendy yang juga sedang melahap makananya.


"Kenapa?" tanya Fendy.


"Udah kenyang," kata Sinta.


"Bahkan kamu belum menghabiskan setengahnya," ucap Fendy yang menaruh mangkok miliknya yang sudah kosong. Pria itu menenggak air mineral botol kecil yang sengaja ia beli.

__ADS_1


"Baiklah, tapi jangan memaksaku lagi jika aku udah nggak kuat," kata Sinta.


"Iya, makanlah 2 sampai 3 sendok lagi..." ujar Fendy.


Sinta akhirnya menyuapkan kembali bubur ayam ke dalam mulutnya. Fendy tersenyum saat melihat wanitanya makan, sesekali ia mengelap sudut bibir Sinta dengan tisu.


"Aku udah kenyang!" kata Sinta yang berusaha sekeras mungkin agar tak muncul rona merah di wajahnya. Ia memasang wajah ketus.


"Ya udah sini biar aku yang habisin, mubadzir tau!" kata Fendy, ia melahap sisa makanan yang tak habis dimakan Sinta.


Sinta melihat ada beberapa makanan yang dibeli Fendy, ia tak bisa membayangkan betapa repotnya pria itu membeli itu semua.


"Konyol!" gumam Sinta.


"Kamu ngomong apa tadi?" tanya Fendy.


"Nggak ada," jawab Sinta.


Setelah menghabiskan makanannya, pria itu segera menenggak air mengusir rasa pedas di dalam rongga mulutnya. Ia mengelap bibirnya dengan tisu.


"Telfon OB kamu, suruh dia bawa semua makanan ini..." kata Fendy pada Sinta. Sinta hanya bisa menuruti apa yang dikatakan Fendy, sayang juga makanan sudah dibeli tapi tidak ada yang memakannya.


Sementara Satya dan Amartha sedang melakukan perjalanan ke luar kota menuju kampung halaman Amartha.


Mobil yang sudah di design khusus untuk memberikan kenyamanan bagi penumpangnya pun membuat Amartha bisa memejamkan matanya dengan nyaman. Sedangkan Satya memilih untuk bermain game di ponselnya. Beberapa panggilan dari ulet keket pun tak direwes Satya.


Ia melihat Amartha yang begitu nyaman tidur di kursi samping kanannya.


"Udah bangun? sini aku bantu," ucap Satya, ia membantu Amartha untuk menegakkan kembali kursi duduknya.


"Udah sampai mana, Mas?" tanya Amartha.


"Paling 10 menitan lagi nyampe," ucap Satya.


"Mau minum?" tanya Satya.


"Hu'umm," jawab Amartha.


"Ada jus alpukat, mau? tadi sebelum berangkat aku suruh bik Surti bikinin jus alpukat sama mangga, aku taruh di cool box," ucap Satya yang menunjukkan sebuah kotak penyimpanan minuman supaya tetap dingin.


"Alpukat aja," kata Amartha menunjuk sebuah botol bening yang berisi jus alpukat.


"Aku bukain dulu," ucap Satya yang ingin membukakakan botol untuk istrinya namun ia baru sadar kalau tangannya masih sakit.


"Aku aja, tangan kamu aja masih kayak gitu, Mas..." ucap Amartha mengambil alih botol jus dari tangan kiri Satya.


"Kamu pasti udah lapar ya, Dek?" tanya Satya pada buah hatinya di dalam perut istrinya.


"Kedengeran emangnya, Mas?" tanya Amartha setelah meneguk jus alpukat yang sangat enak.

__ADS_1


"Kedengeran pas kamu tidur, perut kamu bunyi kruk kruk gitu. Mau aku bangunin tapj kamu pules banget tidurnya," ucap Satya.


"Kamu mau, Mas?" Amartha menawarkan apa yang diminumnya.


"Mau lah," ucap Satya yang mengambil alih jus berwarna hijau itu, lalu ia meminumnya.


"Kita makan di rumah aja ya, Mas? pasti mama udah masak," ucap Amartha.


"Iya, Sayang ... kamu mau makan apa dulu? buat ngeganjel perut, kasian si dedek ... dia juga pasti laper," kata Satya, Amartha yang segera menutup botol bekas minum suaminya.


"Kayaknya tadi bik Surti bawain aku nugget pisang deh, Mas..." ucap Amartha.


"Bentar ... aku ambil dulu," Satya mengambil sebuah papper bag yang ada di dekatnya. Ia mengambil satu box makanan. Pria itu membukanya.


"Yang ini, kan?" tanya Satya. Amartha mengangguk.


"Kamu juga makan, ya?" ucap Amartha. Ia membuka garpu yang terbuat dari plastik dan menusukkan nugget pisang coklat keju yang lumer di mulut.


"Enak, kan?" tanya Amartha.


"Iya, enak!" jawab Satya.


Amartha pun mengisi perutnya dengan beberapa potong nugget.


"Minum?" Satya menawarkan air mineral pada istrinya.


Amartha meminum air yang diberikan suaminya. Sesaat kemudian Damian memasuki sebuah gang namun Amartha merasa asing. Dia meletakkan kembali botol minuman yang tadi ia genggam.


"Mas? ini bener gang rumah aku, tapi kok agak beda, ya?" tanya Amartha.


"Masa sih? bener kok ini jalannya," ucap Satya.


"Lah, ini rumah siapa? kok besar banget? kok rumah aku nggak ada?" Amartha melihat rumah-rumah di sekeliling rumah megah itu dari dalam mobil.


Seseorang membuka gerbang dan mobil mereka masuk ke area rumah itu sehingga terpampang jelas rumah dengan design modern minimalis namun sangat luas.


"Ayok, turun..." ucap Satya saat mobil sudah terparkir dengan sempurna.


"Tapi ini rumah siapa?" tanya Amartha. Satya segera membuka pintu mobil.


"Udah ... turun dulu, yuk?" Satya mengulurkan tangannya untuk membantu istrinya turun dari mobil.


Perlahan Amartha mengeluarkan tubuhnya dari mobil mewah itu. Satya menggenggam tangan Amartha, wanita itu melihat suaminya dengan rait wajah yang bingung. Satya hanya tersenyum dan mengecup punggung tangan istrinya.


"Assalamualaikum," ucap Satya mengetuk pintu rumah itu.


"Waalaikumsalam," jawab seorang wanita paruh baya berbarengan dengan pinti rumah yang perlahan terbuka.


"Mama?" pekik Amartha.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2