
"Ada yang salah dengan cake-nya?" tanya Sinta curiga dengan raut wajah yang ditujukan Fendy.
"Sini, coba aku lihat," Sinta mendekat mencoba melihat apakah ada yang salah dengan kue yang ia beli.
"Nggak, nggak ada yang s-salah!" jawab Fendy gugup.
"Atau emang nggak suka?" tuduh Sinta dengan tatapan tajamnya pada pria berjas abu-abu itu.
"Suka kok," sahut Fendy cepat.
"Kalau suka, nggak mungkin cuma diliatin. Udah sini biar aku kasih orang," Sinta memberi jawaban yang menohok.
"Eiits, enak aja! kan kamu beli buat aku, jadi nggak boleh dikasih buat orang lain!" serobot Fendy, ia mencoba mempertahankan cake itu
"Udah, sini! udahlah, nggak usah pura-pura suka, ketauan kok dari muka kamu itu..." kata Sinta.
"Aku beneran kok suka sama kamu, suka banget malah," Fendy nyeletuk, dia malah menggoda Sinta dengan ucapannya, pria itu menaik turunkan alisnya. Sinta pun jengah.
"Nggak jelas," gumam Sinta bicara pada tembok yang tidak bergoyang, karena yang bergoyang itu rumput tetangga.
"Ya udah sini kita ke KUA biar jelas status kita," seloroh Fendy,
"Udah, ah sini, balikin!" ucap Sinta, berusaha merebut kue yang sudah dikeluarkan dari box-nya.
"Barang yang sudah diberi nggak boleh diambil lagi, ntar gondokan loh," ucap Fendy mengingatkan pada mitos yang dulu dipercayai oleh para orang terdahulu.
"Udah gondok dari tadi denger kamu ngomong nggak jelas,". celetuk Sinta, ia tak melepaskan matanya dari Fendy.
"Eh, kayaknya ada yang beda nih tapi apa ya?" tanya Fendy mencoba berpikir apa yang sekiranya telah dilewatkannya.
"Udaaah sini!" Sinta mencoba merebut kue cokelat itu
"Diem dulu, Sayang ... ini abang mau potong kuenya," ucap Fendy menaruh telunjuknya di depan bibir Sinta, ia meminta agar Sinta tak bicara lagi karena ia akan memotong kuenya
"Kamu mau?" tanya Fendy setelah menunjukkan satu slice cake.
"Kalau nggak suka nggak usah sok nawar-nawarin..." ucap Sinta.
"Suka..." sahut Fendy cepat. Ia segera membuka mulutnya dan mulai memasukkan satu potong kecil kue dengan cokelat yang berlimpah.
__ADS_1
"Nih aku makan," kata Fendy.
Pria itu memasukkan sepotong kue coklat yang sangat lembut ke dalam mulutnya.
"Nggak enak?" tanya Sinta. Wajah Fendy sangat mencurigakan,
"Enak kok, enak banget apa lagi ditemenin sama calon istri," seloroh Fendy, ia mencoba mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.
"Uhukk!" Fendy terbatuk. Pria itu memegang dadanya yang bidang
"Lagi makan nggak usah banyak ngoceh jadi keselek kan tuh!" ucap Sinta mengingatkan, Fendy masih berusaha menelan kue tersebut dengan sekuat tenaga.
"Uhuk, aku mau ambil minum dulu," Fendy segera bangkit dengan wajah pias. Pria itu berjalan ke arah dispenser di sudut ruangan itu, pria itu mendadak kesulitan bernafas. Fendy memegangi dadanya yang terasa seperti terbakar.
"Aaaaaarhhhh!" pekik Fendy.
"Fen!" teriak Sinta saat tubuh Fendy ambruk.
"Fendiiii!" suara Sinta menggema di ruangan itu.Sinta segera berlari, ia meraih tubuh Fendy.
"Fendy! kamu kenapa? bangun! cepat bangun!" Sinta menepuk wajah Fendy yang sudah pucat pasi. Dia sangat panik dengan keadaan pria itu. Dia takut sesuatu yang buruk terjadi.
Sinta menyetir dengan kecepatan tinggi, Fendy berada di kursi belakang bersama seorang karyawan di perusahaannya yang Sinta mintai tolong untuk ikut mengantar Fendy ke rumah sakit.
Pikiran Sinta sangat kacau, beberapa kali ia melihat ke belakang dari kaca spion yang ada di depannya. Setelah kebut-kebutan di jalanan, akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit terdekat. Sinta langsung membuka pintu untuk Fendy. Wanita itu menerobos ruang IGD untuk meminta bantuan.
"Tolong, Sus! dia sulit bernafas!"
ucap Sinta dengan ter engah-engah. Beberapa orang langsung berlari ke arah yang di tunjuk Sinta, mereka memindahkan tubuh Fendy ke atas brankar.
"Maaf, Nona .. sebaiknya anda tunggu di luar," seorang perawat mencegah Sinta untuk masuk mengikuti pria yang kini akan mendapat tindakan.
"Tapi, Sus!"
"Maaf, silakan menunggu disini," ucap perawat itu kemudian segera menutup pintu. Sinta menuju deretan kursi tunggu dengan langkah gontai, jari jemarinya saling meremas satu sama lain. Air matanya langsung terjun ke pipinya. Orang yang tadi menolong Fendy berdiri bersandar pada tembok sambil meraup wajahnya kasar, dia mencoba mengatur kembali nafasnya.
Di depan sebuah ruangan.
Vira dan Dewi sedang menunggu dengan cemas, di depan pintu kamar. Raharjo telah berganti dengan pakaian khusus, pria tua itu akan menjalani operasi siang ini.
__ADS_1
Sebuah brankar di dorong keluar kamar, kedua wanita beda generasi itu langsung berhambur ke arah Raharjo yang sedang berbaring di atas brankar tersebut.
"Paaa, maafin Vira ... Vira bukan anak yang berbakti buat Papa..." isak Vira, air mata membanjiri pipinya. Tangan Raharjo yang tidak di pasang selang infus langsung memegang tangan anak dan istrinya.
"Jangan menangis, Nak..."ucap Dewi mengelus pundak Vira, ia mencoba menenangkan anaknya.
"Paa, aku yakin kamu pasti kuat, aku akan menunggumu, aku yakin kamu pria yang kuat," ucap Dewi disertai linangan air mata.
Raharjo tersenyum, ia menatap anak dan istrinya sendu. Vira maupun Dewi sangat tahu jika Raharjo sebenarnya juga sedih, tapi pria yang sudah lebih dari setengah abad itu menyembunyikan kesedihannya.
"Sudah, jangan menangis, papa pasti akan kuat dan kita akan berkumpul kembali seperti sedia kala," ucap Raharjo yang diangguki Vira dan Dewi.
"Permisi, Nyonya..." perawat itu mendorong brankar itu menuju ruang operasi. Raharjo memberi isyarat bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Paaaaaa..." lirih Vira.
Brankar yang membawa Raharjo sudah masuk ke ruang operasi, kini giliran brankar Ricko yang mulai mendekati ruangan yang membuat siapapun akan cemas.
Vira menoleh ke belakang saat satu brankar membawa Ricko mendekat padanya.
"Kak," seru Vira, air matanya langsung lolos saat melihat pendonor sang ayah.
"Tenang saja, semua akan berjalan dengan lancar, tidak perlu khawatir," ucap Ricko seakan menjawab kekhawatiran di wajah Vira, Vira tersenyum mendengar ucapan Ricko.
"Percaya sama aku, semuanya akan berhasil," kata Ricko yang mendapat sebuah senyuman dari anak Raharjo pun ikut tersenyum. Dia mencoba menepis pikiran-pikiran buruk yang bergelayut di dalam batinnya.
"Terima kasih banyak, Nak Ricko..." ucap Dewi dengan sangat tulus. Beberapa kali air mata lolos begitu saja dari pipinya.
"Sama-sama, Bu..." jawab Fendy singkat, namun tak sadar mata Fendy berkaca-kaca.
"Aku masuk, ya?" ucap Ricko. Seorang perawat laki-laki mendorong brankar yang membawa Ricko menyusul Raharjo yang sudah ada di dalam, di ruang tindakan, ruangan yang menjadi tempat pemindahan organ dalam dari tubuh Ricko ke tubuh Raharjo. Pintu ruang operasi tertutup meninggalkan Dewi dan Vira yang duduk dalam keheningan.
Sementara Sinta terduduk di ruang tunggu dan Dewi duduk di sampingnya. Pikirannya berkelana pada sosok Raharjo yang kini tengah berjuang untuk bisa bertahan hidup. Vira berulang kali menghela nafasnya.
"Sudah, jangan nangis, kita doakan saja papa dari sini..." kata Dewi sambil menggenggam tangan anaknya.
"Maafin, Vira ... maafin, Vira..." hanya kata Vira yang Vira ucapkan, ia menangis terisak dalam pelukan Dewi.
...----------------...
__ADS_1