
Vira akhirnya mau tak mau mengikuti Firlan masuk ke dalam mobil, Firlan mulai menyalakan mobilnya dan muter-muter nggak jelas di dalam kota. Vira yang merasa jalan yang dilewati bukan jalan yang mengarah ke kosannya pun angkat suara.
"Ini bukan jalan ke kosan aku, berenti! aku mau naik taksi," ucap Vira yang mau melepaskan sabuk pengaman yang membelit tubuhnya
"Emang bukan!" jawab Firlan santai dan tetap fokus dengan kemudinya.
"Kita muter- muter dulu, cari tempat, lagian besok kamu juga masih libur," lanjutnya sambil melirik sekilas wanita yang menatapnya.
"Jangan mesum ya, aku wanita baik- baik, berenti! aku mau pulang!" kata Vira sambil nggedor-nggedor kaca mobil.
"Otak kamu tuh makin kesini makin eror kayaknya ya, aku cuma cari tempat buat ngomong, bukan buat macem-macemin kamu!" kata Firlan yang kemudian menghentikan mobilnya didepan sebuah taman yang biasa buat orang pacaran.
"Amartha udah nikah sama bos kamu itu, jadi urusan kita udah selesai," ucap Vira yang melihat keluar jendela, matanya terasa panas.
"Belum selesai," kata Firlan yang masi
"Karena kalau sekarang soal hati asistennya," celetuk Firlan yang membuat Vira tiba-tiba menoleh dan menatap pria yang selama ini bersikap ketus padanya.
"Ngaco!"
"Aku suka sama kamu!" ucap Firlan serius, tapi membuat wanita itu tertawa.
"Suka? nggak salah nih? atau jangan-jangan aku yang harus ke dokter THT, ya? buat mastiin nih kuping masih bener atau nggak!" ucap Vira yang membuat Firlan menghembuskan nafas kasar.
"Apa perlu aku bisikin ke kamu kalau aku suka sama kamu dan aku nggak suka ada yang deketin kamu kayak tadi!" ucap Firlan dengan nada serius.
"Aku nggak percaya,"
"Aku juga nggak percaya kalau aku bisa suka sama kamu, oh atau mungkin kamu pake pelet?" kata Firlan yang membuat Vira mendorong lengan Firlan dengan jari telunjuknya.
"Heeeyyy, andaaaaaa! muka saya emang pas-pasan, tapi bukan berarti saya ngehalalin cara begituan buat memikat laki-laki! bener-bner ngajakin ribut nih orang," Vira kesal dituduh menggunakan ilmu pelet.
"Terus kenapa aku bisa suka sama cewek gesrek kayak kamu, coba? kalau bukan karena dipelet sama kamu," kata Firlan yang berhasil menaikkan tekanan darah Vira.
__ADS_1
"Ya mana aku tau," sahut Vira yang sudah sangat kesal dengan ucapan pria disampingnya.
"Sekarang buka pintunya, aku mau pulang!" ucap Vira sambil gedar-gedor kaca mobil.
"Nggak sebelum kamu jawab pernyataan aku tadi," Firlan masih mengunci mobilnya, sementara Vira bingung harus menerima atau menolak. Kalau Firlan masih belum punya pacar sih, dia langsung iya iya aja tanpa pikir panjang dan auto salto di atas kasur saking senengnya, tapi sekarang kan lain cerita.
"Maap aku bukan pelakor, aku masih sayang muka, aku nggak mau ya kalau ada cewek yang ngelabrak terus muka aku dicakar-cakar," Vira kembali bersuara.
"Nggak akan ada yang nyakar kamu tenang aja," jawab Firlan, yang membuat Vira menautkan kedua alisnya.
"Karena aku nggak punya pacar," lanjut pria itu yang membuat Vira tersenyum sinis, mendengar ucapan Firlan.
"Terus siapa cewek yang manggil kamu 'Beb' di cafe X kalau bukan cewek kamu? buaya juga ternyata, ya?" ucap Vira yang kini membuat Firlan yang mengerutkan keningnya. Mengingat siapa yang ditemuinya di cafe X dan yang menyapanya dengan panggilan itu.
"Yang mana? Cafe X? manggil, Beb?" Firlan memutar ingatannya.
"Oh, Andini?" seru Firlan seraya menatap Vira
"Iya kali," sahut Vira.
"Mantan?" gumam Vira dalam hatinya, kemudian pria itu melanjutkan ucapannya lagi.
"Dia selingkuh makanya kita putus, dan sekarang dia hamil anak orang lain," ucap Firlan yang membuat Vira menatapnya cengo.
"Kita ketemu cuma buat nyelesein semuanya baik-baik, sekarang aku single dan bebas buat deketin kamu," kata pria itu sambil tersenyum.
Firlan memang tidak memungkiri bahwa dia kecewa dan sakit hati dengan perselingkuhan yang dilakukan Andini, tapi dia kemudian menyadari bahwa mungkin dia dan Andini tidak ditakdirkan untuk bersama, beruntung status mereka masih pacaran dan belum ke jenjang yang lebih serius.
Pria itu menyadari jika masa depannya masih panjang, dan beberapa waktu ini nama Vira selalu terlintas di otaknya, dan entah mengapa dia merasa tertarik dengan wanita yang lebih sering menguras emosinya itu.
Demi apapun, Vira hanya kedap-kedip kayak lampu yang hampir koit. Semua informasi yang diterimanya sangat mendadak, membuat sel-sel otaknya tidak siap untuk mencerna setiap perkataan Firlan.
"Jadi, kamu mau jadi pacar aku, Vir?" kata Firlan yang nembak nggak ada romantis-romantisnya.
__ADS_1
"Mau, ups!" ucap Vira yang kemudian menabok bibirnya sendiri karena terlalu cepat menjawab.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Sementara di Ballroom hotel.
"Hai, Mas Bro! congrats, ya? akhirnya kawin juga!" ucap seseorang yang menepuk pundak Satya dari belakang, Satya yang familiar dengan suara itu langsung menoleh.
"Aaraf!" seru Satya yang langsung menjabat tangan orang yang memakai setelan jas serba hitam.
"Hey, aku kira kamu nggak dateng," ucap Satya diiringi tawa kecil.
"Pasti datenglah, aku kira kamu kawin sama Fi-" ucap Aaraf, tapi Satya langsung memotong ucapan pria itu.
"Raaf!" seru Satya.
"Ups, sorry! kelepasan!" ucap Aaraf dengan muka menyesalnya.
"Oh, ya Raf, kenalin ini istriku namanya Amartha," ucap Satya sambil memeluk pinggang istrinya.
"Amartha ini temen kuliahku namanya Aaraf," Satya memperkenalkan istrinya pada Aaraf, mereka berdua pun saling berjabat tangan, namun Amartha segera menarik tangannya saat Aaraf menatapnya dengan tatapan aneh.
Amartha merasa tidak nyaman dengan Araaf, beberapa kali pria itu melempar senyum misterius padanya. Namun rasanya tidak sopan kalau Amartha meninggalkan Satya yang masih terlibat obrolan asik dengan Aaraf yang katanya sekarang tinggal di jerman.
"Mas, kaki aku pegel," bisik Amartha pada suaminya, dia benar-benar tidak nyaman dengan sorot mata Aaraf yang seperti menilai dirinya dari atas ke bawah.
"Ini ngode apa gimana nih?"
"Terserah kamu aja mikirnya gimana, yang jelas kakiku pegel, dan jangan lupa ini juga gara-gara kamu, Mas? apa kamu mau aku laporin sama Mami? biar kamu diulek sama bumbu cabe? mau?" Amartha mengancam suaminya agar mau menuruti keinginannya untuk pergi dari tempat itu.
"Iya, iya, Sayang..." jawab Satya yang membuat jantung Amartha semakin berdebar dibuatnya.
Satya mengakhiri perbincangannya dengan Araaf, dan meninggalkan pria yang sedang menggenggam minuman ditangan kanannya sementara tangan kirinya ia masukkan ke dalam saku, pria itu memandang kepergian Satya dan istrinya dengan senyum yang sulit diartikan.
__ADS_1
...----------------...
Akhirnya dua bab done hr ini ya....😁