
"Ternyata saat tidur pun wajahmu masih sangat menarik, apa yang telah kau perbuat, hah? hingga aku benar-benar ingin memilikimu. Seharusnya aku yang bertemu denganmu lebih dulu, aku yakin kau akan lebih bahagia daripada dengan suamimu yang sebentar lagi akan bangkrut itu," ucap orang yang mengaku sebagai Aaraf itu, ia memasukkan tangan ke dalam saku celananya.
"Hey, aku tau kau sudah bangun, honey! dan aku yakin, kau mendengar apa yang aku ucapkan barusan," ucap pria itu namun tak membuat Amartha bergeming, ia masih dalam posisi nya tidur menyamping.
Pria itu memainkan selang infus dengan satu tangannya, melihat tetes demi tetes cairan yang mengalir didalam selang yang tertancap di punggung tangan wanita itu.
"Tanpa kau ketahui, satu persatu asetnya telah ia jual, dan mungkin sebentar lagi apartemen yang kalian tempati saat ini juga akan lenyap, ah sebenarnya apa yang sudah aku lakukan? hahahhaahaha, ini tak akan terjadi jika dia tidak memiliki wanita yang aku sukai, aku bisa melakukan apapun terhadap Satya," kata orang itu yang berbicara dan menatap Amartha yang masih memejamkan matanya.
"Aku akan menghentikan semuanya tapi dengan satu syarat, kau harus ikut denganku dan tentunya setelah kau menceraikan Satya."
"Sampai kapanpun aku tidak akan berpisah dengan suamiku!" batin Amartha.
Orang itu masih saja mengoceh, sementara Amartha berusaha tidak terpancing dengan semua ancaman yang diucapkan pria itu.
"Aku tidak masalah jika kau mau membawa serta bayimu itu, aku yakin bisa menyayanginya seperti anakku sendiri. Aku akan membuat perusahaan suamimu, oh maaf! maksudku perusahaan mertuamu, aku akan membuatnya kembali seperti semula,"
"Pikirkan nasib bayi yang ada diperutmu itu, kau tidak ingin dia hidup menderita, bukan?" ucap orang itu lagi setengah berbisik, membuat Amartha geram. Namun ia menyembunyikan perasaannya.
Satya yang ada di dalam toilet sayup-sayup mendengar kembaran Aaraf berbicara, ia pura-pura menyalakan keran agar pria itu tidak curiga. Pria itu bersandar pada pintu dan mencuri dengar apa yang dikatakan kembaran temannya itu. Satya kemudian menutup kerannya kembali, memutar handle pintu dan keluar dari toilet. Ia melihat pria itu berdiri di samping istrinya yang masih terpejam.
Pria itu pun bersikap santai, dan menengok ke arah Satya.
"Araaf?" tanya Satya mendekat ke ranjang istrinya.
"Eh, Sat! aku lihat tadi tetesan infusnya macet, tapi sekarang udah bener lagi kok," ucap Ashraf yang menunjuk selang infus Amartha.
"Emang tau caranya?" ucap Satya yang berdiri di seberang pria itu.
"Dulu aku pernah melihat kembaranku melakukan ini," jawabnya dengan santai.
"Oh ya, Ashraf juga seorang dokter, aku sampai lupa, bagaimana kabar adikmu itu?" tanya Satya setelah duduk di sofa.
"Baik." sahut orang yang itu singkat terkesan dingin, lalu ia mengubah raut wajahnya lagi.
__ADS_1
"Oh ya, Sat! aku pamit, udah malem juga." ucap pria itu lagi.
"Oke, terima kasih, Ashraf!" kata Satya yang membuat orang itu meliriknya.
"Maksudku Aaraf, kalian berdua kembar identik, aku jadi suka salah ucap," ralat Satya yang membuat orang itu tersenyum, sebelum memutar tubuhnya dan berjalan menuju pintu keluar.
Setelah pria itu pergi, Satya segera meraih jasnya yang ada diatas sofa, dan mengambil ponsel yang ada didalam saku. Pria itu segera mematikan perekam suara. Pria itu sangat geram saat mendengar rekaman suara orang yang baru beberapa saat tadi keluar dari ruangan itu.
"Mas?" Amartha berusaha untuk duduk.
"Kamu udah bangun, Yank..." Satya segera mendekat dan mendekap istrinya. wanita itu melingkarkan tangannya di pinggang suaminya.
"Aku sudah bangun bahkan sejak Aaraf datang kesini," jawab Amartha yang membuat Satya menjarak tubuhnya, Amarta yang duduk mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya.
"Dia bukan Aaraf, tapi Ashraf!" kata Satya yang membuat Amartha menatapnya heran.
"Ashraf?"
"Dia saudara kembaran Aaraf!" jelas Satya. Pria itu menarik kursi dan menggenggam tangan istrinya.
"Aku takut," lirih Amartha dengan suara bergetar, ia takut pria itu melakukan sesuatu pada Satya.
"Ada aku disini, kita akan melewatinya bersama, kamu percaya sama aku, kan? jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku, aku sanggup kehilangan harta tapi aku nggak akan sanggup jika harus kehilangan kamu dan calon anak kita," ucap Satya menatap istrinya dengan lekat.
Sementara di kediaman Ganendra, Firlan yang datang kesana untuk mengambil koper hanya disambut tatapan bingung dari Mira, kepala pelayan di rumah itu.
"Mira, Saya mau mengambil koper Tuan Satya dan Nyonya Amartha," ucap Firlan yang sedang duduk di ruang tamu.
"Koper? koper yang mana ya, Tuan?" Mira malah balik bertanya.
"Ya mana saya tau,"
"Tapi saya tidak mendapat perintah apa-apa dari Nyonya Sandra, atau Tuan Satya..." kata Mira yang membuat Firlan geleng-geleng kepala, bosnya memang paling bisa bikin emosi orang.
__ADS_1
"Ya sudah siapin aja sekarang, saya tunggu disini," Firlan memilih untuk menunggu karena emosinya sudah diubun-ubun, apalagi dia belum mencari pesanan es rujak serut.
"Ya sudah, sebentar Tuan Firlan, saya siapkan dulu," ucap Mira yang segera undur diri.
Setelah urusan koper selesai, kini saatnya muter-muter nyari es rujak serut, dia sudah keliling kemana- mana tapi belum juga ketemu. Firlan terus saja mengomel di dalam mobil.
Tiba- tiba saja ponselnya berdering menampilkan nama sang pacar, Vira.
"Ya? ada apa, Ay?" tanya Firlan pada Vira diseberang telepon.
"Emang kalau nelfon harus ada apa-apa, gitu?" tanya Vira ketus.
"Ya nggak gitu juga, ada perlu apa nelfon?" tanya Firlan sambil matanya melihat-lihat penjual es rujak serut.
"Emang kalau nelfon harus ada perlu dulu, gitu?" ucap Vira yang membuat Firlan tambah puyeng.
"Astagfirllah! jangan bikin emosi deh," kata Firlan kesal.
"Iya iya, ih! ehm, lagi ngapain?" tanya Vira yang lagi rebahan.
"Nyetir," sahut Firlan singkat.
"Dih ngambekan! jangan jutek-jutek sama pacar, apalagi pacarnya lagi sakit!" ucap Vira yang membuat Firlan ingin menutup mulut Vira dengan lakban.
"Siapa suruh yang jadi pacar suka bikin emosi," sahut Firlan yang menilih menepikan mobilnya, putus asa tidak mendapatkan pesanan bosnya.
"Emang pulang dari sini ke kantor lagi? nggak langsung pulang?" Vira malah nanya ngalor ngidul.
"Lagi nyari es rujak serut, kamu tau nggak yang jual es rujak serut dimana?" tanya Firlan sambil melongok keluar jendela melihat barangkali ada yang jual es rujak serut, tapi melihat langit sudah gelap, Firlan segera menutup jendelanya kembali dan duduk dengan tenang sambil mikir.
"Kek orang lagi ngidam aja beli rujak jam segini tunggu, tunggu, kok kamu pengen es rujak serut sih? buat siapa? jangan-jangan kamu selingkuh terus selingkuhan kamu hamil? iya? ngaku! jahattt kamu, Ay!" Vira menuduh yabg enggak-enggak, sementara Firlan yang dituduh pun semakin emosi.
"Brisik! dengerin dulu, jangan main nyerocos aja bisa nggak, sih? bikin aku tambah puyeng tau nggak? ini bukan buat aku, tapi buat suami temen kamu sekaligus bos pacar kamu!"
__ADS_1
"Aaaapaaaa!" suara lengkingan membuat Firlan mengusap telinganya.
...----------------...