
Beginilah jika sang amatir mulai menarikan kuasnya. Vira hanya mengikuti imajinasinya saja, dalam otaknya sudah ada sketsa gambar yang sedang dituangkan pada satu sisi dinding berwarna krem.
Berbagai warna cat berjejer begitu juga dengan kuas dengan berbagai ukuran. Vira menekuk kakinya bertumpu pada lututnya. Dia sudah melapisi lantai dengan plastik super lebar supaya cat tidak mengotori parket berwarna coklat tua itu.
Vira menurunkan maskernya dan menoleh pada Amartha.
"Kamu nggak capek duduk disitu?" tanya Vira.
"Nggak," sahut Amartha yang memutus pandangannya dari layar ponselnya.
"Nggak pusing bau cat kayak gini?" tanya Vira setelah mengganti kuas yang dipakainya dengan kuas yang lebih kecil.
"Nggak, Yem! kenapa emang?" Amartha malah balik bertanya.
"Ya nggak, barangkali pusing gitu. Kan bumil suka sensitif tuh masalah bau," kata Vira.
"Pokoknya kalau capek mending kamu tiduran di kamar, aku masih lama lagian…" lanjut Vira lagi.
"Iya, Viraaaaaa … Kamu udah kayak mas Satya deh, cerewet banget!" kata Amartha
"Hahahahah, sabar sabar! ini semua kan demi kebaikan kamu sendiri, karena kamu lagi hamil. Jadi, orang-orang pasti memperlakukanmu dengan spesial," ucap Vira.
Wanita itu pun melanjutkan melukis sesuatu di tembok. Perlahan tapi pasti, Vira menggerakkan tangannya dengan kuas, memvisualisasikan apa yang ada di otaknya.
Sekarang dia sedang menggambar hewan dengan kaki panjang dan leher yang jenjang. Sedangkan Amartha yang sedang asik dengan layar ponselnya pun tak luput dari pandangan Vira.
"Liat apaan, Ta? serius baget," celetuk Vira yang mulai memberi warna pada jerapah.
"Lagi baca novel," ucap Amartha yang menunjukkan layar ponselnya pada Vira. Wanita itu mengerutkan keningnya heran.
"Novel online, Yem!" lanjut Amartha, Vira hanya mengangguk paham. Karena era sekarang segalanya kini dipermudah dengan adanya perkembangan teknologi.
Mendengar kata novel, sesuatu terlintas di kepala Amartha. Beberapa memori saat mereka masih kuliah dan tinggal di kosan yang sama.
__ADS_1
"Inget, nggak kita dulu sering banget hunting novel di toko buku?" Amartha beranjak dari duduknya. Dia berjalan menjauh dari kursi yang menopang tubuhnya.
"Iya, jelas inget banget, lah! dan karena mau hunting novel, kita pernah jatuh dari motor. Itu jadi awal mula kedekatan kamu dengan suamimu yang sekarang, kan? coba kalau kamu nggak aku bawa ke rumah sakit itu, kamu pasti nggak akan tau kalau Satya sebenarnya seorang dokter," ujar Vira, sambil terus fokus pada gambarnya.
"Hahahahah, kamu masih inget aja, Vir!" celetuk Amartha. Amartha Yang memakai masker mendekat pada Vira yang kini tengah duduk agak menunduk. Ia sedang memberi corak pada hewan berwarna oranye kecoklatan.
"Gimana nggak inget, waktu itu sikapnya dingin banget kayak es batu, tapi mendadak cair kalau lagi ngomong sama kamu," ucap Vira mengingat sikap Satya waktu itu.
"Hahaha, dendam kesumat, nih! dia tuh sama sekali nggak dingin, malah slengean yang ada," jelas Amartha.
"Iya kan sama kamu. Orang yang dia sukai. Nah, kalau sama aku kan beda lagi, galaknya minta ampun! tapi lumayan baik sih, aku nggak boleh mencoret bagian itu…" ucap Vira ambigu, dia mengingat Satya yang memberikan dia uang bulanan yang bikin dia selonjoran enak, sambil rebahan di kosan. Uang kompensasi agar Vira mau menemani Amartha yang waktu itu masih kerja di klinik, setidaknya Satya bisa menahan Vira supaya tidak cepat-cepat pulang kampung setelah lulus kuliah.
"Wah, lucu banget gambarmu, Vira!" puji Amartha saat melihat jerapah yang sudah mulai jelas bentuknya karena Vira baru saja menyelesaikan gambar binatang itu.
"Kamu berbakat tau, nggak?" lanjut Amartha. Vira ya semula duduk, kini beranjak berdiri.
"Gambar jelek jangan dihina, ya?" seloroh Vira.
"Yeeee, siapa juga yang menghina. Ini namanya memuji tau, nggak?" kata Amartha.
Vira yang sengaja memakai celana berbahan jeans pun, mulai menggeser kursi. Ia membawa pallete warna di tangannya sebelum naik diatas kursi.
"Hati-hati, Vir!" Amartha mengingatkan.
"Tenang aja, Vira sudah biasa jadi monyet. Jadi tenang, nggak bakalan jatuh!" seloroh Vira.
"Lagian nih kursi nggak tinggi-tinggi amat, kok!" lanjut sahabat Amartha.
"Iya tau. Mau ketinggian seberapa pun juga tapi kalau jatuh ya pasti sakit, Vir!" kata Amartha mengingatkan Vira agar lebih berhati-hati.
"Siap, bumil!" sahut Vira.
"Dah, sana bumil istirahat di kamar. Aku masih lama kok di sini," ucap Vira, ia tak mau Amartha kelelahan. Karena terlalu lama duduk dan berdiri, itu bisa membuat tungkainya terasa pegal apalagi wanita itu sudah hamil besar.
__ADS_1
Tak lama Sasa datang membawa cemilan dan juga minuman untuk Vira.
"Kebetulan kamu kesini, Sa!" ucap Amartha pada Sasa yang meletakkan minuman dan beberapa camilan di atas meja.
"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya Sasa mendekat pada majikannya.
"Tolong temenin Vira disini, ya? saya mau rebahan dulu di kamar. Kasian kalau dia di ruangan ini sendirian…" ucap Amartha pada pelayannya.
"Baik, Nyonya…" sahut Sasa.
"Vir, aku ke kamar dulu, ya? inget, kamu harus hati-hati!" kata Amartha.
"Iya iya bumiiiiil, ini juga hati-hati, kok! dah sana, istirahat. Kasian tuh Jumaroh di dalam perut pasti capek, butuh ibunya rebahan yang nyaman di atas kasur," ucap Vira menunjuk perut besar Amartha.
"Aku tinggal dulu," Amartha berbalik dan berjalan menuju pintu yang terkoneksi dengan kamarnya. Tak lupa ia mengambil ponselnya lalu mengunci pintu setelah wanita itu sudah berada dalam kamarnya.
Amartha berjalan perlahan menuju ranjang empuknya, ia mulai memposisikan dirinya untuk tidur menyamping. Beberapa kali wanita itu menguap, ia tak sanggup melanjutkan bacaannya. Dan tak butuh waktu lama, wanita itu pun segera terbang ke alam mimpi.
Sementara di tempat lain.
"Firlan, aku mau keluar sebentar. Saya ada janji dengan pak Irwan," ucap Satya pada asistennya yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
"Saya tidak perlu ikut, kan?" tanya Firlan memastikan.
"Saya akan kesana sendirian," jawab Satya.
"Oh, ya Lan! tolong suruh mereka kirimkan beberapa botol madu kemari, saya ingin tahu bagaimana kualitasnya. Katakan saja, kalau saya membatalkan kunjungan kesana," perintah Satya.
"Oh ya, satu lagi. Mendadak saya pengen juga honeycomb! jadi, sekalian suruh mereka mengirimkan itu juga," lanjut Satya.
"Baik, Tuan..." jawab Firlan.
Satya pun segera meninggalkan kantornya. Sebenarnya, Satya akan pergi ke luar kota untuk meninjau peternakan lebah penghasil madu yang ia miliki. Sebenarnya,kalau ia tak pernah mencoba makan sarang madu yang dibeli istrinya di salah satu supermarket, ia mungkin tidak akan pernah kepikiran untuk merambah ke dunia perlebahan.
__ADS_1
Satya kini melajukan mobilnya ke suatu tempat untuk bertemu dengan rekan bisnisnya. Pria gagah itu sudah melakukan reservasi di sebuah restoran, ia pun berjalan menuju meja yang telah dipesannya. Tiba-tiba saja ada tangan yang melingkar di lengannya secara posesif. Satya menghentikan langkahnya dan menatap orang itu dengan tajam.