
Sementara Maura mengintip apa yang akan dilakukan kedua wanita yang tengah berdiri berhadapan itu. Dia hanya mencemaskan keadaan istri bosnya, karena dia tahu jika wanita yang dihadapi wanita hamil itu bukan wanita sembarangan.
"Lebih baik aku pergi kalau nggak ada yang ingin kamu bicarakan," kata Amartha.
"Kenapa? udah nggak sabar, ya?" tanya Ivanka.
"Yakin? mau dengar sekarang? udah siapin mental? hahahha," Ivanka tertawa.
Amartha tak menjawab, ia hanya memandang Ivanka dengan tatapan tajam. Ivanka yang melihat itu menaikkan satu sudut bibirnya.
"Tatapanmu membuatku sangat takut!" ucap Ivanka meledek.
"Baiklah baiklah, sepertinya kakimu sudah pegal karena perut besarmu itu ya?" Ivanka mulai mengoceh.
"Aku yakin sebenarnya aku tidak perlu menjelaskan ini, karena foto itu sudah cukup menjelaskan bagaimana kedekatan kami. Aku dan suamimu,"
"Sudah aku duga, kamu yang sengaja mengirim foto itu, dan..."
"Dan apa? boneka arwah?" serobot Ivanka.
"Amartha ... amartha ... seharusnya kamu tidak perlu kembali lagi, aku bisa loh mengurus suami kamu dengan baik. Ups maaf, suami kita..." kata Ivanka.
"Jangan bermimpi, Nona! sepertinya aku perlu menyiramkan air di kepalamu itu, supaya kamu bisa sadar," ucap Amartha.
"Beraninya kau bicara seperti itu padaku! kau pikir kau siapa, hah?" Ivanka mendekat mencengkram rahang Amartha.
"Tidak ada satu pun orang yang berhak bicara kasar padaku!" Ivanka melepaskan cengkramannya secara tiba-tiba membuat Amartha terhuyung ke belakang. Beruntung dia masih bisa menjaga keseimbangannya.
"Aku yakin dia belum mengatakannya padamu, kalau besok aku dan Satya akan menikah. Hidup ternyata begitu kejam ya pada orang yang lemah dan tidak beguna seperti dirimu ini. Lihat saja penampilanmu saat ini, hahahahahaha..." Ivanka menunjukkan wajah angkuhnya.
"Aku kasihan dengan orang seperti anda! anda memiliki segalanya, uang dan semua hal keduniawian tapi satu hal yang anda tidak miliki, kewarasan!" kata Amartha menohok.
"Dan akan aku tunjukkan betapa tidak warasnya diriku," kata Ivanka seraya membuka mobilnya dan duduk di kursi kemudi. Lampu depan mobil menyala, Ivanka menekal pedal gasnya mengejar Amartha yang kini setengah berlari sambil memegang perutnya.
Melihat hal itu, Maura langsung berlari, saat mobil Ivanka mengincar istri bosnya.
"Awwwwwwaaaaas!" teriak Maura saat mobil sudah semakin dekat dengan wanita itu, dia berlari dan menangkap tubuh Amartha dan menjadikan tubuhnya pelindung untuk menantu dari pemilik perusahaan itu.
"Hahahhahahahah," suara lengkingan Ivanka menggema. Ia mengeluarkan tangannya ke luar jendela. Ia melambai seraya memacu mobilnya keluar.
"Dasar orang gila!" umpat Maura.
"Hhh, hhh..." Amartha mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.
"Nyonya? apa anda baik-baik saja? Nyonya? apa anda terluka?" tanya Maura seraya memegang kedua lengan Amartha.
"Tidak apa-apa, terima kasih kamu sudah menolongku..." ucap Amartha.
__ADS_1
Ketika Maura sedang menuntun Amartha berjalan menuju lift, ponsel Amartha berdering.
"Halo, Vir?" sapa Amartha yang merasakan perutnya nyeri, mungkin efek kaget tadi.
"Aku? ada di basement! kamu ada di lobby? tunggu aku, sebentar lagi aku sampai," kata Amartha.
Maura tak melepaskan tangannya dari wanita yang kini terlihat sangat pucat. Mereka masuk ke dalam sebuah kotak besi yang membawanya menuju lantai lobby.
"Nyonya? anda sangat pucat," ucap Maura saat pintu lift terbuka.
Amartha menggeleng. Maura memapah istri bosnya itu yang terlihat semakin sempoyongan.
"Amarthaaaaa?" pekik Vira saat melihat Amartha baru keluar dari lift.
"Amartha? kamu kenapa, Ta?" tanya Vira panik. Amartha hanya menggeleng sambil menahan satu tangannya menyentuh perutnya. Vira meninggalkan apa yang tadi dibelinya di atas meja sofa yang ada di sana.
"Aku hampir ditabrak mobil Ivanka, dan Maura yang menolongku barusan," jelas Amartha setelah duduk di salah satu sudut sofa.
"Terimakasih, Maura. Saya nggak tahu lagi kalau nggak ada kamu tadi, mungkin aku sudah..." Amartha tak bisa melanjutkan ucapannya.
"Sudah kewajiban saya menolong anda, Nyonya..."
"Untung kamu nggak kenapa-napa, Ta. Astaga wanita itu sudah sangat keterlaluan," ucap Vira.
"Duduk dulu, Ta. Hati-hati..." Vira ikut menuntun Amartha.
"Aku nggak apa-apa, Vira..." kata Amartha.
Tak lama ponsel Maura berdering.
"Halo, Tuan..."
"Kamu dimana, Maura?" tanya Satya.
"Saya di lobby Tuan..." jawab Maura.
"Lalu kotak makanan ini?" tanya Satya.
"Astaga, itu dari nyonya Amartha dan sekarang nyonya ada di lobby bersama saya, Tuan..." jelas Maura.
"Berikan ponsel kamu pada istri saya," ucap Satya.
"Nyonya, Tuan ingin bicara..." Maura seraya menyerahkan ponselnya.
"Halo," sapa Amartha dengan suara lirih cenderung lemas.
"Kamu kenapa, Yank? kok lemes gitu?" tanya Satya.
__ADS_1
"Aku nggak kenapa-napa kok, Mas..." jawab Amartha.
"Jangan kemana-mana, tunggu aku. Aku akan segera ke bawah," ucap Satya yang heran mengapa istrinya datang ke kantornya namun tak sampai naik ke ruangannya dan hanya menitipkan kotak makanan.
Sementara di lobby, Amartha menyerahkan kembali ponsel pada Maura.
"Saya ambilkan minum ya, Nyonya..." ucap Maura yang akan beranjak namun Amartha mencegahnya.
"Nggak usah, Maura..." kata Amartha.
"Tapi kamu pucet kayak gitu,"
"Atau kamu minum cokelat panas ini, Ta..." ucap Vira seraya membuka satu satu paper cup yang masih tertutup.
Vira mendekatkan minuman itu pada Amartha, wanita itu menyesapnya perlahan.
"Makasih, Vira..." ucap Amartha.
Tak lama, Satya datang dengan langkah yang terburu-buru.
"Sayang?" panggil Satya. Semua orang yang sedang duduk disamping Amartha pun menoleh.
"Mas?" lirih Amartha. Vira dan Maura kompak berdiri, memberi akses Satya untuk duduk di samping istrinya.
"Kamu kenapa? kok pucet kayak gini? tangan kamu dingin banget," ucap Satya yang merasakan dingin pada telapak tangan Amartha.
"Maaf, Tuan ... sebenarnya tadi Nyonya..." Maura memutuskan untuk menceritakan apa yang dialami istri dari bosnya itu karena dia khawatir suatu saat Ivanka kembali berbuat ulah dan melakukan hal yang membahayakan seperti itu.
"Wanita itu benar-benar sudah diluar batas!" Satya sangat geram mendengar hal buruk yang hampir menimpa istrinya. Ia segera mengeluarkan ponselnya di dalam saku, lalu menelepon seseorang.
"Kemana saja kamu, Firlan!" suara Satya menggema. Maura yang mendengarnya oun ikut ngeri, dia tidak bisa membayangkan jika jadi Firlan. Bisa-bisa dia harus mengecek kondisi mentalnya setiap bulan.
"Ivanka berusaha mencelakai istriku di kantor. Suruh beberapa pengawal untuk berjaga di rumahku dan mengikuti saat Amartha pergi keluar rumah. Aku tidak mau hal ini sampai terjadi lagi, mengerti?" seru Satya seraya menutup sambungan teleponnya secara sepihak.
"Maura, terima kasih sudah menolong istriku. Bulan ini kamu akan dapat bonus 3 kali lipat gaji," ucap Satya seraya menggenggam kembali tangan istrinya.
"Terima kasih, Tuan..." ucap Maura.
"Oh ya, tolong ambilkan kunci mobil dan kotak makanan di ruangan saya," perintah Satya.
Setelah Maura pergi, Vira pun kikuk sendiri.
"Ehem, Amartha kamu..." Vira bingung harus mengatakan apa.
"Amartha biar saya yang mengantarnya pulang. Terima kasih kamu sudah menemani istri saya..." kata Satya.
"Kalian kesini diantar Damian, kan?" tanya Satya. Amartha mengangguk.
__ADS_1
Vira pamit pulang diantar oleh Damian, sedangkan Amartha pergi bersama suaminya.
...----------------...