Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Tak Bisa Ditipu


__ADS_3

"Maura?" lirih wanita itu.


"Ivanka?" gumam Satya saat melihat bukan Maura sekretarisnya yang masuk ke dalam ruangannya melainkan sosok wanita yang sedang ia hindari.


"Sekretaris anda sudah pergi, saya tidak sengaja bertemu di depan lift," ucap Ivanka, Satya hanya melihatnya sekilas lalu matanya beralih lagi pada berkas yang sedang di periksanya


"Tidakkah anda persilakan saya untuk duduk? beginikah caranya anda menerima seorang tamu?" sindir Ivanka.


"Saya sedang sangat sibuk, apakah ada hal yang sangat penting sehingga anda repot-repot datang kemari? dan bukannya anda sedang berada di Swiss?" kata Satya yang bicara tanpa melihat ke arah wanita yang masih setia berdiri tak jauh dari meja kerjanya.


"Apakah harus aku jawab sekaligus?" tanya Ivanka.


"Terserah, yang jelas saya sedang tidak ingin diganggu," jawab Satya dingin.


"Kenapa anda memberikan makanan yang saya kirim pada sekretaris anda itu?" tanya wanita itu.


"Dia lebih membutuhkannya," sahut Satya.


"Anda begitu menarik jika sedang sibuk dengan kertas-kertas itu," ucap Ivanka seraya duduk karena kakinya sudah pegal berdiri terlalu lama, namun sang pemilik ruangan tak kunjung mempersilakannya untuk duduk.


"Keluarlah Nona," kata Satya yang menghentikan aktivitasnya dan menunjuk ke arah pintu.


"Tidak mau," sahut Ivanka cepat.


"Kalau begitu anda tinggalah disini karena saya akan bersiap pulang," Satya segera mengambil ponsel dan kunci mobil serta menyimpannya ke dalam saku. Pria itu melangkah menuju pintu, namun Ivanka segera bangkit dan mencekal lengan pria beristri itu.


"Tunggu dulu,"


"Aaaaah, kepalaku sangat pusing," pekik Ivanka, dia memegang kepalanya dan tubuhnya mendadak limbung beruntung Satya memegang lengan wanita itu sehingga ia tak sampai jatuh ke lantai.


"Tunggulah disini, saya akan buatkan minuman hangat," Satya menuntun Ivanka menuju sofa, wanita itu duduk seraya memegang kepalanya.


"Baiklah," sahut Ivanka. Satya berjalan keluar meninggalkan Ivanka sendirian.


Ivanka yang pura-pura pusing pun tersenyum senang, sedangkan di luar Satya bukannya ke pantry untuk membuatkan minuman, melainkan pergi ke basement dan masuk ke mobilnya. Ia menelepon Firlan untuk memberitahu Alia, bahwa bosnya masih di dalam ruangan Satya, dia meminta untuk di jemput karena kepalanya sangat pusing.


"Alia, bos kamu sedang ada di ruangan Tuan Satya, Nona Ivanka sedang sakit dan minta untuk di jemput!" Firlan tak menunggu jawaban dari Alia, dia langsung mengakhiri panggilan telepon itu.

__ADS_1


Alia yang memang kebetulan sedang perjalanan pulang pun akhirnya putar balik, ia menekan pedal gasnya menuju perusahaaan Ganendra group. Satya mengatakan pada satpam yang berjaga kalau diatas masih ada tamunya yang sedang menunggu jemputan, satpam itu pun langsung mempersilakan Alia untuk naik ke atas berbekal kartu akses yang diberikan Satya pada satpam tersebut.


Ivanka mulai cemas, karena Satya tak kunjung datang. Suasana kantor sangat sepi. Dia beberapa kali merubah posisi duduknya.


"Bikin minuman dimana sih tuh orang? lama banget," gerutu Ivanka.


Tiba-tiba pintu terbuka dan bukannya Satya yang muncul malah asistennya yang datang menemuinya.


"Kenapa kamu kesini?" tanya Ivanka setengah melotot, Alia pun bingung. Katanya Ivanka sakit, tapi orang sakit mana ada kekuatan untuk mengeluarkan jurus tatapan maut yang biasa wanita itu layangkan padanya.


"Katanya saya di suruh kesini untuk menjemput Nona yang sedang sakit," jawab Alia jujur.


"Kamu disuruh siapa, hah?"


"Maaf, Nona lebih baik kita segera keluar dari ruangan ini," Alia menggeser tubuhnya, dan mata Ivanka menangkap sosok pria yang sedang menunggu di luar.


"Ayo, cepat!" titah Ivanka yang segera bangkit dan berjalan dengan angkuhnya.


"Salah lagi salah lagi," gumam Alia.


Kedua wanita itu keluar dari ruangan Satya , Ivanka begitu dongkol saat mengetahui bahwa dirinya dikerjai Satya.


Sementara di dalam mobil Satya menelepon Amartha. Dia bahkan tidak peduli dengan wanita yang menunggunya di ruangannya


"Sayang? kamu lagi apa?" tanya Satya saat panggilan tersambung.


"Lagi belanja, ini mau pulang," sahut Amartha.


"Dimana?"


"Di mall yang biasa," jawab Amartha santai.


"Ya udah kita pulang bareng aja," ucap Satya sembari tetap fokus menyetir.


"Tapi aku kesininya sama Sasa, sama Damian juga," jelas Amartha sambil melirik ke arah Sasa yang duduk di sampingnya.


"Sasa pulang sama Damian aja," usul Satya.

__ADS_1


"Aku lagi pengen berduaan sama kamu, itung-itung mengenang masa pacaran sambil ngukur jalan," ucap Satya ngasal.


"Kamu dimana? biar aku samperin," lanjut pria itu.


"Aku di lobby, lagi makan ice cream," jawab Amartha yang kemudian memasukkan satu sendok kecil ice cream ke mulutnya.


"Jangan kemana-mana, tunggu disitu," perintah Satya.


"Iya, Maaaas..." jawab Amartha yang kemudian memutuskan sambungan teleponnya.


Tak lebih dari 15 menit, Satya sudah sampai di mall yang Amartha maksud. Pria itu berjalan ke sebuah kedai ice cream ternama. Matanya menangkap istrinya yang lagi duduk di bangku pojokan dengan dua cup ice cream yang sudah habis.


"Mas,"


"Tuan..." ucap Sasa sambil menganggukkan kepalanya sebagai tanda hormat.


"Sa, kamu pulang sama Damian, ya? saya ada urusan dengan istri saya," ucap Satya.


"Baik, Tuan..." jawab Sasa.


Satya menelepon Damian untuk datang ke kedai ice cream. Pria itu meminta supirnya pulang dengan Sasa.


"Kalau begitu saya duluan," ucap Satya pada Damian dan juga Sasa.


Satya menggandeng istriny, beberapa pasang mata begitu iri melihat kemesraan keduanya, tak jarang para Abege yang kesengsem dengan ketampanan seorang Satya. Amartha memeluk lengan suaminya posesif, dia ingin mengatakan pada gadis-gadis itu bahwa pria tampan yang sedang dilihatnya sudah mempunyai istri. Para gadis pun manyun saat melihat pria berjas yang sedang dikaguminya itu sedang tersenyum pada wanita hamil yang memeluk erat lengan sang pria.


"Tenang aja, hatiku cuma buat kamu, kok!" celetuk Satya saat melihat istrinya sedang pasang mode siaga pada para abege yang sedari tadi memperhatikannya.


"Inget, mau punya anak, mata jangan jelalatan!" ucap Amartha, sementara Satya terkekeh mendengar perkataan istrinya itu.


"Mataku disini terus kok, Yank..." ucap Satya, dia senang melihat Amartha yang cemburu.


Mereka berdua kemudian masuk ke dalam mobil.


"Pasang seat belt-nya dulu, Yank ... biar aman," ucap Satya, ia mendekat ke arah istrinya mmdan memasangkan seat belt untuk wanita yang sangat dicintainya itu.


Amartha mencekal lengan Satya dengan cepat, Satya pun mengernyit heran. Amartha menarik Satya untuk mendekat ke arahnya.

__ADS_1


"Bau parfum perempuan," ucap Amartha seraya mendekatkan hidungnya pada lengan suaminya, ia menatap Satya dengan tatapan menelisik.


...----------------...


__ADS_2