Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Perjodohan Kenan dan Sinta


__ADS_3

"Mas Kenan!" pekik Amartha membulatkan matanya tak percaya.


"Amartha!" Kenan tak kalah terkejutnya melihat kekasihnya berada di depan matanya.


Amartha dengan segera berdiri dan memandang Kenan dan Sinta secara bergantian. Rasanya tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Kalian?" ucap Amartha terbata-bata. Cairan bening memupuk di sudut matanya dan seolah berlomba untuk segera meluncur bebas. Dengan sekali kedipan air mata itu tumpah bersamaan dengan hancurnya hati seorang gadis, bernama Amartha Dina.


"Sayang! ini nggak seperti apa yang kamu pikirkan, tolong percaya sama aku!" Kenan berusaha meraih tangan Amartha, namun gadis itu segera menepis tangan kekasihnya.


Amartha memberi isyarat agar Kenan tak lagi bicara. Amartha menghapus jejak tangis di pipinya. Dia tak mau terlihat bodoh di depan Kenan dan Sinta.


"Aku pergi, semoga kalian bahagia," ucap Amartha dingin menatap kekasihnya dengan tatapan kecewanya, lalu ia segera meraih tasnya dan berlari keluar dari cafe itu. Seorang pria bertopi mengikuti Amartha yang tengah berlari dengan deraian airmata.


Kenan hanya menatap tajam ke arah sinta, tangannya mengepal dan rahangnya mengeras, ia ingin membuat perhitungan dengan Sinta, namun saat ini Amartha lebih penting daripada harus membuang waktu untuk berbicara dengan Sinta. Kenan segera berlari mengejar kekasihnya. Namun setelah ia sampai di luar cafe, Kenan tak mendapati sosok Amartha. Pria itu kehilangan jejak.


FLASH BACK ON.


"Ken, ada yang mau ayah bicarakan," ucap Damar ketika melihat Kenan baru saja pulang kerja dan berniat menaiki tangga menuju kamarnya.


"Ada apa, Yah?" Kenan menghentikan langkahnya seraya menatap ayahnya yang sedang duduk santai di sofa ruang tamu.


"Ikut ayah ke ruang kerja," kata Damar seraya bangkit dan melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya. Sedangkan Kenan mengikuti ayahnya dari belakang.


"Duduk, Ken..." titah sang ayah ketika sudah menduduki kursi kebesarannya.


"Apa yang mau Ayah bicarakan?" tanya Kenan setelah mendudukkan dirinya di kursi yang berhadapan dengan Damar.


"Kamu masih ingat om Arya?" Damar mengetuk-ngetukkan jarinya diatas meja.


"Papinya Refan, kan?"


"Kamu tau kan om Arya dan ayah sudah sahabatan lama, seperti kamu dan Refan," Damar menatap serius anaknya seraya menegakkan tubuhnya.

__ADS_1


"Terus? apa hubungannya sama aku?" Kenan mengernyit heran.


"Ayah dan om Arya sudah sepakat untuk menjodohkan kamu dengan Sinta , adiknya Refan," jelas Damar yang membuat sangat terkejut dengan pernyataan sang ayah.


"Kamu juga udah ketemu sama Sinta beberapa hari yang lalu, kan?" Damar menyunggingkan senyumnya.


"Tapi, aku udah punya pacar, Yah!" tegas Kenan.


"Pacar? hahaha," Damar tertawa sinis.


"Perempuan ini yang kamu maksud?" Damar melemparkan beberapa foto Amartha di atas meja.


"Perempuan itu tidak sepadan dengan kita, keluarga Brawijaya! jangan bodoh kamu, Ken!" lanjut Damar dengan amarah yang memuncak.


"Aku nggak mau, Yah!" ucap Kenan bersikeras menolak permintaan ayahnya.


"Jangan membantah! keputusan ayah sudah bulat, kamu hanya perlu mempersiapkan diri untuk acara pertunangan kamu dengan Sinta dalam waktu dekat ini!"


"Turuti kemauan ayah, jika kamu tak ingin sesuatu terjadi dengan kekasihmu itu!" teriak Damar.


Kenan duduk di sofa yang terletak di salah satu sudut kamarnya. Dia mengusap kasar wajahnya memikirkan cara untuk membatalkan pertunangan itu.


Hubungan Kenan dan ayahnya memang tidak begitu baik. Sifat antara ayah dan anak itu sangat bertolak belakang. Maka dari itu Kenan tidak pernah menyematkan nama Brawijaya di belakang namanya. Dia hanya akan menyebut dirinya Kenan Pradipta tanpa embel-embel Brawijaya yang menjadi kebanggaan ayahnya. Damar pun sangat murka ketika mengetahui diam-diam Kenan bekerja part time di sebuah restoran, menurutnya itu adalah hal yang sangat memalukan.


Beberapa hari setelah ultimatum yang diberikan ayahnya, pikiran Kenan sangat kacau. Kenan tahu, ayahnya akan melakukan berbagai cara agar keinginannya tercapai. Keadaan ini sungguh membuatnya frustasi, sampai dia lupa untuk sekedar memberi kabar pada kekasihnya, Amartha.


Sampai di suatu malam, Kenan mendapat pesan dari Sinta. Gadis yang akan dijodohkan dengannya itu meminta bertemu di cafe X jam 2 siang. Kenan mengiyakan permintaan gadis itu, dia akan membujuk Sinta agar menolak perjodohan konyol antara dirinya dengan Kenan.


FLASH BACK OFF.


"Argh!" Kenan mengusap wajahnya kasar, saat tak berhasil mengejar Amartha. Lelaki itu kemudian berjalan menuju mobilnya, dan masuk kedalamnya, lalu melajukan mobilnya meninggalkan cafe itu.


Sedangkan Amartha tengah bersembunyi di balik sebuah mobil putih, dengan seorang pria yang menutup mulut gadis itu dengan tangannya.

__ADS_1


"Udah aman!" ucap seorang pria yang berdiri di belakangnya.


Amartha tahu betul siapa pemilik suara itu. Tangan pria itu masih membekap mulutnya. Ketika pria itu lengah, dengan sekuat tenaga Amartha menggigit salah satu jari tangan pria itu.


"Awwwwwww!" pria itu memekik kesakitan.


"Sakit tau!" keluh Satya sambil mengibas tangannya yang perih akibat tertancap gigi Amartha yang runcing.


"Rasain!" ujar Amartha dengan pandangan yang mulai kabur.


"Lagian kenapa Mas Satya ngikutin aku..." ucap Amartha dengan memegang kepalanya, tiba- tiba pandangannya menjadi gelap. Beruntung Satya menangkap tubuh gadis itu yang sudah terkulai tak sadarkan diri.


"Amartha! bangun, Ta!" Satya menepuk pipi gadis itu. Satya segera menggendong tubuh Amartha dan menghentikan sebuah taksi untuk membawa Amartha menuju ke sebuah tempat.


"Selamat siang, Mas?" seru sang supir ketika Satya sudah masuk ke dalam taksi bersama Amartha yang dalam keadaan pingsan.


"Istrinya kenapa, Mas?" tanya supir seraya mengerutkan keningnya saat penumpangnya membawa seorang perempuan yang terkulai lemas dengan wajah yang sangat pucat.


"Hah?" Satya hanya melongo, bingung harus menjawab apa. Sementara dia sandarkan kepala Amartha ke dadanya mendekap gadis itu.


"Istrinya lagi hamil ya, Mas? mukanya pucet banget!" tanya pak supir lagi sembari melajukan mobilnya dengan penuh kehati-hatian.


"Nggak, Pak! dia cuma kelelahan aja, makanya pingsan," sahut Satya asal.


"Oalah, kebanyakan minta jatah sih, Masnya! jadi nya istrinya sampe begitu, nggak apa-apa Mas, dulu waktu masih penganten baru juga saya kayak gitu tancap gas terus," ucap supir taksi bernama Mahmud itu sambil cekikikan, sementara Satya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah pak supir.


"Ini kita tujuannya kemana, Mas? rumah sakit atau?"


"Ke hotel Grandz**" jawab pria itu sambil terus memperhatikan wajah Amartha. Diusapnya telapak tangan Amartha yang terasa sangat dingin.


Sesampainya di hotel, Satya langsung check in dan membawa Amartha ke dalam salah satu suite room. Satya merebahkan tubuh gadis itu ke atas ranjang. Setelah Satya melepas sepatu Amartha, ia pun melepaskan sepatunya dan melemparkannya asal, merebahkan sejenak tubuhnya di samping gadis itu. Satya merasakan lelah yang teramat sangat. Awalnya dia hanya ingin meluruskan tubuhnya saja setelah seharian mengikuti Amartha. Namun, entah mengapa matanya kini mulai terpejam saat kantuk tak bisa lagi ia lawan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2