
Setelah puas seminggu di negeri gajah putih, akhirnya Sandra pulang juga ke rumah, dengan membawa berbagai macam oleh-oleh untuk anak dan calon menantunya.
"Sayang..." seru Sandra ketika baru saja masuk ke dalam rumah megah miliknya.
"Maaamiiiii!" teriak Prisha seraya berhambur ke pelukan sang mami tercinta.
"Mammiiiii akuuu kangen ," rengek Prisha manja, memeluk erat sang mami seakan tak mau terpisah.
"Iya, Mami juga kangeeeen banget sama anak gadis mami ini," Sandra mengusap pucuk kepala putrinya.
"Cuma sama Mami aja kangennya? sama papi nggak?" kata Abiseka membuat Prisha melepaskan pelukan Sandra dan beralih memeluk papinya.
"Ya sama papi juga, lah..."
"Gimana? semuanya aman?" Sandra bertanya pada Prisha membuat Abiseka mengernyit heran. Prisha melepaskan pelukannya.
"Aman, Mam!" ucap Prisha sambil mengerlingkan sebelah matanya.
Mereka bertiga duduk di ruang tamu, sementara para pelayan sibuk mengangkat koper-koper.
"Pasti dia kesel banget ya, Sayang?" Sandra terkekeh saat membayangkan wajah Satya yang kesal karena dijahili adiknya.
"Wohooo udah pasti itu, Mam!" celetuk Prisha, sementara Abiseka memilih diam, dia tidak mengerti apa yang dibicarakan antara istri dan anaknya.
"Amartha mana?" Sandra mencari-cari dimana calon menantunya.
"Lagi kencan sama anaknya Mami," sahut Prisha.
"Oh ya, Sayang ... mami bawain mango cake kesukaan kamu, loh..." ucap Sandra seraya menujuk koper-koper yang satu persatu masuk ke dalam rumah
"Waaaah, mauuu dong!"
"Mami juga bawain keripik durian, terus apa lagi, ehm ... manisan tropical fruit, ada banyak pokoknya, nanti kamu liat aja sendiri," ucap Sandra membuat Prisha yang doyan ngemil pun melengkungkan senyuman manisnya.
"Mami kamu, bawa cemilan sampe 3 koper besar tuh," celetuk Abiseka.
"Jadi Papi protes nih ceritanya?" Sandra melirik suaminya.
"Nggak Mam, nggak ... jangankan 3 koper, satu toko oleh-oleh itu Papi beli juga sanggup!"
"Pih? kok tumben perginya lama? emang ada masalah yang serius disana?" tanya Prisha yang penasaran, lagipula papinya membawa serta sang Mami, membuat Prisha semakin bertanya-tanya.
__ADS_1
"Nggak Sha, nengokin perusahaan mah nggak ada sehari, sisanya buat pacaran, Sha..." celetuk Abiseka yang membuat pipi Sandra merah merona.
"Ihhh, Papi, so sweet bangeeeeett," ucap Prisha yang melihat papi maminya masih mesra diusia yang tidak lagi muda.
"Ya udah, Mami sama Papi istirahat dulu, ya?" ucap Sandra sembari mengajak suaminya untuk pergi ke kamar mereka.
"Okeeee Mam!" ucap Prisha sebelum orangtuanya meninggalkan ruang tamu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara ditempat lain.
"Akhirnya, bisa ngedate juga sama kamu, Yank..." ucap Satya setelah lampu diruangan itu dipadamkan, dan suara mulai terdengar menggema ke seantero ruangan.
"Jangan berisik, Mas... filmnya udah mau mulai," bisik Amartha seraya menyeruput minuman bersoda.
"Yank, minta dong..." ucap Satya manja.
"Kan kamu juga punya, Mas ... tadi kan kamu beli dua, kan?" ucap Amartha dengan mode bisik-bisik .
"Rasanya beda, Yank ... itu kan, ada bekas bibir kamu, Yank..." celetuk Satya yang membuat Amartha tersedak minumannya
"Uhuk, uhuk," Amartha menaruh minumannya.
"Ssssssttttt..." suara seseorang dibelakang menyuruh kedua sejoli itu untuk diam.
Amartha menaruh jari telunjuknya didepan bibirnya, memberi isyarat agar pria itu diam. Kemudian, Amartha mengalihkan pandangannya ke layar besar yang ada di depannya, menonton film yang sedang diputar.
"Kamu nggak takut?" ucap Satya ketika film itu menampilkan sebuah scene, dimana tokoh wanita dikejar-kejar oleh makhluk yang sangat menakutkan dengan lengkingan suara yang mengerikan, suara sang tokoh wanita sangat memilukan saat dirinya terjebak disuatu ruangan gelap dan pengap. Makhluk itu semakin mendekat padanya dengan wajah yang sangat menjijikkan, wanita itu meronta-ronta meminta pertolongan.
"Nggak," sahut Amartha datar, tanpa menoleh sedikit pun. Wanita itu masih fokus menonton, dan sesekali memakan popcorn rasa caramel yang dibeli Satya sebelum masuk ke dalam ruang bioskop. .
"Takut dong, Yank..." ucap Satya yang kecewa dengan respon Amartha.
"Ih, maksa..." celetuk Amartha yang membuat Satya kesal. Dia mengajak Amartha nonton film horor kan supaya bisa dipeluk, kalau setannya muncul Amartha berlindung di pelukannya, ya selayaknya orang nonton film horror pada umumnya. Satya hanya mencebikkan bibirnya, kesal karena salah memilih genre film.
Pantas saja sewaktu pria itu mengatakan dia ingin menonton film horor, Amartha langsung mengangguk setuju. Ternyata wanita yang disampingnya ini tidak takut nonton filmbyang berbau horor. Jika tau dari awal akan seperti ini, lebih baik dia memilih film yang romantis, agar bisa curi-curi satu atau dua kecupan.
Sementara orang-orang di ruangan itu menjerit ketakutan, Amartha malah hanya diam dan fokus menonton, membuat Satya frustasi dibuatnya.
Sedari awal film diputar, ia tak mengerti jalan ceritanya, dia hanya sibuk melihat kekasihnya yang tak memperdulikannya sama sekali.
__ADS_1
"Kamu nggak capek? nih bahu aku nganggur loh, Yank..." ucap Satya yang sambil menepuk bahunya, pria itu masih saja usaha supaya bisa mesra- mesraan.
"Atau kamu mau sandaran disini juga boleh," ucap Satya selembut mungkin, yang saat ini menunjuk dadanya yang kalau buat nyungsep pasti enak banget. Seketika Amartha menoleh ke arah pria itu, membuat Satya tersenyum senang.
"Yank diem ... aku nggak konsen nonton, nih..." Amartha malah melirik Satya kesal.
Pria itu kemudian menutup mulutnya, tak bersuara. Namun dia juga tidak tertarik untuk menonton, sesekali ia melihat Amartha yang tak melepaskan pandangannya dari layar.
"Yank, kamu nggak haus?" tanya Satya sembari menyodorkan minuman bersoda miliknya.
"Nggak, Yank..." tolak Amartha, yang menjauhkan papper cup jumbo yang ada didepannya.
"Yank? itu ceweknya mati diapain?" Satya lagi- lagi mengganggu Amartha menonton, membuat wanita itu sangat kesal.
"Diem, Yank..." Amartha ingin sekali menyumpal mulut Satya.
"Yank...?" Satya menaruh minumannya, dan menusuk-nusukkan telunjuknya di pipi kekasihnya itu, tanpa menjawab Amartha menepis jari Satya, kemudian menggenggam tangan itu supaya tidak memgulangi apa yang dilakukannya tadi.
"Yank," Satya memanggil pujaan hatinya, namun tak mendapatkan respon selain jari jemari yang saling bertautan, selebihnya semuanya gagal.
Waktu terus berputar, film sepertinya hampir selesai, namun tak satupun adegan mesra yang ia dapatkan. Di rumah, ada monster kecil yang selalu ngikutin kemanapun Amartha berada, membuat Satya tak bisa berkutik.
"Yank..." untuk yang kesekian kalinya Satya memanggil wanita yang disampingnya.
"Elah, dicuekin ... kamu kok nyuekin aku sih, Yank?"
demi apapun Satya beneran rese malam ini, membuat Amartha lantas menoleh ke arah pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
"Iya, Mas ... Kenapa?" ucap Amartha kesal.
CUP
Sebuah benda kenyal terasa di keningnya, menyalurkan sensasi lembut dan hangat.
Seketika pandangan mereka bertemu, Satya semakin mendekatkan wajahnya, sementara Amarta memejamkan matanya, tiba- tiba lampu utama dinyalakan dan semuanya nampak terang benderang. Seketika para pengunjung bersorak saat melihat Satya akan menc*um Amartha.
"Wuuuuuuuuuuuuu!" teriak para pengunjung.
...----------------...
Semangat double up up up di hari ke 7....
__ADS_1
maaf kalau ada typo2 bertebaran.