
"Sinta?" gumam Amartha yang melihat sosok Sinta berdiri di hadapannya.
"Gue nggak sengaja liat lo disini, ada yang mau gue bicarain," ucap Sinta yang terkesan dingin.
"Tunggu disini dulu ya, Sa..." ucap Amartha yang segera bangkit dari duduknya.
"Baik, Nyonya..." jawab Sasa, matanya terus mengawasi sang majikan yang duduk di meja lain yang kosong.
Sementara Fendy melihat Sinta dan Amartha berbicara empat mata, pria itu yakin Sinta tak akan menyakiti wanita yang kini sedang mengandung. Fendy duduk sambil memesan sesuatu untuk dinikmatinya bersama Sinta.
"Ada apa?" tanya Amartha lembut, dia mengusap perutnya yang mendapat tendangan dari si kecil.
"Itu anak Satya?" Sinta menunjuk perut Amartha dengan dagunya.
"Ya iyalah, anak siapa lagi?" celetuk Amartha, Sinta terlihat sangat canggung. Sementara Amartha terlihat sangat tenang di hadapan Sinta.
"Maksudku bukan begitu. Ehm, selamat..." Sinta malu untuk menatap teman yang dulu pernah disakitinya.
"Terima kasih," jawab Amartha lembut.
"Lo ehm, maksudku kamu ... ehm, kamu pasti benci banget sama aku," ucap Sinta menatap Amartha sendu.
"Kenapa kamu menyimpulkan seperti itu?" Amartha balik bertanya.
"Bukankah aku yang membuat kamu berpisah dengan..."
"Masa lalu," kata Amartha cepat.
"Berdamailah dengan masa lalu, Sinta ... soal Mas Kenan, mungkin kita memang tidak berjodoh," lanjut Amartha, dia menggenggam jari jemari Sinta yang sedari meremas satu sama lain.
"Dia sudah pergi dan mencoba menata kehidupannya, sekarang giliran kamu, Sin..." ucap Amartha tersenyum, Sinta menatap Amartha malu. Malu dengan semua tingkah lakunya terhadap wanita itu.
"Kita mencintai orang yang sama," ucap Sinta tiba-tiba. Namun, Amartha menggeleng pelan.
"Itu dulu, sekarang nggak. Hatiku cuma buat suamiku, Sinta..." jawab Amartha.
"Suami," lirih Sinta sambil terkekeh.
"Kenapa? apa ada yang lucu?" tanya Amartha yang kini memandang Sinta. Sudah lama dia tidak melihat tawa renyah dari sahabatnya itu.
"Nggak ada, nggak ada yang lucu. Hanya saja..." Sinta menggantung ucapannya.
__ADS_1
"Hanya apa?" tanya Amartha penasaran.
"Aku tidak bisa membayangkan kamu hidup dengan pria posesif dan menyebalkan seperti dia," sahut Sinta.
"Dia pria terbaik sepanjang masa, buatku dia malaikat penjaga," jawab Amartha yang melepaskan genggaman tangannya dari Sinta.
"Baiklah, baiklah, dia memang yang terbaik buat sahabatku," Sinta keceplosan mengatakan kata sahabat. Amartha tersenyum pada Sinta, namun sesaat Sinta menyadari bahwa perkataannya tadi kurang tepat.
"Maaf, aku..." Sinta jadi merasa tidak enak.
"Nggak apa-apa, aku seneng kok kamu masih mau mengucapkan kata itu," kata Amartha lembut, Sinta menghela nafas sepertinya ada sesuatu yang mengganjal di hatinya sampai saat ini.
"Mana ada sahabat yang kelakuannya kayak aku, Ta..." ucapnya penuh penyesalan.
"Kamu cuma salah jalan kemarin, Sinta..." kata Amartha mencoba menenangkan Sinta yang meneteskan air matanya.
"Apa kamu mau maafin aku?" tanya Sinta yang menggenggam tangan Amartha.
"Tentu," ucap Amartha.
"Ada hal penting yang harus aku sampaikan," ujar Sinta menatap Amartha dengan serius.
"Suamimu," sahut Sinta.
Sinta pun akhirnya menceritakan isi pembicaraan antara Satya dan seorang wanita bernama Ivanka di sebuah cafe. Sinta yang sedang janjian dengan Bella, tak sengaja melihat suami Amartha tengah berbincang dengan seorang wanita. Mungkin karena terlalu fokus, ia tak menyadari kehadiran Sinta yang tak sengaja mencuri dengar pembicaraan keduanya. Amartha menutup mulutnya, tak percaya dengan apa yang ia dengar dari Sinta.
"Menikah? kenapa harus suamiku?" tanya Amartha cemas.
"Kamu lebih tau sifat suamimu, aku yakin dia nggak akan sampai hati menghianati pernikahan kalian," Sinta mencoba menenangkan Amartha.
"Tapi aku curiga kalau Ivanka akan berbuat nekat dengan menjebak suamimu," ucap Sinta, bagaimanapun ia harus menyampaikannya pada Amartha.
"Lebih berhati-hatilah, jika kamu butuh bantuan, kamu bisa menghubungiku," lanjutnya.
"Ikutlah bergabung di mejaku kalau kamu nggak keberatan," kata Sinta sambil menunjuk mejanya yang kini sudah dipenuhi makanan, Fendy hanya tersenyum saat Sinta melemparkan pandangan ke arahnya.
"Bukannya aku menolak, tapi aku juga sudah pesan makanan," ucap Amartha menunjuk mejanya yang juga dipenuhi makanan dan minuman.
"Terima kasih, kalau begitu aku permisi," ucap Amartha kembali ke tempat duduknya semula, begitu juga dengan Sinta.
"Sudah?" tanya Fendy pada Sinta, wanita itu hanya mengangguk.
__ADS_1
Sementara di kantor, Satya yang masih sibuk menandatangani berkas-berkas. Sore itu ia mendapat telepon dari Firlan, Satya langsung mengangkatnya. Satya geram saat mendengar bahwa orang yang diberi tugas untuk mengawasi para pekerja, justru malah mencuri bahan bangunan dan lagi ia bersekongkol dengan oknum yang memanipulasi data pekerja. Sedangkan bayaran yang mereka dapat tidak sebanding dengan pekerjaan yang mereka lakukan. Pekerjaan Firlan telah selesai, orang-orang yang berbuat curang telah meringkuk di balik jeruji besi.
"Bagus, Lan! kau memang sangat bisa diandalkan, tolong berikan upah yang sesuai untuk para pekerja disana, Lan! dan tolong usut kasus itu sampai selesai," Satya lalu mematikan sambungan teleponnya dengan Firlan.
Setidaknya beban yang ada di pundaknya saat ini telah berkurang, tak berselang lama ponsel Satya berdering kembali. Pria itu mengangkat dengan cepat, tanpa melihat siapa nama peneleponnya.
"Halo," Satya menempelkan benda pipih di telinganya.
"Kenapa sudah bekerja? bukankah anda masih sakit?" ucap suara seorang wanita yang sangat familiar di telinga Satya.
"Jika bukan urusan pekerjaan, maaf saya sedang sibuk," Satya segera menutup panggilan telepon itu.
Satya melupakan makan siangnya, setumpuk berkas masih menunggu untuk dieksekusi. Matanya masih saja meneliti setiap tulisan yang ada di lembaran-lembaran yang ada di tangannya.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Masuk," seru Satya yang tak melepaskan pandangannya dari kumpulan kertas-kertas.
"Permisi, Tuan? ada kiriman paket makanan," ucap Maura sekretaris Satya.
"Dari Siapa?" Satya mendongak, menatap sekretarisnya heran.
"Sepertinya ada nama pengirimnya di dalam kartu itu, Pak..." ucap Maura menunjuk sebuah kartu.
"Ambil dan lihat siapa pengirimnya," perintah Satya.
"Semoga anda suka, dari Nona Ivanka..." ucap Maura membacakan isi dari kartu berwarna putih yang ada di tangannya.
"Untukmu saja, saya sudah makan, kalau pekerjaanmu sudah selesai kau boleh pulang," ucap Satya yang kembali fokus pada lembaran kertas yang ada di tangannya.
"Terima kasih, kalau begitu saya permisi Tuan," ucap Maura, wanita itu segera undur diri dan menutup pintu dari luar.
"Lumayan, nggak perlu beli makanan buat ntar malem," ucap Maura yang langsung menyambar tasnya, ia melihat arloji di pergelangan tangannya, ini sudah melewati jam pulang kantor. Wanita itu bergegas pulang meninggalkan bosnya sendirian di ruangannya.
Tak berapa lama suara ketukan pintu terdengar kembali.
"Masuk," seru Satya.
"Ada apa lagi Maura?" lanjut pria itu saat mendengar suara langkah kaki seorang wanita.
...----------------...
__ADS_1