
Amartha menggeliat seperti ulat, sebelum akhirnya mata yang indah itu perlahan terbuka. Wanita itu langsung duduk dan mengedarkan pandangannya, sepi.
"Mas?"
"Mas? kamu dimana, Mas?" Amartha menapakkan kakinya ke lantai parket yang berwarna coklat tua dan berjalan mengabsen setiap sudut kamar itu, namun ia tidak menemukan suaminya dimanapun.
"Kemana, sih ... Mas Satya? mana udah gelap, aku tidur lama juga ternyata... kok dia pergi nggak bilang-bilang, sih?" Amartha melihat jam di ponselnya yang menunjukkan sekarang sudah pukul setengah 7 malam. Dia memilih untuk menjalankan kewajibannya terlebih dahulu sebagai seorang muslim.
Amartha melipat sajadah dan mukenanya, lalu duduk di sofa panjang yang ada di dekat pintu.
"Apa mungkin dia sengaja ninggalin aku sendirian disini? atau jangan- jangan dia nggak sengaja masuk ke hutan, terus nggak bisa balik lagi ke resort ini? akhirnya aku survive di pulau terpencil ini sendirian, kayak film-film yang sering aku tonton sama Vira, ih ngeri! ah, ah, ah nggak mungkin! itu cuma ada di dalam film, paling Mas Satya bentar lagi balik lagi," ucap Amartha yang seperti de javu saat dia ditinggal oleh Kenan.
Suasana begitu sepi, yang terdengar hanya deburan ombak di bibir pantai.
"Huffh ... aku tutup aja lah jendelanya, agak creepy juga dibuka semua kayak gini," Amartha kemudian segera beranjak dan menarik sebuah tali yang membuat tirai menutupi jendela kaca tembus pandang.
"Kalau nonton film kan udah tau kalo yang ditonton itu bohongan, nah kalo ini kan ehem, duh ni kamar kenapa jendela semua, kan jadi capek nururunin tirainya satu- satu gini!" Amartha berbicara sendiri untuk mengusir rasa takut karena berada di ruangan itu sendirian. Namun sesaat ia melihat seseorang yang memakai baju serba hitam berdiri di depan sebuah kamar yang lain yang tak jauh dari kamar yang dihuninya untuk beberapa hari kedepan.
"Eh, itu orang bukan, sih? kok ngeliat kesini terus ... ah, mungkin penghuni kamar yang itu, eh tapi kenapa dia liat ke arah sini terus, ah ... mending aku turunin semua tirainya, huuufh ... " Amartha dengan terburu-buru menurunkan tirai, tiba- tiba ada tangan yang memeluknya dari belakang membuatnya terlonjak kaget
"Aaaaaaaaaaa!" pekik Amartha yang tiba-tiba menjerit ketakutan.
"Hey, ini aku, Yank ... suami kamu, Sayang?" Satya segera membalikkan tubuh Amartha agar menghadap ke arahnya, dan menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya.
"hosh hosh hosh, kamu bikin aku kaget, Mas!" Amartha langsung memeluk tubuh Satya dengan erat.
"Kamu liatin apa sih sampe nggak tau aku masuk?" ucap Satya lembut sambil mengusap lembut punggung Amartha. Amartha
__ADS_1
"Tadi ada orang di dekat pohon depan kamar yang itu, dia liatin kesini terus, Mas." kata Amartha yang melepaskan pelukannya dan menunjuk dimana ia melihat seseorang yang seolah sedang mengawasinya.
"Yang mana?" tanya Satya yang melihat ke arah yang istrinya tunjuk, tapi dia tak melihat siapapun disana.
"Di pohon itu, yang itu, Mas..." kata Amartha yang menunjuk sebuah pohon besar di depan sebuah kamar.
"Mana? nggak ada, Yank... lagian kamar itu kosong, karena aku pesan kamar ini dan yang itu, karena aku nggak tau kamu sukanya yang mana, dan kali aja kamu mau ganti suasana, karena kalau yang disana, lebih tenang karena jauh dari pantai..." jelas Satya yang malah membuat Amartha bukannya tenang malah semakin cemas, tadinya ia mengira orang yang dia lihat adalah orang yang menyewa kamar lain yang ada disana.
"Beneran tadi ada kok, aku nggak bohong, Mas." ucap Amartha yang menatap suaminya yang malah mencubit gemas pipinya.
"Mungkin petugas resort aja kali Yang kebetulan lewat," Satya mencoba menenangkan Amartha yang masih melihat ke arah luar jendela.
"Lagian kamu kemana aja sih, Mas?" ucap Amartha memukul dada Satya, meluapkan kekesalannya pada pria itu, Satya langsung menangkap tangan istrinya kemudian kembali memeluknya.
"Kenapa? kamu takut, hem?" ucap Satya yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku takut kamu ninggalin aku kayak-"
"Sssst, aku nggak akan ninggalin kamu, percaya sama aku, aku nggak akan melakukan hal bodoh seperti itu," kata Satya meyakinkan Amartha, namun wanita itu menjarak tubuhnya dari Satya.
"Mas, aku ngerasa ada yang ngawasin kita disini! aku yakin, yang aku lihat itu manusia bukan setan, aku lebih ngeri sama manusia daripada sama setan, Mas!" ucap Amartha yang membuat Satya mengerutkan keningnya.
"Bukannya lebih serem setan, ya?" ucap Satya sembari merengkuh pinggang ramping istrinya.
"Setan cuma wujudnya aja yang serem, dibacain ayat kursi juga pada minggir, nah kalau manusia? nggak bisa dibacain kayak gitu, Mas ... yang jelas, manusia bisa bertindak kejam melebihi setan," ucap Amartha.
"Iya, iya, aku minta maaf, ya? tadi aku habis nyiapin sesuatu buat kamu," kata Satya yang tangannya udah kemana-mana.
__ADS_1
"Nyiapin apa?"
"Ada deh pokoknya," ucap Satya sambil menowel gemas hidung Amartha, kemudian mendorong tubuh istrinya ke kamar mandi.
"Sekarang kamu mandi dan pakai baju yang udah aku siapin di kotak itu, nanti biar aku yang nurunin semua tirainya," ucap Satya sambil menunjuk sebuah kotak berwarna putih diatas meja rias dekat lemari.
Setelah Amartha masuk ke dalam kamar mandi, Satya langsung membasuh wajahnya di wastafel yang dilengkapi cermin yang besar, yang berada di depan pintu kamar mandi.
Kemudian mengganti bajunya dengan outfit kemeja semi formal lengan panjang yang digulung sampai siku dengan kancing yang dibiarkan terbuka dan inner berwarna senada.
Dia duduk di sofa putih panjang dekat jendela yang sudah tertutup tirai, dengan lampu warm light membuat suasana kamar semakin romantis. Sembari menunggu, Satya menghubungi seseorang untuk segera menyiapkan sebuah kejutan untuk istrinya.
Amartha yang sudah menyelesaikan mandinya kemudian keluar dengan bathrobe dan handuk yang menutupi kepalanya. Satya yang melihat itu langsung menghampiri istrinya.
"Hmmm, wangi vanget, Sayang ... sekarang, kamu duduk disini, dan biarkan aku yang keringin rambut kamu," ucap Satya sambil mendudukkan istrinya didepan meja rias.
"Aku bisa sendiri," ucap Amartha sambil menahan tangan suaminya yang akan melepas handuk yang menutupi kepalanya.
"Ssstt, biarkan suamimu yang tampan ini yang melakukannya, Sayang ... dijamin hasilnya memuaskan," ucap Satya dengan cengiran khasnya.
Satya mulai mengeringkan rambut istrinya menggunakan handuk, lalu tangannya dengan lihay mengarahkan hairdryer dan menyisiri rambut Amartha, pria itu tampak serius. Amartha yang melihat suaminya dari pantulan cermin pun tersenyum.
"Kenapa? terpesona, ya?" ucap Satya saat melihat istrinya tersenyum sangat manis.
"Ehem, Mas jangan-jangan pernah magang di salon kecantikan, lihai banget tuh tangan kanan pegang pengering rambut, terus tangan satunya lagi pegang sisir," ucap Amarta sambil terkekeh.
"Aku sebenernya sempet diajarin sama..." ucap Satya menggantung.
__ADS_1
...----------------...