
Siang ini Satya dalam perjalanan menuju ibu kota. Selama di mobil, Firlan terus saja diam, dari kemarin Firlan hanya menjawab 'ya' dan 'tidak', dia tidak banyak membantah, ah sungguh membuat Satya sedikit khawatir dengan kondisi kejiwaan sang asisten.
Apakah mungkin memang benar, Firlan sang asisten laknat butuh penyegaran seperti yang dikatakan Amartha. Ya mungkin saja makhluk seperti Firlan juga butuh merefresh kembali otaknya, supaya jutaan sel-sel syaraf diotaknya bisa terhubung dengan baik.
"Ehm, ehem..." Satya berdehem, dia bingung harus mengawali pembicaraan, supaya bisa nyerempet ke arah liburan, mengingat Satya dan Firlan seperti kucing dan guk-guk.
"Eheeeemm..." Satya memperpanjang dehemannya, membuat Firlan melihat dari kaca depan yang hanya memperlihatkan tatapan mata keduanya.
Firlan hanya melirik sebentar lalu kembali fokus pada jalanan, ia ingin segera sampai di apartemennya. Ditambah suasana hatinya sedang sangat tidak baik, karena tanpa sengaja ia melihat Andini masuk ke dalam sebuah kamar dengan seorang pria, pria yang sama dengan yang ia temui bersama Andini tempo hari. Firlan, hanya memperhatikan kedua orang itu yang sepertinya sedang kasmaran, Firlan menelepon Andini, tapi gadis itu bilang kalau dia sedang cuti dan sedang menginap di rumah neneknya.
Firlan sudah muak berkali-kali dibohongi, oleh wanita yang berstatus pacarnya itu, namun Firlan menyadari mungkin itu semua tidak akan terjadi kalau dirinya bisa memiliki waktu lebih untuk mereka berdua.
"Eheeeeemmmmm," Satya berdehem lebih keras dari sebelumnya, namun lagi-lagi Firlan tak menghiraukannya. Sang asisten sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Firlan! mulai besok saya beri kamu cuti selama seminggu, kamu bisa berlibur dan kembalilah dengan wajah yang lebih manusiawi," ucap Satya dengan datar, namun Firlan hanya menjawab dua patah kata.
"Ya, Tuan..." sahut Firlan singkat, membuat Satya yang duduk di kursi penumpang di belakang menegakkan tubuhnya.
"Hey, apa kau kurang puas mendapat jatah cuti selama seminggu? kenapa ekspresimu datar begitu?" seru Satya pada pria yang sedang setia dengan kemudinya.
"Apa saya bisa dapat extra bonus 1 hari, Tuan?" tiba-tiba Firlan menghentikan mobilnya, di tepi jalan membuat Satya mengernyit heran.
"Kenapa berhenti?" Satya bertanya pada Firlan, yang malah melepas sabuk pengaman, kemudian menoleh kebelakang.
"Saya minta extra libur hari ini, saya ada urusan Tuan ... anda bisa menyetir sendiri kan?" Firlan dengan entengnya mengatakan itu. Belum juga Satya menanggapi ucapan asistennya, Firlan sudah keluar dari mobil dan mengeluarkan koper dari bagasi, ia segera menghentikan sebuah taksi dan melesat ketempat tujuannya.
"Dasar sisten laknat!" makian keluar dari mulut Satya yang langsung beralih ke kursi kemudi. Dia memacu mobilnya ke rumah orangtuanya,. Padahal, mobil baru 15 menit keluar dari hotel, dan masih jauh perjalanan untuk pulang, Firlan malah menyuruhnya menyetir, dan asistennya itu entah pergi kemana.Mau tak mau Satya memacu mobilnya sendiri.
Sesampainya di depan rumah, Satya langsung memarkirkan mobilnya asal, dan langsung masuk ke dalam kediaman keluarga Ganendra.
"Yank ... aku udah pulang!" seru Satya setelah masuk ke dalam rumah. Sementara Prisha yang mendengar suara Satya mendadak bangun dari sofa empuknya dan menghampiri pemilik suara itu.
"Eeeitsss, abang kenapa kesini?" tiba- tiba adiknya nongol dan menatapnya dengan tatapan sinis.
"Astaghfirllah, ada apa lagiiii iniiii, minggir..." Satya mendengus kesal, bukannya Amartha yang menyambut kedatangannya, malah si monster kecil yang menghampirinya.
__ADS_1
"Nggak boleh! bukannya abang pulangnya ke apartemen?" tanya Prisha yang mendapat lirikan tidak suka dari Satya.
"Suka-suka abang lah, mau pulang kemana," sahut Satya tak kalah nyolot
"Siapa bilang?"
"Abang yang bilang ya Allah, ni monster satu rese banget deh," Satya kesal dibuatnya, baru juga datang si monster kecil malah membuatnya kesal.
"Aku diutus Mami kesini, supaya ngawasin abang biar nggak berduaan sama mbak Amartha," jelas Prisha yang membuat Satya tak habis pikir dengan tingkah adiknya itu, gadia bertubuh mungil itu yang memasang wajah mimik menyeramkan, berbanding terbalik dengan wajah imutnya.
"Berduaan darimana sih? di rumah ini banyak orang, kita nggak cuma berdua, awas ah, abang capek, Sha..." Satya menggeser tubuh Prisha yang menghalangi jalannya.
"Ya udah tapi besok abang balik ke apartemen abang,"
"Iya iya, besok abang ke apartemen," jawab pria itu cepat.
"Eeitttss, kamar abang diatas, bukan ke arah situ, noh tangganya disana," Prisha menarik jas yang dikenakan Satya dari arah belakang dan menunjukkan jalan yang benar.
"Abang mau ketemu sama calon makmum abang, udah deh jangan aneh-aneh," Satya melepaskan tangan adiknya, dan langsung berjalan cepat ke arah kamar tamu yang ditempati Amartha.
"Brisiiiiiiikkkkkkkk!"
Satya pun melangkahkan kakinya menuju kamar Amartha, namun ketika beberapa kali pintu diketuk tak ada sahutan dari dalam. Akhirnya tangan pria itu pun membuka pintu yang sepertinya tudak dikunci, ketika pintu terbuka tak ada sosok yang sedang ia cari.
"Sayang? Yank?" Satya memanggil-manggil Amartha, pria itu hanya melongok ke dalam, tapi tak ada suara apapun yang menandakan pujaan hatinya ada di dalam sana.
Satya melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga, ia menghampiri adiknya yang sedang nonton tv sambil sesekali cekikikan melihat layar ponselnya.
"Sha?" Satya memanggil adiknya yang masih setia melihat layar ponselnya.
"Ya?" sahut Prisha tanpa melihat siapa yang memanggilnya.
"Prisha? hey, prisha ... Amartha kemana kok nggak ada di kamar?" Satya, mulai jengkel karena adiknya yang ditanya malah sibuk sendiri.
"Ada," sahut Prisha singkat, membuat Satya ingin menoyor kepala adiknya itu.
__ADS_1
"Ada dimana, ngomong yang jelas," kesabaran Satya suda diubun-ubun, mendengar jawaban Prisha yang setengah-setengah, iya setengah bikin emosi.
"Di dapur lagi bikin brownies," Prisha dengan tangan menunjuk asal ke sembarang arah.
Daripada berlama-lama dengan adiknya yang absurdnya diatas rata-rata, Satya lebih memilih bergegas menuju dapur, benar saja pujaan hatinya ada disana, ia baru saja memasukkan adonan ke dalam loyang yang sudah dilapisi kertas roti.
"Bikin apa, Yank?" tanya Satya yang membuat Amartha terlonjak kaget.
"Astaghfirllah, Masss ngagetin aja deh..."
"Katanya kamu nggak pulang kesini?" Amartha mengernyit heran melihat sosok pria tampan itu.
"Kata siapa?"
"Prisha," sahut Amartha singkat sembari menaruh loyang ke dalam oven.
"Aku kangen kamu, Yank ... makanya aku langsung kesini," pria itu meluncurkan rayuannya.
"Kamu emang nggak kangen sama aku?" lanjutnya sambil berbisik.
"Nggak," jawaban Amartha tidak sesuai dengan harapan Satya
"Dih, aku pundung!" Satya mulai merajuk.
"Biarin," sahut Amartha santai, membuat Satya merengek seperti anak kecil minta permen.
"Yaaaaaankkk..." ucap Satya.
"Yank yank yank, peyang?" celetuk Prisha yang membuat kakaknya kembali emosi.
"Ini monster kecil kenapa lagi nongol disini coba?" kata Satya dengan tatapan sinis.
"Ngawasin abang, lah..."
...----------------...
__ADS_1
OKEY, GAESSSSS NGEBUULLL....