
Satya segera mengejar istrinya yang sedang menaiki anak tangga. Amartha tak mau membahayakan anaknya, dia tetap berjalan hati-hati sampai akhirnya ia berhasil mencapai kamarnya.
"Yank, maaf..." rengek Satya. Amartha tak menghiraukan suaminya, ia membuka pintu dan masuk ke dalam kamarnya.
"Aku tau, aku salah. Maafin dong, Yank?" ucap Satya.
"Bukannya aku nggak suka, tapi beneran lupa..." lanjut Satya ia mendekati Amartha yang berdiri membelakanginya.
"Yank, kamu boleh marahin aku tapi jangan diem kayak gini. Hati aku cekit-cekit senat-senut nggak enak banget," Satya memegang kedua bahu Amartha, namun wanita itu segera menepis tangan kokoh suaminya.
Amartha mencium aroma yang sangat tidak disukainya. Bau parfum wanita dan yang jelas itu bukan miliknya.
"Lepas," Amartha menarik sedikit jas yang dipakai Satya.
"Biar aku sendiri aja yang taruh di keranjang," ucap Satya sambil melepaskan jas dari tubuhnya.
Amartha segera merebut jas itu dari suaminya, ia mencari sumber bau yang tadi sempat menusuk indera penciumannya.
"Habis ketemu siapa?" tanya Amartha dingin.
"Pak Irwan,"
"Yakin?" Amartha menatap suaminya dengan tatapan yang sangat sulit diartikan.
"Iya lah, yakin..." jawab Satya.
"Terus parfum wanita mana yang bisa nempel di jas kamu, Mas?"
"Ternyata bukan cuma bekal makanan yang kamu lupa, tapi kamu juga udah mulai bohong sama aku..." kata Amartha.
"Nggak mungkin kan? ini bau parfum Vira bisa nempel di jas kamu? sedangkan kamu salaman sama dia aja nggak. Dan ini juga bau parfum milikku," kata Amartha. Wanita itu sangat kecewa dengan Satya yang sudah mulai menyembunyikan sesuatu darinya.
"Astaga!" Satya baru ingat kalau dia bertemu dengan uler sawah di restoran.
"Aku mau ke rumah mami," ucap Amartha seraya melempar jas milik Satya ke sofa yang ada di kamar mereka.
"Aku bisa jelasin, Yank..." Satya mencegah istrinya untuk pergi meninggalkannya.
__ADS_1
"Setelah ketauan baru kamu mau jelasin ke aku?" tanya Amartha, cairan bening meleleh dari kedua netranya.
"Yank, jangan nangis ... aku bisa jelasin semuanya, kita duduk dulu, yah? kamu tenangin hati kamu dulu," ucap Satya yang mencoba mengajak Amartha untuk duduk di samping ranjang.
"Nggak usah pegang-pegang," ucap Amartha saat Satya mengelus perutnya yang terasa kencang.
"Kamu yang tenang dulu, ini perut kamu jadi kenceng kayak gini loh, Sayang..." kata Satya yang memeluk istrinya dari samping sembari mengusap tangannya memberi kenyamanan dengan sentuhan yang diberikannya.
"Nggak usah peduli," ucap Anartha sambil menghapus air mata yang meluncur di pipinya.
"Kok ngomongnya gitu, sih? kamu tenang dulu, baru aku jelasin, ya? udah dong, jangan nangis terus..." kata Satya yang sebenarnya sangat frustasi. Mengapa ia tak buang saja jas berwarna gelap itu, semenjak hamil hidung Amartha menjadi sangat sensitif sekali.
Amartha menangis sesenggukan, ia tak bisa membayangkan ada wanita lain yang dicurigai sudah nemplok di pelukan suaminya. Ternyata hal seperti itu bukan hanya terjadi di dunia novel atau sinetron.
"Aku nggak nyangka kamu tega sama aku. Kamu bilang meeting sama pak Irwan tapi nyatanya kamu bohong sama aku. Kamu habis ketemu sama cewek lain,Iya, kan? ngaku kamu, Mas!" ucap Amartha sambil sesenggukan. Baru saja Satya akan membuka mulutnya, Amartha sudah bersuara lagi.
"Kamu bilang kamu cinta sama aku, tapi apa hah? ada bau parfum wanita lain di jas kamu!" ucap Amartha.
"Nggak kayak gitu, Yank ... aku cinta sama kamu, dan cuma kamu..." ucap Satya lembut.
"Nggak bohong, beneran. Di hati aku, cuma ada kamu. Cuma kamu, nggak ada yang lain ... masa iya sih aku tega selingkuh sementara istriku lagi hamil kayak gini?" ujar Satya, ia berharap istrinya mau mempercayainya, namun tidak semudah itu fulgoso!
"Nggak ada hal yang nggak mungkin, karena kebanyakan suami berpaling ke hati yang lain disaat istrinya mengandung dan tidak menarik lagi," kata Amartha menatap suaminya tajam.
"Masa iya?"
"Ya iya! banyak kok cerita kayak gitu di novel, cerita klasik. Istri hamil, suami cari yang lain," kata Amartha.
"Kita hidup di dunia nyata, masa kamu terpengaruh sama cerita khayalan kayak gitu?" kata Satya
"Kamu minum dulu, biar aku jelasinnya enak kalau kamu udah sedikit lebih tenang," Satya mengelus kepala istrinya lembut, pria itu segera mengambil botol air yang ada diatas nakas. Lalu ia memberikannya pada Amartha.
"Minum dulu, ya?" ucap Satya lagi. Amartha yang kebetulan haus pun menerima suguhan air dari suaminya.
Satya segera mengembalikan botol ke temoat semula.
"Jadi, tadi waktu aku ke restoran tempat aku ketemuan dengan pak Irwan, tiba-tiba aja Ivanka muncul," Satya mulai menjelaskan kejadian yang sesungguhnya tanpa ada yang dikurangi atau ditambahi.
__ADS_1
Entah kenapa, setelah mendengarkan penjelasan Satya justru dia bertambah kesal pada suaminya.
"Terus kamu biarin dia lendotan di tangan kamu, gitu?" Amartha mulai emosi.
"Udah aku tepis, Sayang..." ucap Satya tetap lembut sembari berkali-kali mengucap istighfar dalam hatinya.
"Kalau ditepis nggak mungkin tuh parfum bisa nempel banyak! kamu pasti seneng kan,m dilendotin sama dia? emang dimana-mana cowok tuh sama aja!" kata Amartha masih ngambek.
"Astagfirllaaaaaahhh, ya Allah tolong hambamu ini ya Allah..." Satya menangis dalam batinnya.
"Udah, dong ... jangan nangis, masa kamu nggak percaya sama aku?" Satya mencoba memeluk istrinya tapi ditolak mentah-mentah.
"Nggak usah deket-deket, aku pusing ngecium parfum dari wanita itu," Amartha memalingkan wajahnya.
"Masa iya dari jas nembus sampai ke kemeja?" Satya mencoba mencari asal muasal bau yang dikeluhkan Amartha, namun ia tak menemukannya.
"Ya udah deh. Aku mandi dulu aja, ya? biar ilang baunya," ucap Satya.
"Kamu jangan nangis lagi, kasihan sama anak kita di dalam sini, dia ikut sedih loh kalau ibunya juga sedih..." kata Satya mengelus oerut istrinya.
Satya pun akhirnya melangkah ke kamar mandi, membasuh badannya dan mengguyur kepalanya dengan air dingin. Setidaknya itu yang bisa membuatnya sedikit lebih baik, menghadapi emosi ibu hamil yang up and down memang sesuatu sekali.
Amartha menghapus air matanya, ia mencoba merebahkan dirinya. Untuk mengembalikan moodnya yang sudah terlanjur kacau balau pun, akhirnya ia membuka sebuah platform penyedia novel online. Dia melanjutkan bacaannya, yang sempat terselesaikan.
Karena terlalu lama menangis, akhirnya matanya tertutup dengan sendirinya. Sedangkan ponsel masih ada dalam genggamannya.
Tak lama, Satya keluar dari kamar mandi dengan jubah kimono yang menutupi tubuhnya. Ia segera memakai kaos dan celana pendek, dan mendekati istrinya.
"Kecapean nangis sampai ketiduran kayak gini," lirih Satya.
Satya melihat ponsel yang masih menyala berada dalam genggaman istrinya. Ia pun mengambil benda itu, lalu seketika keningnya mengernyit heran.
"Novel horor? Keturunan ke tujuh? Mendadak Dikejar Setan?" gumam Satya saat melihat daftar bacaan istrinya. Pria itu menggelengkan kepalanya saat membaca judul selanjutnya.
"Gimana pikirannya nggak curigaan, orang bacaannya beginian semua," Satya membaca judul novel lain yang juga di favoritkan istrinya semua bercerita tentang penderitaan istri yang diselingkuhi.
...----------------...
__ADS_1