
Dengan susah payah dan segala perjuangan yang tak mudah akhirnya, Firlan mendapatkan es rujak serut atas petunjuk Vira, itu juga berbekal tanya sana sini di grup chatnya. Setelah mengantar pesanan bos, pria itu berharap bisa segera pulang ke rumah dan merebahkan tubuhnya di atas hamparan ranjang yang empuk.
Sang asisten mengetuk pintu kamar rawat istri bosnya, dan tak lama pintu terbuka menampilkan wajah kusut Satya. Firlan mengernyit heran melihat penampilan bosnya yang terlihat kacau dan sangat pucat
"Masuk," ucap Satya lemas, pria itu langsung berbalik dan meninggalkan pintu terbuka.
"Tutup pintu jangan lupa!" lanjut Satya yang main ngeloyor aja duduk di sofa, menyandarkan punggungnya dan sesekali tangannya memijat pelipisnya.
Firlan hanya geleng-geleng melihat kelakuan bosnya, jelas-jelas melihat dia yang kerepotan membawa barang, si bos malah main ngeloyor sambil pijit-pijit jidatnya. Sang asisten dengan susah payah menutup pintu dengan badannya karena tangan kanannya membawa koper dan tangan satunya lagi membawa es rujak serut. Pria itu segera membebaskan tangannya dari barang bawaan.
Sedangkan Amartha sedang di tempat tidur dengan posisi setengah duduk, ia tampak asik dengan game di ponsel barunya.
"Kalau mau minum, ambil sendiri di minibar, Lan!" ucap Satya sambil menunjuk ke arah minibar di salah satu sudut kamar itu, kamar yang sangat luas dan dilengkapi dengan meja makan.
"Untuk anda, Tuan." ucap Firlan sembari membawa sebuah kopi instant kemasan kaleng dengan rasa vanilla latte kesukaan bosnya, yang baru dikeluarkan dari kulkas.
"Buat kamu aja, Lan ... saya lagi nggak suka kopi," ucap Satya yang kini menegakkan tubuhnya, Firlan membuka tutup kaleng dan menenggak minuman dingin itu.
"Ada sesuatu yang serius, Tuan?" lanjut Firlan setelah menaruh kembali minuman yang berada ditangannya.
"Duduklah, aku mencurigai Ashraf dalang dibalik hengkangnya para investor di perusahaan,"
"Anda benar, Tuan. Karena menurut info yang saya dapatkan dari orang kepercayaan kita, mereka semua satu persatu bergabung dengan Lead Corporation," ucap Firlan yang membuat kepala bosnya berdenyut nyeri, bukan karena apa yang sedang mereka bahas, tapi karena memang tubuhnya yang sedang tidak menentu.
"Selidiki siapa pemilik perusahaan itu," ucap Satya yang langsung diangguki oleh Firlan.
"Oh, ya ... ini pesanan anda, Tuan!" ucap Firlan menunjuk sebuah kantong berwarna putih, Satya menghentikan aktivitasnya dalam meredakan serangan nyeri di kepalanya.
__ADS_1
"Emangnya saya pesan apa?" tanya Satya, mengingat-ingat sesuatu yang mungkin terlupakan olehnya.
"Es rujak serut, Tuan..." sahut Firlan sambil mempersilahkan bosnya membuka isi dalam kantong plastik.
"Masa sih?" Satya malah balik bertanya yang membuat Firlan lemas seketika.
"Allahu akbaaarrr," Firlan mengelus dadanya sambil menatap bos yang kini malah garuk-garuk kepala, membuat Amartha yang sedari tadi fokus dengan ponselnya, kini mengalihkan pandangannya ke arah dua orang yang sedang meributkan sesuatu.
"Oh iya ya? terus itu kenapa kamu bawa banyak banget?" ucap Satya yang mengeluarkan satu persatu es rujak serut yang di taruh dalam sebuah wadah mangkok plastik yang kedap udara.
"Berhubung saya tidak tau tingkat kepedesan yang Tuan inginkan, jadi saya suruh aja itu yang jual bungkusin perlevelnya, dari yang tidak pedas, sedang, pedas, super pedas, pedas jahanam," ucap Firlan yang membuat Satya mengecek tulisan yang ada di mangkok itu, dan pria itu mengernyit sambil melihat asistennya.
"Ada gitu es rujak serut pake level? baru denger," ucap Satya yang membuka salah satu mangkok yang tertutup rapat, dan dilihatnya rujak yang sangat menggiurkan dengan buah yang diserut halus beserta kuah yang berwarna merah bercampur dengan es yang di blend dengan tekstur seperti salju.
Firlan sengaja menyimpannya di dalam freezer portable di dalam mobilnya, membuat tersebut tidak mencair ketika dibawa dalam perjalanan menuju rumah sakit
"Maas, ih! jangan bikin orang emosi, deh!" ucap Amartha yang sudah tidak tahan melihat Satya yang terus saja ngoceh nggak jelas, sementara wajah Firlan sudah sangat lelah.
"Mas beli apa sih?" tanya Amartha yang ingin tahu dan turun dari ranjangnya.
"Es rujak serut. Kamu kenapa turun?" ucap Satya saat melihat istrinya sudah mendorong tiang infusnya mendekat ke arah Satya. Pria itu langsung bangkit dan membantu istrinya.
"Pelan-pelan duduknya," kata Satya yang memperlakukan istrinya dengan sangat lembut, pria itu segera duduk di samping istrinya. Firlan hanya tersenyum melihat perhatian bosnya pada wanita yang kini memakai piyama lengan panjang berwarna maroon itu.
"Iya Mas, aku tau..." ucap Amartha seraya melihat es yang ada di meja.
"Kayaknya enak, aku mau!" Amartha melihat Satya dengan mata yang mengiba, wanita itu tak kuasa menaham keinginannya untuk mencicipi es yang sudah pasti rasanya asam, manis dan mungkin pedas.
__ADS_1
"Eiits ntar dulu, ayah cicipin dulu, takutnya kepedesan buat si dedek," ucap Satya yang membuka sealler pada mangkok plastik yang bertuliskan tidak pedas.
"Dedek? dedek siapa, Tuan? perasaan nggak ada anak kecil," Firlan celingukan, dia tak menemukan bocah satu pun di ruangan itu, membuat Firlan bergidig ngeri barangkali bosnya memiliki indra ke-6 atau ke-7, sehingga dapat melihat makhluk ghoib.
"Anak saya, Lan!" ucap Satya menepuk jidatnya melihat Firlan yang celingukan, dan kini asistennya malah tambah bingung.
"Anak?" lirih Firlan yang masih terdengar oleh Satya, membuat Satya menghembuskan nafasnya, dongkol.
"Istri saya lagi hamil, dia mau nyicipin nih rujak, biar saya cicipin dulu, kepedesan nggak, ibu hamil nggak boleh makan sembarangan. Oh ya, ini ada nanasnya nggak?" ucap Satya sambil melihat serutan buah.
"Tidak ada, Tuan." sahut Firlan yakin.
"Beneran?" Satya mengaduk aduk esnya.
"Tentu! karena saya lihat sendiri buah apa saja yang mereka pakai, dan memastikan semuanya dalam keadaan baik," kata Firlan. Kemudian Satya mencicipi buah dan kuah rujak yang dingin dan segar.
Setelah dirasa aman untuk dimakan oleh istrinya, Satya memberikan mangkuk itu pada Amartha. Wajah wanita itu berbinar saat melihat es rujak ada di hadapannya. Amartha mulai menyendokkan es ke dalam mulutnya.
"Oh, selamat atas kehamilannya, Nyonya ... semoga calon bayinya kelakuannya tidak mirip dengan Tuan Satya!" ucap Firlan sambil menengadahkan tangannya dan mengusap wajahnya seperti orang yang sedang berdoa.
"Aaamiiin!" sahut Amartha sambil terkekeh.
"Ish kalian ini bisa kompak begitu, ya? jangan2 gara-gara nih orang udah pacaran Vira ya, Yank?" celetuk Satya yang membuat istrinya tersedak.
"Uhukkk uhukkk!" Amartha terbatuk.
"Apaaaaaa? pacaran?" seru Amartha sambil melihat ke arah Firlan yang mati kutu.
__ADS_1
...----------------...