
"Kalian apaan? ngomong yang jelas, Yemm?" Amartha menunggu jawaban dari Vira.
"Kita, eehm ... udah pacaran," ucap Vira ragu.
"Wow! hal kayak gini kamu nggak kasih tau aku? jahat kamu, Yem..." Amartha pura-pura kesal
"Eh, nggak maksud nyembunyiin, cuma belom ada kesempatan buat cerita," Vira membela diri,.
"Sama ajalah, ngeles aja nih si Iyem." Amartha mencubit pipi Vira.
"Ish! aku tau aku gemesin tapi aku bukan squisy, main tarik-tarik aja, nanti gembil tau nggak," Vira menepis tangan Amartha, dan mengusap pipinya.
"Amit-amit jabang kebo, dih anakku jangan mirip manusia itu," Amartha mengusap perutnya, sambil melirik Vira.
"Dih suami sendiri dibilang kebo, istri durhaka!" ucap Vira.
"Bukan suamiku, tapi kamuuuuu..." kata Amartha seraya menoel-noel lengan Vira
"Eh, awas ati-ati ntar anakmu mirip aku loh, hahahaha, nggak boleh sebel ama orang, ntar anakmu mirip sama orang yg kamu sebelin batu tau rasa, bisa jadi wajahnya atau yang lebih parah lagi sifatnya," ucap Vira menakut-nakuti.
"Dih ngarang!" Amartha tidak mempercayai ucapan yang dilontarkan Vira.
"Hahahaha," Vira malah ngekek melihat wajah Amartha yang tidak sinkron dengan ucapannya.
Kedua sahabat itu saling berbagi cerita, saling menguatkan dalam semua yang terjadi dalam hidup mereka.
"Ta? aku pulang yah?" ucap Vira saat melihat Firlan dan Satya masuk.
"Ehm, betewe aku bolos hari ini, hehehehehe," bisik Vira pada Amartha.
"Dasar! ya udah hati-hati, ya?" ucap Amartha sambil terkekeh.
"Kak Firlan, jagain Vira ya? awas pulang harus utuh loh, rusak berarti membeli!" ucap Amartha yang mendapat lirikan tajam dari Vira.
"Dikira aku barang pecah belah kali, sembarangan emang Juminten kalau ngomong!" celetuk Vira yang membuat Satya dan Amartha tertawa melihat wanita itu yang kesal.
"Aku pulang ya," lanjutnya.
"Mari, Tuan, Nyonya..." Firlan setengah membungkuk, lalu keluar dari ruangan itu diikuti kekasihnya.
__ADS_1
Firlan dan Vira berjalan ke arah bassement. Firlan segera menancapkan gasnya keluar dari area rumah sakit, setelah tubuh keduanya masing-masih sudah terbelit sabuk pengaman.
Langit sudah gelap, tak ada bintang yang berhambur diangkasa. Ditengah perjalanan hujan turun deras, dan beberapa kali petir bergemuruh.
"Dingin?" tanya Firlan menoleh sekilas pada kekasihnya yang duduk sambil memeluk dirinya sendiri.
"Iya," sahut Vira sambil menahan rasa dingin yang seakan menusuk tulangnya.
"Bentar aku kayaknya ada selimut di belakang," Firlan menepikan mobilnya, hujan semakin deras.
"Nggak usah, kamu nanti basah," sergah Vira dengan mencekal lengan Firlan agar pria itu tidak turun dari mobil.
"Nggak apa-apa, perjalanan kita masih jauh. Sebentar lagi kita akan masuk tol dan nggak bisa sembarangan berhenti, nanti yang ada nanti kamu ngompol lagi karena kedinginan. Tunggu disini, bentar." ucap Firlan seraya melepaskan cekalan Vira. Pria itu keluar dari mobil menerobos hujan untuk membuka bagasinya.
"Ish kalau ngomong suka nyebelin tuh orang!" gumam Vira yang melihat ke arah belakangnya, nampak pria itu sedang mengeluarkan sesuatu dari sana. Tak lama pintu bagasi tertutup kembali dan Firlan segera masuk ke dalam mobil duduk di kursi kemudinya.
"Nih," Firlan menyerahkan tas bening berisi selimut hangat. Pria itu selalu menyimpan selimut di dalam sebuah tas bening yang selalu ada di mobilnya. Sebenarnya aneh juga sih, tapi yang jelas barang itu menjadi berguna disaat seperti sekarang ini.
"Makasih, Ay..." Vira segera membuka selimut dari tempatnya.
"Eh kamu mau ngapain?" tanya Vira saat Firlan membuka jasnya yang basah.
"Oh, iya juga sih," Vira manggut-manggut sambil menutupi tubuhnya dengan selimut yang membuat tubuhnya hangat.
Firlan kembali menginjak pedal gasnya, melajukan mobilnya menuju ruas jalan tol. Beberapa kali Firlan menguap, entah mengapa ia sangat mengantuk saat ini.
"Ay, mending kita brenti dulu di rest area, kamu tidur dulu sebentar. Bahaya nyetir sambil ngantuk," ucap Vira pada Firlan yang terlihat sangat mengantuk.
"Bener juga, ya udah kita berhenti dulu," Firlan tersenyum pada Vira, senyuman yang membuat wanita itu meleleh seketika.
Firlan membelokkan mobilnya di rest area, dan memarkirkan mobilnya, dia menurunkan sedikit kursinya. Sementara hujan masih mengguyur menambah suasana dingin malam itu.
Firlan sudah memejamkan matanya, Vira tidak tega melihat Firlan kedinginan. Lalu ia membagi selimutnya, wanita itu terpaku pada wajah sang kekasih.
Sudut bibir pria itu terluka. Vira mengambil beberapa helai tissue untuk mengelap darah yang sedikit keluar, sepertinya luka itu belum sepenuhnya tertutup.
Merasakan ada hembusan nafas hangat yang menyapu wajahnya, Firlan terbangun dan melihat Vira yang ada di depan matanya.
Pandangan mereka terkunci, Firlan tetpaku pada sepasang bola mata berwarna coklat yang sangat indah dengan bulu matabyang lentik. Pria itu menangkup wajah wanita itu dengan tangannya, perlahan Firlan semakin mendekatkan wajahnya, kemudian mendaratkan sebuah kehangatan lewat rongga mulutnya.
__ADS_1
"Aku udah nggak ngantuk," ucap Firlan masih diposisinya membelai wajah Vira.
"Lebih baik kita segera pulang," ucap Firlan.
"Hah?"
"Hey, sampai kapan kita akan berada di posisi ini? atau kamu masih mau lagi?" ucap Firlan,
"Enak aja!" Vira segera kembali ke tempat duduknya. Sedangkan pipinya sudah merah merona.
"Jangan diulangi! anggap saja tadi ... ehm, nggak sengaja," kata Vira tanpa menoleh pada kekasihnya. Firlan hanya tersenyum dan tidak menjawab iya atau tidak.
Beberapa hati telah berlalu. Amartha kini sudah berada di dalam apartemen, setelah beberapa hari menjalani perawatan di rumah sakit.
"Aku berangkat, ya?" ucap Satya setelah memakai dasinya.
"Ingat? jangan bukakan pintu untuk siapapun. Dan jangan melakukan apapun, inget kamu masih perlu istirahat. Atau kamu mau aku anter ke rumah mami?" Satya duduk di pinggir ranjang dan menowel hidung Amartha.
"Ih bawel banget. Ehm, aku disini aja. Aku nggak akan ngapa-ngapain kok, nggak akan buka pintu sembarang dan aku akan jaga dia ini dengan baik, oke?" kata Amartha sambil mengelus perutnya. Wanita itu sudah cantik dan wangi dengan dress selutut motif bunga.
"Nggak perlu masak apa-apa, nanti aku akan pulang, kita makan siang bareng. Kalau ada yang kamu pengenin, telfon aku. Nanti aku beliin," ucap Satya mengecup punggung tangan Amartha.
"Kamu yang beliin atau Firlan yang beliin?" sindir Amartha.
"Hahaha, ya akulah sayang, masa Firlan, sih?" Satya malah tertawa.
"Yang ada kamu yang pengennya aneh-aneh, dan bikin Firlan stres." ucap Amartha, Satya bangkit dan mengecup kening istrinya.
"Aku berangkat,"
"Have a good day!" seru Amartha dan dijawab kerlingan mata pria tampan itu.
Amartha beringsut dari ranjangnya, ia berjalan ke arah jendela dan menyibak tirai putih yang menutupinya. Ia melihat sebuah jejak putih di langit.
"Kejarlah mimpimu, kamu berhak bahagia, lupakan semua tentang kita,"
Sementara di tempat lain, seorang pria sedang duduk termangu di dalam sebuah kabin pesawat, yang akan membawanya pergi dari negeri ini. Dia menikmati saat-saat pesawatnya naik ke atas sampai akhirnya hanya ada langit biru sejauh mata memandang. Lalu ia pejamkan matanya, dan terukir segaris senyuman kala teringat pertemuan pertamanya dengan seorang gadis di depan toilet sekolah.
...----------------...
__ADS_1