
Keesokan harinya.
"Maaaaaaaaasssss!" teriak Amartha dari kamar mandi Evren.
Suara Amartha melengking dari celah connecting door yang terbuka sedikit. Sementara Satya yang masih mengenakan handuk pun segera berlari menuju suara lengkingan itu berasal.
"Maaaas!" Amartha mengulangi teriakannya.
"Iya, Yank! kenapa?" tanya Satya yang tubuhnya masih basah karena buru-buru keluar dari kamar mandi.
"Mas, liat. Udah lepas..." kata Amartha menunjukkan tali pusat Evren yang kini sudah lepas.
"Astaga, aku kira apaan..."
"Jadi menurut, Mas? ini bukan hal yang pentjng gitu?" ucap Amartha dengan mata yang berembun.
"Bukan. Bukan kayak gitu maksud aku, Yank. Wah, pantas saja semalaman dia nangis. Mungkin dia kesakitan saat tali pusatnya akan lepas," ucap Satya.
"Aku mau kasih tau, Mama..." ucap Amartha yang kini melihat Evren dengan tatapan berbinar.
"Untung aja," Satya menghela nafasnya.
"Ya udah, aku mau lanjutin mandi..." ucap Satya yang akan berbalik badan. Namun, tangannya segera dicekal sang istri.
"Mas? kamu nggak lupa, kan? hari ini hari pernikahan Sinta?" tanya Amartha.
"Nggak lupa," ucap Satya setengah malas.
"Hadiahnya?"
"Sudah aku siapkan. Tiket bulan madu ke Dubai," kata Satya.
"Ya udah kamu lanjutin mandinya lagi sana, Mas!" kata Amartha.
"Hem..." Satya hanya berdehem lalu balik kanan.
Setelah selesai memandikan putri kecilnya. memakaikan pakaian untuk Evren, Amarrtha segera bersiap turun ke bawah.
Amartha sangat berhati-hati menuruni setiap anak tangga.
"Amartha, Sayang! baru aja mama mau naik ke atas. Mama udah masak nasi goreng kesukaan kamu, Sayang..." kata Rosa yang berpapasan dengan Amartha.
"Mah, tali pusat Evren sudah kering dan lepas pagi ini," kata Amartha.
"Wah, sudah lepas, ya? nanti mama bilang dulu ke papa,"
"Bilang apa, Ma?" tanya Rudy yang baru saja datang dari arah kamar.
"Ini loh, Pah ... tali pusat Evren sudah lepas," kata mama Rosa.
"Baguslah, jadi cucuku sudah tidak kesakitan ya sekarang?" kata Rudy.
"Kita sarapan dulu, yuk? mana suami kamu, Sayang?" tanya Rosa.
"Masih siap-siap diatas," kata Amartha.
"Sini, Evren biar sama mama. Kamu ke atas, bantuin suami kamu siap-siap," kata Rosa sembari mengambil alih Evren.
"Ya udah ... aku ke atas dulu, Mah..." ucap Amartha yang kemudian menaiki tangga menuju kamarnya.
__ADS_1
Amartha mengetuk pintu dahulu sebelum masuk ke dalam kamar. Ia melihat Satya sedang memakai dasai menghadap cermin.
"Loh, Yank? Evren mana?" tanya Satya.
"Lagi sama neneknya," jawab Amartha yang meraih dasi dan memasangkannya untuk suaminya.
"Sarapannya udah siap. Kita sarapan bareng, ya?" ucap Amartha.
"Sarapan kamu aja,"
"Aku bukan nasi goreng," Amartha tertawa kecil.
"Iya deh, bukan nasi goreng..." ucap Satya manyun.
Amartha merapikan kerah suaminya sebelum memakaikan jas berwarna abu-abu.
"Mas? jangan lupa acaranya..."
"Nanti malam jam 7, kan? aku inget kok, Yank! inget banget malah..." serobot Satya.
"Kok kamu gitu, sih..." Amartha menunduk mengaitkan satu kancing jas suaminya.
"Iya sayang, aku inget kok semua titah kamu..." Satya menarik dagu Amartha dengan jarinya, membuat ia sangat jelas melihat wajah cantik istrinya.
"Nggak usah manyun!" celetuk Satya sembari memberi kecupan kecil.
"Oh, ya? nanti siang aku mungkin nggak bisa pulang ada pertemuan penting dengan pak Irwan," ucap Satya.
"Meskipun aku pengennya makan siang sama kamu, tapi nggak apa-apa deh..." kata Amartha.
"Hahahahah, kamu gemesin banget, Sayang!"
Dan benar saja Rudy dan Rosa sydah ada di ruang makan. Mereka sedang mengajak Evren berbicara.
"Pagi, Mah ... Pah..." kata Satya seraya menarik satu kursi untuk istrinya.
"Pagi, Sat!" jawab Rudy.
"Duduk, Sayang..." ucap Satya pada Amartha.
Satya pun duduk di ujung kursi, ia membuka piring..."
"Kalian makanlah dulu, biar mama jalan-jalan dengan Evren ke taman belakang. Cahaya matahari bagus untuk menghangatkan tubuh Evren," ucap Rosa.
"Biar saya saja, Nyonya..." ucap Sasa yang sudah selesai menyiapkan minuman untuk semua orang yang akan menikmati sarapan paginya
"Benar, Mah. Berikan Evren pada Sasa dan kita sarapan bersama..." kata Satya.
"Baiklah," ucap Rosa yang kemudian memberikan Evren pada Sasa.
"Berdiri membelakangi arah sinar matahari, ya? tutup matanya agar tidak silau," ucap Rosa pada Sasa.
"Baik, Nyonya..." jawab Sasa.
Mereka pun sarapan bersama di meja makan. Amartha merasakan bahagia sekali melihat suaminya sangat akrab dengan orangtuanya. Dia tidak menyangka akan mendapatkan kebahagiaan seperti sekarang ini.
Sementara di belahan dunia yang lain. Kenan sedang berbicara dengan Irwan.
"Dia melahirkan seorang bayi perempuan, Tuan..." ucap Irwan memberi informasi.
__ADS_1
"Dia pasti sangat cantik seperti ibunya," gumam Kenan yang masih terdengar oleh Irwan.
"Apakah anda ingin melihat wajah bayi itu?" tanya Irwan.
"Tidak perlu, Wan. Berikan hadiah untuknya, maksudku untuk putrinya..." ucap Kenan.
"Baik, sesuai perintah anda..." kata Irwan.
"Kebetulan saya akan bertemu dengan Tuan Satya siang ini..." lanjut Irwan.
"Wan?" panggil Kenan.
"Ya, Tuan..."
"Terima kasih," ucap Kenan
"Sudah kewajiban saya, Tuan..." jawab Irwan.
Sambungan telepon utu berakhir. Kenan menarik sudut bibirnya, ia tersenyum.
"Bukannya aku tidak ingin melihat wajah bayi itu, tapi aku takut jika aku terlanjur menyayanginya dan aku akan sulit melupakan Amartha..." ucap Kenan.
Disis lain, dunia Ivanka jungkir balik seperti roaller coaster.
"Hey, bangun!" ucap Carlo.
"Tutup mulutmu karena aku masih ngantuk!" ucap Ivanka setengah sadar.
"Oh, My God! aku bilang bangun ya bangun! apa kau tuli...?" hardik Carlo seraya menyibak selimut yang menutupi setengah tubuh Ivanka.
"Astaga, Carlo! bisa kah kau tutup mulutmu dan tidur sebagaimana mestinya?" Ivanka menarik selimutnya yang tadi tersibak.
"Aku lapar! buatkan aku sandwhich atau apapun yang bisa dimakan," titah Carlo seraya menarik selimut Ivanka dan membuangnya ke lantai.
"Astaga, Carlo kau sangat menyebalkan!" Ivanka bangun dengan kesal.
"Hey! aku suamimu dan sekarang aku sangat lapar, aku tidak bisa tidur!"
"Kau yang tidak bisa tidur, kenapa aku yang harus repot!" jawab Ivanka.
"Cepat lakukan!" kata Carlo menunjuk pintu keluar.
"Lakukanlah sendiri karena aku tidak bisa masak," kata Ivanka.
"Lalu masakan yang kau hidangkan itu?" alis Carlo berkerut.
"Aku beli dari restoran. Jadi, buatlah sandwhichmu sendiri, karena aku ingin tidur..."
"Astaga, benar-benar istriku ini membuatku hampir gila..." batin Carlo.
"Kau sudah aku masukkan ke les memasak, apakah tidak ada pelajaran yang kau tangkap? kau bisa memimpin perusahaan, tapi kau tidak bisa membuatkan satu potong sandwhich untuk suamimu? kau membuatku gila, Vanka!" kata Carlo.
"Itu urusanmu. Siapa suruh menikahiku," Ivanka menaikkan satu sudut bibirnya.
"Kau pikir aku akan membiarkanmu tidur dengan nyenyak? oh, tentu tidak..." Carlo segera menarik Ivanka dan memaksa wanita itu untuk membuat apapun yang bisa ia makan saat ini.
"Dasar menyebalkan!" Ivanka menatap tajam Carlo sambil mengoleskan selai nanas pada roti.
...----------------...
__ADS_1