
"Astagfirllah, ngagetin aja kamu, Mon!" pekik Satya, seraya mengelus dadanya.
"Aku udaaaah sa-sayang ... malah, malah di-putuss-in...hwaaaaa..." ucap Prisha sesenggukan dengan air mata yang sudah tumpah.
"Tunggu, tunggu, pacar kamu ini manusia apa makhluk ghoib, Mon?" tanya Satya. Amartha hanya tepok jidat mendengar pertanyaan dari Satya untuk Prisha.
"Yaa manusia lah, masa setan! sembarangan aja kalau ngomong! orang lagi sedih juga," ucap Prisha yang sudah menghentikan makannya, dengan tangan blepotan sambal.
Kalau nggak ingat dosa, pasti dia sudah meraupkan sisa sambal ke wajah abang yang jauh dari kata kalem itu.
"Abang malah terkejut sampe pengen nangis loh, kamu ternyata udah punya mantan pacar, mungkin dia mutusin kamu karena udah nggak kuat lahir batin sama kelakuan kamu yang ajaib ini, Mon! dan demi menyelamatkan kesehatan mentalnya, akhirnya dia mutusin kamu, Mon!" ucap Satya serius, serius menahan tawa.
"Mbak! suaminya buang aja sih ke tong sampah! orang lagi sedih butuh dihibur bukan malah dikatain," Prisha ngambek.
"Maksud abang, kamu jangan cuma lihat dari sisi negatifnya dulu, kamu yang udah bucin tingkat dewa, diputusin langsung mewek kayak gini makan sampai nggak eling daratan!" kata Satya dengan suara dilembut-lembutin.
"Kalau berani kenal cinta, harus siap untuk terluka dan patah hati, artinya jika dia memutuskan hubungan kalian, berarti kalian nggak jodoh, kalau kalian emang ditakdirkan bersama, tuh orang bakalan balik sama kamu," ucap Satya sambil melirik Amartha sambil menaik turunkan alisnya.
"Tapi ... tapi kan aku cinta sama dia," kata Prisha, yang sempet-sempetnya nyeruput sisa es jeruknya, kebanyakan nangis kering tenggorokan.
"Tapi dia nggak cinta sama kamu, kalau dia cinta dia nggak akan ninggalin kamu, dia akan bertahan di samping kamu walaupun jiwanya terguncang karena kelakuan kamu yang aneh-aneh, dia akan stay ... dia nggak akan keman-mana," kata Satya.
Amartha tak habis pikir dengan suaminya itu, pria itu memberi semangat dengan caranya yang aneh.
"Sabar, Sha ... stok cowok di dunia ini masih banyak, jangan nangisin satu orang yang bikin kamu sakit hati," lanjut Satya.
"Jangan nangis lagi, Sha..." Amartha mengelus punggung adik iparnya itu.
"Stok cowok emang banyak tapi yang ganteng dan tajir melintir kan jarang, lagian dia tuh perfect banget buat aku," ucap Prisha.
"Itu pacar nemu dimana, sih? bikin orang susah move on, aja! nggak ada di dunia ini manusia yang sempurna," kata Satya.
"Masa, masa dia ... dia nikah sama yang lain, padahal kan kita udah pacaran sebulan..." ucap Prisha sesenggukan, Satya hanya bisa ngelus dadanya, jengkel.
__ADS_1
"Astagfirllah, ditanggepin bener-bener ternyata pacaran baru sebulan, aiihhhh bener-bener nih bocah!" gumam Satya, Amartha hanya bisa menahan senyumnya melihat suaminya sangat frustasi menghadapi kelakuan sang adik.
"Ak-aku nggak terima, masa dia nikah di hari yang sama dengan kepulangan aku kesini, Frans ... kenapa kamu tinggalin aku Fraaaaaansss!" Prisha meraung, hampir saja tangan yang blepotan sambal akan menyentuh wajahnya jika tidak ditahan oleh Amartha.
"Kalau dia udah jadi hak milik orang lain ya kamu coba ikhlasin, kamu harus tau batasan perjuangin seseorang, Prisha! pesen abang cuma satu, jangan sampai kamu ngerusak rumah tangga orang lain! kalau mau berbuat sesuatu otak dipanggil dulu, dikonekin dulu..." ucap Satya sambil melipat tangannya di dadanya.
"Kayak abang nggak pernah bucin aja! paling teori doang pinter, prakteknya mah bucin lagi bucin lagi, kliatan tuh di jidatnya abang! iya kan, Mbak?" kata Prisha, mencari dukungan kakak iparnya.
"Siapa tadi nama pacar kamu?" tanya Satya.
"Frans," sahut Prisha.
"Udah pasti banyak cowok yang lebih baik dari si Frans itu, buang-buang waktu doang kamu merana kayak gitu," kata Satya. dia tidak ingat dulu dia juga merana saat Amartha menikah dengan Kenan.
"Tapi kan, aku ngerasa udah paling cocok sama Frans," protes Prisha
"Hati aku tuh sakiit sampe bunyi kretek-kretek!ancur sudah semua mimpi indah aku sama Frans," kata Prisha.
"Kamu tau darimana itu cowok nikah?" tanya Satya.
"Ya siapa tau dia lagi parodiin acara nikahan biar hafal pas nikah sama kamu," ucap Satya.
"Orang di captionnya bilang 'We married' dan foto-fotonya banyak tuh dari segala angle, dan tadi pagi dia telfon bilang kalau dia nggak bisa sama aku, dia bilang hubungan kita cukup sampai disini. Kan sakit hati aku, Baaaaaang!" ucap Prisha dengan hidung kembang kempis.
"Oh ya berarti udah wassalam kalau kayak gitu, udah lah pacaran juga baru sebulan, berarti dy bukan yang terbaik buat kamu." ujar Satya.
"Terus siapa yang terbaik buat aku? siapa?" sentak Prisha pada abangnya.
"Ya mana abang tau! lama-lama bikin emosi, dah ... ngagetin mulu dari tadi, kasian tuh anak abang di dalem, kaget denger suara cempreng kamu," kata Satya.
"Maaf ya Nanakan, onti lagi merana ini. jadi tadi kelepasan..." ucap Prisha lembut pada jabang bayi yang ada di perut Amartha.
"Elap tuh air mata, sama ingus juga. Jangan sampe Mami liat kamu kayak gini, Mami bakal sedih," ucap Satya.
__ADS_1
"Ih, Abaaaaaaang!" pekik Prisha
"Berisik, Mon!" sahut Satya.
Akhirnya mereka pun pulang ke rumah. Selama di perjalanan Prisha hanya menatap ke luar jendela.
"Mon!" panggil Satya.
"Mon nggak lagi nyemilin ayam goreng, kan?" tanya Satya sambil melirik ke kaca spion.
"Mas, jangan rese, deh ... kasian tau!" ucap Amartha menyenggol lengan suaminya.
"Mon, kamu kan paling jago tuh belanja. Temenin mbak kamu yah, cari baju sama sepatu, abang ada meeting jadi nggak bisa nemenin. Kamu bisa kan, Mon?" tanya Satya, ia melirik istrinya dan tersenyum penuh arti.
"Ya," sahut Prisha irit.
"Katanya kemarin kamu minta sama papi pengen beli tas baru? udah di kasih belom duitnya sama papi?" tanya Satya memancing Prisha si monster kecil.
"Belom," jawab Prisha yang masih melihat ke arah luar jendela, meratapi nasib percintaannya.
"Ya udah, besok jadi sekalian kamu beli juga tas incaran kamu, abang bayarin!" kata Satya.
"Gimana? apa tadi? nggak begitu denger aku," Prisha mengelap matanya dan membenarkan posisi duduknya.
"Makanya kalau diajak ngomong jangan malah ngelamunin si baskom hajatan!" seru Satya, Amartha memilih untuk diam.
"Namanya Frans, Fraaaaannnnns! sembarangan ganti nama orang!" gerutu Prisha.
"Iya itulah, dengerin makanya kalau ada orang ngomong," ujar Satya, dia menarik nafasnya sebelum ngomong dengan kecepatan maksimal.
"Besok kamu bisa beli tas incaran kamu, abang yang bayarin!" kata Satya.
"Seriusan? yes! beneran ya? awas kalau bohong!" ucap Prisha antusias.
__ADS_1
...----------------...