
Sebelum pulang ia sempat menyuruh Firlan untuk mengambil jas yang ada di ruangannya dan mengirimnya pada seseorang. Kelakuan wanita yang bernama Ivanka membuatnya stres, ditambah lagi Carlo yang menghubunginya tengah malam begini hanya untuk memintanya melakukan misi terakhir. Namun Satya menolaknya mentah-mentah.
"Terserah saja apa yang kamu lakukan, aku sudah cukup muak melihat wanita itu!" teriak Satya pada Carlo di telepon.
"Kau gila! kau benar-benar tidak waras Tuan Brooks! aku melihatnya berkeliaran di kantor ku saja sudah membuat kepalaku hampir pecah! kau urus saja sendiri!" Satya langsung menutup panggilan itu secara sepihak. Satya melempar ponselnya ke sofa, ia mengusap wajahnya nafasnya tak beraturan.
"Orang itu sudah sangat keterlaluan, bisa-bisanya dia memintaku untuk memakai jas pengantin itu!" gumam Satya.
Amartha yang baru saja terbangun karena suara suaminya itu pun berusaha untuk duduk.
"Kenapa, Mas? kamu ngomong sama siapa?" tanya Amartha.
"Eh, Yank? kamu..."
"Kamu marah-marah sama siapa, Mas?" tanya Amartha.
"Sama orang gila, Yank! Carlo," Satya mendekat.
"Maaf, karena suaraku tadi kamu jadi terbangun..." kata Satya yang duduk di samping ranjang istrinya.
"Apa yang bikin kamu semarah itu?" tanya Amartha melihat Satya yang bangkit dan bergerak ke sisi sebelah ranjangnya dan segera masuk ke dalam selimut.
"Karena dia mengucapkan hal yang tidak aku suka..." Satya membantu istrinya untuk kembali merebahkan tubuhnya.
"Sudah malam, lebih baik kita tidur..." kata Satya seraya mendekap istrinya.
.
.
.
Keesokan harinya di sebuah hotel mewah.
Hari yang ditunggu Ivanka pun telah tiba. Wanita itu sedang dirias dengan kebaya modern yang membuatnya tampak menawan.
"Bagaimana penampilanku?" tanya Ivanka yang melihat dirinya pada pantulan cermin. Ia memperhatikan setiap detail riasannya
"Anda sangat sempurna, Nona..." kata sang perias.
"Benarkah?" ucap Ivanka.
"Tentu, Nona..."
"Kalau begitu kau boleh keluar," perintah Ivanka.
__ADS_1
"Kalau begitu, saya permisi, Nona..."
Perias itu pun keluar dan menutup pintu kamar dari luar. Tak lama pintu kembali terbuka. Dan munculah sosok orang tua Ivanka, Elena dan Adam Barsha.
"Ivanka?" ucap Elena membuat Ivanka menoleh.
"Mama? Papa?" cicit Ivanka.
"Wow! kau sangat cantik, Sayang..." puji Elena seraya mendekat diikuti oleh Adam, suaminya.
"Walaupun acara ini hanya dihadiri oleh kerabat dan teman terdekat, aku harus tampil memukau di depan mas Satya, Ma. Aku tidak ingin mengecewakannya," ujar Ivanka dengan binar bahagia.
"Ehm sudah waktunya mereka pasti sudah menunggu kita. Vanka, apa kau sudah siap?" tanya Adam seraya melihat arloji ditangannya.
"Ya, Pah..." ucap Ivanka.
Adam dan Elena mengapit tubuh Ivanka, mereka berjalan bukan menuju ballroom, tapi berbelok ke sebuah ruangan khusus disamping ballroom yang sudah di dekor dengan bunga-bunga cantik.
"Kenapa kita kesini?" tanya Ivanka heran.
"Tunggulah disini. Kau akan menemui suamimu setelah ijab qobul selesai," kata Adam.
"Bukankah biasanya pengantin akan duduk berdampingan saat sang pengantin pria mengucapkan kalimat itu?" tanya Ivanka.
"Menurut saja, Vanka. Mungkin calon suamimu takut kalau ia gugup dan salah saat mengucapkan ijab di depan penghulu..." jelas Elena.
"Apakah aku boleh menghubunginya?" tanya Ivanka.
Elena menatap Adam, dia tidak tahu harus memberikan jawaban apa pada Ivanka.
"Acara sebentar lagi akan dimulai. Peganglah, nanti calon suamimu akan menghubungi dan meminta persetujuanmu sesaat sebelum ia menjadikanmu seorang istri," kata Adam seraya mengeluarkan ponsel baru dari dalam saku jasnya.
Adam pun meninggalkan Elena dan Ivanka putrinya di dalam ruangan itu. Ia berjalan menuju sebuah ballroom.
Pengantin pria sudah ada disana, sudah duduk di meja berhadapan dengan penghulu dan beberapa saksi. Adam yang baru saja datang langsung menempatkan dirinya.
"Apa kau sudah siap?" tanya Adam.
"Sangat!" jawab pengantin pria.
Sebuah panggilan membuat benda pipih yang ada di genggaman Ivanka.
Ivanka sangat gugup. Ia menghembuskan nafasnya.
"Angkatlah," ucap Elena saat Ivanka memandangnya.
__ADS_1
Ivaka mengusap layar itu sehingga panggilan itu terhubung. Kemudian Ivanka menekan tombol pengeras suara agar ia tak perlu menempelkan benda itu ke telinganya.
"Ivanka Arumi Barsha, apa kau bersedia untuk menerima pinanganku?" tanya pria itu.
"Ya, aku bersedia," ucap Ivanka. Lalu sambungan telepon itu terputus.
Sesaat Ivanka menyadari ada yang aneh. Namun, wanita itu segera menepis pikiran buruk yang sempat melintas di kepalanya.
"Mungkin karena aku terlalu gugup. Pikiranku jadi suka mikir yang aneh-aneh. Calm down, Vanka! Sebentar lagi, aku akan menyandang Nyonya Satya. Huuufhh, rasanya aku sudah tidak sabar," ucap Ivanka dalam hatinya.
Seseorang datang untuk menjemput calon pengantin wanita. Ivanka dan Elena pun bangkit dari duduknya. Jantung Ivanka berdetak kencang, dia tak pernah segugup ini sebelumnya.
Pintu utama ballroom dibuka. Ivanka melangkah dengan sangat anggun, dia berjalan disamping Elena. Matanya terbelalak saat ia melihat seorang pria datang menghampirinya. Elena melepaskan tangan anaknya dan berjalan mundur beberapa langkah.
Pria itu mengulurkan tangannya dan disambut tepuk tangan para tamu yang hadir disana. Ternyata suasana begitu ramai, bahkan para kolega ayahnya pun datang di acara pernikahan yang katanya hanya dihadiri kerabat dan teman dekat.
"Carlo? apa yang kamu lakukan disini? cepat menyingkir," tanya Ivanka penuh penekanan ia menepis uluran tangan pria itu.
"Tersenyumlah, Sayang! karena mereka sedang menatap kita," kata Carlo yang menaikkan sudut bibirnya.
"Kau tentu mengenali jas yang aku pakai, bukan?" kata Carlo sambil meraih paksa tangan wanitanya.
"Bagaimana bisa kau mencurinya, bodoh?" Ivanka menatap jas pengantin itu dengan gusar.
"Aku tidak mencurinya, aku memakai jas yang memang sedari awal milikku, Sayang..."
Sementara para tamu yang hadir berbisik-bisik saat Ivanka tak bisa lagi menyembunyikan kegelisahan dari raut wajahnya. Ia terus mencari-cari sosok pria yang seharusnya ada di sana.
"Sampai kapan kalian akan berdiri seperti ini, hah?" ucap Adam yang menghampiri putrinya.
"Dimana mas Satya? kenapa dia tidak ada disini? bukankah tadi dia baru saja mengucapkan ijab qobulnya?" tanya Ivanka pada Adam.
"Diamlah Vanka! jangan buat aku malu. Cepat duduk dan tanda tangani dokumen pernikahan yang ada di meja," perintah Adam. Pria itu tak suka dibantah, Ivanka menggeleng. Sesaat pikirannya menghubung-hubungkan rentetan kejadian yang menurutnya janggal.
"Tak ada pertunangan, undangan pernikahan yang sekali pun aku belum pernah melihatnya. Pernikahan yang dipersiapkan secara singkat, dan suara itu ... arghhh! kenapa aku bisa seceroboh ini!" gumam Ivanka dalam batinnya.
"Carlo! cepat bantu dia duduk!" kata Adam yang langsung ke tempat duduknya bersama sang istri, Elena.
Carlo segera meraih tangan sang pengantin wanita. Ivanka mendengar bisik-bisik yang menggunjingkan dirinya. Mau tak mau Ivanka berjalan mengikuti Carlo.
Ivanka duduk dan matanya terbelalak saat membaca buku nikah yang harus ditanda tanganinya, disana tercetak jelas nama Carlo Jester Brooks. Seketika petir seakan menyambar dirinya saat itu juga.
"Tidak, ini tidak mungkin..." ucap Ivanka.
"Tidak ada yang tidak mungkin, Sayang? mulai detik ini kau sudah resmi menjadi istriku," ucap Carlo ditelinga Ivanka.
__ADS_1
...----------------...