Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Mulai Teratasi


__ADS_3

"Aku, mau ketemuan sama Vira, tapi tuh anak tiba-tiba sakit perut, dan akhirnya nggak dateng, tapi sewaktu aku mau pulang, ada seseorang yang nelfon aku," ucap Amartha, membuat Satya penasaran.


"Siapa?"


Dan wanita itu kemudian menceritakan kejadian kemarin yang dialaminya sambil menunjukkan nomor yang menghubunginya kemarin, Satya yang mendengar penuturan istrinya pun menjadi geram.


"Mulai sekarang jangan angkat telepon dari nomor yang tidak ada dikontak ponselmu," ucap Satya dan Amartha pun mengangguk. Satya mengambil alih ponsel yang ada ditangan istrinya.


"Dan jangan percaya dengan apa yang dikatakan orang itu, semua itu nggak benar, aku nggak akan ninggalin kamu, Sayang. Kamu percaya kan sama aku? aku akan mencari tau siapa orang yang sering mengganggumu itu," ucap Satya yang kemudian memasukkan ponsel berwarna putih itu ke salam saku celananya.


"Eh, kok dikantongin?" Amartha merengut.


"Untuk sementara waktu ponsel kamu aku pegang, nanti aku suruh Firlan untuk mencarikanmu ponsel baru," ucap Satya yang membuat Amartha mengangguk pasrah.


"Sekarang kamu makan dulu, ya?" Satya membuka lit dan mengambil makanan yang ada dalam piring putih.


"Nggak laper..." kata Amartha menolak untuk membuka mulutnya.


"Kasian anak kita didalem sini, dia butuh asupan dari ibunya, makan ya?" Satya menunjuk perut istrinya, sejenak Amartha berpikir.


"Tapi Mas juga harus makan," kata Amartha.


"Iya, nanti kita habisin ini bersama, sekarang buka mulutnya," kata Satya yang sudah mengarahkan sendok di depan mulut istrinya, wanita itu mulai menikmati suapan demi suapan bersama sang suami. Makanan yang ternyata rasanya sangat enak, berbeda dengan rumah sakit lain yang menyajikan makanan yang rasanya hambar, rumah sakit yang dibangun atas nama Amartha itu sengaja menyajikan makanan dengan rasa yang enak. Bahkan mereka bisa memilih menu makanan asia atau western karena memang rumah sakit ini rumah sakit khusus kelas atas yang mengutamakan kepuasan pelanggan dan tentu mereka akan merogoh kantong yang cukup dalam untuk merasakan fasilitas mewah di rumah sakit itu.


Amartha tersenyum saat melihat Satya juga menyuapkan makanan dari piring yang sama dengan dirinya. Sementara ada orang lain yang geram karena niatnya untuk memburu Amartha gagal karena kemunculan Satya yang tiba-tiba.


"Arghg, sial! padahal tadi adalah kesempatan emas buat aku bisa bawa dia! tunggu saja, aku akan merebut dia dari kamu, Sat! aku benar-benar ingin memilikinya," ucap orang misterius yang selama ini mengganggu Amartha tiap malam.

__ADS_1


Setelah makan dan minum obat, akhirnya Amartha tertidur. Satya membenarkan selimut yang menutupi tubuh istrinya, mengecup sekilas kening wanita itu, lalu dia melangkahkan kakinya menuju sofa.


Dia segera menghubungi Firlan.


"Firlan, saya di rumah sakit, bagaimana dengan Nona Ivanka?" Satya memijit kepalanya yang terasa pusing, mungkin jadwal makan yang berantakan ditambah dengan tidur yang kurang membuat kepalanya terasa berdenyut.


"Nona Ivanka tetap ingin bertemu dengan anda, Tuan. Besok dia akan menemui anda di kantor sebelum terbang ke swiss, dia mengatakan akan menaruh modal yang cukup besar, jika saya hitung suntikan dana ini akan membuat keadaan perusahaan kembali stabil," jelas Firlan yang membuat Satya bernafas lega, bisa dibilang ini adalah rezeki yang tidak disangka-sangka sebelumnya.


Satya bersyukur masalah perusahaan sebentar lagi akan teratasi walaupun tadi pagi ia mendapatkan kabar bahwa Aaraf menarik investasinya kembali dengan alasan perusahaan yang ada di jepang sedang mengalami goncangan, dan Satya tak bisa memaksa karena semua ini tentang untung dan rugi dalam dunia bisnis.


"Siapkan semua dokumen yang diperlukan, oh ya? jangan katakan apapun pada papi, saya tidak mau beliau khawatir," ujar Satya.


"Oh, ya Lan ... tolong kamu selidiki orang yang selalu menelfon istriku, sadap semua panggilan yang masuk, dan satu lagi tolong belikan ponsel satu dan bawa kemari," lanjut pria itu.


"Baik, Tuan..." sahut Firlan sebelum sambungan telepon itu berakhir.


Sudah dua jam Amartha tertidur bahkan terlihat sangat nyenyak. Perlahan wanita itu mengerjapkan matanya beradaptasi dengan cahaya lampu di ruangan itu, dan mencoba untuk duduk, namun kirinya yang dipasang infus membuatnya sedikit kesulitan.


"Mami? kapan datang, Mam?" ucap Amartha yang kembali berbaring


"Setengah jam yang lalu, Sayang ... Mami naikin sedikit ya tempat tidurnya, kamu jangan banyak gerak dulu," kata mami mertua yang sangat perhatian dengan menantunya terlebih lagi sang menantu sedang mengandung calon cucunya. Wanita paruh baya itu memncet sebuah remot untuk mengatur tempat tidur Amartha.


"Aku nggak apa-apa Mam," kata Amartha dengan wajah yang berangsur-angsur lebih segar.


"Udah, jangan bandel, kalau kamu bandel mami jewer nanti," ucap Sandra yang tak mau dibantah.


"Hahahah, ampun Mam. Emh, Mas Satya dimana, Mam?" tanya Amartha karena sedari tadi ia tak menemukan sosok suami tampannya itu.

__ADS_1


"Oh, dia ada urusan sebentar, nanti sore juga udah balik lagi kesini, selamat ya Sayang? sebentar lagi kamu akan jadi seorang ibu, jaga baik-baik kandunganmu, calon cucu mami ini," ucap Sandra sambil membelai pipi menantunya.


"Prisha mana, Mam? tumben dia nggak ikut Mami," tanya Amartha, matanya mencari-cari keberadaan adik iparnya.


"Dia udah balik ke Aussie, liburannya udah selesai, dia minta diantar papinya dan kebetulan juga papi ada urusan bisnis disana jadi sekalian aja nganter Prisha, lagian anak itu masih manja banget sama papinya, mungkin karena anak bungsu juga kali, ya?" Sandra menghela nafasnya setelah dari tadi mengoceh membicarakan kelakuan anak gadisnya.


"Mami, kupasin buah ya? kamu pengen apa? nih ada puding juga," kata Sandra yang menunjuk beberapa makanan yang ada di meja.


"Nanti aja, Mam ... aku masih belum laper," ucap Amartha lembut


"Tapi jangan sampe perut kamu terlalu lama kosong, kasian nih cucu mami didalem perut kamu, Sayang ... ntar dia salto-salto kayak ayahnya dulu yang suka koprol didalem perut Mami," ucap Sandra yang membuat Amartha tertawa.


"Nggak mungkin koprol juga, Mam ... baby-nya juga masih kecil banget, masih belum berbentuk," kata Amartha menanggapi ucapan mertuanya.


Di perusahaan Ganendra group.


"Lan? kamu mau kemana?" tanya Satya yang melihat Firlan akan keluar dari ruang meeting sedangkan Satya masih duduk, kepalanya semakin berdenyut nyeri dan perutnya yang sepertinya terasa tidak nyaman


"Saya mau," Firlan terlihat bingung.


"Mau apa? ngomong yang jelas, Lan!" ucap Satya yang menatap asistennya.


"Ehm, mau beli obat diare, Tuan" jawab Firlan dengan sedikit deheman.


"Kamu sakit? kalau sakit kamu bisa istirahat di rumah, Lan. Kamu bisa pulang lebih awal," kata Satya yang merasa dirinya juga sedang tidak sehat.


"Sebenarnya obat itu bukan untuk saya, tapi..." Firlan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Lalu untuk siapa?" tanya Satya.


...----------------...


__ADS_2