
Sinta melepaskan dasi yang ditariknya secara tiba-tiba.
"Sinta, Sinta ... kalau aku keluar keliatan kusut kan yang malu kamu sendiri, dikira kita berbuat yang nggak semestinya di ruangan ini," ujar Fendy seraya membenarkan posisi dasinya, kemudian ia melirik Sinta yang melotot padanya karena mendengar ucapan Fendy barusan.
"Udah, nggak usah cemberut. Jelek tau!" seloroh Fendy, Sinta membuang muka ia kesal dengan pria yang katanya akan membantunya, tapi nyatanya beberapa hari ini pria itu menghilang dan sekarang seenak jidatnya muncul lagi di hadapannya.
"Temen kamu itu, eh temen apa mantan temen? temen aja deh, ya? biar kedengarannya enak," Fendy mulai ngoceh, Sinta menoleh dan melayangkan tatapan tajam pada Fendy.
"Ngemeng apa si lo? nggak jelas," ketus Sinta.
"Ya ini juga mau diperjelas, Sayang..." celetuk Fendy yang membuat Sinta mual dengan ucapan sayang yang pria itu ucapkan.
"Temen kamu itu habis dari luar kota," jelas Fendy singkat. Sinta mengerutkan keningnya tidak paham apa yang dibicarakan Fendy.
"Terus hubungannya?"
"Ya jadi aku belum bisa nemuin dia sama kamu, astagaaaa..." jelas Fendy gemasbdengan wanita yang duduk di sampingnya itu.
"Alasan," Sinta tak mudah percaya dengan ucapan Fendy.
"Ck, nggak percaya..." Fendy berdecak, pria itu memegang lengan Sinta.
"Dia lagi hamil mana mungkin dia keliaran keluar kota," ucap Sinta tak percaya pada apa yang diucapkan pria itu.
"Ngomong aja kalau lo emang nggak niat," kata Sinta menohok. Fendy cuma bisa memegang keningnya pusing dengan ucapan Sinta.
"Kalau mau ketemu mending kamu ke rumahnya, samperin..." usul Fendy.
"Apa?" Sinta memandang Fendy heran.
"Aku bilang, mending kamu samperin dia di rumahnya," Fendy mengulangi perkataannya memastikan pendengaran Sinta menangkap apa yang ia katakan. Sinta malah melipat tangannya di depan dada, melirik Fendy dengan malas.
"Nggak usah gengsi, dosa kamu sama dia udah bejibun, malaikat aja sampe pusing ngitungin dosa kamu," celetuk pria yang kini memegang kedua bahu Sinta, lalu ia perlahan melepaskan tangan Sinta yang dilipat di depan dadanya.
"Aku yakin dia nggak bakal ngusir kamu dari rumahnya, percaya deh!" Fendy mencoba meyakinkan wanita yang sudah memiliki itikad baik itu.
__ADS_1
"Males kalau ada suaminya yang songong itu!" ucap Sinta yang malah membuat Fendy terkekeh.
"Ya kesananya pas suaminya ngantor dong, Sayangku ... gimana? atau mau ketemu di luar aja?" usul Fendy lagi.
"Ntar gue pikirin. Pulang sana, kerjaan gue banyak!" Sinta melepaskan tangan Fendy, ia mengusir pria itu dari ruangannya.
"Sebentar lagi jam pulang kantor, aku tungguin kamu disini, kita pulang bareng," kata Fendy setelah memastikan jam di arloji yang dipakainya.
"Pulang sana!" usir Sinta. Namun seberapa kerasnya Sinta mengusir Fendy, pria itu masih tak mau bergeming dari posisi duduknya.
"Gue masih inget jalan pulang," kata Sinta.
"Yaitu aku..." sahut Fendy asal ngejeplak.
"Nggak lucu," ujar Sinta memutar bola matanya malas.
"Emang!" sahut Fendy cepat.
"Dah, sana pergi," Sinta kembali mengusir. Rasanya ia sudah jengah dengan sikap Fendy yang keras kepala. Sinta seperti sedang menghadapi dirinya sendiri.
"Ada gitu ya orang nyebelin kayak lo," kata Sibta yang udah caoek ngusir pria yang memqkai setelan jas berwarna coklat.
"Aku nggak nyebelin, aku ngangenin. Buktinya kamu nggak nyari," seloroh Fendy, Sinta yang mendengarkan sekuat tenaga untuk menahan senyumannya.
"Nggak usah ditahan kali kalau mau senyum," celetuk pria yang melihat Sinta memalingkan wajahnya darinya, tapi Fendy sekilas melihat Sinta berusaha menutupi senyumannya.
Daripada meladeni omongan Fendy yabg nggak akan ada habisnya, Sinta berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya. Sementara Fendy hanya melihatnya tanpa berniat untuk menahannya.
Fendy menyandarkan punggungnya di sofa, ia memejamkan matanya yang terasa sangat lelah. Sinta hanya melirik sekilas orang yang keras kepala melebihi dirinya. Sinta sesekali memijit pangkal hidungnya, menghilangkan sedikit penat yang terasa. Ia melihat Fendy sepertinya tengah terlelap. Sinta mendekati pria itu.
"Heh! bangun!" Sinta menusuk-nusukkan jarinya ke pipi seorang pria yang tertidur pulas. Sinta menghela nafas panjang, susah sekali membangunkan Fendy.
"Woy! bangun!" Sinta berusaha sekali lagi membangunkan Fendy dengan menepuk pipi pria itu.
"Ehmm," Fendy mengerjapkan matanya berusaha beradaptasi dengan cahaya di ruangan itu. Pria itu segera memperbaiki posisi duduknya sebelum ia berdiri dan berjalan menjauh dari Sinta.
__ADS_1
"Heh, mau kemana? nglindur nih orang!" tanya Sinta pada Fendy yang menurutnya seperti orang yang tidur sambil berjalan. Sinta berpikir nyawa Fendy belum sepenuhnya terkumpul.
"Mau ke toilet, mau ikut?" ucap Fendy menunjuk sebuah ruangan toilet di dalam ruangan itu dengan menggerakkan sesikit kepalanya. Sinta hanya melihat Fendy berjalan menuju toilet sebelum pria itu hilang di balik pintu.
Sinta menyunggingkan senyumnya sekilas. Ternyata sangat capek menghadapi orang keras kepala, Sinta lalu mengingat orangtuanya dan kakaknya yang pasti tidak tahan menghadapi kelakuannya yang ajaib.
Sedangkan di sebuah Supermarket, seorang wanita hamil sedang berbelanja dengan seorang pelayan di rumahnya.
"Mau beli apa lagi, Nyonya?" tanya Sasa sambil mendorong sebuah trolley yang sudah berisi barang belanjaan.
"Ehm, apa lagi ya, Sa? eh, aku lagi pengen jeruk, kita kesana yuk, Sa," ucap Amartha, wanita itu kemudian memilih jeruk dan memasukannya ke dalam sebuah kantong dibantu oleh Sasa.
Tak hanya jeruk, Amartha juga membeli beberapa nacam buah lain yang menurutnya sangat enak kalau dimakan di siang hari saat cuaca sedang terik.
"Hati-hati, Nyonya..." ucap Sasa mengingatkan agar Amartha berjalan dengan perlahan, ia tidak mau terjadi sesuatu dengan majikannya itu.
"Tenang aja, Sa..." kata Amartha dengan tersenyum.
"Sa, tolong ambilin plastik di sebelah sana," ucap Amartha menunjuk sebuah gulungan plastik transparan.
"Baik, Nyonya..." ucap Sasa yang kemudian berjalan mengambil barang yang diinginkan Amartha.
Amartha mengambil beberapa kemangi segar untuk dijadikan lalapan, ia menaruhnya ke dalam kantong plastik yang tadi diambilkan Sasa.
Setelah membeli barang kebutuhan, Amartha lantas merasakan lapar yang teramat sangat. Perutnya menuntut untuk segera diisi. Siang tadi Satya memutuskan untuk pergi sebentar ke kantor, ada beberapa dokumen penting yang harus ia tanda tangani. Keberadaan di mall ini tentu sudah atas izin suaminya.
"Sa, makan dulu, ya? laper banget," ucap Amartha.
"Baik, Nyonya..." ucap Sasa. Setelah menelepon Damian untuk mengambil barang belanjaan, Amartha mengajak Sasa untuk menikmati makanan di sebuah restoran.
Amartha pun akhirnya memesan makanan untuk dirinya dan juga Sasa. Tak berapa lama, pesananpun datang. Amartha mulai menikmati minumannya. Sensasi segar langsung terasa saat minuman dingin itu meluncur membasahi kerongkongannya.
Ketika sedang menikmati makanannya, tiba-tiba seorang wanita datang padanya.
"Amartha, aku ingin bicara," ucap wanita itu serius.
__ADS_1
...----------------...