Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Tetap Disini


__ADS_3

Dan air matanya memupuk saat melihat suaminya terbaring lemas.


"Mas?" ucap Amartha seraya berjalan mendekat. Satya yang sedang berbaring terkejut saat mendengar suara istrinya, ia menoleh ke arah pintu.


"Sayang!" pekik Satya saat melihat istrinya sudah berdiri di samping tempat tidurnya.


"Kok kamu ada disini? sama siapa? kamu tau darimana aku disini?"" ucap pria itu yang langsung mencoba untuk duduk.


"Kamu tiduran aja, Sayang..." ucap Amartha yang duduk di ranjang suaminya, dan mencegah suaminya untuk bangkit.


"Anda sudah datang, Nyonya?" ucap Firlan yang segera bangkit dari sofa dan berjalan mendekati Amartha dan Satya.


"Terima kasih, Kak..." ucap Amartha pada Firlan. Wanita itu kini beralih menatap suaminya, Satya mencoba bangun namun dicegah oleh istrinya. Amartha meraih sebuah remote controll.


Mata elang Satya tak lepas dari sosok makhluk yang sangat ia rindukan beberapa hari ini. Amartha mengatur tempat tidur Satya, agar suaminya itu bisa menikmati posisi setengah duduk.


"Segini udah cukup?" ucap Amartha.


"Kamu belum jawab pertanyaanku tadi, Yank ... kamu tau aku disini dari siapa?" Satya mengulang pertanyaannya lagi. Namun, Satya sudah bisa menebak jika Firlan yang memberitahu Amartha.


"Ah, kan sudah saya katakan, jangan sampai istri saya tau Firlan!" Satya menatap Firlan kesal. Satya takut terjadi sesuatu dengan Amartha dan calon anaknya yang menempuh perjalanan selama berjam-jam.


"Mereka berdua memaksa saya, Tuan." Firlan membela diri, dia tidak mau disalahkan.


"Siapa?" tanya Satya.


"Vira dan juga Nyonya," jawab Firlan sambil melihat Amartha yang langsung menepuk lengan suaminya.


"Kamu sakit aja masih punya tenaga buat marahin Firlan! tapi nggak ada tenaga buat telfon aku. Kamu jahat tau, nggak?" ucap Amartha yang memukul dada suaminya. Satya mencekal tangan istrinya itu dan langsung mencium bibir istrinya.


Amartha memukul kembali dada Satya saat pria itu menciumnya secara tiba-tiba. Sedangkan Firlan yang melihat adegan sosor menyosor pun langsung undur diri, mungkin dia ingin mencari tembok mana yang bisa dia peluk.


"Kalau begitu, saya permisi," ucap Firlan segera berbalik dan berjalan menuju pintu.


"Dasar bos sableng! main sosor aja, nggak liat ada manusia lain masih di dalem apa!" umpat Firlan yang langsung menutup pintu dari luar.


"Ay?" seru Firlan saat melihat kekasihnya duduk di depan ruang rawat Satya.


"Kok kamu nunggu disini? kenapa tadi nggak ikutan masuk?" Firlan duduk disamping Vira. Wanita itu tersenyum.

__ADS_1


"Nungguin kamu keluar," sahut Vira nyengir.


"Udah malem, kamu pasti kedinginan..." ucap Firlan membuka jas hitamnya dan memakaikannya pada Vira.


"Kalau aku yang pakai mirip orang-orangan sawah! mending kamu yang pakai aja, Ay..." ucap Vira yang akan melepas jas hitam itu.


"Pakai dan jangan ngebantah!" tegas Firlan, Vira pun manut saja.


"Kamu udah makan?" tanya Firlan, ia menggenggam tangan Vira yang sangat dingin. Wanita itu hanya memakai jeans dan blouse yang kini tertutupi oleh jas kekasihnya.


"Belom," sahut Vira.


"Keluar, kita cari makan," ucap Firlan yang mengajak Vira bangkit dari duduknya.


"Lalu mereka?"


"Nggak bakalan inget makan mereka mah. Lagi main ikan lohan," ucap Firlan ngasal yang menarik paksa lengan Vira untuk mengikutinya berjalan meninggalkan rumah sakit


"Emang ada ikan di dalem?" tanya Vira saat mereka sudah di depan lift.


"Ada. Udah ah, yuk laper dari siang aku belum makan," jawab Firlan yang segera masuk ke dalam lift dan diikuti Vira yang masih bingung.


Wanita itu berjalan dengan langkah yang percaya diri, ia merapikan kardigannya sebelum memegang handle pintu.


Dan dua orang yang sedang saling menyalurkan kerinduan tersentak kaget ketika seseorang menerobos masuk ke ruangan itu tanpa mengetuk pintu.


Amartha dan Satya segera melepaskan tautan bibirnya, ketika menyadari pintu ruangan yang terbuka secara tiba-tiba. Namun terlambat orang tersebut sudah melihat semuanya. Amartha pun memalingkan wajahnya, malu.


"Ivanka?" gumam Satya. Mendengar nama Ivanka, Amartha langsung menoleh ke arah pintu


"Hem, maaf. Saya sudah mengetuk pintu, tapi sepertinya kalian tidak mendengar," ucapnya gugup, padahal ia sama sekali tak mengetuk pintu. Wanita itu kemudian menutup pintu dari dalam, dan ia memasang wajah datarnya. Walaupun sebenarnya ia terkejut melihat sepasang suami istri yang sedang melakukan sesuatu.


"Kita lanjutkan nanti," bisik Satya pada istrinya yang tak melepaskan pandangannya dari Ivanka. Amartha beralih menatap Satya dan tersenyum.


Sedangkan Satya menatap Ivanka penuh selidik. Mengapa wanita itu sampai datang kemari.


"Beberapa hari lagi saya akan terbang ke swiss, dan ada beberapa hal yang perlu kita bicarakan, saya harap anda tidak keberatan," ucap Ivanka pada Satya dan tersenyum tipis pada Amartha.


"Duduklah," ucap Satya dingin. Ivanka menarik kursi di samping ranjang Satya, ia menumpangkan kaki kanannya diatas kaki kirinya.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku pergi saja, Mas?" ucap Amartha yang akan beranjak dari ranjang Satya. Pria itu menggeleng.


"Tetap disini, seperti ini. Sudah malam, tidak baik wanita hamil berjalan sendirian di lorong rumah sakit," kata Satya yang menggenggam tangan istrinya. Ivanka yang melihat itu berusaha untuk tidak cemburu.


"Anda tentu tidak keberatan jika istri ikut mendengarkan pembicaraan kita, kan?" ucap Satya pada Ivanka.


"Apa anda yakin, Tuan?" kata Ivanka yang mendapat tatapan tajam dari Satya. Sedangkan Amartha mengernyit heran.


"Maksud saya, saya takut istri anda akan jenuh," lanjut Ivanka.


Tak berapa lama ada panggilan masuk dari Sandra, Amartha meminta ijin untuk menerima panggilan telepon sebentar di luar ruangan.


"Disini aja," Satya mencekal tangan istrinya.


"Cuma sebentar nanti aku masuk lagi. Lagian di depan ada Vira sama kak Firlan," ucap Amartha, dia tidak tahu kalau Vira sudah pergi. Ivanka yang memang tidak melihat siapapun di luar ruangan itu hanya mengendikkan bahunya, dengan menyembunyikan senyumnya.


"Ya udah, tapi sebentar aja," Satya melepaskan cekalan tangannya.


"Saya tinggal dulu Nona Ivanka," ucap Amartha sebelum melangkah pergi.


"Kenapa kamu menghindariku, Pak Satya? apa karena pembicaraan kita tempo hari?" tanya Ivanka yang berdiri dan duduk di samping ranjang Satya.


"Ini yang anda bilang urusan pekerjaan?" bukannya menjawab Satya malah balik bertanya.


"Ya urusan pekerjaan yang dibalut dengan urusan hati, apakah kamu mau membantuku? anggap saja ini adalah bisnis, yang saling menguntungkan. Aku mendapat status, dan kamu mendapatkan beberapa aset milikku," ucap Ivanka.


"Sadarlah Ivanka, saya pria beristri." tegas Satya.


"Lagipula dengan bicara seperti itu, anda merendahkan sebuah pernikahan. Pernikahan bukanlah sebuah bisnis, yang melihat sisi untung dan rugi. Banyak pria di luar sana yang mungkin bisa mencintaimu dengan tulus," ucap Satya dengan mengatur volume suaranya. Dia tidak ingin Amartha mendengarkan apa yang mereka bicarakan.


"Mungkin kamu ingin menjadi salah satunya," ucap Ivanka, Satya hanya menggeleng nelihat wanita yang sungguh keras kepala.


"Sebentar lagi kamu akan membutuhkanku, ketika istrimu melahirkan dan sibuk dengan bayinya, aku yakin kamu akan merindukan sebuah sentuhan," bisik Ivanka, wanita itu berusaha untuk melakukan hal yang lebih. Namun Satya dengan cepat menjauhkan wanita itu.


Mendengar seperti ada barang yang jatuh dari dalam, Amartha segera mengakhiri pembicaraannya dengan Sandra dan segera membuka pintu.


"Ada apa, Mas?" tanya Amartha.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2