
"Kamu pergi sama aku, emang orangtuamu nggak nyari?" tanya Firlan.
"Dari tadi aku nggak liat orangtuamu yang mana, aku nggak mau ya dikira nyulik anak orang!" cerocos Firlan sembari menyeruput orange juice miliknya.
"Mereka emang nggak dateng kok! tenang ajah, nggak akan ada yang nyari," ucap Vira santai sambil memasukkan satu potong daging ke dalam mulutnya.
"Uhukk!" Firlan terbatuk saat mendengar jawaban dari gadis sengklek di hadapannya.
"Minumnya hati-hati, Bang! jadi keselek, kan!" ucap Vira yang kemudian menatap Firlan.
"Maaf!" kata Firlan singkat.
"Santai aja, Bang! udah biasa nggak di perhatiin orangtua ... mungkin mereka lupa masih punya anak, hehehe," Vira melanjutkan makannya, sedangkan Firlan merasa bersalah telah menanyakan hal itu pada Vira.
Pasti gadis itu sedang sedih, di hari yang sepenting ini orangtuanya tidak ada yang hadir satu pun. Ternyata dibalik keceriaannya terselip luka yang dalam.
"Kamu nggak punya saudara?" tanya Firlan menatap Vira dengan intens.
Baru kali ini dia sangat kepo tentang hidup seseorang, biasanya dia tidak begitu tertarik dengan kehidupan oranglain.
"Ciyeee, yang mau tau aja apa mau tau banget?" goda Vira yang membuat Firlan memutar bola matanya malas.
"Ish!" Firlan mendengusbkesal mendengar jawaban Vira.
"Hahahah, jangan marah-marah mulu, nanti cepet tua ... aku anak tunggal, orangtuaku sibuk cari uang, sampai aku lupa kapan terakhir aku berbincang dengan mereka," jelas Vira dengan santai menatap Firlan.
"Nggak usah merasa kasian, karena aku paling nggak suka dikasihani sama oranglain," lanjut gadis itu dengan mengulas sebuah senyuman.
Firlan jadi merasa sedikit tidak enak hati, melihat Vira yang makan dengan senyum yang sedikit dipaksakan. Setelah mereka menyelesaikan makan siang yang sudah sangat terlambat itu, akhirnya Firlan menawarkan untuk mengantar Vira pulang ke kos nya.
"Ehem, udah sore, aku antar kamu ke kosan kamu, ya?" ucap Firlan sembari bangkit dari kursinya setelah membayar bill makanan.
"Wow, makasih banget loh, Bang!" ucap Vira dengan kegirangan.
__ADS_1
"Nggak usah GR! ini cuma, cuma atas dasar rasa kemanusiaan!" kata Firlan seraya melangkahkan kakinya keluar dari restoran.
"Tunggu, Bang!" teriak Vira seraya mengejar Firlan dengan baju kebaya yang lumayan bikin gelut.
Firlan hanya tersenyum misterius, melihat Vira dengan cepat merubah suasana hatinya yang tadinya mendung sekarang berubah menjadi ceria, seperti mentari yang bersinar di pagi yang cerah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kamu istirahat ya, hari ini aku langsung pulang, besok ada pertemuan dengan client, ada project besar," ucap Satya sembari menggenggam tangan Amartha. Mereka duduk di kursi yang ada di teras.
"Iya, Mas..." jawab Amartha singkat.
"Kok aku nggak ditahan, sih? main iya iya aja!" ucap Satya mode merajuk, Amartha mengerutkan keningnya melihat tingkah pria dewasa di depannya ini.
"Lah, kan tadi Mas bilang mau ketemu client penting besok, ya gimana? aneh ih!" Amartha mencebikkan bibirnya, sampai saat ini dia bingung kenapa dia bisa memutuskan untuk memilih menerima lamaran Satya.
"Hahahahahha, kamu gemesin, deh!" ucap Satya sembari menowel hidung Amartha yang mancung.
"Ih, dibilangin jangan suka nowal-nowel, ih!" Amartha mendengus kesal, namun sesaat kemudian dia tersenyum melihat Satya yang memandangnya dengan penuh cinta.
"Liatinnya gitu amat? ehem, iya aku tau kalau aku ganteng, tapi-"
"Ih, apaan sih? ih ... pede banget!" ucap Amartha sambil mencubit pinggang Satya dan membuat pria itu kegelian.
Saat dua sejoli sedang cubit mencubit, sebuah mobil terparkir di depan kosan bercat putih itu. Amartha memperhatikan siapa yang keluar dari mobil itu, Satya yang melihat Amartha begitu fokus menatap sebuah mobil di depan kosannya itu pun tersenyum.
"Nggak usah diliatin terus, itu Firlan!" kata Satya yang melepas jasnya dan menggulung kemejanya sampai siku, dia menyampirkan jasnya di tangan kirinya.
Tak berapa lama, Vira muncul dengan wajah yang bersemu. Dia tidak pernah melihat Vira seperti itu. Vira yang tak pernah kapok untuk kopi darat namun hasilnya gitu-gitu ajah, hari ini terlihat begitu bahagia. Namun berbeda dengan orang yang berjalan di belakangnya, pria itu nampak datar-datar saja seakan tak ada orang uang berada di depannya.
"Sudah selesai pacarannya, Tuan?" tanya Firlan dengan muka yang sudah sangat lelah.
"Sebentar," sahut Satya sang bos yang suka menyiksa asistennya dengan perintah-perintah dadakan.
__ADS_1
"Sayang, aku pergi ya? oh ya, mana kotak cincin tadi?" tanya Satya pada Amartha.
"Ini, kenapa emang?" jawab Amartha sembari mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tas nya.
"Mana?" Satya menengadahkan tangannya meminta barang yang ia sebutkan tadi.
"Ini, ih kok mau diminta lagi, sih!" ucap Amartha tidak rela, setelah menyerahkan kotak itu pada Satya.
Pria itu lantas membuka kotak kecil itu lalu mengambil cincin yang ada di dalamnya, kemudian menyematkannya di jari manis Amartha. Amartha hanya diam saja, mendapat perlakuan manis seperti itu dari Satya. Tanpa sadar ada seulas senyum yang terbit dari bibirnya.
"Nah, kalau kayak gini kan cantik! ya udah, aku pergi..." ucap Satya seraya mencium punggung tangan Amartha.
"Iya, Mas," sahut Amartha singkat, berusaha menyembunyikan pipinya yang merah merona.
Satya langsung bangkit dari duduknya, diikuti oleh Amartha. Dengan cepat, Satya mencium kening Amartha dan segera melangkahkan kakinya menuju sebuah mobil berwarna hitam, meninggalkan Amartha yang masih berdiri mematung setelah mendapat serangan tiba-tiba.
"Ehem, jiwa jombloku merontaaaaa liat kalian berdua," ucap Vira menyadarkan lamunan Amartha.
"Ehem, ciye yang udah dilamar," goda Vira sambil menyenggol lengan Amartha.
"Udah ah, yuk masuk!" ucap Amartha seraya menggandeng Vira untuk masuk ke dalam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kenapa kamu berubah, Mas?" ucap Sinta yang sedang bermonolog.
"Setelah aku sembuh kenapa sikapmu berubah? Aarggghhh!" teriak Sinta frustasi.
Gadis itu memukul stirnya, dia sangat kecewa dengan sikap Kenan yang mulai acuh terhadap dirinya.
"Ini semua pasti gara-gara kamu Amartha! jika aku tak bisa mendapatkan Kenan, maka kau pun juga!" ucap Sinta dengan penuh amarah.
Sinta selalu mencurigai sikap Kenan berubah karena Amartha. Padahal selama satu tahun itu, mereka tidak pernah sekalipun bertemu, bahkan Amartha sudah mengganti nomor ponselnya, semua media sosialnya tak lagi digunakannya, sehingga tak ada akses untuk Kenan menghubungi dirinya.
__ADS_1
Sinta sudah tahu, Amartha dan Kenan telah berpisah, namun dia selalu khawatir jika Kenan akan kembali pada Amartha. Maka dari itu, dia beberapa bulan terakhir berpura-pura masih sakit, dan harus kontrol ke rumah sakit, padahal itu semua akal-akalannya agar tak kehilangan perhatian Kenan.
...----------------...