Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Kotak Makanan?


__ADS_3

Setelah mencoba beberapa jas yang dibawakan untuknya Ivanka pun tersenyum puas. Ia kemudian pergi dari ruangan itu menuju lift. Beberapa kali ia menelepon Alia, namun asistennya itu tak juga menjawab.


Pintu lift terbuka dan nampaklah seorang wanita hamil di dalam kotak besi itu. Ivanka langsung masuk dan mencegah wanita itu untuk keluar.


"Kita harus bicara," ucap Ivanka pada wanita yang kini membawa kotak makanan di tangannya.


"Tapi aku nggak mau," ucap Amartha. Akan tetapi Ivanka sudah menutup pintu lift terlebih dahulu.


"Ketika aku bilang aku ingin bicara, berarti nggak ada satu orang pun yang bisa menolak, termasuk kamu!" ucap Ivanka sambil menunjuk Amartha.


"Omong kosong," Amartha mencibir perkataan Ivanka.


"Ikuti aku atau kamu akan tau akibatnya?" kata Ivanka seraya melirik perut Amartha.


Amartha tahu apa arti tatapan yang ditujukan padanya. Dalam hati dia hanya berdoa supaya tak akan terjadi sesuatu hal yang buruk padanya. Amartha melangkah mengikuti kemana perginya wanita itu.


Ketika berada di lobby, Amartha tak sengaja berpapasan dengan Maura.


"Maura!" seru Amartha. Maura yang dipanggil pun segera mendekat.


"Iya, Nyonya..."


"Tolong bawakan ini ke ruangan suami saya," ucap Amartha sambil menyerahkan kotak makanan berwarna abu-abu.


"Baik, Nyonya..." ucap Maura.


Kemudian Amartha mengikuti Ivanka menuju basement.


Maura tidak melakukan apa yang diperintahkan padanya. Wanita itu malah menitipkan kotak makanan pada seorang OB dan memintanya untuk mengantarkan ke ruangan bosnya. Maura mempercepat langkahnya dan mengikuti kemana perginya istri dari bosnya itu.


Sekretaris Satya yang memakai setelan kerja dengan celana panjang dan blouse berwarna kuning itu pun melangkah dengan hati-hati. Amartha yang tengah hamil tak bisa berjalan cepat seperti Ivanka, beberapa kali dia berhenti karena merasakan perutnya tegang.


"Ck ck ck, hadeuh jalanmu sungguh lambat, Nyonya!" ledek Ivanka yang sudah menunggu Amartha di depan sebuah mobil. Wanita itu melipat tangannya di depan dadanya, dan tertawa sinis saat Amartha sudah berada beberapa langkah di depannya.


"Kenapa? kau takut aku berbuat sesuatu padamu?" tanya Ivanka pada Amartha yang menjaga jarak dengan dirinya.


"Ada perlu apa? nggak usah bertele-tele!" sahut Amartha.


Sementara Vira sudah sampai di coffee shop yang dimaksud Amartha setelah mengambil uang cash di ATM center terlebih dahulu.


Vira keluar dari mobil dan berjalan menuju tempat itu. Perlahan tangannya menggapai gagang pintu, kemudian mendorongnya. Langkah Vira terhenti di depan etalase kaca yang menampilkan beberapa macam cake.


"Tadi dia pengen apa ya? caramel cake? iya caramel cake kan, ya?" gumam Vira.


"Selamat datang di coffee shop kami, ada yang bisa dibantu, Kak?" sapa seorang pelayan.


"Saya mau caramel cake ini," tunjuk Vira tepat di depan sebuah cake dengan crumble diatasnya.

__ADS_1


"Berapa, Kak?" tanya pelayan wanita itu.


"4 potong," ucap Vira.


"Ada lagi?" tanya pelayan itu.


"Hot chocolatte medium 2, take away!" kata Vira.


"Atas nama siapa, maaf?"


"Vira!" jawab Vira.


"Silakan ke kasir dan ditunggu pesanannya, Kak..." ucap si pelayan wanita.


Vira pun bergeser ke kasir, ia menyerahkan uang untuk membayarkan semua pesanannya. Sesaat ia menoleh dan mengedarkan pandangannya. Senyumnya pudar saat melihat satu sosok yang dikenalnya sedang duduk berbincang akrab dengan seorang wanita yang sedang menggunakan kembali kacamatanya.


"Maaf, ini kue nya dan ini kembaliannya, Kak!" ucap si petugas kasir membuyarkan lamunan Vira.


"Eh, iya!"


"Untuk hot chocolate-nya ditunggu ya, Kak?" ucap si petugas kasir yang memakai jilbab itu.


"Ng! iya iya ... makasih," ucap Vira.


Vira menarik sebuah kursi duduk membelakangi orang yang masih menjadi kekasihnya itu.


"Atas nama kakak Viraaaaa?" seorang pria menyerukan namanya.


Matanya membulat saat ia mengetahui nama yang tadi disebutkan merupakan nama kekasihnya. Wanita cantik dengan rambut sebahu itu baru saja mengambil pesanannya. Wanita itu memutar tubuhnya, dan mata mereka tak sengaja bertemu dalam satu garis lurus. Vira hanya mengangkat satu sudut bibirnya ke atas, lalu senyum itu memudar. Vira berjalan menuju pintu keluar.


Firlan segera beranjak dari duduknya.


"Mau kemana?" tanya Alia.


"Kamu tunggu disini dulu," hanya itu yang diucapkan Firlan sebelum pergi.


Firlan mempercepat langkahnya keluar dari cafe.


"Vira!" seru Firlan pada wanita yang hanya berjarak beberapa meter darinya.


Vira menghentikan langkahnya sesaat, dan ketika ia akan melangkah lagi ada seseorang yang menyentuh pundaknya.


"Vira..." ucap pria itu, suara yang sangat familiar.


Vira menoleh dan memutar tubuhnya. Ia menatap pria tadi dengan ekspresi lempeng, lurus seperti jalan tol.


"Kamu kesini..."

__ADS_1


"Sendirian," serobot Vira.


"Tadi itu Alia..." Firlan akan menjelaskan namun Vira kembali memotong ucapannya.


"Ya aku tau, lalu?"


"Kami hanya minum kopi," jelas Firlan.


"Bukan urusanku," kata Vira seraya memasang senyum tipisnya. Vira memutar tubuhnya berniat meninggalkan Firlan. Bahkan ia ingin meninggalkan pria itu dalam arti yang lain, mengakhiri kisah cintanya bersama pria itu.


"Kamu cemburu?" tanya Firlan. Vira menautkan kedua alisnya, lalu ia tersenyum bahkan tertawa kecil.


"Lanjutkan apa yang menurutmu benar," Vira melepaskan tangan Firlan dari tangannya.


"Kamu merasakannya?"


"Merasakan apa yang dulu kamu rasakan, begitu? kalau itu jawaban yang membuatmu puas, maka aku akan jawab 'iya'," kata Vira yang langkahnya dihalangi Firlan.


"Ada apa lagi? hey, wanitamu sedang menunggu di dalam," ucap Vira seraya menggeser tubuhnya, namun langkahnya kembali dihalangi Firlan.


"Aku belum bicara,"


"Apa yang perlu kita bicarakan? nggak ada. Hubungan ini udah nggak sehat, kita hanya saling menyakiti. Jadi, mulai sekarang kita jalan masing-masing," kata Vira tanpa mengeluarkan air matanya sedikit pun.


"Oke, kalau itu mau kamu. Tapi kita nggak akan pernah putus, kita hanya break sejenak," kata Firlan.


"Terserah," kata Vira seraya meninggalkan Firlan dan masuk ke dalam mobil milik Amartha.


"Damian?" gumam Firlan saat menyadari jika Vira masuk ke dalam mobil milik istri bosnya, namun ia tak melihat sosok wanita hamil tersebut saat Vira membuka pintu penumpang di bagian belakang.


Seorang OB yang mendapat titipan kotak makanan pun segera mengantarkannya ke ruangan Satya. Ia mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Masuk," ucap Satya seraya menekan tombol pada sebuah alat yang membuat suaranya terdengar oleh orang dibalik pintu.


"Permisi," ucap OB itu sopan.


"Ya, ada apa?" tanya Satya.


"Maaf, Tuan ini ada titipan dari Bu Maura," ucap sang OB


"Taruh saja di meja sana," kata Satya yang sedang sibuk menandatangani sebuah berkas.


OB itu segera melakukan apa yang diperintahkan padanya, ia menaruh kotak makanan di meja dekat sofa.


"Permisi, Tuan..." ucap sang OB.


Mata Satya kemudian melirik sekilas apa yang tergeletak di meja.

__ADS_1


"Kotak makanan?" gumam Satya.


...----------------...


__ADS_2