
Amartha pulang dengan banyak belanjaan. Vira yang semula akan pulang ke unit apartemen Ricko pun mengurungkan niatnya itu. Dia masih cemas dengan keselamatan sahabatnya. Vira yakin ada seseorang yang mengikuti mereka selama di mall, bahkan mungkin tidak seseorang namun beberapa.
Karena dia merasa ada orang yang selalu berjalan di belakangnya. Namun ketika Vira menengok ke belakang, orang itu pura-pura berbelok ke toko atau berhenti membenarkan tali sepatu. Yang jelas Vira selalu merasa diikuti, bahkan sampai ke toko perlengkapan bayi.
Tanpa Vira ketahui, Amartha pun merasakan hal yang sama. Namun ia berusaha tenang di depan Vira, dia tidak mau Vira panik dengan situasi mereka terlebih lagi kondisinya yang sedang hamil tidak memungkinkan untuknya mempercepat langkah karena itu akan mrmbahayakan kandungannya.
Amartha menelepon Damian untuk menghampirinya di sebuah toko perlengkapan khusus bayi, karena ia tudak mungkin membawa barang sebanyak itu dengan Vira.
"Vira? ngelamun aja," ucap Amartha menggerakkan telapak tangannya di depan wajah Vira.
"Eh, nggak! kenapa kenapa? sorry, nggak denger tadi..." ucap Vira gelagapan.
"Nggak ada. Jangan ngelamun nanti kesambet tuyul," ucap Amartha.
"Yeee, sembarangan aja kalau ngomong," ucap Vira, Amartha terkekeh.
"Permisi, Nyonya..." ucap Damian.
Amartha menoleh dan terlihat supir yang selalu mengantarnya pun. Damian bukan hanya sekedar supir biasa, pria itu mempunyai keahlian bela diri. Satya memang sengaja memerintahkan Damian untuk menjadi supir sekaligus pengawal bagi istrinya. Tanpa Amartha ketahui, Damian selalu menjaga majikannya itu dari jarak jauh. Dan dia pun sempat menangkap beberapa orang yang sengaja mengikuti majikannya dari belakang.
"Kok cepet banget nyampenya?" Amartha mengernyitkan dahinya, pasalnya pria itu begitu saja muncul kurang dari 5 menit.
"Ehm, barang yang mau dibawa yang mana, Nyonya?" Damian langsung salah tingkah. Di depan toko ada orang yang sedang memata-matai majikannya, makanya begitu ditelfon Damian segera datang.
Amartha menunjuk baby stroller yang diisi penuh dengan berbagai macam belanjaan. Amartha sengaja menaruh belanjaannya di dalam stroller agar mudah membawanya. Itu juga ada dua papperbag yang harus ia bawa sendiri, karena sudah tidak muat jika harus dijejalkan di dalam kereta bayi yang bru ia beli itu.
Amartha dan Vira berjalan di depan Damian yang mendorong kereta bayi yang penuh dengan barang. Namun, saat melihat toko tas branded Amartha menarik tangan Vira untuk masuk ke dalam, Damian pun mau tak mau mengikuti kemana perginya majikannya itu.
"Ngapain kesini, Ta?" tanya Vira.
"Beliin kamu tas," jawab Amartha santai. Ia pun memilih tas yang cocok untuk Vira.
"Udah gelo nih bocah," gumam Vira saat mendengar jawaban sahabatnya.
__ADS_1
"Ta?"panggil Vira.
"Ada apa, Vir? kamu suka ini, nggak?" tanya Amartha menunjukkan sebuah clutch pada Vira.
"Nggak suka, aku biasa pake tas harga 50 ribuan," ucap Vira, Amartha pun memonyongkan bibirnya.
"Tapi aku kan pengen beliin kamu, Vira..." ucap Amartha.
"Siapa sih yang ngajarin kamu beli tas disini, Ta? satu tas ini bisa buat jajan aku satu tahun tau, nggak?" Vira menunjuk clutch yang ada di tangan Amartha.
"Sejak kapan kamu mikirin duit, Vir?" tanya Amartha.
"Sejak tadi,"
"Daripada buang-buang duit suami kamu buat beli tas ini mending kamu simpen aja," ucap Vira yang tak sadar melukai hati Amartha.
Senyum yang semula mengembang kini pudar, wajahnya menampakkan rasa kecewa.
"Maksudku bukan seperti itu, Ta ... aku tau niat kamu baik, tapi kamu udah nikah dan aku nggak mau kalau suami kamu nyangka aku manfaatin kamu buat kesenangan aku. Kamu tau kan maksud aku?" ucap Vira hati-hati.
"Syukurlah kalau kamu nggak salah paham," ucap Vira bernafas lega.
"Tapi aku membeli ini bukan pakai kartu dari mas Satya, tapi dari mantan suami. Aku nggak pernah sekalipun memakainya, dan aku juga nggak tau isinya seberapa banyak, tapi kita coba aja barangkali bisa..." jelas Amartha, sambil mengibaskan sebuah kartu di depan mata Vira.
"Astaga, kenapa nggak ngomong daritadi? aku kan nggak usah sok nolak kayak tadi. Karena kamu yang maksa apa boleh buat, aku akan pilih salah satu," ucap Vira.
"Pilih aja mana yang kamu suka," ucap Amartha.
Vira langsung bersemangat memilih daru berbagai macam tas yang ada di toko itu. Setelah mendapatkan yang dia inginkan, Amartha segera membayarnya di kasir.
Dan ternyata benar, pin yang diberikan Kenan waktu itu berfungsi sebagaimana mestinya. Kartu dapat digesek, dan tas pun bisa dibeli. Vira girang bukan main, baru kali ini dia mendapat hadiah tas mahal dan bukan abal-abal.
Damian mulai pegal melihat kedua wanita itu memilih tas yang harganya bikin kantong bolong.
__ADS_1
Setelah puas berbelanja, akhirnya mereka pulang. Mereka berdua tertidur di kursi penumpang bagian belakang. Mungkin karena kelelahan, kedua wanita itu memejamkan matanya dengan mudahnya.
Setelah sampai di rumah, Damian menelepon majikannya. Ia mengatakan kalau istri dari majikannya itu tertidur di mobil.
"Hoaaammmhhh," Vira menguap, ia merasakan mobil tidak bergerak. Wanita itu mencoba mengumpulkan kesadarannya.
"Udah sampai?" gumam Vira, saat ia melihat mobil sudah terparkir di depan rumah Amartha.
Baru saja ia akan membangunkan sahabatnya, pintu mobil tiba-tiba saja terbuka.
Ternyata Satya yang membuka pintu mobil, dia menaruh telunjuknya di depan bibirnya. Ia meminta Vira untuk tidak bersuara, Vira pun mengangguk paham.
Satya segera menggendong istrinya yang sedang tertidur pulas. Vira pun keluar dari mobil dan berjalan mengikuti Satya yang dengan sangat hati-hati membawa tubuh istrinya.
Ketika mereka sampai di ruang tamu, ada Firlan yang tengah duduk sambil memegang ponsel di tangannya.
"Tunggu, sepertinya aku akan pamit pulang. Sampaikan terima kasihku untuk Amartha, terima kasih..." ucap Vira pada Satya yang menghentikan langkahnya sesaat. Dan pria itu hanya menjawab sangat irit.
"Ya, nanti aku sampaikan," ucap Satya. Pria itu pun melanjutkan langkahnya.
Ketika Vira akan memutar tubuhnya, Firlan dengan cepat mencekal lengan wanita itu.
"Apa yang kamu lakukan selama dua hari disini?" tanya Firlan pada Vira.
"Apakah butuh alasan untuk mengunjungi sahabatku sendiri?" Vira melepaskan tangan Firlan dari lengannya.
Wanita itu segera berbalik dan berjalan menuju pintu. Dia malas meladeni pertanyaan Firlan, ada hal yang lebih penting dari sekedar bertengkar dengan pria itu.
"Vira!" seru Firlan. Ia segera mengejar Vira yang berjalan dengan langkah yang cepat dengan membawa satu papperbag di tangannya.
"Taksi!" Vira melambaikan tangannya saat ada taksi yang melintas, namun taksi itu hanya melewatinya tanpa berhenti.
"Ikut aku," ucap Firlan seraya menarik Vira menuju mobilnya.
__ADS_1
"Nggak usah, aku bisa pulang sendiri!" Vira melepaskan tangan Firlan dan mencoba untuk kabur. Namun, Firlan mencegahnya dan langsung membuka mobil. Kemudian menutupnya setelah Vira sudah duduk di kursi penumpang di samping kursi kemudi.
...----------------...